
6 bulan kemudian.
Enam bulan terasa damai, Sea tidak pernah berpikir hari-harinya tanpa Red akan sebaik ini.
Cih.
Satu bulan?
Ya.
Ya.
Ya.
Red mengatakan pergi ke Dubai hanya satu bulan saja, but see, mulai bulan kedua sampai bulan ke enam, pria itu tidak ada kabar. Tidak pernah menghubunginya, maksud Sea menanyakan kabar Arche misal, atau sekedar ingin melihat wajah tampan putranya melalui video call misal.
Sea ingin tertawa sangat keras, tapi ia heran kenapa mulutnya tidak bisa menganga dengan lebar? Dan kenapa Sea memendam dongkol sangat dalam?
Pria memang seperti itu. Benar dugaan Sea. Red pasti menikmati hari-hari indah bersama Rubby. Jadi, rencana Sea untuk menyatukan Red dan Rubby bisa dikatakan berhasil.
Menurut kabar burung, paling tepat menurut informan yang ikut mengurus proyek di Dubai, Rubby atau Sea bisa menyebutnya dengan mantan kekasih Red yang sangat dicintainya dulu itu masih belum kembali ke Indonesia. Artinya, keduanya masih bersama di Negara sana.
Sea baru saja sampai di kantor, suara kicauan indah terdengar karena ia melihat burung hinggap di balkon luar ruangannya. Selain menjadi Ibu yang harus mengurus Arche di rumah, Sea tidak akan pernah lupa ulah ayahnya yang menghilang dan menyerahkan tanggung jawab segunung kepadanya.
"Kamu masih menolak Red?"
Sea menoleh, siapa gerangan yang bertanya?
Jika Sea tidak salah terka, itu suara Ibunya. "Ma." Sea bergumam, bibirnya mengerucut.
Selama enam bulan juga atau setelah kepergian Davis dari rumah, Sekar tidak mau berbicara dengan Sea, dan itu membuat Sea sedih luar biasa.
"Mama cuma mau tanya perkara itu saja. Jawab, setelah itu mama pergi lagi, tidak ada waktu untuk kamu."
Sea stagnam ditempat, niat hati ingin memeluk Ibunya. Tapi sepertinya Sekar masih marah kepadanya.
"Mama, Sea tidak mau menikah, dengan Red atau siapapun itu Ma, jadi please, ja..."
"Dan Arche tidak akan mempunyai ayah secara hukum! Itu mau kamu?"
"Itu...."
"Sea, hukum Indonesia dan Luar Negeri berbeda, sura..."
"Kalau begitu Sea ke Luar Negeri saja, agar Arche tidak kebingungan hanya karena dokumen Negara."
"SEA!! Mama tidak pernah sekecewa ini sama kamu."
Setelah itu Sekar membalik badan dan terburu berlari untuk keluar, suara pintu tertutup pun juga tak main-main kerasnya, mungkin sebentar lagi gedung ini akan roboh.
Mau menangis?
Rasanya Sea tidak bisa. Sudah bisa merasakan bukan betapa tempurung kepalanya begitu keras.
Latania:
Gue pengen nikah sama Jantis.
Satu pesan masuk, sungguh random sekali temannya satu ini, masih pagi dan Sea harus bekerja. Enak mungkin ya jadi Latania, duit mengalir hanya dengan menghayal lalu dituangkan dalam bentuk novel, untungnya banyak lagi. Tidak seperti Sea yang harus pusing tujuh turunan.
Sea:
Beneran?
Sea tertawa setelah membalas pesan dari Latania, entah apa yang dipikirkannya karena ia sangat tidak berminat menanggapi Latania. Otaknya penuh karena perkara pernikahan, Ibunya, Ayahnya dan Red tentu saja.
Latania:
Iya. Gue pengen cepet punya bayi, lihat pangeran Numan hampir setiap hari tiba-tiba gue ngidam. Pengen gitu.
Sea menghela napas. Nama puteranya disebut, lantas membuatnya tersenyum. Anaknya itu limited edition, super cute dan sangat tampan.
Sea:
Aku tunggu, tapi kalau mau persis Arche, nggak akan bisa, bayiku limited edition. Aku khawatir, anak kamu bakalan mirip kamu La, banyak tingkah dan malu-maluin, usahain mirip Jantis saja ya.
Latania:
Sialan, kalau Arche limited edition, versi ceweknya gue yang limited edition, gue jamin anak gue nggak akan senyebelin bapaknya Arche.
Bapaknua Arche. Sea berpikir sejenak, pasti yang dimaksud Latania adalah Red. Kenapa temannya ini seperti salah sambung. Kenapa juga membawa Red. Apa sih? Sea tidak paham.
Sea:
Hello nona Latania, kamu mau bilang kalau Arche nyebelin mirip bapaknya?
Latania:
Sea tidak membaca penuh pesan Latania, ia lebih memilih untuk menelfon saja, lama-lama Latania menyebalkan. "Maksud kamu apa La?"
"Mau marah? Kok suaranya lembut banget sih. Lebih kenceng dong. Said it louder sistah."
"Laaaaaaa."
"Iya-iya ndoro, btw Se. Lo nggak pengen hamil lagi?"
Sea menyandarkan punggung di kursi, lagi, Latania membuat ulah dengan pertanyaan randomnya.
Sea memandang manekin di ujung ruangan. "Aku punya manekin cowok, boleh juga, nanti malem aku bikin adik buat Arche."
"Kenapa lo repot-repot pakek manekin. Red siap sedia tuh. Suruh balik gih, lama banget di Dubai, ati-ati aja lo jangan nyesel kalau Red dapet cewek disana."
Sea tidak tahu kenapa, dibalik mulut Latania yang suka mengolok-olok Red, tapi gadis itu menjadi orang dibarisan paling depan agar ia bisa bersanding dengan Red.
"Lagian aku siapanya nyuruh-nyuruh dia pulang." Kenapa mulut Sea menjawab seperti itu sih, ia menggingit bibir saking bodohnya.
"Lo belom jadian? Belom pacaran gitu?"
"Cerita darimana aku pacaran?" Jawab Sea spontan, lagipula aneh aneh saja.
"Lo nggak lihat pp wa punya Red? Ngomong-ngomong photo lo sama Arche."
Sebenarnya Sea tahu itu, diam-diam ia sering menantikan kabar dari Red, tapi ya bagaimana ya, Sea kan pura-pura buta.
"Aku nggak tau, nggk pernah buka wa."
"Ini telfon lewat wa, nggk usah sok bego, males ah."
Tut.
Disaat Latania memutuskan telepon. Satu pesan masuk, alangkah berdebar jantung Sea saat ia tanpa berpikir panjang langsung membukanya.
Red:
Aku kangen Arche.
Aku?
Aku?
Aku?
Pikir Sea, Red tidak kerasukan setan baik kan? Sejak kapan pria itu...ah Sea tidak bisa berpikir saat Red kembali mengirimi pesan lagi.
Red:
Daddy juga kangen mommynya Arche.
Otomatis ponsel yang dipegang oleh Sea dilempar begitu saja, untung masih mendarat di meja.
Sea tidak mau terpancing poin kedua, tapi Sea masih sangat senang pesan pertama Red yang mengatakan rindu kepada putranya. Ngomong-bgomong, Sea juga rindu dengan papanya sendiri.
Namun, kali ini Sea tidak bisa lagi berpikir dengan jernih saat pintu ruangannya terbuka, ia diam menatap pria dengan senyum lebar berjalan kearahnya, menatapnya dengan pandangan yang Sea sendiri tak tau artinya.
Sea otomatis berdiri, pndangannya mengikuti arah Red, sampai pada pria itu persis berada di depannya, menaikkan satu alis sembari berkata, "Mommy nggak kangen daddy?"
Apalagi yang akan Sea berikan kecuali kerutan di dahi. "Kamu gila?" sarkasnya.
Red menggeleng. "Boleh peluk?" pintanya.
"Aku sibuk, pergi sana." Sea pun duduk lagi di kursi putarnya.
Red tertawa kecil, kedua tangannya menarik kursi Sea, ia sediit berjongkok sembari memandangi Sea yang terlihat kikuk sendiri. "Kamu makin cantik." Setelah tawanya berhenti, Red melanjutkan untuk menggoda Sea. "Apalagi kalau cemberut gini, cium boleh?"
"Aku pukul kamu boleh?" Ancaman Sea seperti biasanya, dilengkapi dengan tutur kata yang lebut tapi disertai dengan pelototan mata yang lebar.
Red bungkam. Ia tetap pada posisinya, lagipula ia belum ada niat untuk berhenti menggoda Sea. Sembari memainkan lidah di dalam mulut, Red berpikir banyak, sedangkan Sea masih tetap dengan tatapan membunuhnya.
"Se..."
Entah kenapa, suara dalam dari Red membuat Sea melunak. "Em.." Dan jawaban senada deheman Sea berikan.
"Nikah yuk."
Lagi, huh. Sea tidak ingin mendebatkan masalah ini. "Red, aku udah bil....."
Belum sempat Sea menuntaskan kalimatnya Red lebih dulu membungkam bibir Sea dengan bibirnya. Menekan penuh perasaan, jemari Red bahkan terangkat di perpotongan leher Sea beserta tangan satunya berada di pinggang ramping wanita itu.
Sea tak bisa berpikir lagi, selain mata yang tiba-tiba bergetar, tangannya juga berusaha mendorong Red agar menjauh dari dirinya, tapi sayang sekali, kali ini Red tidak akan menuruti bahkan pria itu menggerakkan bibir lebih intens di permukaan bibir Sea.
Degub jantung Sea semakin cepat dan keras, merasakan sentuhan bibir Red yang lembut melingkupi bibirnya membuat dada berdesir hebat, hingga akhirnya ia pun tak melakukan perlawanan, Sea memilih memejamkan mata dan membalas ciuman yang Red mulai.