Moon

Moon
Tipis



Diamnya Red saat ini membuat Sea berpikiran apakah video itu asli atau hanya rekayasa saja. Namun saat gurat wajah si pria sedikit membeku dan mata itu menunjukkan setitik rasa bersalah, disanalah Sea kembali tersenyum, video itu asli.


Yang di lihat di video itu memang benar adalah suaminya, Arve Jared Ardibrata.


Berbeda dengan lengkungan bibir yang Sea tampilkan, hatinya kian remuk dan sakit. Sea tidak tahu kenapa Red masih bisa melakukan itu meskipun beberapa kali mengatakan kalau pria itu mencintainya, mengatakan Sea cinta pertamanya, mengatakan akan mengambil hati Sea bagaimanapun caranya di beberapa bulan kebelang sebelum berhasil menikahinya.


Bulshit.


Sea sama sekali tidak mengerti.


Apakah karena waktu itu Sea sangat keras kepala menolak Red? Harusnya saat Red bertekad untuk mendapatkan hatinya, pria itu bisa menahan, tidak main belakang karena wanita mantan kekasihnya itu masih mencintainya. Kenapa Red mudah tergoda? Tapi melihat keteguhan hati Red untuk mendapatkan Sea waktu itu juga membuat ragu jika Red bisa berpaling sejauh ini.


Lalu kenapa? Apa alasannya? Sea ingin bertanya, tapi wanita itu ragu Red akan berkata jujur karena sebelum-sebelumnya pria itu sudah berbohong.


“Aku mabuk.” Red tiba-tiba berkata setelah menelan ludah dengan kentara dan mendongak menatap istrinya.


Meskipun Sea tahu Red mabuk tapi ia masih teramat kecewa. Sea jadi ingat yang dikatakan Melody bahwa suaminya itu pergi berdua bersama Rubby di club dan berakhir tidur di hotel yang sama sampai pagi pria itu baru kembali ke hotel yang di sewanya.


Sekarang kepercayaan Sea kepada Red yang sangat tipis semakin menipis lagi.


Tiba-tiba Sea dihadapkan ingatan saat Red masih bersama Rubby dan Sea menjadi penganggunya. Mungkin memang Red masih mencintai wanita itu. Sea hanyalah potongan-potongan cinta pertama yang mungkin hanya tersisa rasa cinta yang sedikit dirasakan oleh pria itu, yang sebenarnya ada di hati Red adalah Rubby, putusnya Red dengan Rubby oleh sebab wanita itu menghianatinya, tidak ada hal lain yang membuat Red patah hati hingga menjatuhkan diri dengan terpakasa kepada Sea.


Lalu soal cinta satu malam Sea dan Red, mungkin itu adalah faktor pendukung mulus yang membuat Red sangat lancar untuk memperkuat asumsinya tentang cinta pertama, memperdaya ilusinya.


Karena sumpah demi apapun, hal seperti ini tidak ingin Sea dapati, wanita itu merindu dimana ia tidak pernah memikirkan perasaan sakit oleh sebab cinta setelah patah hati karena Jeremy.


Tapi apa gunanya berandai-andai untuk saat ini?


Sea memandang lurus jendela, ia menghela napas pnjang lalu berujar. “Kalian bener-beber sam…”


“Aku nggak sampai make out.” Red segera menjawab, ia menduga Sea pasti akan menanyakan hal tersebut karena dari awal wanita itu berkata demikian.


Sea semakin terdiam, wanita itu tak bergerak, menjawab atau menoleh kepada suaminya.


“Maaf.” Red berkata demikian. Pria itu bersalah. Permintaan maaf itu juga menuncur lembut penuh penyesalan.


Setelah itu Red memberanikan diri untuk meraih jemari Sea, beruntungnya si wanita tak menolak sedikitpun. “Sorry, aku benar-benar minta maaf.” Ujarnya lagi beserta mengelus lembut punggung tangan istrinya.


Kali ini Sea menoleh, mendapati Red dengan muka kurang lebih sama dengan dirinya, pucat pasi. “Aku nggak perduli kamu pelukan ataupun ciuman sama dia Red. Aku cuma cukup tahu saja, toh itu sebelum kita menikah, tapi setidaknya kalau kamu masih cinta sama dia, kamu nggak perlu memaksakan diri buat tanggung jawab karena ada Arche, dan kamu tambah membuat rumit dengan ini.” Diakhir kalimat Sea mengelus perutnya.


Sea memang berhak tahu untuk sekarang, meskipun kasus itu terjadi sebelum menikah. Tapi Rubby masih diam-diam menemui pria itu, beberapa hari yang lalu contohnya, Rubby dengan tenang datang ke kantor Red. Apa itu hal yang bisa diwajarkan? Sea rasa tidak.


Kalau Red benar-benar serius dengan pernikahannya, harusnya Rubby tak akan pernah mampu menginjakkan kaki untuk menemui Red lagi, harusnya Red tegas dengan wanita itu.


Sea berbaring lagi, menatap langit-langit atas setelah itu menutup mata dan berkata. “Aku kecewa sama kamu Red. Banyak hal yang membuat aku capek. Banyak hal yang kamu tutupin dari aku, soal wanita itu.”


Sea menjeda kalimatnya, ia sama sekali tak mendengar Red berbicara, hanya suara napas pria itu yang sebentar-bentar berhembus dan berat.


“It’s oke. Aku nggak apa-apa kalau kamu memang masih cinta sama dia.” Sebenarnya tidak juga, Sea tidak rela, sama sekali.


Setelah itu Sea membuka matanya, ia melihat Red yang terduduk sembari menatapnya. Sea mengulurkan tangan, membelai pipi suaminya. “Toh aku juga udah nampar kamu, jadi impas. Aku nggak mau mikirin hal aneh-aneh lagi. Kasiahan anak aku ini. Nggak tahu lagi kalau mommynya setres, nanti baby juga ikut setres.”


Sea berkata tulus tapi dipaksakan yang mana sama sekali tidak membuat Red lega, malahan pria itu tambah sakit mendengar Sea berkata demikian.


Padahal sudah jelas mereka mabuk, dan Red masih ingat dengan jelas memisahkan diri setelah satu paksaan ciuman telah Rubby lakukan.


Red tidak habis pikir dengan Rubby, dan dalam kendongkolan yang dalam, Red sekarang benar-benar marah.


“Aku pergi dulu.” Red tiba-tiba berdiri.


Sea menahan jemari suaminya. “Selangkah kamu ninggalin tempat ini, aku pastikan kamu nggak akan bisa bersamaku lagi.”


Sea peka, ia tahu tujuan Red.


Dengan begitu Red duduk kembali, tak perlu berpikir panjang lagi. Ancaman Sea tidak pernah seserius kali ini dan resikonya sangat besar, tidak, Red tidak akan pernah bisa kehilangan Sea.


“Beberapa kali aku ketemu, dia masih mau sama kamu, berusaha buat dapetin kamu lagi. Kamu nggak mau?” Sudah seperti biasanya, Sea terlihat santai saat berbicara.


Red mendongak, menatap istrinya lagi. “Sea.”


Sea berdecih sinis. “Kenapa Rubby maksa banget. Jadi cewek mau-mau aja kayak gitu. Aku juga sama.”


“Sea.”


Sea menggeleng, “Aku nggak tahu lagi mau gimana Red. Kamu tahu kan waktu itu aku bilang mah ninggalin kamu kalau kamu ketahuan bohong. Tapi aku nggak bisa, nggak sanggup. Apa kamu tahu alasannya?”


Detik itu juga Red semakin sedih mendengar penuturan Sea dengan keputusasaan yang terdengar semakin pilu, keduanya memang sedang dimabuk cinta, tapi masalah datang tanpa di duga.


Red ingin membuka mulut untuk menjawab Sea, namun dering ponsel miliknya berbunyi. “Sebentar.”


Sea melirik, disana wanita itu melihat Red mengerutkan kening, dan Sea tahu apa yang harus ia lakukan, wanita itu duduk dan merebut ponsel suaminya karena apa yang Sea lihat adalah nomer ponsel yang mengirim video berdurasi dua puluh detik saat ini sedang menelfon suaminya.


“Kamu nggak tahu ini nomer Rubby?” Sea menggoyangkan ponsel Red yang ada ditangannya.


Red menggeleng, jujur ia tidak tahu.


“Oke, aku angkat, kamu yang ngomong.”


Sea menggeser tanda hijau, menekan mode loudspeakers, dan detik itu juga suara Rubby terdengar.


“Red aku mau ketemu sama kamu.”


“Jangan hubungi aku.” Red menjawab tanpa pikir panjang, mata pria itu merah, Sea yakin suaminya sangat marah.


“Aku hamil Red.”


“Nggak ada urusan. Istriku juga hamil.” Jawab Red lagi, Sea masih setia memegang ponsel suaminya.


“Tapi aku hamil anak kamu Red. Kamu nggak inget di Dubai. Waktu itu kita ngelakuin itu di hotel. Aku mau ngomong sama kamu sejak awal tapi nggak ada waktu.”


“Daddy.” Suara Arche tiba-tiba mengudara.


Yang mana membuat Sea yang terpaku menoleh pelan ke arah putranya yang di gendong oleh Ibu Kirana. Sea seperti kehilangan detak jantungnya. Sea tak perlu lagi memastikan kepada ibu mertuanya bahwa wanita itu mendengar atau tidak apapun yang dikatakan Rubby di telepon, tapi yang jelas Kirana saat ini terdiam membeku di ambang pintu sembari menatap Red dengan tajam, sedangkan baby Arche cengengesan tanpa tahu permasalahan orang dewasa.


Dan detik ini juga, Sea sama sekali tidak percaya dengan Red.