
Pikiran Sea penuh saat pulang ke rumah.
Nyatanya bertemu Devon tak membantu sama sekali dan justru membuat kepala Sea semakin pening. Tapi topik ini tidak mungkin Sea abaikan, bahkan Sea memikirkan akan memaafkan Red setelah semua yang dikatakan oleh Devon tadi, ya meskipun kesalahan Red sangat besar, tapi Sea mempertimbangkan beberapa hari, ditambah lagi dengan apa yang dilakukan Red untuk membantu Ardikara, Sea benar-benar tidak tahu kenapa pria itu mau dengan suka rela.
Untuk Sea.
Benar, Devon mengatakan apapun yang dilakukan Red di Ardikara hanya agar Sea tidak terbebani, agar Sea tidak tertekan. Dan Devon juga mengatakan Red itu definisi kebodohan, mau saja membantu Sea saat bahkan wanita itu sendiri sama sekali tidak memikirkannya.
Lalu sekarang, si Jared Ardibrata bodoh yang sebelumnya menghancurkan hati Sea malah membuktikan perwujudan pengorbanan yang begitu besar, dan itu membuat Sea ragu akan keputusannya sejak awal.
Yang dipikirkan Sea sekarang, apa lagi yang dilakukan Red dibelakangnya? Maksudnya Pengorbanan apa lagi yang dilakukan suaminya itu kepada dirinya?
Sepanjang jalan sampai mobil memasuki halaman rumah utama, pikiran Sea benar-benar penuh hanya tentang seorang Red. Lalu saat Sea turun dari mobil dan memasuki rumah, ia mendapati ibunya sedang memegang satu cangkir teh dengan tangan lainnya memainkan ipad yang menampilkan gambaran-gambaran fashion.
“Sore ma.” Sapa Sea sebelum melewati ibunya, wanita itu hendak menuju wastafel untuk mencuci tangan.
Namun langkah Sea terhenti saat Sekar menyahut sarkatik. “Nggak usah pulang sekalian!” Sekar menaruh cangkir teh dan beralih memandang Sea dengan sebal. “Mama udah bilang, kamu jangan kecapean, udah hamil sering drop, dibilangin jangan kerja malah pulang sore.”
Dasar nenek-nenek, pikiran cucu terus, protective sekali, itulah pikir Sea.
Tadinya Sea kira ibunya itu marah kenapa, dengan malas-malasan Sea tetap menuju wastafel sembari menyahuti ibunya. “Tadi ke cafe ma, ketemuan sama Latania.”
Bohong.
Perkataan Sea bohong besar, Sekar sangat tahu karakter putri sulungnya itu. Jika sedang berbahagia, Sea akan membawa siapa saja untuk turut merasakannya, tapi ketika sedang tertimpa masalah, Sea akan menghilang dari orang-orang, jika perlu Sea akan mencari tempat pedalaman agar bisa bersembunyi. Jadi, untuk bertemu dengan Latania yang sangat bar-bar dan serba peka adalah keputusan terburuk bagi Sea, Sekar berani bertaruh putrinya tidak sebodoh itu untuk mencari masalah dengan Latania.
Sekar bersalah kepada Sea seumur hidupnya, menempatkan putrinya itu jauh dari keluarga, mengirim Sea ke luar Negeri dengan harapan bisa mandiri. Tapi tujuan Sekar sebenarnya adalah menghindarkan Sea dari permasalah rumah tangga yang Sekar alami dengan Davis, tapi lihat sekarang, putrinya itu mengalami hal sama seperti dirinya saat masih muda, terlibat dengan orang ketiga.
Dan untuk menghilangkan setres karena kebohongan kecil Sea barusan, Sekar memilih tidak berbicara lagi dan beralih pada ipad kembali, menggeser-nggeser layar dengan tampilan model-model fashion.
“Arche mana ma?” Suara Sea terdengar lagi bersamaan telapak kaki beralaskan sepatu hak tinggi berjalan mendekat.
Sekar menjawab tanpa menoleh. “Sama daddynya lah.”
Yang praktis membuat Sea terdiam di tempat. Dan perlahan Sea memandang ibunya dengan tanda tanya besar di kepala. “Mama kok dengan santainya disini, aku kan bilangnya anterin ma, tingguin terus bawa pulang kembali.”
Sea tidak mau Arche menginap disana, kalau sudah jam segini, bayi itu pasti sudah mandi, bersiap untuk tidur dan nanti jam tujuh baru bangun untuk makan dan bermain lagi. Dan hal buruknya lagi, Sea tidak ingin tidur sendirian, kalau itu terjadi, Sea tidak akan bisa memejamkan mata dan berakhir memikirkan hal yang aneh-aneh.
Sekar langsung mengangkat kepala mendengarkan jawaban dari Sea. “Memang kenapa? Orang sama daddynya sendiri.” Sungguh Sekar tidak mengerti dengan pikiran putrinya itu. “Kamu sendiri yang bilang nggak akan membatasi mereka.”
Jawaban Sekar kali ini kembuat Sea bungkam.
Intinya Sea itu tidak mah tidur sendirian.
Sekar mematikan ipad, kali ini benar-benar bicara serius dengan Sea. “Ntar malem pasti dikembalikan. Mama kasian lihat Red, lagian udah dua minggu mereka nggak ketemu. Keadaan Red kacau semenjak kalian pergi, setidaknya pinjemin Arche buat obat dia sebentar saja. Toh kamu nggak rugi apa-apa.”
Dan apa Sekar pikir Sea baik-baik saja?
Tidak!
Jawabannya tidak sama sekali.
Dengan langkah sebal Sea menuju tangga meninggalkan Sekar yang baru saja menyambut oma Seruni yang baru datang. Sea benar-benar tidak enak hati, tapi ia akan sabar menunggu Aeche.
Sea membaringkan tubuh di ranjang setelah membasuh diri, detik berganti menit, menit berganti jam dan cahaya diluar sudah menggelap, Sea tidak mendapati Arche kembali ke rumah ini. Bahkan Sea sama sekali tidak istirahat karena tidak tenang, tubuhnya di miringkan ke kanan, ke kiri dan terlentang, sama sekali tidak nyaman.
Dengan langkah cepat, Sea bangun dan menuju lantai bawah, tepat sekali, disana sudah ada Sekar dengan tampilan segar, ibunya itu seperti sedang beraiap untuk meninggalkan rumah utama.
“Mama, mana? Katanya baby bakal balik malam. Buktinya sekarang mana?” Sea langsung mencerca Sekar dengan protesan saat wanita hamil itu sudah berada di depan ibunya.
Ibu dari Sea itu dengan santai tidak menjawab dan memilih untuk melangkah menuju tempat ganti gan kunci mobil, dan disaat yang sama, Sea mengekorinya dari belakang.
“Sea nggak usah uring-uringan deh, pastinya Arche-nya masih pengen dengan Red.” Jawab Sekar kemudian.
Sea menampilkan raut wajah tak suka, wanita itu terdiam saat Sekar sibuk sendiri mebereskan beberapa berkas yang dimasukkan di dalam tas.
“Mama mau pulang, kangen suami.” Sekar kemudian bersuara saat satu tas sudah ia pegang.
“Mama.” Panggil Sea pada akhirnya.
Sekar menghembuskan nafas panjang. “Apa lagi Sea?”
Sea mendekati ibunya, tepat menghadang di depan Sekar. “Telfon Red sekarang, suruh bawa Arche kesini.”
Dengan sensi Sekar menjawab. “Cuma telfon aja kamu mau mama yang lakuin?” Sekar menggelengkan kepala bebebapa kali dengan perkara sekecil ini. “Nggak mau.” tolak Sekar kemudian, wanita itu menaruh tangan di bawah dada. “Mama masih inget tadi pagi ada yang bilang urusan rumah tangganya nggak mau di urusin mama. Terus kenapa manusia satu ini sekarang minta tolong.”
Kan.
Sea kena batunya. Jangan sekali-kali membantah orang tua, inilah pelajaran berharga, apalagi seperti yang dilakukan Sea, sekarang wanita hamil itu seperti menjilat ludah sendiri.
“Sekali aja ma.” Mohon Sea akhirnya, demi Arche.
“Telfon sendiri apa susahnya sih?”
Susah sekali adai anda tahu ratu Sekar. Hati Sea seakan menjerit keras.
Belum sempat Sea menjwab, Sekar lagi-lagi memberi wacana yang membuat Sea menyesal. “Mulai saat ini, atau mulai pagi tadi, mama sudah nggak mau lagi ngurusin urusan kamu, kamu kamu ngapain terserah. Lagipula mama udah kasih nasehat banyak ke kamu, mau kamu denger dan dipakai itu semua terserah kamu. Mama angkat tangan.” Gerakan Sekar terakhir benar-benar mengangkat tangan.
Pantas bukan jika Sea menyesal?
Ternyata kekeras kepalaan Sea sama seperti yang dimiliki oleh Sekar. Keduanya tidak akan ada yang bisa menang ataupun kalah. Karena mau Sea bersembah di kaki ibunya sekalipun, jika Sekar sudah memberi tanda warning, tidak akan bisa mengubah keputusannya, itulah mirisnya DNA.
Dan tidak mungkin bagi Sea untuk menelfon Red dengan ponselnya sendiri, karena Sea sudah memblokir nomer Red sejak dua minggu yang lalu, ayolah gengsi sedang bersabda di kepala Sea.
Tapi kalau Sea tidak menelfon Red, Arche akan disana terus.
Sea tidak bisa hidup tanpa Arche.
Sea tidak mau sendiri, Sea ingin Arche, Sea tidak ingin Red bersama Arche. Disisi lain Sea tidak bisa menelfon Red dengan ponselnya sendiri. Setelah mempertimbangkan bebeapa opsi, akhirnya Sea menemukan jalan keluar.
“Ma, kalau begitu Sea pinjem hp mama.”
Sekar melotot. “Kamu serius masih memblokir momer Red?”
Sea mengangguk polos dan itu membuat Sekar mengelus dada sabar.
Apakah ini yang dinamakan dewasa? Bahkan Sea seperti anak SMP yang sedang bertengkar dengan pacarnya. Sea sama sekali tidak bisa memilih mana jalan terbaik, sedangkan dalam memutuskan sebuah perkara adalah dengan komunikasi, bagaimana cara Sea menemukan jalan keluar jika putrinya itu memblokade semua akses komunikasi?
Sekar sudah lelah, tak mau berdebat lagi, akhrinya wanita paruh baya itu menyerahkn ponselnya.
Ponsel sudah ditangan Sea, namun putrinya itu hanya memandang layar dengan wallpaper photo Arche bersama dirinya dari ponsel ibunya itu.
Sekali lagi Sekar yang memandang Sea sepeti itu sangat tidak sabar. “Cepetan, mama sudah mau pulang, papa kamu nggak akan makan malam tanpa mama.”
Dasar bucin, Sea mendengus mendengar perkataan ibunya itu.
“Nama kontaknya, Menantu Kesayangan.” Ujar Sekar lagi.
Yang mana kali ini membut Sea mendelik dan menatap ibunya jengah.
Oke, Sea memantabkan diri.
Lagipula Sea hanya akan mengatakan satu kalimat saja, jadi tidak masalah, hilangkan keraguan, setelah mengatakan langsung matiin telfon, itulah yang direncanakan Sea.
Sea akhirnya mencari kontak dengan nama Menantu Kesayangan, dan benar photo di momer itu adalah gambar Red, Sea dan Arche waktu di Bali.
Sea menghembuskan nafas kecil, dengan sedikit ragu Sea menekan tombol menelfon dan langsung meletakkan ponsel ibunya di daun telinga.
Sekar yang sedang mengamati Sea dibuat gelang kepala sekali lagi, wanita itu melihat tingkah Sea benar-benar layaknya abg labil dengan tingkat kegengsian di atas rata-rata.
Tak berapa lama, Sea mendengar suara yang semuala adalah nada sambungan telefon tut tut telah menjadi suara lembut yang menyapa telinga.
Sea di buat membeku.
Nah kan. Memang tidak seharusnya Sea menelfon Red. Bahkan Sea tidak tahu harus menjawab apa.
“Halo.” Untuk ketiga kalinya Red mengatakan itu diseberang sana, nada pria itu sangat sopan. “Mama, ada apa?” tanya Red kali ini.
Sea yang tak bisa bicara mendongak kepada ibunya yang sedang mengintruksi dirinya tanpa suara, meminta Sea agar cepat sembari menunjuk jam yang menggantung di dinding.
Sea menghela nafas.
Tak mau berpikir panjang lagi, Sea menjawab. “Arche anter pulang.” Sea tak bisa mendengarkan apa-apa dari seberang sana, bahkan jedanya cukup panjang, tanpa ragu Sea melanjutkan bicaranya. “Sekarang.”
Lagi.
Diam, dari seberang masih diam, Red tidak meyahut, Sea berani bertaruh pria itu mendengarkannya, bahkan Sea juga berani bertaruh tidak ada putusnya koneksi telepon karena dengan jelas Sea mendengar celotehan Arche yang mungkin sedang bermain.
Atau mungkin Red mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan Sea diawal tadi saking lamanya tak saling bersua. Keduanya tidak bertemu selama dua minggu, dan alasan itu sudah cukup membuat Red dan Sea bereaksi seperti ini.
Tak lama setelah itu, Sea mendengar Red menarik napas panjang.
Pria itu menjawab dengan suara yang sangat manis. “Arche sama aku. Nggak akan pulang kalau bukan kamu yang jemput.”
Dan Sea salah besar, kalimat Red tak cukup manis seperti suaranya.
Red ternyata masih sangat ahli memancing emosi, dan itu selalu berkaitan dengan Arche.
Apa anak yang akan Rubby berikan tidak cukup? Dan sekarang mau Arche juga.
“Red, kamu nggak…”
Sebelum kalimat ancaman berhasil Sea ucapkan, Red kembali bersua, dengan perkataan yang sama sekali tidak Sea duga. “Sea, cukup pulang, pulang ke rumah kita, itu aja, aku matiin.”
Panggilan berakhir.
Pulang?
Apakah rumah itu masih pantas menjadi tempat pulang bagi Sea?