Moon

Moon
Fight



Ketika mimpi buruk yang selama ini di benci menjadi lebih buruk lagi, lantas apa yang akan Sea lakukan? Mengatakan iya? Begitu? Mengatakan jika pangeran yang ia lahirkan dengan susah payah adalah anak pria itu juga?


Red bukanlah bentuk dari mimpi buruk itu. Tapi bayangan bagaimana respon Red saat ada benih yang tertanam di rahimnya lah yang Sea khawatirkan.


Apa Red bisa menerima Arche mengingat bayi itu bukan dari rahim Rubby?


Tatapan Red penuh amarah memberikan ketakutan sendiri untuk Sea. Jika dulu Sea kerap sekali membuat Red marah karena tingkah lakunya yang begitu menganggu, lantas bagaimana dengan sekarang? Jika Red tahu Arche anaknya, apa yang akan pria itu lakukan? Apa Red akan membencinya?


Kepala Sea tetap menggeleng keras-keras, ia sampai menampik fakta banyak derap langkah beserta gaduh yang mendekatinya.


Hal seperti ini tidak pernah terbayangkan dalam benak Sea.


Sea sampai susah payah untuk bernapas, genggaman tangannya semakin menguat. Sea tidak tega melihat raut Arche yang tampak terkejut karena suara keras yang Red teriakan.


"Lo..." Red tidak habis pikir, memandang Sea seperti kotoran tak berguna. "Jadi ini alasan lo nikahin orang lain?"


Sea tidak mau menjawab, ia tetap ingin menggapai Arche yang detik ini mulai ketakutan dengan bibir mencibik, Arche akan sepeti itu jika melihat Sea menagis, dan faktanya Sea memang sudah mengeluarkan air mata.


"Red."


Red marah, marah yang belum pernah Sea lihat sebelumnya. Jika dulu Red marah karena Sea selalu menjadi bayang-bayang saat pria itu akan berkencan, namun akhirnya pria itu akan memaafkan. Tidak dengan sekarang, mata si pria merah, otot di dahi keluar dan rahangnya mengeras.


Red menyisir semua orang yang sudah memenuhi pintu ruangannya. Salahkan Red yang tidak memiliki batasan antara atasan dan karyawan hingga banyak orang yang bisa keluar masuk tanpa sungkan.


"Lo yakin mau ngomongin ini disini?" Red berbicara setenang mungkin, mengatur napas agar tidak berhembus kencang.


Lirikan mata Red meminta Roni agar mengusir semua orang, tanpa terkecuali, namun Kirana yang merasa perlu tetap berada di tempat ini memutuskan untuk bertahan dan berakhir Ibu dari Red lah yang menutup pintu dari dalam.


Sea menggeleng, "Dia bukan anak kamu."


"Buktinya? Buktiin dia bukan anak gue!!" Red menyentak lagi Sea yang akan mendekat, dan itu berhasil membuat Arche benar-benar ketakutan.


"Red, Arche nangis, kamu nggak lihat itu?" Sea menyentak bagaimana cara Red tidak bisa peka karena Arche memang sedang ketakutan.


Tuli, Red tidak bisa mencerna peringatan Sea, hal paling membuat Sea lebih sakit saat ia berusaha lagi merebut Arche dari pelukan Red dan berakhir pria itu mencengkram lengan Sea dengan erat, nyeri.


"Red, Arche nangis." Tangan Sea mencoba untuk melepaskan cengkraman Red yang membelit lengannya, namun jemari Sea tak begitu kuat.


Red tetap tidak menggubris, ia lebih memilih menarik Sea untuk menjauhi pintu dan masuk lebih kedalam ruangan.


"Red, jangan!! Jangan bawa Arche, serahkan Arche ke mama." Kirana mencegah, Arche yang sedang menangis membuat Kirana tidak tega dengan drama dua manusia dewasa di depannya.


Kirana juga masih bingung mencerna apa yang dikatakan oleh Red beserta tolakan-tolakan yang Sea berikan. Namun semua menjadi tidak penting saat bayi tiga tahun itu semakin kencang dalam tangisan.


Sontak Red terdiam, ia sadar, Arche yang tepat berada dan ditatapnya sedang menangis kencang. Maka saat tangan Kirana mengulur, Red menyerahkan anak itu. "Bawa pulang dulu ma, atau tunggu aku."


Dan saat Arche sudah berada ditangan ibunya. Red menarik Sea masuk lebih dalam, membuka pintu kamar dalam kantornya, tatapan Red tidak beralih dari murka, ia tetap marah dan harus menyelesaikan perkara ini secepatnya.


Saat pintu terkunci, Red melepas cengkramannya dengan kasar hingga membuat Sea seperti barang yang dibuang sia-sia. Bahkan saat Red menatap lengan yang diusap oleh Sea, pria itu tak menggubris kesakitan yang Sea rasakan.


"Ada yang perlu lo jelasin. Sekarang!!!!" Dengan geram, Red mencoba untuk sabar.


Kali ini Sea menatap Red dengan tajam. "Tidak ada yang perlu dijelaskan."


Sea emosi, napasnya menderu keras. Ini baru pertama kalinya ia memandang Red dengan tajam menusuk.


Sea tidak pernah mengalami cek-cok antar pasangan, Sea cenderung mengalah dan pergi jika ada suatu perdebatan, Sea cenderung menerima perlakuan kasar tanpa mau membela diri, karena tidak ada yang perlu dipertaruhkan dalam hidup Sea waktu itu.


Tapi sekarang. Ada Arche yang harus ia pertahankan mati-matian. Makanya ia tak bisa mengontrol emosi saat pria di depannya menampilkan hal yang sama.


Adapun Red yang sama sekali tidak pernah menghadapi keras kepalanya Sea, dalam hubungan ini, hubungan yang bahkan masih akan Red jalin.


Bayangkan jadi Red. Betapa bingung pria itu sekarang.


Tiba-tiba seluruh kesakitan yang Sea rasakan hilang dari tubuh, digantikan dengan emosi yang memanas dari dalam tenggorokan, dadanya seperti dirobek paksa.


Sea menatap Red dengan mata yang bergetar, ini yang paling ia takutkan. Kemiripan wajah Red dan Arche yang sulit dihindari memang selalu Sea antisipasi, ia tahu semua akan terbongkar jika sudah waktunya, namun tidak menyangka jika Red menginginkan anak itu, apa istimewanya, apa istimewanya Arche yang lahir dari rahimnya?


Namun seolah kekuatan yang Sea kumpulkan hilang lagi ditelan bumi berganti dengan ketakutan yang merayap merasuki tubuh.


"Nggak bisa!" Sea berkata dengn pelan dan bergetar, ia berjalan mendekati Red, menatap pria itu dengan mata yang dibuat kuat. "Kamu pikir kamu siapa?"


"Gue ayahnya?"


"Apa yang bikin kamu percaya diri Arche anak kamu." Penekanan dalam setiap kata Sea terlihat meyakinkan.


Tapi bagaimana jika Red tidak terpengaruh. Ada rintih pilu yang bercampur menjadi satu dalam getaran suara Sea, dan itu menbuat Red tak tega. Tapi ia tidak bisa tinggal diam.


"Lo ngebuat ini jadi rumit Sea. Arche gue bawa. Nggak ada pilihan yang lo berikan."


"Nggak usah milih!" Sea terpancing emosi lagi, ia benar-benar ketakutan untuk sekarang. Sea bisa dikatakan wanita tangguh, tapi setangguh apapun, bukankah hanya Red yang tahu bagaimana rapuhnya Sea sejak dulu. "Arche anakku, hanya anakku, bukan anak siapapun."


Jika Sea bisa memilih jalan yang mudah, mendiskusikan ini sejak pertama kehamilannya, mungkin keduanya tidak akan mengalami kondisi sesulit dan membelit seperti saat ini. Red mau bertanggung jawab jika memang itu yang harus ia lakukan. Jadi apa alasan Sea tetap bertahan dengan argumentasinya disaat Red benar-benar yakin Arche adalah anaknya?


Tapi yang tidak diketahui Red adalah, alasan Sea tidak bisa mengatakan kehamilannya karena Sea tahu Red mencintai Rubby, hidup bersama Rubby.


"Kamu nggak perlu pusing mikirin dia. Arche anakku, bukan anak dari pria manapun, dia cuma anakku."


Sea bisa saja membohongi Red lagi dan mengatakan Arche anak Alvaro. Tapi apa yang membuat Sea tak berani adalah bagaimana keduanya memiliki rupa yang sama, bukankah Sea akan ditertawakan jika berdusta lebih banyk lagi?


"Lo bisa ngomong begitu." Perkataan Sea berkomposisi emosi, dan itu membuat Red terpancing amarah lagi.


Sekarang semua menjadi jelas. Arche memang anaknya. Anak Red.


"Please. Biarkan aku dan Arche sendiri." Dan permohonan Sea berakhir dengan wanita itu menyembunyikan tubuh berhadapan dengan dinding, beserta kedua telapak tangan yang menutup Wajah. "Kamu bisa hidup normal seperti biasanya Red. Anggap nggak ada aku atau Arche."


"Lo gila."


Sea sontak membalik badan. "IYA, AKU GILA!" dan jeritannya tak tanggung-tanggung. "Jadi berhenti Red. Kamu nggak perlu merasa ada tanggung jawab apa-apa, karena yang aku butuhkan hanya Arche, bukan kamu atau laki-laki manapun. Jalani hidup kamu seperti sebelum kamu tahu tentang ini."


"BRENGSEK."


Umpatan Red kali ini menusuk hati Sea, bahkan sebelum-sebelumnya atau dahulu kala, Sea sudah kenyang dan merasa baik-baik saja saat berbagai umpatan Red berikan. Tapi kenapa kali ini rasanya berbeda, sakitnya juga terasa.


"Hidup kamu akan baik-baik saja tanpa Arche. Dan aku tidak tahu bagaimana caranya hidup tanpa Arche, aku tidak bisa bernapas tanpa Arche. Jadi please, kamu jangan ambil Arche dariku."


"Lo anjing Sea." Red mengumpat lagi sembari membuang muka.


Sea tatap bertahan dengan sesak yang semakin mendesak paru-parunya.


"Kalau kamu memang pengen punya anak, kamu bisa dapetin dari wanita manapun Red. Tidak harus Arche."


"GUE CINTA LO BRENGSEK. GUE CINTA LO SEA."


Sea terdiam. Ia tidak pernah mendapatkan umpatan beserta ungkapan cinta yang disuguhkan dalam satu kalimat bersamaan.


Bukan itu juga, bahkan teriakan frustasi dari Red juga tidak pernah ia rasakan dari pria manapun. Dari dulu, Sea menutup diri, menolak apa yang tidak dia inginkan, dan tidak pernah diperlakukan seperti bagaimana Red memperlakukannya.


"Jangan bicara omong kosong. Kamu pikir aku percaya. Dari sekian yang kamu katakan. Yang paling membuat aku percaya adalah aku yang gila. Itu saja. Jadi, jangan pernah kamu berharap bisa mengambil Arche dariku dengan alasan kamu mencintaiku."


"Dan menurut lo gue bakal nurut?"


Detik itu Sea terdiam, ia lupa fakta jika Red tidak bisa dicegah keinginannya. "Gue akan ambil apa yang menjadi hak gue. Gue serius."


Ancaman terkahir membuat Sea tumbang, bagaimana tubuhnya meluruh di lantai beserta Red yang meninggalkannya membawa sesak lebih dalam lagi, Sea menangis tertahan, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang.