Moon

Moon
Fire



...*⛔️NOT CHILDREN AREA⛔️*...


Gila!


Sinting!


Dan entah umpatan jenis apalagi yang harus Red dan Sea ucapkan saat kedua tubuh sudah berada di atas ranjang, nekat melakukan peraduan di salah satu kamar Sky House. Namun tanpa sesal, meski kesadaran masih mencapai batas maksumal, Red dan Sea melupakan fakta itu, berpura-pura jika keduanya sedang tidak sadar.


Akal Sea sudah hilang, karena pikir saja, baru beberapa jam berlalu dari putusnya Sea dan Jeremy, baru saja sejam yang lalu Sea menjerit karena patah hati, tahu-tahu tubuhnya sudah di kungkung bebas oleh laki-laki lain, betapa murah sekali harga dirinya saat hasrat nafsu menguasai diri dan tangan meremat surai Red yang sedang mencumbu hebat bibirnya.


Red, pemuda itu keras dan dominan.


Red mengangkat kepalanya, sedikit lama memandang bagaimana ekspresi wajah Sea yang diberikan kenikmatan olehnya, wajah ayu dan datar nampak mahal dan elegan, seolah mengintruksikan Red untuk berlaku lebih dari ini. Matanya yang sayu mendamba ingin dipuja, bibirnya yang terbuka ingin dijamah dan semburat merah muda merona di pipinya, sangat cantik.


"Red, jangan berhenti." Celetuk Sea tiba-tiba, jari lentiknya diam-diam membuka kancing kemeja Red. Tanpa menjawab, Red kembali mencium Sea


Tak cukup sampai di bibir saja, seluruh wajah Sea nampak mendamba, Red menciumi pipinya, mengulum daun telinga, menyusuri jenjang lehernya, Sea menggeliat di atas ranjang menikmati sentuhan.


Tidak mungkin hanya make out saja, bagian berdenyut dalam diri Sea seperti ingin dijamah, dan itu hal memalukan tapi rasa-rasanya tak sempat merasa malu untuk sekarang.


"Sial, Sea. Apa yang kita lakukan?" Tiba-tiba Red bangkit, ia teringat wajah berwibawa Om Davis, wajah teduh Mama Sekar dan wajah tua Oma Seruni.


"Just, fu*k me, Red."


"Enggak, kita nggak benar."


"Please."


Bagian bawah Sea berdenyut keras, jika boleh jujur, Red juga sama.


"Lo assh*le, Se. Sejak kapan lo bikin gue ***** kayak gini."


Dan untuk setengah detik berikutnya, entah siapa yang memulai, tahu-tahu Sea sudah melepas seluruh balutan tubuhnya, lampu remang-remang tak dibiarkan lebih terang, Sea tidak mau tubuh buruknya terlihat jelas di mata Red.


"Sialan, ini perbuatan Jeremy. Bajingan."


Masih sempat mengumpat, Red sangat jelas dapat melihat bagaimana ada bekas carakan di perut Sea. Memar di pergelangan kaki juga.


"Lo diapain sih Se?"


"Di borgol, dicambuk, dicakar, disakitin."


"Dan lo senang?"


"Aku kesakitan Red, sangat sakit. Dan kamu tentu paham itu." Sea menangis, air matanya tak bisa untuk berhenti turun.


Red iba, mengusap pipi gadi dibawahnya dengan lembut, mengecup kening Sea dengan tulus. "Oke, gue janji, gue akan kasih lo sesuatu yang menyenangkan."


"Ya, aku harap begitu, Red. Tanpa sakit, tunjukkan padaku apa itu rasanya bahagia, malam ini saja."


Iblis jala*g sepertinya tak mau lepas dalam diri Sea. Bagaimana ia terus merayu agar Red tetap berada di sisinya, agar malam ini dihabiskan dengan gairah kepuasan.


Lengkuhan-lengkuhan penuh gairah mendominasi ruangan, bagaimana ******* Rose saat bagian bawah dimainkam, dan babak selanjutnya membuat Sea menagis dan menjerit tertahan.


"Sial. Lo ori, anjing. Sea?"


Sea mengangguk. "Seperti yang kamu lihat."


"Apa yang lo lakuin, brengsek."


"Just, fu*k me, Red."


"Lo perawan, Sea. Kenapa lo nggak bilang?"


Sea menggeleng. "Apa gunanya perawan atau tidak, itu bukan hal besar Red."


"Dan lo udah buat gue overthinking. Jadi Jeremy?"


Sea tersenyum. "Dia, nyiksa aku, melucuti bajuku, merantai tangan dan kakiku, setelah puas, dia akan pulang dan melanjutkan senggama dengan cara yang benar bersama istrinya, Kak Suri, sakit seperti itulah yang dialami Jeremy, Red."


"Sial. Jadi gue yang udah bikin lo rusak. Sial."


Red menarik kembali tubuhnya, ia tak mau melanjutkan semua kebodohan yang telah ia lakukan.


"Dengan kamu yang begitu, tidak bisa mengembalikan kegadisanku, Red. Just, **** me!!"


Jika dipikir ulang, benar apa yang dikatakan Sea. Batang milik Red sudah masuk dengan penuh, hasrat sudah terkumpul, lalu Red memasukkan lagi setengah kejantanannya untuk melanjutkan acara senggama. Red berani bersumpah, jika bukan karena pengaruh alkohol, pasti ia masih sedikit menyisakan kewarasan hingga semua hal buruk hari ini tidak akan terjadi.


"Sea, lo anget."


"Sea, gue keluar."


Ini semua diluar ekspektasi Red, bagaimana ia baru saja menanamkan benih segar dan banyak dalam rahim Sea, semoga gadis itu tidak mengadu pada siapapun, karena biar bagaimanapun, Om Davis akan membunuh Red jika tahu anak gadisnya sudah ia tiduri.


"Makasih Red, setidaknya namaku kamu sebut dalam pelepasan. Itu lebih dari cukup." Karena selama ini, hanya nama Suri yang selalu Jeremy sebutkan saat menyiksa dirinya.


"Gue numpain ****** banyak, lo duduk, biar nggak jadi anak, gue udah lama nggak gituan, maaf ya, Se."


Sea tersenyum, ia terduduk, "Sama-sama Red. Anggap aja, apa ya, hadiah, malam ini kamu milikku, aku milikmu. Sebagai saudara. Seperti kata orang tua kita."


"Nggak ada saudara berbagi ranjang dan melakukan hubungan diatas batas wajar, Sea."


"Ada, Red." Jawab Sea. "Kita. Udah ya, lagian aku seneng kok. Kamu nggak usah khwatir, nggak akan ada orang yang tahu tentang malam ini."


"Maaf, sekali lagi gue minta maaf."


"Its oke, Red, lupain. Ayo tidur."


Red membuka matanya, silau membuatnya sedikit memincing, sudah pagi, cahaya dari jendela menusuk dan membangunkannya.


Dua mata Red tak menunda untuk terbuka, ia memegangi kepala saat ia duduk dengan tiba-tiba, ia diserang pusing, jam di dinding menunjukkan sepuluh pagi.


Red baru sadar, keberadaan Sea tidak ada, barang-barang gadis itu pun lenyap dari kamar.


Red ditinggalkan, dalam ketelanjangan.


"Brengsek."


Red mengacak rambutnya kasar, apa ia melakukan hal yang tidak disukai Sea hingga gadis itu meninggalkannya begitu saja tanpa sepatah kata? Apa Red kurang memuaskan? Rasa-rasanya Red hanyalah seonggok daging dengan sejumpit nyawa yang baru saja kehilangan perjaka oleh tante-tente pembeli berondong. Jujur, Red begitu merana.


Nyatanya, sebelum ini, bahkan Rubby tak pernah membuat Red merasa demikian. Bahkan Red hilang kontrol sampai-sampai bibirnya lebam karena terlalu banyak berciuman.


Kali ini, Sea benar-benar membuat Red jadi gila.


Ponsel Red bergetar. "Halo, Sky?" jawabnya serak.


"Sialan lo bang, kemana lo, gue telepon dari subuh lo nggak angkat, bisa lo lihat entar berapa banyak panggilan tak terjawab di hp lo."


"Kenapa sih Sky?"


"Lo nggak ikut nganterin Kak Sea ke bandara anjing, kak Sea pulang ke Jerman. Kita semua nunggu lo, dan kalau lo kaget buat sekarang, percuma, karena penerbangan kak Sea jam 5 pagi."


"Kenapa nggak ada yang bilang ke gue!"


Red membanting ponselnya di atas ranjang. Ia meremat kepalanya.


Sea?


Bandara?


Jerman?


Satu note menempel di bibir nakas.


_____


Sea:


Red, makasih ya. See you.


_____


Hanya itu?


Makasih?


See you?


Red mengambil ponselnya lagi, ia ingin menelfon Sea, tapi Red ingat jika ponsel Sea semalam sudah hancur oleh tangan Red sendiri.


Dan dalam diam, Red benar-benar sadar jika ia sama sekali tak berarti untuk Sea, sedikitpun.


Satu pesan masuk, Red mendapati getar di ponselnya.


Rubby:


Red ayo ketemu. Aku hamil.