Moon

Moon
Sea Dan Ketentuannya



Setelah aksi penolakan yang Sea lakukan di depan keluarga, wanita itu memilih untuk kembali ke kamar setelah sebelumnya mengambil Arche dari gendongan baby sister.


Terkadang manusia memang disuruh memilih suatu pilihan, dan Sea memutuskan untuk tidak memilih pilihan apapun.


Menikah dengan Red? Artinya Arche akan mendapatkan kasih sayang dari Ayah kandungnya, dan Sea mengabaikan fakta jika Arche suatu saat akan menanyakan dimana Ayah-nya. Sea hanya meyakini yang dibutuhkan Arche hanya dirinya saja.


Maka, Sea tetap memilih menjadi single, rich and free.


Blue mengatakan Kakak-nya yang bernama Arve Jared Ardibrata menaruh hati padanya? Omong kosong, menurut Sea, ia lebih percaya pada Sky yang mengatakan pria sulung Ardibrata sudah mati rasa karena ditinggal menikah oleh Rubby.


Lalu Sea?


Tentu saja, Red merasa bersalah karena one night stand empat tahun yang lalu. Menurut logika Sea, Red tidak akan ngotot memilikinya apabila empat tahun yang lalu Sea sudah tidak perawan, kondisinya sangat berbeda, bagaimana Red merasa bersalah pada malam itu membuat Sea meyakini apa yang Red lakukan saat ini hanya bentuk dari tanggung jawab, karena Red mengambil kegadisannya.


Oke.


Case close.


Sea tak butuh itu semua.


"Mommy, don't cry? Hug me mommy."


Suara kecil Arche beserta tangan mungil yang mencoba untuk meraih leher Sea untuk dipeluk membuat ibu satu anak itu tersadar jika ia sudah mengeluarkan air mata.


"Mommy tidak menangis baby."


"You lie."


Sea menggeleng saat kepala Arche sudah bersandar di bahunya, lalu tangan Arche juga sudah menepuk-nepuk punggungnya.


Bagaimana Sea tidak mencintai putranya jika pangeran kecil yang berada digendongannya begitu menggemaskan, lihat saja, bagaimana leher Sea basah karena Arche juga ikut menangis.


Sea hanya lelah, ia hanya tidak ingin menikah, ia hanya butuh Arche saja. Jadi jangan ada lagi yang bertanya ataupun memaksa.


Namun hanya satu yang Sea sesalkan dari dirinya sendiri, ia tadi menatap mata Papa-nya penuh dengan permusuhan sebelum meninggalkan tempat, sumpah demi Tuhan ia menyesal, ia terlambat sadar jika Davis juga punya beban berat karena memang pria itu menjadi wali dari Red, hal yang wajar bukan jika ia bertanya.


Iya, benar, Davis hanya bertanya bukan memaksa Sea.


Lain kali Sea akan meminta maaf kepada Papa-nya, harus.


Tak sampai disini saja, bahkan malam harinya, Seruni tetap memanggil Sea. Nenek-nya cukup pengertian tidak membahas tentang pernikahan atau hal semacamnya karena Seruni juga sudah sepenuhnya angkat tangan mengenai cucu-nya ini, cucu yang sama sekali tak tertarik tentang pernikahan.


Dan apakah yang Seruni katakan pada Sea semalam?


Hah. Hampir saja Sea bernapas lega, kenyataan yang Sea dengar semalam mau tak mau membuat ia sedikit kesal, dan inilah bentuk kekesalan Sea.


Ia berada di mobil dengan supir yang mengendari di depan. Sea membuka berkas-berkas yang diserahkan Seruni, mempelajari sebentar saja dan siap dijadikan untuk bahan rapat.


Rapatnya dimana?


Disini, gedung puluhan lantai yang sudah berada di depan Sea menjadi saksi jika wanita itu setengah mati menahan gugup. Untung Arche tidak merengek ingin ikut dirinya pergi untuk bekerja, karena yang menjadi Direktur perusahaan itu adalah Ayah kandung Arche, Arve Jared Ardibrata.


"Rose Sea Martin, perwakilan dari Ardikara Group dan SS Group." ucap Sea saat ia datang, Ardikara Group adalah milik Seruni, sedangkan SS Group adalah milik Davis Martin.


"Silahkan, ikuti saya, saya akan membimbing anda ke ruang rapat."


Maka Sea dan satu kaki kanannya mengikuti intruksi dari perempuan yang memyambutnya. Ia memeriksa ponsel, takut-takut Latania atau pengasuh lainnya menghubunginya karena pangeran tampan mencari Ibu-nya, namun tidak ada, rasa aman menyelimuti hati Sea dan ia bisa bekerja dengan tenang.


Memasuki ruang rapat, Sea melihat banyak orang yang sudah hadir disana, semua mata terpana, Sea yakin tatapan mereka hanya karena tak pernah melihat sosok Sea, Cucu tertua dari pemilik Ardikara Group.


Janda. Oke, satu fakta itu menarik, dan tersebar luas begitu saja. Ulah Sea bukan?


Meski janda, Sea tidak kalah dengan gadis-gadis metropolitan lainnya. Sea cantik, memiliki kulit putih meski kulit sawo matang juga tak kalah manis. Tinggi, ramping, kabarnya body goals milik Sea saat ini menjadi tren sekali, jadi Sea cukup percaya diri, mana pernah Sea pesimis, tidak pernah. Dan yang paling penting, fashion wanita itu tak main-main, elegan dan mahal.


Sea tersenyum saat mata orang-orang berbalut jas memandang kearahnya. Lalu ia tetap mengikuti intruksi dan duduk di kursi yang sudah di sediakan. Wanita itu berdiskusi sebentar dengan Tony, pria 40 tahun disampingnya. Setahu Sea, Tony adalah kaki tangan Oma Seruni, beruntung pria ini tanggap dan cerdas hingga obrolan tentang pekerjaan bisa berjalan dengan lancar, keduanya bisa tersambung dengan baik.


Ponsel Sea bergetar. Devon menjadi nama dalam layar. "What's wrong?" Sea bertanya.


Tak lama, Sea mengangguk. "I will talk to you later, I'm busy at the moment."


Sea menaruh kembali ponselnya. Tak berselang lama, satu persatu orang sudah memenuhi kursi, bersiap untuk rapat. Hingga Sea merasa jantungnya tak lagi aman saat Direktur Ardibrata Group memasuki ruangan disusul dengan wanita muda di belakangnya.


Arve Jared Ardibrata, Sea ikut berdiri saat semua orang menyambut kedatangan pria itu, namun fokus Sea membuyar karena sadar tempat duduk Sea tak berjarak jauh darinya, dan hal paling menyebalkan, Red tersenyum tanpa ragu untuk menyambutnya.


Rapat berjalan lancar, sekarang giliran Sea untuk mempresentasikan apa yang akan di tawarkan untuk kerjasama. Wanita itu berdiri, jika urusan serius begini, ia membuang jauh-jauh pikiran gugup.


Sea mulai berbicara. "Saya, Rose Sea Martin, perwakilan dari Ardikara Group dan SS Group. Seperti yang sudah disampaikan Mr. Jared, kami membuat rencana kerjasama pembangunan hotel baru yang akan berdiri tepat di sekitar Bandara Ardikara, di setiap kota ataupun Negara tetangga. Penempatan strategis akan memudahkan wisatawan untuk menginap dan mendaptkan berbagai fasilitas jika mereka mengambil paket komplit penyewaan Jet Pribadi beserta paket menginap, adapun Ardibrata Group akan berkontribusi sebagai pemasok bahan pokok utama untuk kebutuhan para wisatawan."


"Rencana pembangunan? Kami ingin tahu target anda Mis." Red mengangkat tangan dan bertanya.


"Baik. Untuk rencana pembangunan, sementara SS Group sudah mempunyai satu hotel di setiap kota di Indonesia. Saat ini, fokus kita adalah Siangapura, Malaysia dan yang paling jauh Dubai. Saya menargetkan pembangunan secepat mungkin, 6 hari."


Semua mata melotot lebar dan memandang Sea, pun bisikan-bisikan terdengar jelas.


Sea tersenyum, ia tak pernah gentar dengan apa yang sudah diucapkannya. Meski terlihat mustahil, hello, Sea sudah berkecimpung di Dunia ini sejak umur 20 tahun, dengan tangannya sendiri.


"Maaf, apa anda sedang menghayal?" Salah satu wanita berambut pendek beserta bibir berpoles lipstik merah sedang mengintruksi Sea. "Pembangunan 6 hari untuk sebuah hotel, mustahil."


"Maaf, jika saya bertanya kembali, bisakah Ardibrata Group menyanggupi untuk memasok furniture untuk mengisi hotel dalam pembangunan 6 hari itu? Jika tidak mampu, masalahnya bukan terletak dari hayalan saya, melainkan Ardibrata Group yang tidak bisa."


Kali ini Red terusik karena Sea sangat menarik. Bagaimana wanita yang pernah ia kungkung 4 tahun yang lalu bisa semenarik ini, gadis yang menangis tersedu karena cinta bertepuk sebelah tangan, gadis pemabuk patah hati karena habis putus cinta. Dan sialnya, gadis yang selalu Red cinta.


"Jika kami sanggup, apa anda bisa memastikan dalam kurun waktu 6 hari pembangunan benar-benar bisa berdiri."


Sea mendengar Ref berbicara, pria itu tenang, tidak seperi wanita yang barusan meremehkan Sea.


"Untuk keraguan anda, saya dapat menampilkan beberapa slide hotel-hotel yang sudah saya dirikan di berbagai belahan Negara, untuk detail, sudah tertulis jelas di deskripsinya."


"Pak Tony, bantu saya."


Tony yang akan berdiri ditahan oleh Red, pria itu menggerakkan kepala dan Tony duduk seketika.


Sea tahu dan wanita itu hanya memiringkan kepala, hal tak terduga terjadi saat Red berdiri dan berjalan ke arahnya. "Biar saya yang membantu."


Sea menyodorkan Ipad, "Sambungkan, ke layar." Pintanya langsung.


Dan Red yang tidak awam akan hal itu langsung membantu. Sea bukannya tidak mampu, tapi tempat ini bukan miliknya, ia tidak tahu letak piranti mana yang harus ia gunakan.


Maka saat Red bergerak dan sibuk menyambungkan Ipad milik Sea, wanita itu memandang Red dengan seksama, bagaimana pemuda tengil yang selalu marah-marah bisa menjadi dewasa seperti sekarang.


Jujur, Sea rindu.


Rindu?


Dari awal Sea memang menyukai Red, namun suka yang tidak melibatkan romansa, suka yang sama seperti Sea menyukai Blue, karena mereka keluarga.


"Silakan Mis." Ucapan Red membuat Sea tersadar dari lamunan.


"Terimakasih. Anda bisa duduk kembali Mr."


Setelah Red duduk, barulah Sea memulai lagi presentasinya.


1. Roses Hotel, Bali.


"Roses Hotel di Pulau Bali, Seperti yang anda lihat di deskripsi, saya membangun hanya dalam waktu 10 hari, ini hotel pertama saya, berdiri sepuluh tahun yang lalu."


2. The Caves, Roses Jamaika.


"The Caves, Roses Jamaika. Berdiri 10 tahun yang lalu, saya membangun dalam waktu 10 hari."


3. Poseidon Undersea, Roses Fiji.


"Poseidon Undersea, Roses Fiji. Berdiri 9 tahun yang lalu, saya membangun dalam waktu 9 hari."


4. Attrap Reves, Roses Prancis.


"Attrap Reves, Roses Prancis. Berdiri 9 tahun yang laku, saya membangun dalam wakyu 9 hari."


5. Ngorongro Creater Lodge, Roses Tanzania.


"Ngorongro Creater Lodge, Roses Tanzania. Bersiri 8 tahun yang lalu, saya membangun dalam waktu 8 hari."


6. The Oberoi, Roses India.


"The Oberoi, Roses India. Berdiri 7 tahun yang lalu, saya bangun dalam waktu 7 hari."


7. Jade Mountain, Roses St Lucia.


"Jade Mountain, Roses St Lucia. Berdiri 6 tahun yang lalu, saya bangun dalam 6 hari."


"Dan semakin anda melihat kebawah, 20 hotel dengan puluhan lantai saya bangun dalam waktu maksimal 6 hari. Saya bisa memindah file ini untuk anda lihat-lihat Mr. Jared, agar tidak ada keraguan. Jikapun anda keberatan dan merasa terlalu gegabah, saya bisa menurunkan standart sesuai yang dikatakan Direktur Seruni, setiap hotel dibangun dalam waktu 30 hari. Dengan begitu, waktu terbunag banyak dan sia-sia."


Semua mata terpana, seolah tersihir dengan Sea. Hei, bagaimana wanita ini bisa membangun bisnis seluas itu bahkan di umur yang bisa dikatakan belum tua.


Adapaun Red, ia sama sekali tidak tahu bagaimana latar belakang Sea, kecuali Sea adalah anak sulung Keluarga Martin dan cucu Sulung keluarga Ardikara. Red hanya tahu Sea akan mewarisi kekayaan dari keluarganya saja, tidak tahunya, wanita itu memiliki kerajaam bisnis-nya sendiri.


Yang dikatakan Davis benar. Meski sedikit gila, tapi wanita itu cerdas. Dan benar yang dikatakan Seruni, apa yang dimiliki Sea melebihi apa yang diharapkan. Membentuk sosok Sea yang terlalu mandiri dan tidak butuh siapapun. Red juga yakin, ia menjalankan bisnis Ayah dan Oma-nya hanya karena tuntutan saja, bukan karena wanita itu ingin.


Hotel-hotel yang disebutkan oleh Sea? Tentu Red tahu, terkenal, dan Red tidak menyangka itu semua milik wanita itu.


Pantaskah Red meragukan kemampuan Sea yang sedang termenung dan menunggu jawabnya?


"Baik. Artinya Ardibrata Group harus bekerja keras dalam minggu ini, tambah pasokan bahan pokok untuk mengisi furniture hotel, adapaun fasilitas Jet pribadi untuk paket wisatawan, mulai saat ini."


"Artinya?" Sea bertanya.


"Deal."


Maka rapat selesai dan satu persatu orang meninggalkan tempat, adapun Tony yang diperintah Sea untuk kembali ke kantor dan melaporkan hasil pekerjaannya hari ini.


Lalu Sea, wanita yang tidak mau beranjak itu masih duduk di tempatnya, ia memandang Red yang seoalh tahu jika ia ingin membicarakan sesuatu.


"Aku mau bicara, di ruangan kamu." Sea memerintah, dan Red dengan suka menurut.