
"Gue mau ke Dubai, ikut yuk."
Sea menoleh, mendapati Red yang berkata serius dengan ajakannya. Ke Dubai? Kenapa Sea harus ikut coba. Mending di rumah saja. "Nggak ada urusannya sama aku, ngapain aku ikut."
"Ada, kerjaan kita, gue harus kesana, cek hotel, inget janji lo Se. Dimana ada Rubby, lo harus sama gue."
Oh? Sea melirik, semakin menarik. Tentu saja Sea akan ingkar janji. Rubby ia gunakan untuk menarik minat pria itu lagi, agar tidak mengejar Sea lagi.
"Sementara kamu di Dubai, aku yang harus ada di sini. Coba kamu pikir, papa nggak ada, terus aku harus ninggalin SS Group begitu?"
Kenapa Red melupakan fakta itu. Sial. Kenapa Om Davis kabur juga, ya Tuhan.
"Udah sana, kamu sama Arche, katanya mau ke Dubai, puasin seharian, aku nggak akan ngelarang." Kata Sea sembari membalik badan, mengambil minuman, berupa jus jambu yang ada di dalam lemari es.
"Lo yakin nggak ikut?" Tanya Red lagi sembari menarik tangan Sea dengan lembut.
Tuhan tolong, keadaan ini mendesak dan Red tidak bisa tanpa Sea, tidak bisa juga jika harus bersama Rubby disana.
Sea menggeleng, tersenyum paksa. "Kalau kamu ngajak aku ke Korea, baru aku mau."
"Ada apa dengan Korea?" Tanya Red lagi.
"Ada suami aku, V BTS." Jawab Sea, melepaskan tangannya dari jerat Red namun gagal.
Red mendengus singkat, ia tahu siapa itu V BTS, adik Sea yang bernama Sky penggemar berat Jungkook BTS. Entah apa yang dipikirkan para wanita yang suka sekali dengan makhluk-makhluk panggung itu. Padahal Red tidak kalah tampan, tidak kalah gagah, tidak kalah ka-kaya? Entah, Red tidak tahu sekaya apa dirinya jika dibandingkan dengan siapa tadi, V BTS? Kenapa Red tiba-tiba dongkol dengan nama Idol itu.
"Gue yang berkali-kali ngelamar, kenapa si goyang pinggul yang jadi suami lo?"
Dan Sea, sudah tidak bisa mundur lagi barang sedikitpun, punggungnya sudah menempel di pintu lemari es. Yang ia lakukan saat ini hanya menggeleng dengan pelototan mata lebar lalu menoleh ke sembarang arah, takut ada yang melihat.
"Red, please mundur, jangan bikin orang overthinking dengan tingkah kamu..."
"Gue perginya lama Sea, sebulan." Potongnya cepat, Red berbicara serius.
Kenapa disaat seperti ini Sea malah terbuai dengan wewangian pria itu yang menusuk hidungnya, "Ha, apa?" Sepertinya Sea tak begitu mendengar, bahkan konsentrasinya buyar.
"Gue nggak cuma ngurus shot doang, gue harus turun langsung buat pembangunan, Oma yang nyuruh gue, gue lama disana Sea." Red berkata tidak rela, ia sangat ingin mengejak Sea dan Arche ikut dengannya.
Tapi.
Astaga, lagi-lagi karena Om Davis. Tapi Red sungguh menginginkan Sea ikut serta.
Sea terdiam, beberapa saat. Lalu ia mendongak, menatap mata Red dengan dalam. "Oh, selamat menjalani hidup bahagia disana, kamu pasti be...."
Dan satu ciuman dicuri lagi oleh Red, tepat di bibir, dan itu membuat Sea memejamkan mata.
"Yakin nggak mau ikut gue?" Ujar Red lagi, kali ini dengan nada jahil karena Sea nampak merah di pipinya.
Sea mendorong dada Red menjauh, sedikit sebal. "Nggak, jangan mimpi."
"Oke. Sebagai gantinya. Malam ini lo milik gue." Red mengeluarkan kunci dari saku celananya. "*** toynya boleh juga, gue pengen."
Sial. Kunci yang dicari-cari Sea ternyata ada di tangan Red. Sea mendekat, mencoba mengambil kunci itu, wajahnya sudah merah padam. Namun seakan Red menguji kesabarannya, pria itu mengangkat tinggi-tinggi tangannya agar Sea tidak bisa menjangkau.
Ok. Sea mengalah. "Kamar manapun boleh, hotel manapun juga aku mau, asal jangan kamar itu." Sea mendekat, membelai pipi Red dengan mesra, mencoba memepermainkan pria itu. "Tapi kalau kamu maksa, nggak apa-apa sih, palingan nanti yang aku bayangin wajah Jeremi."
"Sialan."
***
Menurut Sea, salah satu contoh ekspektasi yang tidak realistis adalah harapan. Namun manusia juga tidak bisa menghindar, bahwa mereka akan selalu menumbuhkan harapan. Sea juga sadar bahwa harapan bisa menimbulkan tawa dan kebahagiaan. Jadi, mungkin, mungkin berharap sangat layak untuk ia coba.
Berharap Red akan berhenti mengejarnya, misal, agar Sea bahagia dan tertawa kembali, tidak seperti sekarang saat kerutan tercipta di keningnya.
Cahaya yang Sea pandang sudah lenyap ditelan malam. Warna dilangit jingga menjadi hamparan hitam melingkupi cakrawala seiring mobil bergerak melewati hutan. Mata Sea berkedip-kedip menatap kenopi bintang bercahaya muncul diantara samudera kegelapan. Hal yang dicari-cari Sea tidak nampak—MOON—yang ada hanya sejumlah bintang yang berkilau untuk menerangi gelap.
"Kita mau kemana Red?"
"Tempat dimana lo bisa tau isi hati gue yang sebenar-benarnya."
Sea berpaling lagi setelah sejenak menatap Red dengan bertanya. Red memaksa malam ini Sea miliknya. Menitipkan Arche kepada Ibu Kirana yang seharian ini sudah punya jatah waktu bersama Red, berjalan-jalan mengelilingi Jakarta, hanya sepasang Ayah dan Anak saja.
Sea tidak menyangka, bayangan Arche yang sangat gembira saat memanggi Red dengan, Led daddy, Led daddy mampu membuat hatinya tersentuh. Ia selama ini tega memisahkan keduanya, ia sedikit menyesal.
Tapi sekarang sudah terbayar bukan?
Sea kembali merasakan udara beku menyerang permukaan kulit hingga ke dalam tulang saat ia masih mempertahankan jendela mobil terbuka, untuk sesaat ia menggigil.
"Tutup kacanya." Red berseru, sedikit serius dan Sea menuruti.
Sea kembali menatap langit dari balik kaca yang mencerminkan jurang hitam, ia sedang meresapi pemikirannya sendiri. Harapan yang tiba-tiba layu, rencana yang ia tata berantakan, dan apa yang ada di hati Sea tidak sesuai dengan angan-angan.
Sea bertanya-tanya, apakah dadanya yang sering sakit akibat dari harapan yang lara? Atau karena dia tak bisa mewujudkan keinginannya? Ataukah justru kebalikannya? Karena ia tak bisa menerima kebahagiaan yang disodorkan untuknya? Kebahagiaan yang ditawarkan Red untuknya?
Semua menjadi rumit.
Tapi sekali lagi, ia hanya berharap Ayah-nya kembali. Jika memang kepergiannya karena masalah yang ditimbulkan oleh Sea, oh Tuhan, Sea berpaling menatap Red yang sedang berkonsentrasi di jalanan berkelok-kelok, jika benar hanya dengan Sea menerima ajakan menikah dari Red untuk kompensasi kembalinya Davis, Sea akan memikirkannya.
Tapi apakah ia akan menyerah dengan keputusan awalnya?
Pemandangan sedikit berubah saat Red mematikan mesin mobil, "Ayo turun," ajaknya.
Membuat Sea membeo namun menuruti kata pria itu. Jalanan setapak nampak di depan Sea, begitu tipis ditengah-tengah hutan.
"Red? Kemana kamu akan membawaku? Kamu nggak berusaha buat hunuh aku kan? Karena aku nolak kamu terus?" Sea berteriak saat Red akan meraih tangannya, pertanyaan juga bertubi-tubi untuk pria itu.
Meskipun Red membentaknya juga, kenapa Sea tak mampu membalas lagi, dan saat Red mengatakan, "Ayo." Sea menurut.
Sea menurut, berhubung ia juga tidak tahu dimana ia berada, maka tak mau hilang ia merelakan tangannya ditarik oleh Red.
Sea merasakan sensasi ngeri saat Red mengaitkan jemarinya untuk di genggam. Pria itu tidak mengucapkan sepatah kata, namun memberikan satu senyuman sempurna saat Sea mengamatinya dalam langkah. Masih bergandengan tangan, Sea melihat pintu di penghujung jalan, saat Red membukanya, satu pemandangan lampu-lampu jingga di setiap sela pohon-pohon yang berjejer panjang menjadi penikmat mata.
"Red, tempat apa ini?"
"Tempat dimana gue mencurahkan semua pikiran tiap kali inget lo. Nggak perlu gue ulangin kan, gimana lo sangat berarti dalam hidup gue."
Karena Red menemukan tempat ini saat ia beranjak SMA, dimana ia mulai menyaukai apa-apa yang berbau tentang alam. Mencari tempat dimana ia bisa menemukan bulan, memandang bulan di tempat tenang dan menciptakan rumput sebagai alas punggungnya.
Dan untaikan kata yang diucapkan Red menimbulkan kekacauan dalam pikiran Sea, mendadak kembang api meledak-ledak dalam perutnya. Sea tidak mau terlalu tenggelam dalam pikiran nyaman, siapa tahu Red hanya membual.
Red dan Sea berjalan terus hingga menelan waktu lima menit, semakin dekat dengan suara air yang semula bergemericik hingga bersuara deras. Sea menatap bingung ke arah Red, namun pria itu tak menggubris, lalu Sea kembali memandang arah depan, dan waw, ia takjub.
Tapi bukan sungai yang menjadi pemeran utama di tempat ini, melainkan pemandangan saat Red menunjuk dengan jari ke arah atas, ada sebuah tali yang menjurus ke rumah pohon di samping kanan. Sea melirik Red yang masih setia menggenggam tangannya, ia seperti digelitik.
"Red, this is truly amazing."
"Thanks." jawab Red sembari menarik Sea ke arah tangga rumah pohon.
Ketika sampai tepat di penghujung bawah tangga, Red mempersilahkan Sea untuk naik ke atas duluan kemudian ia menyusulnya. Sea tidak bisa menyembunyikan kekaguman saat ia sudah berada di puncak, melihat keluar dan pemandangan menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dan Sea baru menyadari, "Ini zip line?" tanyanya saat Red sudah berhasil bersamanya.
"Ya, kalau lo mau, malam ini gue bawa lo terbang kesana." Red menunjuk pemandangan jauh mengikuti tali zip line yang menjulang melewati sungai. "Ingatan masa kecil ada disana semua, lo sama gue, dan gue yakin lo nggak ingat sama sekali."
Karena Red tahu, setidak berharganya dirinya di mata Sea. Dan Red tidak tahu bagaimana Sea selalu ingat saat masa-masa itu, memandang bulan berdua, di belakang rumah dengan alas rumput basah, Sea tidak bisa lupa. Tapi Sea akan diam saja.
Lalu Red membimbing Sea lebih masuk kedalam rumah, wah, sial, kenapa Sea begitu ingin tinggal di tempat ini. Dimana dinding dalam rumah mempunyai kualitas tinggi, bambu mahal yang di ekspor dari Jepang, dengan menyentuhnya saja Sea tahu.
Sea memiliki hotel-hotel unik di berbagai negara, namun saat ia melihat rumah diatas pohon ini, rasa-rasanya ada sesuatu yang berbeda. Di dalam ruangan ini, terdapat sebuah bar kecil yang menawarkan berbagai banyak minuman yang di susun rapi di meja konter, rumah pohon jenis apa ini?
"Jadi, gimana menurut lo? Tempat ini?"
"Kamu nggak niat ngajakin aku minum-minum, terus mabuk, terus kamu perkosa aku kan Red?" Karena ruangan ini sangat cukup hanya untuk melakukan adegan-adegan erotis 21+.
Kurang sabar bagaimana menjadi Red, dalam waktu kurang dari 30 menit, ia dituduh dalam dua kasus, rencana pembunuhan dan pemerkosaan. Red bisa saja menempeleng kepala wanita itu, namun Red memilih mencium gemas bibir Sea.
"Ngarang. Kenapa gue harus repot-repot perkosa lo sedangkan lo aja suka rela." Oh iya. Sea hampir lupa. Lalu wanita itu terbengong hingga akhirnya Red menuntun lagi untuk duduk di sofa.
Sea memandangi semua yang ada di dalam, satu hal lagi yang membuat ia tertarik, ah bukan, lebih tepatnya Red lah yang membuat agar Sea melirik tempat itu.
Dinding berhiaskan photo-photo kecil.
Red menyondongkan tubuhnya, menatap lekat-lekat Sea yang duduk di sampingnya. "Semua perasaan gue, ada disana. Sekarang lo boleh percaya apa enggak, tapi yang jelas gue bener-bener cinta sama lo, dari kecil."
Sea mundur, ia berpaling dari tatapan Red dan menoleh ke kanan, mulai melihat satu-satu photo yang ada di dinding, meraba photo pertama, jika Sea tidak salah ingat, itu adalah photonya bersama Red saat bermain pasir pantai. Photo kedua, entah siapa yang mengambil photo ini, namun pemandangan yang Sea tangkap adalah Red dan dirinya yang tertidur di halaman belakang rumah, disamping lapangan golf, beralaskan rumput dan malam hari.
Lalu sisanya, photo kebersamaan Red dan Sea saat bermain. Red memilikinya? Sedangkan Sea satu lembar pun tidak. Lalu, pandangan Sea beralih pada photo photo yang menggambarkan bulan di malam hari, Sea menghitung, ada lebih dari sepuluh.
"Kamu suka bulan?" Sea bergumam tanpa menoleh ke arah Red.
"Karena bulan ngingetin gue sama lo, dimana awal gue suka sama lo."
Sama. Sea juga begitu. Tapi bukankah itu hanya ingatan masa kanak-kanak. Kenapa Red sampai memikirkan sedalam itu? Sampai sesuka itu?
Dan kenapa hati Sea repot-repot untuk bergetar.
Apa sebenarnya arti Red baginya saat ia juga sama sekali tidak lupa dengan kenangan manis masa kecil mereka?
Apa arti Red bagi Sea? Sea menemukan diri mulai memikirkan itu. Namun sesungguhnya ia sudah tahu jawabannya, sepertinya Sea terjebak dalam penyangkalannya sendiri. Red sangat berarti untuk Sea, itu kesimpulannya, dengan mengalahkan kekeraskepalaan otak.
Terlepas dari euforia yang terbenam dalam pikiran, Sea membuka pembicaraan, melenyapkan kesepian. "Lalu Rubby? Kalau kamu cinta aku, kenapa nggak nunggu?"
"Logis gue nunggu orang yang jelas-jelas nggak ada rasa sama gue?"
"Lalu, apa bedanya dengan sekarang, aku masih nggak ada rasa sama kamu." Menyangkal, Sea berdusta lagi, padahal hatinya berkali-kali berdebar.
"Karena gue udah nggak sama Rubby. Karena gue bersumpah lo harus jadi milik gue."
"Kalau kamu masih sama Rubby, artinya kamu nggak akan ngejar aku?"
Seharusnya Sea tidak menarik Red dalam ranjang malam itu, agar semua yang terjadi setelah hari itu tidak membuatnya tertekan. Dan dalam benak Red, ia tidak tahu mau menjawab apa.
"Jadi lo merepotkan, Se. Lo bikin gue bingung dengan pertanyaan yang jelas-jelas gak pernah terjadi. Gue disini, artinya gue nggak sama Rubby, kalaupun itu seandainya, gue paling nggak suka berandai-andai sesuatu dari masa lalu. Rubby, gue nggak cinta sama dia." Karena adanya Rubby disamping Red dulu karena wanita itu dirusak olehnya, Red merasa bertanggung jawab.
Sea memperlebar jarak, keduanya saling berhadapan namun Sea tak mau mendekat seperti tadi. "Secepat itu kamu udah nggak cinta Rubby?"
Red menggeleng. "Sejak awal gue cinta sama lo, dan Rubby menawarkan obat patah hati agar gue bisa lupain lo, artinya, Rubby tahu gue suka sama lo dan tahu jika hubungan gue sama dia itu rentan semenjak lo dateng. Lo sekarang paham kan gimana cemburunya Rubby saat lo ganggu gue dulu?”
Sial. Kenyataannya begitu? Sea adalah ancaman, dan itu bukan main-main bagi Rubby. Jelas jika mantan kekasih Red itu membencinya setengah mati. Namun sekarang? Apakah Rubby masih ingin mendapatkan Red kembali?
"Jadi. Lo tetep nggak mau ikut gue ke Dubai?"
Tidak seperti siang tadi dengan tolakan mentah-mentah, seakan kecamuk dalam otak Sea sedang begelut ria, ia berpikir lama, hanya karena kenyataan yang baru saja terbuka.
Namun, gelengan tetap menjadi jawaban. "Aku harus ngurus perusahaan Red."
Kali ini Sea menolak dengan halus, dengan alasan yang jelas jelas nyata, dari sini pun Red tahu jika sedikit dari hati Sea sudah mempertimbangkan dirinya.
Red menarik tangan Sea, dalam satu sentakan, Red memeluknya, dengan erat. "Ya udah nggak apa-apa. Jaga anak kita baik-baik selama gue pergi, mommy."