Moon

Moon
Awas Saja



Sudah hari ketiga mereka di Bali, hanya Sea, Red dan Arche karena semua sanak keluarga sudah pulang ke Jakarta. Alasan Sea masih menetap di pulau ini karena wanita itu mengalami mual mual tak tertahankan hingga tidak memungkinkan untuk naik pesawat sementara waktu.


Dan hari ini beruntung Sea merasa badannya fit, jauh dari lelah, letih dan kemalasan yang membuatnya malas bangun dari ranjang.


Sea mengajak Arche jalan-jalan, hanya berdua menyusuri jalanan menuju pusat oleh-oleh dan meninggalkan Red yang katanya akan mengurus sesuatu, karena pria itu mengatakan akan bertemu Edward, Sea menduga pasti soal pekerjaan.


Sea tidak masalah, selagi masih ada Arche, tidak ada yang paling membahagiakan baginya. Bahkan Sea sekarang sudah menenteng enam kantong belanjaan di tangan kanan sedangkan tangan kiri menggandeng jemari kecil Arche.


Beachwalk adalah tempat paling bagus bagi Sea, wanita itu duku juga pernah kesini meski hanya beberapa kali saja, dan hal paling utama adalah Arche menikmati keramaian yang ada, ditambah tangannya yang memegang es krim dan sesekali mengayunkan kepala tanda senang.


Satu panggillan telfon terdengar, nama Red memenuhi layar ponsel. Pria itu menanyakan dimana Sea berada dan segera menyususlnya. Dan benar, tak begitu lama Red datang dengan senyum cerah dan pakaian serba formal, berbeda dengan Sea yang menggunakan gaun bertema floral santai ala-ala anak pantai.


“Sudah makan?”


Pertanyaan itu muncul untuk pertama kalinya setelah Red mencium kening Sea. Mungkin pikir Red wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu tidak makan lantaran masih mual-mual atau tidak nafsu, tapi kenyataannya memang Sea belum makan.


“Belum.”


Jawaban singkat dari Sea membawa Red untuk segera menggendong Arche dan menggandeng tangan istrinya. Menelusuri jalan dimana tempat restoran berada yang jaraknya tak teerlalu jauh. Restoran tidak terlalu mewah, tapi Red mengatakan makanannya sangat enak, menu seafood dan steak yang tak tertandingi.


“Enak. Enak. Enak.”


Terbukti, Arche manggut-manggut dan beberapa kali memgatakan enak saat Sea menanyainya sembari menyuapinya.


Bayi Arche yang sebenarnya sudah tidak bayi lagi itu sangat comel dan menggemaskan. Sea beberapa kali harus mengelap sekitaran bibir putranya karena Arche tak henti-hentinya bergerak.


“Masih banyak kerjaan?” Sea bertanya karena Red memandangi tablet dengan jemarinyang sibuk.


Red menoleh mendapati istrinya menanyai itu. Wajah yang semual serius mendadak berubah, Red tersenyum sebelum menjawab. “Dikit lagi selesai, mom.”


Sea menghembuskan napas pelan. Meraih piring berisi daging miliknya dan menyuapkan pada Red. “Sini, aaa dulu.” Membut Red lagi-lagi tersenyum sebelum membuka mulut untuk makan.


“Tadi kemana aja, Mom?”


“Belanja.”


Seketika itu Red melirik bungkusan banyak yang berada di sofa, membuat Red langsung teringat sesuatu. Pria itu membuka dompet dari balik saku jas miliknya, mengambil salah satu card berwarna hitam memgkilap dan menyerahkannya pada Sea.


“Pegang, Mom. Pakai ini aja buat kamu belanja.” Kata Red kemudian.


Red tahu Sea kaya raya, tapi tanggung jawab wanita itu sekarang sudah penuh adalah miliknya. Bisa saja Red sejak dulu memberi nafkah karena ada Arche diantara mereka, tapi ia yakin Sea akan tersinggung jika itu hanya soal materi saja, Red terlebih dahulu mementingkan agar Sea menjadi miliknya, seperti sekarang.


Sea mengangguk, ia juga menyadari menolak hanya akan menjadi ejekan untuk Red. Ia sudah merencanakan apapun untuk masa depan, menggunakan uang Red untuk keperluan rumah tangga dan menggunakan uang sendiri untuk foya foya, cukuo menyenangkan bagi Sea.


Dengan mata berbinar, Sea menatap putranya. “Baby, lain kali habisin uang Daddy yuk.”


Dan anak Sea itu hanya meringis dan mengangguk-angguk polos menuruti perkataan ibunya.


Setelah senang dengan anggukan putranya, satu notifikasi membuat Sea meraih ponsel yang ada di dalam tas slempang yang ia taruh di samping tubuhnya. Satu pesan masuk membuat Sea segera meletakkan ponsel itu kembali dan menatap Red sembari berpikir.


Pilih model yang cocok untuk promosi, papa tahu selera kamu bagus, secepatnya. Papa kirimin photonya.


“Siapa?” Red yang dipandangi merasa pesan itu ada kaitannya dengan dirinya.


“Papa.” Jawab Sea tanoa ekspresi.


“Ada se……”


“Kenapa kamu putusin kontrak dengan Rubby tapi nggak bilang aku?” Perkataan Red terputus karena Sea menanyakan hal yang membuat Red langsung terdiam.


Ya, Davis mengatakan jika hari ini adalah seleksi model baru untuk promosi hotel mereka. Seingat Sea, ia tidak pernah mendengar adanya putus kontrak dengan Rubby, lantas kenapa papanya ingin mencari model baru.


Benar saja, sesuatu pasti sedang terjadi melihat Red tercenung sembari kesulitan untuk mengatakan sesuatu. Namun praduga Sea berubah saat Red dengan ringan berkata. “Pengen ganti aja.”


Dengan geram Sea berdecak dengan keras. “Ada apa? Jujur? Nggak mungkin kamu main putusin kontrak gitu aja Red.”


Seratus persen Sea yakin sesuatu terjadi. Hal ini riskan yang harus dibicarakan bersama, mentang-mentang ia sedang hamil dan cuti kerja untuk sementara, Red mau seenaknya. Sea tahu ia hanya menggantikan Pala Davis waktu itu, tapi keputusan tetap ada ditangan Sea.


“Nggak ada apa-apa, Mom Lagian kamu kan sudah nggak kerja lagi, biar aku sama Om Davis yang ngurus.” Red tetao dengan ketenangannya saat memjawab kecurigaan Sea.


Benar bukan dugaan Sea. Mentang-mentang Sea sudah tidak kerja di perusahaan Martin dan Ardikara lagi.“Tapi aku cuma ambil cuti, sampai proyek benar-benar selesai aku nggak akan ngundurin diri.”


“Kalau aku nggak ngebolehin kamu kerja gimana?” Pertanyaan itu dibumbuhi dengan si pria melipat tangan di depan dada.


Kalau kata Ibu Kirana, durhaka pada suami itu dosa, dan salah satu hal yang dapat dimasukkan dalam kategori durhaka adalah tidak menuruti perintah suami.


“Aku nggak mau durhaka, tapi aku tetep nggak setuju kamu keluarin Rubby gitu aja.”


“Udah terlanjur. Nasi udah jadi bubue.” Sembari mengatakan itu, Red mengintruksikan pada Sea untuk menyuapkan sisa makanan yang belum tandas.


Dan anehnya rasa kesal Sea hilang dan menuruti kemauan suaminya.


“Mom, jangan banyak pikiran, urusan kerjaan biar aku yang urus, kamu jaga kesehatan.”


Sea diam.


Sea masih berpikir, ia yakin Red seorang profesional, Sea juga tahu bagaimana cara kerja pria itu. Meskipun Red tidak setuju sejak awal mengenahi Rubby. Tapi jika tanda tangan sudah terbubuh kontrak untuk satu tahun, kenapa dalam waktu delapan bulan kontrak terputus.


“Kasihan kamu, kasihan anak kita, ya Mom.”


Sea menoleh.


Benar juga, ia tidak harus banyak pikiran, nanti jika Sea sudah enakan ia akan pergi sendiri ke perusahaan.


“Kalau ada apa-apa, atau kamu bohong sama aku, atau memang karena sesuatu yang kamu rahasiakan mengenahi pemutusan kontrak dengan Rubby, kamu harus inget, aku nggak akan percaya lagi sama kamu.”


Red mengangguk mantap. “Iya, Mom.”