Moon

Moon
Bukan Ancaman



Dan ketika malam tiba, Sea sama sekali tidak bisa memejamkan mata, sedikitpun.


Wanita gembil itu berbaring di samping Arche putranya dengan mata terbuka sedang jam di dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam. Sea kebingungan, entah apa yang ada di pikiran, tapi yang jelas nama Red ada di dalam isi kepalanya.


Sea menghembuskan napas kecil, wanita itu melingkarkan tangan di perut Arche, mecoba untuk memejamkan mata.


Nihil, percuma, Sea tetap tidak bisa.


Red belum pulang, sangat tidak biasanya sampai melewati batas waktu. Pria itu selambat-lambatnya pulang paling tidak jam sebelas malam.


Sea merubah posisi menjadi miring memunggungi Arche, tak kunjung reda rasa gelisah akhirnya wanita bersurai pirang itu mendudukkan diri dan mengambil ponsel yang ada di atas nakas, melihat-lihat isi ponsel barangkali Red menghubunginya, tapi kenyataannya tidak karena satu notifikasi saja tidak muncul dalam layar.


Red dimana sih? Sea berteriak di dalam hati. Setidaknya mengirim sms dan mengatakan lembur lebih lama kan juga bisa. Tidak seperti sekarang yang seenaknya.


Tidak bisa dibiarkan. Namun saat Sea ingin memencet tanda memanggil, suara gaduh terdengar, seperti suara denyitan pintu dibuka lalu ditutup, Sea tak berpikir panjang, pasti itu suaminya pulang.


Benar saja, saat Sea mendongak menanti derap langkah yang mendekat, tak butuh waktu lama pintu kamar Arche terbuka, menampilkan wajah lelah suaminya.


“Sampai jam segini?” Tidak ada pertanyaan lain dari Sea selain itu.


Red mendekat. “Maaf mom, tadi temen-teman SMA mendadak ngajak ketemuan di klub.” Jawabnya jujur. “Maaf nggak ngabarin kamu, hp lowbat.”


Red mengeluarkan ponsel dari saku celana, dan benar, saat pria itu menekan tombol power, ponselnya sama sekali tidak bisa menyala.


Sea menghela napas kecil kala mendengar dan melihat pengakuan beserta pembuktian yang baru saja Red lakukan, meskipun begitu Sea tidak mudah percaya karena Red pernah membohonginya, iya, Red berbohong mengenahi apapun di Dubai, lantas untuk alsan barusan, Sea hanya akan diam.


Tapi satu aroma rokok dan alkohol memang bisa membuktikan bahwa Red mungkin memang baru saja berkumpul bersama teman-temannya, hal itu wajar.


“Mommy belum tidur?” Tanya Red sembari menekuk lutut di depan Sea yang terduduk di pinggir ranjang, selanjutnya yang Red lakukan adalah mencium perut istrinya itu.


Sea menunduk, mengelus surai Red dengan getir. “Aku nonton film.” Jawabnya.


Bohong.


Padahal Sea gelisah menanti kepulangan Red. Wanita itu terlalu gengsi untuk menjawab jujur. Sea sekarang bukanlah Sea yang dulu dengan gamblang mengatakan, Red kamu ganteng, Red aku suka kamu atau bla bla dan bla.


“Kamu udah makan?” Sea menanyai itu saat ia tahu Red menaruh kepala di pahanya, pria itu benar-benar kelelahan, Red kemudian hanya mengangguk menjawab pertanyaannya.


Sea merasa sedikit mual karena bau asap rokok dan minuman, bukan bermaksud mengusir, tapi karena si suami sudah makan, alangkah baiknya pria itu mandi sekalian. “Kamu mandi sana gih, bau.”


Tak mau menunggu jawaban ataupun reaksi dari Red, Sea berjalan duluan, meninggalkan pria itu untuk menuju lantai atas, kamar mereka berdua, dan bodohnya Sea, wanita itu tidak memperhatikan sekitar hingga saat ia menutup pintu kamarnya, Red membuka segera dan masuk menyusulnya, ternyata Red membuntutinya.


Membiarkan Sea terbengong seorang diri, Red membuka baju, menampilkan dada bidang dan perut kotak-kotak, Sea menghela napas kecil, ia beranjak munuju ranjang membaringkan diri. Sea kira Red melepas baju karena pria itu menurut untuk mandi, tapi yang diperkirakan Sea sama sekali tidak benar, pria itu justru ikut berbaring dengannya.


“Udah nggak bau kan? Bajunya udah aku lepas.” Red menyengir ringan.


“Yaudah terserah kamu aja, aku mau tidur, ngantuk banget.”


Setelah mengatakan itu Sea memejamkan mata, hingga beberapa detik kemudian ia merasakan kepalanya di elus-elus, siapa lagi jika bukan Red. Sea yang awalnya memejamkan mata terpaksa untuk bangun segera, “Red.” Lalu panggilnya.


“Aku pengen di elus-elus Jeremy.” Sea menjawab.


Yang kemudian membuat Red membolakan mata, kerutan juga tercipta di keningnya. Si pria yang teramat kelelahan itu juga tak menunda untuk bertanya lebih. “Di elus apanya?”


“Perutku.” Sembari mengatakan itu, Sea meraba perutnya yang sudah kelihatan membesar.


Dih.


“Nggak!!” Tolak Red. “Mau itu ngidam, aku nggak ngijinin.”


Sea berdecak. “Jari-jari Jeremy itu cute, kecil-kecil kayak punya anak-anak, pengen banget di elus-elus.”


Red tidak terima. “Apanya yang bagus dari jari keridil kayak gitu. Nggak, aku bilang nggak ya enggak. Ngidam kamu aneh. Beneran ngidam?”


“Kamu nanya? Aku kasih tahu ya, jawabannya iya, aku ngidam.”


Red mau marah tapi tidak bisa, pria itu memilih memejamkan mata. “Nggak usah ngidam aneh-aneh mom, aku nggak perduli kalau kamu minta itu.”


Sea memberengut. “Ngidam mana bisa aku pilih seenaknya, itu spontan Daddy.”


Red terpaksa membuka mata lagi. “Ya jangan Jeremy juga, pilih yang lain.”


“V BTS?” Jawab Sea cepat.


“Aku gigit nih.” Geruti Red gemas.


Sea mengangguk-angguk. “Lee Min Ho?”


“Aku nggak tahu, siapa itu?” Sepertinya Red sangat frustasi saat Sea menyebutkan nama-nama pria yang sama sekali tidak Red tahu. Kemudian langkah yang Red ambil karena tidak punya jalan keluar adalah meletakkan jemarinya sendiri di atas perut istrinya. “Sini biar aku yang elus-elus, nggak usah ngadi-ngadi mau di sentuh-semtuh pria lain. Ganjen banget.”


Tingkah Red yang sedang marah tanpa mau menuruti permintaan Sea tidak membuat si wanuta dongkol, sekarang saja Sea tersenyum puas saat Red menutup mata dengan bibir seperti kerucut karena ngambek, pun tangan pria itu benar-benar mengelus perutnya. Sea jadi gemas sendiri.


Setelah sedikit hening, Sea memejamkan mata, menikmati elusan-elusan yang berganti menjadi desiran hangat dihatinya. Sesak-sesak yang dirasakan akibat tercokol pikiran yang ditamamkan Rubby entah kemana hilangnya, tapi ngomong-ngomong soal iti, kenapa Sea jadi kepikiran lagi. Mendadak sekali, padahal baru saja ia merasa tenang.


Dan entah kenapa disaat ia ingin kedamaia , satu peringatan muncul di kepala.


“Red.” Panggil Sea pelan.


“Hmm. Apa sayang? Ada apa lagi? Apa yang kamu minta? Aku bersumpah akan menurutimu asalkan jangan berkaitan dengan pria. Oke.” Kalimat panjang itu Red sampaikan dengan lembut, mata pria itu terbuka menatap istrinya, pun bibirnya tersenyum seperti bulan sabit.


Sea menggeleng, ia hanya ingin membuat narasi malam ini. “Red, banyak banget yang ngomong sama aku buat percaya sama kamu.” Sea mengatakan itu agar Red tahu kalau ia berusaha untuk percaya dengan pria itu.


Sea akan berhenti curiga, mungkin memang sulit, tapi ia benar-benar ingin mencobanya.


Sedangkan Red tersenyum, ia tidak tahu kenapa istrinya tiba-tiba mengatakan hal itu. Apa ada yang menganggu pikirannya? Atau memang Sea belum seratus persen percaya padanya. Dan disaat Red mengangguk, satu ungkapan dalam bentuk paragraf muncul dari mulut Sea lagi.


“Mungkin memang udah seribu kali aku bilang sama kamu, aku bertaruh untuk keputusanku hidup bersama kamu.” Sea menghembuskan napas kecil. “Tapi Red, kalau sampai aku tahu kamu berbohong satu kali saja, aku bersumpah tidak akan pernah bisa memaafkanmu. Aku akan benar-benar pergi dari hidup kamu.”