
“Hello, kebetulan apa memang……?” Sapa Sea menggantung saat baru saja sampai untuk menemui mereka. Sea berdiri di sisi meja, lalu kedua orang yang duduk itu mendongak.
Kedua mata mereka serempak melebar melihat kehadiran Sea yang menyapa dengan ramah walau kendati sapaan dengan nada halus itu menyembunyikan keketusan yang luar biasa.
Latania yang baru saja sampai sontak menarik lengan Sea, tapi sahabatnya itu diam dengan tangan melipat di bawah dada, menolak mentah-mentah ajakan Latania. Sedangkan Latania sendiri yang baru menyadari bahwa pria yang tidak bisa ia kenal sebelumnya ternyata adalah sosok yang teramat ia tahu, wanita itu sampai membekap mulut.
“Njir, Jeremy, mata gue nggak rabun kali ini.” Celetuk Latania tanpa tahu malu, bahkan wanita itu menggunakan nada keras.
Sea tersenyum amat ramah dan lebar, tak ikut heboh seperti yang Latania lakukan. “Maaf ya, aku ganggu, cuma aku nggak bisa nahan buat nyapa kalian berdua.”
Jeremy si pria yang amat Sea cinta di jaman dulu itu memincingkan mata dengan kegelisahan yang kentara., bertanyapun dengan terbata. “De-dek, Sea.”
Sea mengangguk. “Hai kak Jeremy.”
“Dek, gimana kabar kamu, lama nggak bisa nyapa.” Ya jelas, bagaimana bisa Jeremy menyapa jika di samping Sea selalu ada Red yang selalu memandang Jeremy dengan pelototan mata yang begitu lebar. Dan satu hal lagi yang membuat Jeremy terkejut, kehadiran Sea yang mendadak di waktu dan tempat yang kurang tepat, apalagi membawa perut gembil itu.
“Baik kak.” Kemudian Sea memandang Rubby yang diam tak berkutik. “Ngomong-ngomong sejak kapan kak Jeremy kenal Rubby? Atau kebetulan aku yang nggak tahu hubungan kalian?”
Biarkan Sea menjadi orang kepo kali ini saja. Wanita itu menatap Jeremy yang belum bisa menjawab apa-apa, Sea yakin banyak sekali rahasia yang sebenarnya tidak perlu Sea tahu tentang dua orang di depannya.
Sea beralih menatap mantan pacar suaminya itu. “Rubby? Jujur, apa kak Jeremy yang bikin kam-,”
Sebelum Sea selesai menutaskan pertanyaan, Rubby berdiri dengan cepat, lalu wanita yang sedang hamil juga itu menarik tangan Sea untuk menjauh.
Sea tahu Latania melotot melihat adegan itu, Latania juga berniat menyusulnya, tapi gerakan tangan Sea yang melarang Latania, jadi wanita sahabat Sea itu lebih memilih duduk dan berhadapan dengan Jeremy saja.
Rubby membawa Sea ke tempat yang sepi, dibawah pohon disamping cafe, disini Sea mulai memastikan bahwa Rubby akan berbicara dengan maksud tidak terdengar oleh dua orang yang duduk di kursi sana.
Sea dan Rubby memutuskan untuk duduk di kursi panjang, keduanya hamil, mungkin duduk akan mengurangi efek kelelahan.
“Dia?” Sea tak mau menunda untuk menanyakan hal itu lagi. Sea menyandarkan tubuh di punggung kursi dan melipat tangan di bawah dada. “Yang hamilin kamu?”
Oke, Sea menoleh kesamping, Rubby sedang menunduk dengan wajah pucat, Sea berpikir mungkin wanita itu sedang banyak pikiran, cih, lebih menderita mana sebenarnya antara Rubby dan dirinya? Bukankah Rubby dalang dari semua kehancuran yang dialami Sea dan Red? Jadi kenapa saat ini yang nanpak lebih terpuruk justru Rubby?
Rubby bergerak, ia mendongak dan menjawab penuh bangga. “Red, yang hamilin gue Red.”
Sea tersenyum tak percaya dan tak habis pikir dengan jawaban Rubby. “Kasih tahu aku, kenapa muka kamu dan Jeremy tegang saat aku hampirin?”
Sea mungkin bodoh terlambat untuk sadar, bahwa Red tidak sebrengsek yang ia bayangkan. Red tidak selingkuh dengan Rubby, apalagi sampai menghamili wanita itu. Sea percaya Red seribu persen.
Sea masih menatap Rubby yang terdiam lagi. Lalu Sea beralih menatap perut Rubby yang lebih besar dari perutnya.
Tatapan Sea melembut. “Aku nggak mungkin ngebiarin Red nggak tanggung jawab jika aja itu memang anak kamu adalah anak Red.”
Sea menarik napas pendek lalu melanjutkan kalimatnya. “Red bilang, dia nggak hamilin kamu. Dan dia juga sudah kasih bukti ke aku.”
Mungkin memang harusnya Sea marah besar dan mengumpat banyak hal kepada Rubby, tapi Sea tidak bisa melakukan itu lantaran perangai Rubby seperti orang pesakitan. Rubby juga sama wanita seperti Sea, dan Sea pun juga sudah lelah untuk marah-marah sepanjang waktu, karena Sea juga sadar akan kondisi bayi di dalam perutnya jika emosi Sea terus-terusan tidak terkontrol.
“Aku tahu kamu masih suka, atau bahkan masih cinta sama Red. Tapi nggak gini caranya Rubby.” Sea berbicara dengan nada begitu tenang, wanita itu lalu menggeleng. “Semua udah nggak bener.”
Rubby menggeleng keras. “Lo nggak tahu apa-apa Sea.”
Sea setuju, jujur ia tak tahu banyak, tapi setidaknya ia tahu bagaimana menemptkan diri dari sudut pandang manapun.
“Aku nggak mau ngomong banyak hal Rubby, aku capek dan nggak mau juga bikin kamu tambah pusing, terlebih kita berdua sama-sama hamil, kita nggak boleh setress.” Sea tersenyum tipis. “Tapi satu hal, semua yang kamu lakuin itu salah besar.”
Rubby akhirnya diam.
“Terus gimana? Gue harus gimana? Apa yang bisa gue lakuin kalau yang ada dikepala Red cuma lo? Bahkan saat gue dulu bersama Red, yang ada di otak dia cuma lo.” Sahut Rubby cepat.
Bahkan Rubby mengakui itu. Mungkin hanya Sea saja yang tidak menyadari bahwa Red hanya terjatuh untuk dirinya saja.
Mendadak momen-momen membahagiakan yang diberikan Red padanya semenjak pria itu mendapatkannya berputar dikepala Sea. Sea terlalu serius mendekap rasa sakit hingga lupa bagaimana cara Red dengan mati-matian membuat Sea bahagia, bukan cuma satu kali, dua kali atau tiga kali, bahkan Red mencoba membuat Sea bahagia setiap hari.
Sedangkan apa yang diminta Sea? Wanita itu justru meminta perpisahan tanpa memikirkan orang lain, tidak menaruh Arche sebagai orang yang sangat membutuhkan sosok ayah, tidak memperdulikan bagaimana kedua keluarga akan kecewa padanya, dan terlebih lagi tidak memikirkan bagaimana Red akan sakit hati.
Sea menarik napas kuat-kuat, sesak tiba-tiba menyergap dada.
“Tapi bukan berarti harus hancurin rumah tangga aku dengan Red. Apa kamu pikir setelah aku cerai dengan Red, dia mau sama kamu?” Sea berkata lebih realistis lagi. “Aku nggak tahu dengan hidup kamu, yang pasti, jika bukan Red yang bisa kamu miliki, berarti ada orang lain yang akan kamu miliki.”
Sea beralih mentap jalanan sebelum kembali menatap Rubby lagi. “Kita sama-sama wanita, kamu juga hamil, kalau kamu nggak kasihan sama aku, tolong pikirkan bagaimana nasip Arche yang bisa saja kehilangan ayahnya.”
Sejenak, Sea terdiam.
“Aku juga salah dengan mudah bisa percaya kalau Red sebrengsek itu bisa hamilin kamu, harusnya aku lebih mau mendengar penjelasannya dari awal.” Nada bicara Sea penuh penyesalan. “Mungkin saja, semua nggak akan serumit ini dan Arche nggak akan bingung antara milih aku apa milih ayahnya.”
Sea saat ini merasa menjadi wanita yang sangat brengsek setelah tahu fakta bahwa Red yang terbaik.
“Red sudah berkeluarga, Rubby.” Ungkap Sea lagi. “Satu-satunya pria bukan Red saja. Jangan bodoh hanya demi cinta, sampai-sampai moral dan logika nggak dipakai.”
Karena Sea juga pernah berada diposisi Rubby saat dia nekat menjadi selingkuhan Jeremy.
Rubby tetap diam tak mengatakan apapun.
Sea menghembuskan napas pelan untuk meredam emosi yang hampir tidak bisa ter kontrol, padahal Sea sudah menahan mati-matian.
“Jadi, aku tanya lagi, Jeremy yang hamilin kamu? Dia tahu? Atau dia belum tahu?” Tanya Sea lagi. “Kalau dia belum tahu, aku bantu kamu kasih tahu dia.” Sea menawarkan bantuan.
Rubby menggeleng keras beserta melebarkan mata. “Bukan, bukan Jeremy.”
Jadi? Kenapa Rubby bertemu dengan Jeremy?
Dan untuk Jeremy, Sea juga sempat tidak percaya bahwa pria itu mampu menghamili Rubby, bahkan Sea tahu jika Jeremy tak pernah melakukan hubungan seksual layaknya suami istri normal kecuali dengan istrinya sendiri, karena Sea sendiri merasakannya, bagaimna Jeremy menyiksa dirinya dengan alat-alat tak bermoral hanya untuk menimbulkan hasrat, setelah hasrat terkumpul, Jeremy akan pulang untuk bersenang-senang dengan istrinya.
Tapi sepertinya untuk urusan itu Sea tidak akan ikut campur, entah siapa yang menghamili Rubby, suaminya sendiri atau orang lain. Tapi yang jelas sekarang Sea sudah selesai dengan urusannya.
“Aku rasa aku udah selesai bicara sama kamu.”
Sea berdiri dan meninggalkan Rubby tanpa kata-kata lagi. Sea teringat kembali dunia yang sempat membuatnya bahagia, saat-saat ia bersama Red di sisinya. Sesak lagi-lagi menyergap dada Sea, dan seketika juga pendengaran Sea semakin sunyi, ada jenis perasaan yang bercampur aduk, Sea bahagia karena ia tahu Red tidak menghianatinya, lalu Sea bersedih kembali karena membuat Red putus asa karena keputusannya.
Sea menyebrang hati-hati, ia juga melupakan Latania yang masih bercengkrama dengan Jeremy, tujuan Sea hanya satu, menuju mobil yang terparkir di cafe sebelumnya, Sea sangat ingin-ingin berkendara menuju kantor suami yang masih ia gantung akan keputusan berpisah atau tidak.
Sea menghentikan mobil yang melintas lalu berlari cepat-cepat, namun satu hal yang tidak diketahui Sea, di posisi yang tak mampu Sea lihat meski lewat ekor mata sekalipun, ada pengendara mobil lainnya yang melintas dengan kecepatan sedang, lalu setelah itu terdengar suara decitan rem yang memekak telinga.
Sea terjatuh di aspal. Perpaduan cuaca yang amat terik dan panas seakan tak sebanding dengan yang Sea rasakan di bagian perutnya sekaligus kepalanya. Sea ingin menjerit meminta pertolongan, tapi mulutnya terasa seperti dikunci rapat-rapat hingga Sea merasakan cairan kental merembes mengenai bagian tubuh lainnya.
Sea tersenyum, kilas balik kisah dimana Sea pertama bertemu lagi dengan Red untuk pertama kalinya sedang diputar, keceriaan Sea saat Arche lahir di dunia, sumpah pernikahan yang Sea ucapan, tatapan lembut dan senyum manis dari Red, serta keluarga kecilnya yang bahagia saat berkumpul bersama.
Sea meminta maaf di dalam hatinya.
Untuk semua kesalahannya, untuk Arche yang punya ibu tolol seperti dirinya, untuk anak yang ada di dalam kandungan karena Sea telah menyakitinya, untuk suaminya yang harus melewati banyak kerumitan karena keras kepalanya.
Lalu mata Sea kian memberat bersamaan dengan berkumpulnya banyak orang, Sea tak sanggup, beban rasa sakit terangkat ringan, lalu semua menjadi gelap.