
"Lo sadar nggak semenjak kepergian kak Sea banyak sekali yang berubah?"
Banyak. Diantara sepinya kedua rumah, menurut Sky, kepergian kakaknya lebih dari satu bulan yang lalu membawa perubahan yang teramat besar, contoh yang tidak terasa adalah, ketika Sea pergi, anak sulung tetangga sebelah juga pergi, ada hal aneh yang terjadi, namun Sky pendam sendiri.
"Ya, termasuk uang jajan gue berkurang. Biasanya Kak Sea ngasih atm sisa, kan lumayan, sisa dari kak Sea nggak maen-maem, sepuluh juta bisa buat nongkrong lima hari."
Pletak.
"Sakit anjing!!!"
Satu pukulan mendarat tepat di kepala Blue, maksud Sky bukan itu, seperti yang dipikirkan Sky tadi, Abang tetangga yang tiba-tiba hilang, kata Mommy Kirana sih anak sulungnya itu pindah permanen ke apartemen, tapi yang aneh, kenapa lebih dari 30 hari pesan Sky tidak dibalas.
"Nggak lo nggak bang Jared, kenapa nyebelin banget sih!!! Kalau cuma 10 juta, gue jabanin buat lo. Susah ngomong sama orang nggak peka."
"Sorry ya, gue terlalu baik buat nyebelin, cukup bang Red doang!! Gue kurang peka apa?"
"Nggak, kalian berdua sama!!"
"Terserah."
Blue tampaknya marah, pemuda itu bangkit dari gazebo belakang untuk pulang ke rumahnya, lagipula hari sudah sore, hampir dua jam keduanya mengerjakan PR bersama, daripada melihat Sky menuduhnya dengan hal tidak-tidak dan itu akan berimbas dengan emosi Blue yang kurang stabil, makanya, Blue lebih baik menghindar.
"Mau kemana lo?"
"Pulang." Blue menjawab dengan suara yang cukup pelan, tanpa berbalik memandang Sky.
"Temenin gue ******, pulang gue bunuh lo."
Oke. Tampaknya Blue tidak bisa menang kali ini. Anggap balas budi. Dimana Blue sendiri dan merasa hatinya kosong karena kehilangan Ayah-nya, sosok Sky lah yang selalu ada dan menghiburnya, sesuai porsi, maksudnya, Sky berani bertingkah konyol hanya untuk membuatnya tertawa, bukan seperti Mama-nya yang akan selalu mengatakan sabar kemudian kembali bekerja untuk menyibukkan diri.
Blue paham, Mama-nya juga terpukul, makanya ia tidak mau memberi beban terlalu banyak atau menampakkan kesedihan terlalu kentara, namun Sky, gadis itu sepertinya terlalu peka, tahu saja jika Blue menahan dari rasa sedih dan berpura-pura bahagia.
"Gue nggak peka darimana?"
Sky menahan senyumannya. Gadis itu tahu, Blue tidak akan terima dengan tuduh-tuduhan tidak mendasar, Sky juga yakin, Blue sedang menahan kemarahannya.
"Sorry. Bukan itu maksud gue. Atau cuma gue aja yang ngerasa bang Jared aneh, makanya gue bilang lo nggak peka, nggak peka dengan keaadaan, karena lo diem aja, sedangkan gue harus nahan satu bulan."
"Aneh?" Blue terpengarah, ada apa dengan Abang-mua sampai Sky berbicara yang tidak-tidak.
Sky mengangguk, ia menatap Blue lamat-lamat sampai badan tegap sepenuhnya. "Lo bener-bener nggak peka ya. Begini, pertama, setelah gue maki-maki bang Jared karena doi nggak angkat telepon gue, lo inget kan waktu kak Sea berangkat ke Jerman?"
Blue mengangguk, tentu saja ingat, waktu itu ponselnya juga ikut berkontribusi menghubungi Abang-nya, tapi percuma, sama seperti Sky, Red tidak mengangkat, namun saat pukul 10 pagi, Sky berhasil menghubunginya dan berakhir Red marah-marah karena tidak ada yang memberitahu kepergian Sea sejak awal.
"Lo inget kan gue bilang bang Jared marah-marah, tapi anehnya, waktu bang Jared pulang, doi nggak bilang apa-apa, sama sekali, bahkan nyapa gue aja enggak, eh tau-tau besoknya udah pindah aja ke apartemen."
"Aaaa...." Blue paham, apakah Blue harus menceritakan hal yang sebenarnya, tentang kepergian Jared dari rumah?
Blue melihat bagaimana mata Sky penasaran menunggu respon darinya, pemuda itu kasihan jika harus merahasiakan hal yang sesungguhnya.
"Setau gue, malam harinya, bang Jared berantem sama mama, gue nggak tahu pasti sih alasannya apa, sumpah gue nggak tahu, tapi keputusan bang Jared pergi sudah bulat, bahkan saat gue tanya, dia nggak bisa jawab apa-apa, dia cuma titip pesen, jagain mama, itu doang."
"Sial." Sky tiba-tiba marah, mukanya mendadak merah padam. "Kok bisa bang Jared marah sama mama Kirana, minta di getok nih kepalanya, lo yakin nggak tau masalahnya? Kenapa lo nggak maksa bang Jared sih. Gue kan penasaran."
Setidak hormatnya Blue dengan Jared, tentu Blue punya batasan sendiri untuk tidak ikut campur terlalu banyak dengan urusan Abang-nya. Apalagi Jared adalah anak sulung yang menanggung beban banyak di pundak, sedangkan Blue masih menjadi bocah ingusan dan menggantungkan hidup kepada keluarga.
"Lo pikir gue bisa mencak-mencak kayak lo ke abang gue. Lo sama gue punya batasan yang berbeda Sky."
Sky merasa tersindir. Dibandingkan dengan Blue, Sky dari dulu memang sangat dekat dengan Red. Begini mudahnya, Sky menjadi adik manja untuk Red, tanpa perduli bagaimana kehidupan Red sesungguhnya, Sky bisa berkomentar apapun atau melarang bahkan mengatur Red dengan segala perintahnya, saking dekatnya. Sedangkan Blue, ia menggantungkan hidup kepada Kakak-nya, tahu sekali kondisi apa yang dialami kakaknya, dari dalam maupun luar, menjadi adik yang tahu diri tentu Blue menerapkan batasan-batasan agar ia tetap bisa menghormatinya.
"Betul juga sih. Gue sama kak Sea juga gitu, nggk berani aneh-aneh."
Seperti kebalikannya, Sky pun merasa ada kesamaan dengan kondisi yang dialami Blue, dimana ia juga enggan berbicara banyak kepada Kakak-nya sendiri, apapun masalah Sea, atau urusan pribadi Sea, Sky sama sekali tidak berani ikut campur, tapi bukan berarti ia tidak tahu sampai titik dasar nol, e lebih intimnya Sky tidak mau ikut campur.
"Blue. Gue kawatir sama bang Jared."
"Tadi katanya nyebelin, sekarang kawatir."
Sky mengacak-acak ramburnya. "Gue sebenarnya kangen."
Sky adalah orang dengan gengsi nomer satu di dunia, Blue paham itu. Pemuda itu juga tahu bahwa Sky menyayanginya, pun sayang juga kepada Abang-nya, namun bentuk sayang dari Sky itu tidak dengan perkataan lemah lembut, ataupun perhatian seperti orang yang benar-benar mencurahkan sayang dengan perlakuan baik.
"Sky." Panggil Blue setelah kurang dari satu menit mereka terdiam. "Gimana kalau gue anter lo ke apartemen bang Jared, siapa tahu lo dapet jawaban dari pertanyaan besar yang ada di kepala lo, karena seperti yang gue bilang tadi, sumpah gue nggak tau apa-apa, bang Jared mungkin sibuk, jadi kita yang nyamperin aja."
Sky bungkam.
Logikanya. Pesan dari Sky untuk Red terkirim, tapi Abang laknat itu tidak membalas, apa jadinya jika Sky tiba-tiba muncul, kemungkinan terburuk yang akan terjadi adalah di usir.
"Nanti kita diusir."
"Apa bang Jared sejahat itu?"
Sky menggeleng. "Ya enggak sih, lupakan fakta jahat, menurut gue, semenjak bang Jared nggak bales pesan gue, ada sedikit ke-engganan Blue, gue takut sama bang Jared, apalagi terakhir ketemu itu, mata bang Jared waktu lihat gue nusuk banget, gue kek lihat lucifer dalam bentuk manusia."
Blue tertawa terbahak-bahak, saking kencangnya suara, ia sampai memegang perutnya yang terasa ngilu, astaga, Sky lucu sekali. Sejak kapan adik durhaka seperti Sky mempunyai rasa enggan untuk Red yang selalu di debatnya.
"Gue serius njing, tertawa lagi gue bunuh lo."
"Sky, Blue, itu ngomongnya kok kasar sayang."
Blue dan Sky kompak menoleh ke belakang, disana sudah ada Kirana dengan baju kantornya, baru pulang dari kerja.
"Peace mom, typo." Sky beralasan sembari mengancungkan jari telunjuk dan tengah, tanda damai.
"Kalian sini, berdua, mama mau ngomong penting."
Tak perlu berpikir panjang, Blue dan Sky menghampiri Kirana, mereka semua duduk melingkar di sofa teras rumah belakang Ardibrata.
Semua nampak tegang, Kirana pun kedua anak-anak yang ada dihadapannya.
"Mom, ini mau sidang PBB atau apa? Kok tegang banget, mana Sky penasaran lagi."
Blue melirik sinis kepada gadis itu, padahal Blue juga penasaran, tapi ia lebih sabar.
Kirana menarik napas dan menghembuskan begitu pelan. "Begini, kalian jangan kaget, karena mama tadi sudah cukup kaget, karena kita seperti keluarga sendiri, mama tadi dapat telefon dari mama kamu Sky."
Tiba-tiba perasaan Sky tidak enak, tangannya sudah saling meremat, berita apakah? Sepenting apakah sampai orang tuanya tidak bicara langsung padanya?
"Ap-apa mom? Jangan bikin Sky takut dong mom? Ya Tuhan, ada apa ini?"
"Sky, stop, alay lo."
Sky melotot tidak terima. "Blue, wajar gue takut. Semua keluarga gue jauh."
"Mau lanjut nggak ini?"
Keduanya mengangguk, karena Kirana benar-benar berada di mode serius.
"Karena jarak Indonesia menuju Jerman itu jauh, dan acara yang diadakan sangat privat plus mendadak, sejujurnya mama juga kecewa nggak bisa datang karena mama harus urus kalian."
"Ma, stop, jangan berbelit-belit." Giliran Blue tidak sabar, sebenarnya ada apa? Acara apa? Kecewa kenapa? Duh astaga.
"Kak Sea besok menikah."
"Ya gusti, saya syok berat." Sky lesu dan punggungnya bersandar pada punggung sofa. "Tapi dengan siapa mom? Kok aku nggak dikasih tau? Kakakku sendiri nikah dan aku nggak hadir!!! Takdir macam apa ini? Harusnya aku marah, tapi nggak berani marah sama kak Sea." tiba-tiba Sky bangkit lagi dan berbicara layaknya rapper dadakan.
Itulah kenapa Sea dilahirkan di keluarga Martin dan menjadi anak pertama, dan Sky paham dengan hal itu. "Iya mom, aku paham, jadi kapan aku bisa ngunjungin kak Sea ke Spanyol?"
"Kalau kamu ada libur, nanti mommy dan mama kamu bisa usahain."
"Aku juga ikut." Blue menyela, ia juga tak mau ketinggalan.
"Itu sudah pasti."
Sky melemas lagi, tidak tahu dengan perasaannya saat ini, ingin sekali marah, tapi seperti yang dikatakan oleh Kirana, kondisi seperti ini sangat wajar terjadi.
***
"Lo kenapa sih Red, ngelamun mulu kerjaannya?"
Red menggeleng ketika Edward menanyainya. Keduanya berada di apartemen, Red masih menggunakan setelan rapi baju kerja karena baru saja pulang dari kantor, sedangkan Edward memang sengaja mengikutinya, ada pekerjaan yang harus diurus bersama, dan dijadikan lembur.
Edward menghela napas, dibandingkan Red yang pendiam, jujur ia memilih Red yang cerewet dan protes dengan banyak hal. Satu bulan lebih Red pindah ke hunian ini secara permanen dan selama itu pula temannya itu berubah drastis, 360 derajat, seperti tak punya mulut karena sangat irit berbicara.
"Lo mikirin apa sih Red?" Red menggeleng, dibandingkan dengan kaca di pinggir ruangan, bukankah lebih tampan Edward, namun kenapa Red lebih memilih memandangi luar daripada melihat kearahnya. "Lo galau ya?"
Sekali lagi Red menggeleng, pemuda itu mengusap wajahnya dengan tangannya sendiri, merasa sangat lelah tapi mencoba untuk tetap sibuk, karena pada detik berikutnya, Red menghampiri satu set meja dan kursi dimana itu adalah tempatnya untuk bekerja di apartemen ini.
Edward memandangi Red, tidak yakin jika gelengan kepala adalah jawaban yang benar, karena Edward saat ini sudah mulai muak dengan keterdiaman Red. Dari raut sahabatnya itu, terlihat jelas bahwa Red sedang memiliki masalah yang terpendem, jika biasanya Red mau bercerita, tidak dengan sekarang, makanya Edward seperti kelimpungan sendiri.
***
Seperti ada yang hilang begitu banyak dalam hidup Red.
Dia tak pernah seperti ini sebelumnya, mencurahkan energi untuk pekerjaan tanpa mau berhenti meski kecamuk dalam kepala selalu membuatnya membuka mata.
Red menertawakan diri sendiri.
Bagaimana nasib membawanya pada titik paling sial. Ditinggalkan, Sea, gadis itu meninggalkannya untuk kedua kali, dan Red tidak berani berpikir jika tindakan Sea adalah sebuah kesalahan karena pada kenyataannya Red memang tidak berhak mendapatkan gadis itu, sedikitpin Sea tidak pernah menyimpan Red dalam hatinya.
Red memandangi ponselnya yang tergeletak di meja, berangan-angan, sekali saja Sea menghubunginya, tapi Red juga ingat, mana mungkin gadis itu menghubunginya, sekali lagi Red tertawa.
Satu email masuk dari layar komputernya, sebelum Red membuka surel itu, ia mendapati nama Rubby berada dalam daftar email yang pernah ia terima, seingat Red, gadis itu terakhir kali menitipkan beberapa photo di sana, kalau tidak salah, enam bulan yang lalu.
Soal Rubby, gadis itu mempunyai porsi lebih besar dalam menghancurkan hidup Red, sampai ia meninggikan suara kepada ibunya, sampai ia harus meninggalkan rumah.
Rubby…….
"Red, ada Sky dan Blue mau ketemu lo." Panggilan Edward membuyarkan semua pikiran Red yang kacau.
Red tersenyum, salah satu cara untuk membuatnya senang selama sebulan lebih merasa terpuruk adalah kedua adiknya ini. Red sadar ia mengabaikan pesan Sky, ia tidak ada niat buruk, hanya saja takut jika semua yang ia rasakan pada Sea keluar begitu saja untuk dicurahkan kepada Sky.
"Bang, lo nggak kangen gue ya?"
Sky yang melihat Red keluar dari ruangannya tanpa gengsi langsung bertanya sedemikian rupa. "Waah, ada apa nih? Lagak lo kangen, sini peluk gue kalau kangen."
Tau bagaimana ekspresi Edward?
Tentu kaget setengah mati, selama sebulan lebih Red yang bisu tiba-tiba lancar bicara hanya karena melihat Sky. Ajaib.
"Bang Edward tinggal disini?" Blue yang tidak punya kepentingan dengan Red memilih duduk di sofa menemani Edward dan membiarkan Sky dan abangnya berada di ruang kerja.
"Enggak, gue cuma kawatir sama abang lo, diem mulu? Curiga nggak?"
Blue menggeleng, ia tidak akan sebocor itu meski tau Edward adalah sahabat Abang-nya, tidak mungkin juga Blue mengatakan Abang-nya bertengkar dengan Mama-nya, jika begitu namanya membuka aib keluarga sendiri.
Sedangkan Sky yang sudah mulai relax dan melepas rindu itu merogoh ponselnya dalam kantung celana. "Bang, niatnya gue kesini itu karena gue kangen lo dan gue ngerasa lo juga aneh nggak bales chat gue, tapi tujuan gue berubah dari satu jam yang lalu, kak Sea mau ngomong sama lo, katanya hp-nya rusak dan nggak tahu nomer lo."
Red tertawa sedikit, pada kenyataannya Red lah yang merusah sebelum Sea berangkat ke Jerman.
"Mana?" tahu bukan Red tidak suka basa-basi, ia langsung mengulurkan tangan agar Sky menyerahkan ponselnya.
"Biar gue yang telpon, lo tinggal tunggu kak Sea angkat, sana jauh-jauh." Sky menyerahkan ponselnya setelah menyambungkan teleponnya pada Sea.
Red menempelkan ponsel Sky pada daun telinga dan beranjak menuju dekat jendela dan meninggalkan gadis itu duduk di sofa.
"Red....ini kamu kan?"
Red tertegun.
Suara yang ia dengar sangat lembut, suara Sea, yang sangat ia rindukan. Matanya memejam, bibir bawahnya ia gigit dan degub jantungnya berubah cepat.
"Sea...iya gue Red." Jawab Red akhirnya, suara pemuda itu lirih, dan Red bisa membayangkan bagaimana ekspresi Sea saat ia mendengar gadis itu tertawa karena mendengar jawabannya.
"Red..kamu gimana kabarnya, maaf aku nggak tahu nomor kamu, maaf nggak pamit."
Mendengar Sea berbicara sedikit banyak membuat Red lega dan menyandarkan setengah badannya di dinding dan matanya menatap pemandangan luar jendela.
Rasa-rasanya Red ingin sekali mengulang bagaimana kebersamaan mereka, harusnya Red tidak membentak Sea saat pertama kali gadis itu menganggunya, harusnya.
"Gue baik, kalau masalah itu lupain, gue nggak giman-gimana kok." Red adalah pembohong, padahal ia kelimpungan dan rindu setengah mati.
Lama sekali mereka berada di dalam keterdiaman, dan itu membuat Red mengingat bayangan malam terakhirnya bersama Sea, membuat Red sulit sekali memejamkan mata saat malam tiba.
"Red, ada sesuatu yang mau aku sampaikan ke kamu."
Suara Sea kembali terdengar. Entah kenapa peringatan dalam dada Red membawanya pada kemungkinan buruk, ia tidak tahu tiba-tiba jantungnya kembali tidak normal karena kecepatannya meningkat setelah tenang beberapa saat.
"Red, aku besok menikah."
Jantung Red seperti dihantam batu bertubi-tubi. Setelah ia terdiam, Sea malah membuat pernyataan yang membuat dada Red sesak.
Harusnya kemungkinan buruk seperti ini adalah hal yang harus Red terima.
"Ibu Kirana belum bilang ke kamu ya?" Tanya Sea karena Red sama sekali tak berkutik. "Ya wajar sih, mama juga baru bilang tadi ke ibu."
Red tahu, mudah bagi Sea mengatakan hal itu, karena apapun yang terkadi, diantara Sea dan pemuda selain Jeremy tidak akan melibatkan perasaan, bahkan Red yang sudah meniduri Sea tidak menjamin dan membuat hati gadis itu luluh.
"Jadi, siapa yang bisa buat hati lo luluh, Se. Siapa laki-laki itu?" Red ingat perbincangan malam itu, mengenai apa yang membuat orang tertarik dan jatuh cinta, untung seribu untung Red masih ingat, jadi ia bisa mengunakan itu untuk mengisi percakapan yang seolah membuatnya bisu.
Red mendengar Sea tertawa, gadis itu terlihat bahagia. "Yang pasti, aku nggak suka cowok bule, suka sih, tapi aku nikahin orang indo."
Kali ini giliran Red tertawa, terdengar normal tapi suram. Bertahun-tahun Jennie yang berada dan mengisi genggaman tangannya, tapi Sea bisa dengan mudah masuk dan menghancurkan hatinya lagi.
"Red, apapun yang terjadi di malam itu, kamu tahu kan itu adalah kecelakaan, kita sama-sama dalam keadaan mabuk." Red menghela napas dan mendengarkan dengan seksama apapun yang dikatakan Sea. "Jangan dikenang ya, seperti yang aku bilang, kita ini keluarga, aku sama hidup baruku, aku berhasil menemukan orang yang bisa gantiin Jeremy, dan semoga kamu dan Rubby juga hidup bahagia, harus bahagia ya Red, karena aku tahu kalian saling mencintai."
Boleh tidak Red berteriak dengan kencang jika ia ingin terjun dari gedung apartemen ini. Sea tidak akan pernah tahu bagaimana perasaannya, karena setiap kali gadis itu datang maupun pergi dalam kondisi yang sangat tepat hingga Red menempati posisi yang terlihat baik-baik saja.
"Red, kamu denger aku kan? Nggak ada yang pengen kamu sampein ke aku?"
"Selamat." Balas Red cepat, ia tak tahu sedikit lama lagi jika ia masih menyambungkan telepon dengan Sea ia masih akan baik-baik saja apa tidak.
"Ya udah, aku tutup dulu ya, kamu baik-baik disana, titip Sky."
"Iya."
Dan di detik berikutnya, tanpa perduli Sky yang mengamatinya, Red menggenggam ponsel yang sudah terputus sambungan telepon dan berjongkok menyembunyikan kepala pada lutut dan tangan yang menekuk.
Ini adalah akhir, begitu pikir Red.