Moon

Moon
Led Daddy



Bagaimana jika tempurung kepala yang sama-sama keras disatukan dalam satu argumen?


Begini.


Sea sadar pria yang sedang menyandarkan bokong di bibir meja beserta tangan mendekap di bawah dada adalah manusia keras kepala pun diktator mengingat perkataannya tak mau dibantah, sekali A tetap A, contohnya saja, saat dulu pria itu memandikan Sea dengan terang-terangan dipinggir jalan tanpa bisa wanita itu menolak.


Dan.


Sea yang sebenarnya suka mengalah adalah topeng belaka. Bentuk dari topeng itu sendiri seperti saat Sea berkali-kali diam meski Red memarahinya, tersenyum saat Red mencaci, dan bersabar saat Red menyuruhnya pergi.


Sea yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan Red, keras kepala, sesuka kemauannya, tidak bisa dipaksa dan berdiri tangguh sesuai apa yang ada dipikirkannya.


"Red. Apa mau kamu?"


"Aku?"


Baru saja keduanya memasuki kantor utama pria Ardibrata, Sea tidak mau mengulur waktu hingga itulah pertanyaannya yang dijawab dengan pertanyaan juga.


"Begini. Aku udah nolak kamu. Papa sudah bilang, kamu mau nikah sama aku. Please, aku juga sudah berkali-kali bilang sama kamu, kita tidak akan pernah bersama, apapun alasannya."


"Lo suka gue kan?"


Sea tersenyum, tentu saja, siapa yang tidak menyukai Red. "Tentu, seperti yang aku bilang juga sedari dulu, selalu suka, tidak pernah berkurang dan selalu bertambah porsi. Kamu tampan soalnya."


Red meringis, pria itu menunduk dengan jemari memijit pangkal hidung. Sea memang tidak pernah berubah. Lalu apa yang harus ia lakukan untuk mendapatkan balasan cinta?


"Kalau gue bilang, gue mau.."


"Tidur bareng lagi? Make out?"


"Se-Se...."


Sea berjalan cepat hingga membuat Red menegakkan tubuh dan berhenti bicara, wanita itu tak berkata-kata hingga berakhir mencium bibir Red dengan kedua tangan menarik kerah baju pria itu.


Ciuman tidak rakus pun tidak juga pelan sampai membuat Red mengangkat tangan keudara. Sea berniat memancing gairan Red atau bagaimana? Karena apa yang Sea lakukan diluar dugaan, wanita itu ******* bibir Red, memainkannya, mengulum atas dan bawah bergantian.


Srak.


Tatapan Red berada di ambang pintu, dimana Melody, sekertarisnya tak jauh berbeda menunjukkan ekspresi yang sama, bola mata membesar dan mulut menganga lebar.


Sea melepas ciuman, memutar badan untuk melihat siapa orang yang tengah menimbulkan suara di belakangnya, ah, perempuan itu, setahu Sea, yang sedang kebingungan disana adalah sekertaris Red.


"Kamu nggak nyuruh dia keluar?" Sea bertanya seakan apa yang baru saja wanita itu lakukan adalah hal biasa.


Red menggerakkan kepala, mengintruksikan Melody untuk cepat keluar dari ruangan.


Tatapan Red untuk Sea tak terartikan, pria itu bingung mencerna apa yang baru saja terjadi hingga tak bisa berkata-kata.


"Kalau kamu cuma mau ciuman, aku bisa beri, kalau kamu juga mau tidur bareng, aku juga bersedia. Asal, jangan meminta aku menikah dengan kamu. Itu hal yang tidak mungkin. Dari sini kamu paham maksudku kan Red?"


"Dan lo bersedia jadi wanita murahan?"


"Aku murah. Kamu tahu sendiri Red, seberapa murahnya aku ini. Beri aku tip untuk empat tahun yang lalu."


"SEA."


Sea memjamkan mata saat Red membentaknya, namun tak begitu lama ia membukanya kembali. Ia sudah bersikap biasa lagi. "Aku kira saat nolak kamu di Bandara udah bikin kamu berhenti. Tapi apa? Kamu bilang papa. Asal kamu tahu, aku nggak ada waktu buat mikirin hal seperti itu Red. Aku mohon ngertiin aku. Lagipula aku sudah punya anak, dia prioritasku."


"Aku nggak perduli lo punya anak apa enggak."


Masih bisa menjawab? Oh gosh. Apa lagi yang harus Sea katakan. Tuhan tolong. Sebenarnya Sea penasaran, apa yang menbuat Red tertarik dengannya.


"Selain one night st..."


"Gue berkali-kali bilang ke lo, alasan gue bukan karena one night stand."


"Lalu apa? Nggak mungkin kamu jatuh cinta sama aku Red. Itu mustahil."


"Mustahil? Kalau kenyataan itu benar. Apa lo mau berubah pikiran?"


Hening. Tidak, itu tidak mungkin. Red tidak mungkin menaruh rasa padanya. Itu hal yang sangat mustahil.


"Kamu jadiin aku pelarian? Aku tahu kamu patah hati karena Rubby kan? Ayo cerita sama aku, biar clear, biar kamu nggak salah paham sama perasaan kamu sendiri." Bahkan Sea sampai menyeret tangan Red untuk digiring dan berakhir duduk di sofa.


Sedangkan Red tidak tahu lagi harus memulai dari mana. Mengatakan jika Sea cinta pertamanya? Cinta yang sudah tumbuh dari badan sekecil kerdil? Apa mungkin Sea percaya?


"Red. Aku nggak bisa diginiin. Aku suka kamu, itu bener. Tapi untuk jadi pendamping kamu, menjalani rumah tangga, sama sekali nggak ada dalam list hidup aku. Kalaupun menikah lagi, aku cuma mau rujuk sama mantan suamiku."


Kenapa dada Red sesak sekali. Kalau tahu Sea sekeras ini, bukankah lebih baik Red menghamili saja waktu itu. Sama seperti saat Rubby dihamili Geido, gadis itu langsung menikah dengan sahabatnya. Jika saat itu Red bisa menghamili Sea, sudah pasti bukan Red bisa menikahi wanita di depannya ini.


"Red. Aku juga mau klarifikasi. Kenapa Blue bilang kamu maunya nikah sama aku? Kamu ngomong apa aja sama dia? Kamu harus tanggung jawab, karena Blue ngomong begitu, satu rumah heboh, dan itu membuat aku nggak nyaman."


Red hanya bisa diam saat Sea memuntahkan segala kecamuk yang ada dipikiran. Karena Red memang tidak menyangka respon Sea begitu keras, Sea benar-benar tidak mencintainya.


Sea praktis menggeleng, "Yang masih ada dalam otak aku, melekat banget, kamu cinta mati sama Rubby."


"Itu nggak bener."


"Dan aku nggak percaya. Jadi tolong, kita bisa menjadi keluarga, seperti dulu."


"Keluarga nggak akan ngelakuin apa yang kita lakuin empat tahun yang lalu. Gue nggak akan pernah bisa jadi keluarga lo ataupun temen lo. Lo juga harus paham itu."


Sea terdiam. Sedalam itu Red memikirkan malam panas yang terjadi empat tahun yang lalu. Padahal Sea menganggap tidak penting meski wujud nyata Arche hidup di dunia.


"Pokoknya, inti dari pembicaraan ini, aku nolak kamu. Titik."


Red tersenyum lebar, lalu secepat kilat mencuri satu ciuman di bibir Sea, mata dengan senyum sabit itu mengembang, lalu saat ciuman teurai kembali, Red berkata. "Lo nolak terus? Nggak usah khawatir, I'll keep try to reach you up."


"Sinting!!!"


Untuk pertama kalinya Sea mengumpat, di depan Red dan itu membuat Red tersenyum lebih lebar dari sebelumnya. Lalu satu ciuman Red curi kembali, satu kali lagi.


Dan kejutan lagi Red dapatkan saat ia berdiri, dua perempuan sudah berada di ambang pintu. Beruntung Red tidak ketahuan saat mencium Sea.


"Mama." Red memanggil Kirana. Satu baby sister menyerahkan anak yang lucu untuk digendong Kirana. 


"Anak siapa itu?" Tanya Red, lalu dengan langkah memburu menghampiri pintu.


Mau tak mau Sea yang masih duduk di sofa harus menoleh.


Dan.


Takdir apa yang sedang mempermainkan Sea, tidak adil.


Untuk pertama kalinya, hal paling menakutkan Sea rasakan saat ini juga. Kenapa dada Sea sesesak ini. Kenapa harus bertemu sekarang? Kenapa harus di tempat ini?


Saat Sea berlari dan ingin merebut Arche dari gendongan Kirana. Tiba-tiba kakinya membeku, tak bisa digerakkan.


Bagaimana cara Arche antusias saat Red merentangkan tangan menawari gendongan, dan bagaimana cara Arche menyebut.....


"Led daddy."


"Arche, ini Om Jared." Sea mendengar Kirana membenahi ucapan Arche.


Namun Arche menggeleng. "No, Led daddy, Led daddy."


"Led daddy? Anak siapa ma? Lucu banget. Wajahnya...."


Sea menggeleng spontan, wajahnya seketika pucat pasi saat Red beralih untuk menggendong putranya, bagian paling sial ketika Red memandangi Arche dengan kerutan alis yang kentara.


"Red. Kamu nggak tahu, ini anak Sea." Kirana berkata demikian,


Lalu Kirana melihat Sea yang sedang berdiri kaku. "Sea, tadi Arche rewel, makanya Oma Seruni nyuruh Ibu bawa kesini, katanya kamu rapat di kantor Red. Soalnya Ibu baru pulang dari Dubai langsung pengen lihat Arche."


Sementara Sea membisu dengan raut wajah pucat pasi, Red masih mengamati bagaimana cara Arche yang berkali-kali memanggil nama 'Led daddy' sembari menatap Rec penuh atensi.


"Nak. Sea." Kirana kembali mengintrupsi Sea karena wanita itu tak sedikitpun menyahutinya.


Red menoleh, mengira-ira kenapa Sea menatapnya dengan gugup.


Led daddy? Led daddy? Atau Red daddy?


Seperti ada bom yang meledakkan dada Red, menghantam dan menghancurkan rongga pernapasannya. Seketika ia melihat lagi bagaimana wajah bayi tiga tahun yang ada digendongannya sangat persis seperti dirinya.


Red menatap tajam ke arah Sea yang tampak seperti seonggok daging tanpa nyawa, diam, membisu dan hanya kebingungan, tangan wanita itu mengepal lalu membuka, berulang-ulang.


Dan saat itu juga, satu persatu kepingan masa lalu berkumpul. Sea menikah satu bulan setelah pergi dari Indonesia. Logikanya, Sea adalah salah satu dari kebanyakan perempuan yang anti dengan namanya pernikahan, pun saat itu Sea baru saja putus cinta, tak selang lama, kabar hamilnya Sea juga datang dari Mama-nya, terlalu cepat, mungkin dulu Red tidak curiga, tapi sekarang.


Sea yang mendapat tatapan penuh pengancaman lantas tersandar dan berjalan cepat. "Sini, baby sini gendong mommy."


Sial.


Tatapan Red beserta langkah menjauh membuat Sea sedikit naik pitam. Tidak, Red tidak boleh tahu. Atau mungkin pria itu sudah tahu.


"Red. Sini-in anak aku!!"


Kembali, Red semakin mundur menjauhi Sea. Mencegah wanita itu untuk meraih Arche dari pelukannya.


"RED!!" Sea menyentak.


"DIA ANAK GUE, SEA! ANAK KITA!" Red berteriak keras.


Sea berdiri bagai patung monumen ditengah jalan, ia spontan tak bergerak.