Moon

Moon
Tumbang



“Baby, berapa? Udah muncul?”


Pertanyaan itu muncul dari wanita cantik berbalut dress hijau floral dengan lengan terbuka. Rambut pirang Sea tergerai panjang dan bergelombang, lipstik merah cerry yang dioleskan dibibirnya membuat Sea terlihat sangat cantik.


Sea sebenarnya ingin pergi ke kantor Martin, atau bisa dibilang perusahaan ayahnya, niat wanita itu ingin mengurus pekerjaan yang sempat ia tinggal karena mual-mual di kehamilan. Bahkan Arche yang sudah siap dan duduk di jok samping Sea itu membolakan mata saat dering ponsel Ibunya berbunyi dan menggagalkan acaranya.


Kenapa?


Jawabannya adalah Melody sekertaris suami Sea itu menelpon dan mengatakan bahwa ketua pimpinan perusahaan hampir pingsan karena sedikit deman, dan lebih menyebalkan lagi, saat Sea menyuruh Melody untuk menyerahkan ponsel kepada suaminya, si pria itu menolak dan hanya ingin kehadiran Sea. Niat Sea hanya satu, membawa Red kerumah sakit.


Sea sebenarnya tidak terkejut Red mengalami drop di detik ini, karena Red tidak pernah berhenti bekerja, lembur setiap hari dan terakhir kali merendam badan di kolam pagi buta dengan air dan angin yang dingin luar biasa, jelas Red terserang penyakit.


Sedangkan beberapa saat, Arche yang ditanyai Ibunya itu mengangkat benda panjang yang baru saja diambil dari telinga Ayahnya, lalu si pria dewasa sekarang sudah tertutup selimut dan berbaring di ranjang ruangan pribadi kantornya.


Arche mengerjab sebelum membaca hasil thermometer yang ada di tangannya. “Dua puluh delapan koma enam puluh Mom.” ucapnya kemudian.


Sontak membuat Sea melototkan mata, wanita yang sibuk mengaduk bubur karena ia sangat ingat Red pergi pagi-pagi karena tidak mau sarapan. Begini kan hasilnya, bekerja dengan perut keroncongan sehingga hampir pingsan. Dan sekarang tatapan Sea tak berubah sedikitpun untuk memelototi suaminya, sedangkan Red sendiri takut-takut hingga selimut ia tarik untuk menutup kepalanya.


“Baby, marahin Daddy kamu.” Perintah Sea tegas kepada Arche. Sea segera mengambil thermometer dari tangan putranya lalu diletakkan di meja, langkah Sea selanjutnya mengambil ponsel yang ada di nakas.


Sea menarik napas halus, memandang Red yang tetutup selimut, wanita itu menggeleng. Kenapa Red susah sekali dibilangi.


Sedangkan si baby mengangguk antusias. Bocah cilik itu meletakkan kedua telapak tangan di masing-masing pinggang, meniru gaya Sea apabila ibunya itu marah ketika Arche nakal.


Sekarang, Arche siap memarahi ayahnya. “Kan dibilangin nggak bisa. Siapa suruh ngambek nggak mau cepet mandi, Mommy kan nggak bisa mandiin orang gede.” Suara Arche bersama omelan terdengar sangat lucu sekali. “Lihat sekarang Daddy sakit. Panas, hidung merah, hampir nggak bisa nafas, kalau nggak bisa nafas beneran gimana?”


Langkah Sea meminta Arche memarahi Red berbuah wanita itu geli sendiri, hingga pria yang mendengar omelan puteranya itu menyingkirkan selimut yang menutup kepalanya, Red melotot tidak percaya. Barusan Arche bilang tidak bisa napas bukan? Artinya Red bakalan mati? Akhirnya pria itu menatap satu-satunya wanita yang ada diruangan ini, menatap si wanita dengan tatapan horor.


“Lihat Arche nurut sama Mommy, di suruh mandi ya cepet mandi, nggak rewel kayak Daddy.” Arche bangga pada dirinya sendiri dengan menepuk dada, dan tanpa jeda yang memberi Red kesempatan untuk menjawab, Arche mendekatkan diri kepadanya.


“Daddy haus kan, mau minum? Arche ambilin.” Tiba-tiba sekali. Red menggeleng tandanya tidak ingin minum, pria itu tersenyum geli karena melihat kelucuan Arche. “Yaudah, Daddy tidur aja, Arche main dulu sama Melody Aunty.”


Setelah tepukan yang Arche berikan di surai ayahnya sebanyak tiga kali, bocah itu melenggang pergi, keluar dari kamar pribadi dan menuju ruangan kantor besar milik ayahnya.


“Oh my goodness.” Geram Red dengan suara serak dan tawa lirih. “Mommy, itu gimana konsepnya? Arche barusan bilang aku nggak bisa napas artinya mati kan? Kok bisa gitu sih? Kamu kasih makan apa dia?”


“Nah, nyalahin anaknya, orang Arche bener kok. Kamu aja nggak tahu umur, udah tua itu harusnya jaga diri.” Jawab Sea tanpa menggunakan hati sama sekali.


Red terdiam lagi, ia hanya menggerutu tanpa suara karena ia takut pada Sea. Memilih jalan aman karena wanita itu mendekat padanya dan duduk di tepian ranjang.


“Bentar lagi temenku dateng kesini, dia dokter, karena tua rebta suamiku ini tidak mau dibawa kerumah sakit, jadi sebagai istri yang mulai sayang suami, aku mau kamu cepet sembuh.”


Perhatian dengan kedok kejudesan sontak membuat Red tersenyum seperti orang tolol.


“Aku nggak mau dokter cewek.”


Sea merotasikan bila matanya. “Kenapa? Kamu mau bikin kesan nggak mau dipegang cewek di depanku?”


Red kok jadi gemas dengan istrinya ya. Red sedari dulu tidak pernah mau berurusan dengan dokter wanita. “Enggak Mommy.”


“Udah terlanjur, orang dokternyandari keluarga Mandala, Angel Mandala, kalau aku nggak salah denger dia teman kamu SMA dan dia temen aku di Jerman sana. Udah nggak ada penolakan ya.”


“Baby main sama Melody, emang nggak ngrepotin ya?”


Red menggeleng. “Melody malah suka, nggak cuma Melody, lihat aja entar waktu jam istirahat, ada lebih dari sepuluh orang sliweran keluar masuk ruangan hanya karena maj lihat Arche.”


Sea mengangguk. Sedetik kemudian notifikasi ponselnya berbunyi. Anggel sudah ada di depan, bersamaan itu pula Melody juga menelfonnya, sekertaris Red mengatakan ada seorang Dokter di depan, dan Sea tak membuang waktu agar Melody mengantar Angel untuk kesini.


Tak berapa lama dokter wanita teman Sea waktu di Universitas sekaligus teman Red waktu SMA itu memunculkan diri bersama Melody. Wanita itu disambut Sea dengan baik dan langsung memeriksa Red yang mengeluarkan tanpang lempeng itu.


“Demam biasa ini mah. Kecapean. Alhamdulillah.” Anggel menurunkan stetoskopnya dan memberikan suntikan pada Red. “Dibuat istirahat aja, bentaran sembuh. Orang pemain sepak bola mana bisa sakit lama, kembaran buaya mah tegar.”


Karena faktanya Red memang pemain sepak bola waktu SMA. Dan pria yang disebut buaya itu melirik Angel sensi, ck, menyebalkan sekali.


“Gue maunya langsung sembuh. Lo kasih suntik dodis berapa. Banyakin dikit.”


Angel menggeleng, menatap Sea yang berdiri disampingnya. “Lo pengen Sea jadi janda apa gimana. Gue kasih dosis normal, habis ini tidur, bentaran enak, serius.”


Red tetap sensi, ia mengenal Angel, dulu juga sempat satu kelas dengan wanita itu. “Oh iya bapak Red lo harus banyak minum. Tekanan darah bagus sih, tapi juga ingat umur. Lo sering begadang ya? Kantong mata lo hitam. Juga jangan banyak pikiran.”


“Lo dokter apa peramal, kok tahu banget?” Red tak menunda waktu untuk bertanya karena yang dikatakan Angel benar adanya.


“Gue Dokter bege.” Jawab Angel cekikikan. Wanita dengan surai hitam itu menatap Sea. “Ini udah berapa bulan?” Tanyanya dengan mengelus perut Sea.


“Kamu tahu aku hamil?” Sea bertanya karena ia sangat lama tidak bertemu dengan Angel.


“Tahu lah, aku kan Dokter, paham bener. Kamu kurus Sea, jangan bilang kehamilan ini persis empat tahun yang lalu, sering muntah-muntah?”


“Lo tahu Sea hamil empat tahun yang lalu?” Red bertanya dengan kagetnya, bagaimana ia terkejut krena Angel tahu.


“Tahu lah, orang gue di Jerman waktu Sea hamil. Gue juga tahu lo bapaknya Arche.”


Red memandang Sea dengan bertanya, lalu menatap Angel lagi. “Kok lo nggak bilang gue?”


“Ngapain gue bilang lo kalau Sea nya aja nggak mau, udahlah, yang lalu biarlah berlalu kek lagunya BCL.”


Angel baru saja pulang ke Indonesia satu tahun yang lalu. Dan hari ini sebenarnya wanita itu dibuat terkejut saat Sea mengirim pesan untuk datang ke tempat ini, perusahaan Ardibrata yang jelas saja milik Jared Ardibrata. Jujur Angel masih bertanya-tanya karena tidak tahu kondisi sekarang seperti apa. Tapi saat Angel masuk, wanita itu sudah menduga jika Red dan Sea sudah bersama, membuat Angel ikut bahagia.


“Yaudah pokoknya lo jaga kesehatan, Sea kalau hamil itu gampang drop, siapa ntar yang jagain kalau pawangnya sakit.”


Dan itu kalimat panjang terakhir dari Angel sebelum wanita itu undur diri, wanita itu di antar langsung oleh Sea kedepan. “Thanks Angel.”


“Kayak sama siapa aja. Kamu udah nikah kan?”


Sea mengangguk malu. “Ya, setelah aku tahu hamil anak kedua ini.”


Praktis Angel menggelengkan kepala lalu tertawa. Dan disaat Angel dan Sea keluar dari ruangan Red untuk menuju tempat dimana biasanya Melody menerima tamu, ternyata disana sudah ada sosok Rubby.


Sea menarik napas dalam, sedangkan Angel tidak tahu harus berbuat apa, sebagai seseorang yang mengenal Sea, Red dan Rubby, wanita itu merasa ada sesuatu yang mengganjal diantara ketiganya.


Sea melangkah lebih dulu, tangan wanita yang on the way beranak dua itu terlipat di dada, memandang Rubby seolah mencela. “Jadi lo emang suka banget nemuin suami orang?”