Moon

Moon
Something Wrong?



Dan sepertinya apa yang ada di kepala Sea berbeda dengan apa yang diucapkannya.


Begitu juga dengan tubuhnya yang tak mampu menolak, menahan diri dari serangan Red yang begitu menggoda. Sea justru membuat Red semakin terbakar gairah hanya dengan membalas ciuman pria itu.


Bagaimana ya, Sea perempuan yang tak terjamah lebih dari tiga tahun, alasan kedua karena apa yang didapatkan dari Red berbeda dengan bagaimana cara Jeremy memperlakukannya dulu. Red penuh kelembutan, dan Sea tidak menampik jika dirinya suka.


Ciuman Red kian liar dengan decapan kuat yang mengudara ke seluruh ruangan.


Sea sampai tidak sadar sejak kapan posisinya sudah beralih dipangkuan Red. Sembari melepas ciuman, mulut wanita itu masih terbuka beserta tangan yang sudah berada di pundak prianya.


"Berhenti." Kata Sea ketika Red mulai mendekat lagi, namanya juga keras kepala, Red justru mencium dagu Sea lalu mengendus sudut bibir juga, tak ayak membuat Sea terjamang dan terbujuk hingga terbuai lagi. Sea sepertinya kerasukan setan nafsu. Dada Sea berdesir hebat sebab tangan Red yang meraba kemana-mana.


Tak tahan, Sea memilih memejamkan mata lagi, sedangkan Red menciumi leher jenjang dan berakir di tulang selaka Sea yang menonjol.


Tidak mau membuang waktu, pun tidak susah payah untuk berkata sesuatu, Red menggendong Sea untuk memasuki kamar istirahat pribadi milik Sea di ruangan ini. Persetan, Red akan melakukannya disana.


Seketika itu, Sea terjingkat, ia tidak bodoh, pun Sea bukan anak SD yang akan bertanya 'kita mau apa disana' atau 'kenapa kamu bawa aku kesana' atau hal yang lain-lainnya, ia jelas tahu apa yang diinginkan Red darinya. Dan Sea cukup waras untuk menolaknya, meskipun ia pernah berjanji mau melakukan apa saja untuk Red asalkan bukan ajakan menikah.


"Red, stop, aku nggak mau." Sea menolak, wanita itu justru kian mencengkram jemarinya di pundak si pria, apalagi ketika Red merebahkan tubuhnya di ranjang.


Sea lantas bangkit, ia duduk dan memandang pintu yang masih terbuka, Red tahu dan pria itu berdiri, berjalan dan menutup pintu, tak lupa untuk menguncinya juga.


"Re..."


Lagi, Red membungkam mulut Sea dengan ciuman.


"Jangan berisik mom." Red mengatakan itu tanpa dosa, ia sudah bebal, tak mau mendengarkan penolakan Sea lagi, justru tangannya kian kurangajar karena melucuti gaun yang Sea pakai.


"Aku nggak mau Red." Sea tetap menolak, menggeleng sembari mengulum bibirnya.


"Liar..." Red mengatakan itu sembari menciumi apa saja yang ada di tubuh Sea.


"Red, please, aku nggk mau hamil lagi." Sea nampak frustasi. Sumpah, Sea tidak apa-apa jika hanya make out saja, tapi untuk alasan lainnya, Sea benar-benar tidak ingin hamil lagi, ia tidak ingin melakukan kesalahan untuk kedua kali.


Red terdiam sejenak, lalu pria itu menggeleng. "Enggak."


"Red."


"Nggak apa-apa, pelan-pelan."


"Aku nggak mau."


"Tapi aku mau."


Sia-sia sepertinya perdebatan antara Red dan Sea jika akhirnya keduanya tetap beradu senggama di dalam sana.


***


Pagi hari sangat indah.


Itu bagi Red.


Segarnya pagi tak pernah sesegar ini. Setidaknya Red masih bisa merasakan debar bahagia melingkupi hatinya yang kasmaran.


Red tersenyum lebar, bahkan saat ia berjalan di koridor kantor senyumnya tak pernah surut, bagai dirasuki setan bahagia. Sapaan selamat pagi dari para karyawan pun bagai ditelan bumi, Red tidak bisa mendengarkan, yang ia ingat hanya Sea yang tempo hari bisa ia dekap seharian.


Red tidak tahu begini rasanya dapat durian runtuh, mendapatkan Sea berada disisinya walau hanya sehari saja sudah bisa membikin hatinya gila, ia yakin Sea tak akan pernah lagi lepas untuk selamanya.


"Seharian aku menunggumu di ruangan ini Boss, kemaren dari mana saja?" Edward yang memasuki ruangan Red saja tidak terdengar detap langlahnya.


Red memutar lagi kursinya, bahkan senyum dari bibirnya tak hilang justru bertambah lebar melihat pemuda tampan, putuh berjas biru tua dengan map ditangan.


"Hilangkan boss dan bawahan, lo tau sendiri gue ketemu Sea." Jawab Red pada Edward. Lalu ia menerima map dan membacanya dengan teliti.


"Anak lo?"


"Ntar habis ini gue kesana."


"Gue nggak tau, tapi gue bahagia."


Red tersenyum lagi, menatap Edward dengan sedikit kebingungan. Sedangkan Edward jujur ia bahagia bisa melihat senyum Red kembali lagi semenjak Sea ada di Indonesia. Bahkan saat di Dubai, Red mengutus langsung agar Edward memastikan Sea tidak bersama laki-laki lain, dalam artian Edward menjadi spy dadakan untuk membuntuti Sea.


Edward mengambil napas singkat, memasang senyum seadanya lalu meraih sebuah map lagi, "Gue nggak tau sampai kapan lo berurusan dengan Rubby, ini kontrak masih mau lanjut?"


Red mengangkat pandangannya lagi setelah tadi kembali konsentrasi dengan map pertama, lalu ia meraih map yang disodorkan Edward. "Lo tahu Sea keras kepala, dan lo juga tahu ini keputusan bersama."


"Ya, gue sepenuhnya tahu tapi tidak tahu jalan pikiran Sea."


"Melody mana? Kenapa lo yang ngurus ini semua?"


"Melody sakit, gue kasih istirahat tiga hari."


Red mengangguk, "Kasih dia istirahat sampai dia benar-benar bisa bekerja, enam bulan di Dubai pasti melelahkan."


"Siap boss."


Hembusan napas dilayangkan oleh Red, pria yang menggunakan setelan jas formal berwarna cokelat itu mengangguk dan menyandarkan tubuh di kursi.


"Ada sesuatu yang ngebuat gue merasa bersalah, sama Sea."


Praktis Edward menyandarkan punggung di kursi juga, tangannya pun mendekap di dada. "Rubby?" Tanyanya, melihat ekspresi Red yang diam saja, lantas Edward bertanya, "Really? Fatal?"


Red menggeleng. "Enggak, nggak ada yang fatal."


Seketika Edward mengelus dada, ia tidak membayangkan jika ada sesuatu, pasti kakek Rusdi akan mewawancari Red seperti Polisi menginterogasi pencuri.


Red menandatangi berkas-berkas yang dibawa Edward tadi, lalu ia menutup pena dan berdiri.


"Arche sebentar lagi ulang tahun." Red tiba-tiba mengatakan itu. Ia punya ide cemerlang melibatkan Edward dalam urusannya. "Gue punya niat bawa lo buat ngurusin semuanya, tidak ada penolakan."


"Dari semua yang lo bilang ke gue pagi ini, yang paling menarik adalah ulang tahun Arche, gue nggak bakal maafin lo kalau kalau lo ada apa apa sama Rubby." Red tidak bisa melupakan fakta jika Red tadi mengeluh dengan penyesalan, dan sialnya Edward tidak tahu masalah apa yang ada diantara mantan pasangan kekasih itu.


"Aman, gue bilang aman."


Dan jawaban Red dilingkupi dengan senyuman, hari ini, Red sedikit gila karena sebentar-sebentar tersenyum idiot, Edward bahagia melihat Red banyak tersenyum, tapi tidak begini juga. Katakan Edward terlalu khawatir, bahkan berlebihan, tapi sumpah demi Tuhan, Edward menyayangi temannya satu ini.


"Red.."


"Ya.." jawab Red cepat. Mendongak menatap raut cemas yang ditampilkan oleh Edward padanya. Bukannya merasa tidak nyaman, justru Red tersenyum lagi, memiringkan kepala dan berkata. "Niat gue nikahin Sea tambah besar, artinya, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, lo lihat sebentar lagi gue bakal ada dipelaminan."


Edward terdiam. Lalu menarik napas dalam. "Gue mau percaya kalau lo bisa selesain masalah lo dulu sebelum gue tahu apa yang terjadi antara lo dan Rubby." Kecam Edward. "Gue nggak mau hidup lo hancur lagi, lo paham."


Dan Red kali ini benar-benar menganggap serius perkataan atau peringatan Edward. Sembari tersenyum ia menjawab. "Doain gue, Ed."