Moon

Moon
Sidang Keluarga



Dan dari sekian dusta, Sea tidak pernah tahu bahwa Red yang mengatakan cinta kepadanya adalah orang dengan omong kosong belaka.


Rubby, wanita itu menggenggam kedua tangan Red dengan tatapan cinta. Bagaimana Sea tahu? Entahlah, Rubby dengan netra bergetar dan Red dengan tatapan datar. Itulah pemandangan yang Sea saksikan saat ini, di depan matanya.


"Kalian sudah selesai?"


Satu pertanyaan Rusdi membuat pasangan mantan kekasih itu mengurai jarak, pun Sea yang keluar dari kamar rahasia Red dengan mata sembab langsung menaruh perhatian.


"Sea? Kenapa kamu menangis?" suara Rusdi hampir sama seperti Red, bedanya Red lebih dalam dan seksi. Lupakan soal itu, saat ini Rusdi lebih terkejut saat ada Rubby yang tepat berada di depan cucunya. "Kenapa Rubby disini? Saya sudah mengatakan bukan, kau tidak bisa menjadi model untuk perusahaan ini. Red, apa kau yang memanggilnya?"


Sea tidak tahu situasi apa yang ada dihadapannya. Tapi, faktanya Rubby tak kalah terkejut saat melihatnya keluar dari kamar rahasia. Sea tak ingin banyak berkata-kata, karena Rubby tidak ada urusan sama sekali dengannya, jika dulu Sea tahu dirinya adalah momok paling menjijikkan bagi Rubby, tidak untuk sekarang, Sea bahkan menganggap babak menggelikan itu sudah berakhir.


"Kakek Rusdi, bagaimana kabar Kakek?" Sea mendekat dan memeluk sebentar pria tua Ardibrata. "Ibu Kirana mana?" Sea bertanya karena hanya Arche yang ada di dalam benaknya.


"Aku sangat sehat, Nak. Kamu mencari Kirana? Dia tidak ada."


Maka Sea ingat pesan Red kepada Ibunya sebelum pria itu menyeret Sea kedalam kamar, Ibu Kirana pasti sudah pulang membawa Arche.


"Kakek, Sea pulang duluan, kapan-kapan Sea main ke rumah Kakek." Sea dengan cepat bergegas sebelum setelahnya mencium tangan Rusdi untuk berpamitan.


Sea sama sekali tidak menggubris bagaimana ekspresi Red dan terikan pria itu yang mencegahnya keluar dari ruangan. Sea tidak khawatir, karena di detik itu juga, ia mendengar Kakek Rusdi meneriaki Red karena suatu masalah, entahlah, yang jelas Rusdi terlihat marah, Sea hanya menangkap sekelebat nama Rubby yang sebelumnya keluar dari mulut Kakek Rusdi.


Sea benar-benar tidak perduli.


Saat Sea menginjakkan kaki di rumah, pemandangan Arche sedang tertawa terbahak dengan Oma Seruni membuatnya begitu lega. Lalu, Ibu Kirana dimana?


Saat Sea mendekati Oma-nya, tidak ada perkataan apa-apa yang keluar, Sea sudah membayangkan ada pertanyaan bertubi-tubu, tapi nyatanya tidak. "Oma, Ibu Kirana mana?"


"Oh. Tadi Kirana pamit, katanya capek, tadi nyari kamu ke kantor Red tapi kamunya nggak ada."


Apa Ibu Kirana menutupi kerusuhan yang terjadi di kantor Red? Jika itu benar, kenapa beliau melakukannya? Apa ingin melindungi Sea?


Sampai malam tiba, semua tetap terlihat normal-normal saja. Tidak ada yang membahas sedikitpun tentang kenyataan Arche adalah anak dari putera sulung Ardibrata. Latania pun juga tidak mengatakan apa-apa sebelum gadis Thailand itu berpamit untuk pulang kerumahnya sendiri.


Sea tertawa suram, apa Red sudah lupa dengan ancamannya? Baguslah, Sea aman.


Namun semua yang ada dalam angan-angan Sea hancur seketika saat pagi tiba.


"Om, aku ingin menikahi Sea."


Sea yang berjalan menuruni tangga beserta Arche yang berada digendongannya lantas terdiam. Ia pandangi ruangan tengah rumah utama, rumah Omanya.


Papa Davis, Mama Sekar dan Oma Seruni berada di sisi yang sama, menduduki sofa, sedangkan Red, Ibu Kirana dan Kakek Rusdi berada di seberangnya. Semua mata nampak terkejut memandangi Red yang mengatakan lamaran dengan terbuka, tanpa rencana.


"Gue akan ambil apa yang menjadi hak gue. Gue serius."


Jika Red ingin mengambil apa yang dinamakan 'HAK', pria itu hanya perlu merebut Arche dari tangan Sea.


Tapi...apa yang terjadi? Bahkan Red membawa serta Ibu Kirana dan Kakek Rusdi dengan niat melamarnya? Melamar?


Boleh tidak Sea mengatakan Red benar-benar sinting.


Pria itu sudah meninggalkan jejak membiru ditangan Sea, umpatan yang tidak dapat Sea hilangkan dalam satu malam, ancaman yang membuat Sea masih merasa ketakutan hingga sekarang dan tatapan kebencian yang Sea tidak suka.


Lalu tetap ingin menikahi Sea?


Sea tertawa dalam diam, dan berpikir kembali tentang arti tangan Red yang di genggam tempo hari oleh Rubby.


Sial. Kenapa Sea mengingat mantan Red segala.


"Om, Red mau membicarakan hal....."


"RED." Sea terpaksa berteriak untuk menghentikan apa yang akan menjadi mala petaka baginya.


Sea menduga, Red akan membongkar semua rahasia. "Aku sudah bilang, aku tidak mau menikah."


Nampaknya penolakan Sea membuat semua pasang mata memandangnya. Terlebih tatapan Ibu Kirana yang mengisyaratkan kepedihan, Sea tidak tahu pasti, yang jelas tidak ada kerutan marah di wajahnya.


Oh Good, serius. Red benar-benar sinting.


Menikah?


Dalam waktu semalam pria itu mampu mengambil keputusan. Meski, oke, meskipun satu hari yang lalu, dua hari yang lalu pun Red terus-terusan memintanya untuk bersedia menikah.


Menikah bukan perkara mudah. Sea sudah bersumpah tidak akan jatuh cinta setelah terakhir menaruh semua jiwanya untuk Jeremy dan berakhir sakit sampai membekas di hati.


Memutuskan untuk mencintai Arche sepenuh jiwa adalah keputusan terakhir Sea. Setidaknya, Arche adalah satu-satunya orang yang tidak akan bisa menyakitinya.


Ruang tamu di mansion keluarga Ardikara mendadak berubah menjadi mencekam. Dinding gelap beserta cahaya yang dibuat tidak begitu terang menambah hawa dingin tak terelakkan.


Apalagi alunan lagu yang terputar secara tiba-tiba...


*🎵* Lingsir wengi. Sepi durung bisa nendra. Kagodha mring wewayang. Ngerindhu ati. Kawitane. Mung sembrana njur kulina. Ra ngira yen bakal nuwuhke tresna.


"Sky, matikan musik seram itu." Davis memerintah saat tahu sumber suara lagu menyeramkan itu berasal dari ponsel Sky yang baru masuk ruang tamu.


Sky menggerutu, padahal Lingsir Wengi bukanlah lagu seram. Papa-nya saja tidak tahu makna apa yang tersirat dalam setiap lirik. Lingsir Wengi adalah lagu yang memiliki makna meminta perlindungan kepada Sang Pencipta. Lagu ini sebagai permohonan agar terlindung dari hal-hal burul, termasuk gangguan dari makhluk gaib.


Namun keadaan berubah saat Sky sadar. "A-ada apa nih? kok rame." Nada bicara Sky semakin melirih di akhir kalimat sembari mata menyisir seluruh ruangan, ia seketika takut saat Papa Davis melotot dan menggerakkan kepala, memerintah agar Sky duduk bersama mereka.


"Dan kamu Sea, coba kamu duduk bersama kami juga." Sea tahu Davis tidak pernah seserius ini, maka tak mau membuat Ayah-nya marah, Sea mendekat ke arah sofa dan duduk diantara mereka.


Diusia yang sudah menginjak dua puluh delapan, Sea tidak pernah menyangka akan menghadapi sidang dalam hidupnya, seharusnya empat tahun yang lalu adalah terakhir kalinya, tapi apa ini?


"Apa alasan kamu ngotot sekali ingin menikahi Sea padahal kamu tahu sendiri dia tidak mau." Davis tidak mau berbasa-basi, keadaan mendukung karena semua sudah berkumpul.


Red menegakkan punggung, sebelum ia menjawab, ia tersenyum, memandang Sea dengan tatapan kagum.


****. Sea mengumpat dalam hati. Ada apa dengan Red? Dimana setan yang merasuki tubuh Red tempo hari? Kenapa ekspresinya berubah drastis? Apa Red tidak tahu situasi dan kondisi yang mencekam ini?


"Om, kemaren aku sudah bilang. Tidak dengan Sea artinya tidak menikah seumur hidup."


Dan bagaimana tanggapan Kirana saat mendengar putranya berkata demikian?


Tentu saja syok.


Red tidak pernah mengatakan apa-apa, bahkan Kirana dulu sekali pernah mengingatkan agar Red tidak usah terlalu percaya diri untuk mencintai gadis sulung Martin. Benarkah perasaan Kirana dulu terbukti? Bahwa Red memang benar menaruh rasa dengan wanita yang sedang memelototi putranya?


Davis menaikkan satu alis tenang kendati hatinya senang ada satu pria yang ingin memeperjuangkan putrinya.


"Satu lagi...."


"Red, berhenti bicara!!!!" Sea berteriak kencang.


Red tidak menggubris. "Arche anakku om, anak kandungku."


Duar.


Hening.


Red menggenggam tangan Kirana yang dibalas dengan gemetar oleh ibunya. "Om, jangan salahkan mama dan menganggap tidak mendidik anaknya dengan benar. Semua yang terjadi murni karena kesalahanku."


Lalu bagaimana dengan Davis. Pria itu tetap tenang meski kenyataan yang baru saja di dengar berhasil membuat jantungnya hampir lepas.


Kecewa?


Sudah jelas. Sebagai seorang ayah dari gadis yang hamil diluat nikah, Davis harus melihat putrinya seorang diri dalam kesusahan, tanpa suami.


Gerakan Red selanjutnya membuat semua mata memandang kearahnya. Pria itu bersimpu di lantai, meminta pengampunan tertinggi, menyerahkan harga diri di depan tiga nama keluarga dengan kepala tertunduk.


"Dengan membawa Mama, Kakek, artinya tidak ada main-main, sedari awal semua adalah keseriusan."


"Kemana saja kamu selama ini? Kamu tahu Sea hamil?"


Red praktis mengangkat kepala, ia menggeleng. "Kalau saja Red tahu. Red tidak akan membiarkan Sea menikah dengan orang lain."


Keheningan berlanjut lagi. Jujur Davis tidak tahu harus berbuat apa, sebagai kepala keluarga ia benar-benar merasa tidak berguna.


Davis tidak menganggap kehamilan Sea adalah mala petaka atau kutukan dan semacamnya. Bagaimna Davis bisa mengatakan itu semua jika seorang bayi dalam perut putrinya sudah ia sayang sejak dalam kandungan. Davis tidak pernah sekalipun menganggap Arche sebagai hal yang memalukan.


Yang disayangkan Davis hanya satu, hidup Sea yang berantakan. Tapi, bukankah putrinya memang keras kepala, bahkan Davis tidak tahu cara hidup Sea hingga berakhir tidur dengan Red. Astaga, Red bukanlah daftar yang bisa Davis curigai, sekalipun.


Jika membicarakan kenakalan remaja, hal itu sudah kadaluarsa, saat ini perkara seperti itu sudah tidak penting untuk dibahas.


"Red minta maaf om."


"Bukan Red yang salah Pa. Sea yang memaksa waktu itu." Bagaimana Sea tidah tersentuh melihat Red yang bersimpu, dan pada kenyataannya memang Sea yang memaksa.


Keadaan berbalik, bahkan Sky yang sedari tadi diam beralih menatap Sea tidak percaya.


"Sea yang memaksa Red. Jadi, jangan salahkan Red. Red juga tidak perlu bertanggung jawab."


Apakah keyakinan Davis mengenahi anak gadis sulungnya yang sedikit gila, tidak, bahkan Sea memang gila, apakah keyakinan itu masih berlaku? Terpaksa Davis mengatakan iya.


Skenarionya dibuat sedemikian rupa.


"Red yang salah om, jika saja Red tidak mau, maka tidak akan ada hal seperti ini."


"Tidak Pa, Sea yang salah, jangan salahka Red.


Sea tidak seharusnya memaksa."


"Stop." Davis berdiri dengan teriakan kencang. "Apa artinya kalian menyesal memiliki Arche?"


Red dan Sea kompak menggeleng. "Tentu saja tidak." Jawabnya pun juga kompak.


"Red, om akan memaafkan kamu jika kamu bisa menunjukkan keseriusan kamu. Om tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu tidak bisa meyakinkan Sea untuk mau menikah denganmu. Sea bukan janda, dia belum menikah."


Davis mengakhiri perkataannya dan berlalu dari sana. Keputusan seperti apa lagi yang bisa ia buat. Disisi lain, ia menjadi wali untuk Red, yang mewajibkan dirinya untuk menikahkan anak dari Daren dengan siapapun yang berhasil memikat hatinya. Dan satu sisi lagi, sebagai Ayah dari seorang putri yang menjalani hidup sebagai single parent, bukankah kewajiban Davis untuk memberikan kehidupan layak untuk Sea.


Jika dipikir, dengan Red dan Sea yang saling membela, tidak ingin satu sama lain dipersalahkan, Davis yakin masih ada kesempatan untuk keduanya berbicara dengan baik-baik. Dan untuk sementara, Davis akan menghindari Red, ia akan merencanakan perjalanan bisnis.


Kepergian Davis dari ruang tengan membawa kegaduhan, Kirana berkali-kali meminta maaf kepada Oma Seruni dan Mama Sekar, begitupun sebaliknya, dua wanita dari pihak Sea tidak pernah menyalahkan Kirana, semua sudah terjadi, keputusan pun sudah mencapai titik temu, tidak ada yang perlu di khawatirkan.


Sedangkan Kakek Rusdi? Kemana lagi? Satu-satunya orang yang tidak menganggap genting masalah barusan adalah Rusdi, lihat bagaimana senangnya ia menggoda Arche, berkali-kali mencium pipi bocah itu, beruntung Arche tipe anak yang mau menempel ke siapa saja.


Sky? Tentu saja ia masih terkejut, meskipun begiu, tangan gadis itu tak berhenti mengetikkan sesuatu di ponsel.


Sea? Ia melemas di tempat.


Red? Semakin membulatkan tekad mengambil hati Sea.