
Hari sabtu, Sea dengan segala kearifan lokalnya.
"Gimana caranya?"
Ber-alaskan sendal rumahan beserta daster bercorak bunga namun menunjukan tulang selangka yang seksi, ah, belum lagi rambutnya yang digelung asal, Sea tak habis pikir, bagaimana ia bisa menghilangkan salah satu kunci kamar rahasia di rumahnya, Green House.
Jadi begini, dua hari yang lalu, Sea memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri, tepat setelah ia mengambil alih SS Group, tidak menunggu waktu lama, bahkan hanya membawa tubuh dan Arche seorang, Sea melesatkan mobil menuju Green House, rumah yang ia beli empat tahun yang lalu.
"Nggak tahu lah, nanti saja."
Sea mendesah lelah. Sudah mencoba semua kunci, namun satu kamar ini tidak menemukan kunci yang cocok. Sea butuh sekali untuk mengobrak-abrik isi kamar rahasia itu, tujuannya, membuang semua yang ada di dalam, karena apa yang Sea simpan tidak baik untuk dipandang.
Mau tahu?
*** toys.
Alat-alat *** yang digunakan Jeremy untuk memuaskan nafsunya kepada Sea.
Jika mengingat hal itu, rasa-rasanya Sea ingin gantung diri, atau terjun dari tebing paling tinggi, atau tenggelam ke jurang tanpa dasar.
Sea ingat, bagaimana Red marah besar saat tahu dirinya jadi samsak paling tolol di dunia. Bayangan Red membanting ponselnya saat malam itu membuat Sea tiba-tiba tersenyum.
Tidak.
Sea menggelengkan kepala. Kenapa ia memikirkan Red?
Dua hari Red menghubungi Sea tanpa henti, sekali pria itu menelfon, Sea selalu membalas dengan photo atau video Arche, entah si bayi lagi makan, bermain, atau berlari, semua ia kirimkan sebagai balasan, meskipun Sea tahu pria itu ingin mengetahui keberadaan dirinya.
Sea bukannya kabur, ia hanya menenangkan diri, senen ia akan beraktifitas lagi dan menyerahkan Arche ke rumah utama atau ke Ibu Kirana, karena Mama Sekar masih puasa berbicara.
Sea mendesah, ia tidak tahu bagaimana cara membujuk Ibunya, bahkan Sky ikut menjadi kompor agar Sea mau menikah.
Big no.
Maka inilah yang terjadi, Sea tinggal di rumah sendiri.
"Mbak, ini biar saya aja yang nyuci, mbak awasin baby Arche." Baby sister yang membawa pakaian dihentikan jalannya oleh Sea.
"Iya bu."
Setelah mendapatkan setumpuk baju. Oke. Sea bahkan tidak pernah menyentuh dapur, menyentuh sih pernah, membuatkan makanan untuk baby Arche itu mudah, namun lebih dari itu Sea tidak bisa, lalu bagaimana ceritanya wanita itu sekarang ingin mencuci baju?
Yuhu. Pertama kali di seumur hidupnya Sea akan mencoba bagaiamana cara mengoperasikan mesin cuci, hal yang bagus bukan? Sea benar-benar mandiri.
Sea akan menunjukkan jika wanita itu serba bisa, agar Ayah-nya cepat pulang ke rumah dan membuat Ibu-nya bergembira. Jujur Sea penat mendapatkan tekanan dari semua orang.
Untung Sea punya rumah ini, kondisi masih sangat bagus, letak strategis dan hanya mempunyai dua lantai, tidak ada seper-empat dari kediaman martin atau rumah utama Oma Seruni.
Sea memasukkan baju ke dalam mesin cuci, perintah disana juga mengatakan untuk menaruh sabun, namun Sea menemukan jenis sabun yang berbeda, bulat-bulat berwarna warni dan lucu seperti gabus maianan. Oke, cukup sudah untuk mengagumi sebuah detergent, lalu Sea memasukkan secukupnya dan menutup laundry machine.
"Lho, kok nggak gerak?" Mesin sama sekali tidak bergerak, Sea mencoba berulang kali, namun nihil.
Tiba-tiba Sea takjub dan mengamati baju-baju di dalam mesin cuci, dimana baru saja Sea memunculkan spekulasi yang ia buat sendiri. "Gila, jaman sekarang nyuci baju nggak perlu pakai air? Mungkin?" Ia jadi tak yakin sembari menggruk-garuk keningnya dengan satu jari.
Sea seperti orang bodoh berbicara dengan mesin cuci yang sama sekali belum beroperasi, wanita satu anak itu terus menggerutu namun, "Kalau nyuci nggak perlu pakai air, mandi harusnya nggak perlu air juga dong. Duh gimana sih?"
Ia juga menyalahkan pendapatnya sendiri. "Apa jangan-jangan mesin cucinya rusak?"
Sea menggeleng, tidak mungkin, mesin cuci ini baru saja dibeli, satu hari yang lalu. Sea ingin mengambil ponselnya dan melihat tutorial yang ada di youtube tentang 'bagaimana caranya mengoperasikan mesin cuci,' tapi wanita itu malas jika harus naik turun tangga menuju kamarnya dan kembali ke ruang loundry.
Sea kembali memencet-mencet tombol, sama sekali tidak bekerja. "Fix, pasti rusak!!" keyakinannya terkumpul kembali.
"Kabelnya belum dicolokin sayang, pantes nggak bisa."
Sea terlonjak.
Sea memegang dadanya dengan jantung berdebar, bagaimana sosok Red dengan kaos oblong dan celana kain pendek tersenyum sembari mencolokkan kabel sialan yang tergeletak dilantai.
Dasar Sea bodoh.
"Dicolokkan dulu, terus tentuin waktu, dan ok. Beres deh." Red mengakhiri kalimat dengan kekehan renyah yang terdengar candu ditelinga.
Ya Tuhan. Pantas mesin cuci tidak bereaksi dari tadi, kenapa Sea mendadak tolol sih.
"Selesai." Red berkata lagi, kali ini ia berdiri tepat di depan Sea yang masih ternganga akibat kedatangannya.
Red tidak pernah sekalipun melihat Sea berpenampilan rumahan, kecuali, ah, Red lupa, bukankah daster yang dipakai wanita paling dicintainya ini adalah pemberiannya empat tahun yang lalu? Red tiba-tiba meringis mengingat itu. Tidak dibuang, ada sedikit rasa senang meski itu hal sepele.
Apalagi saat Red melihat rambut Sea digelung, menunjukkan leher jenjang dan tulang selangka yang indah, dan Red tidak bohong, Sea terlihat sangat cantik sekali.
Melihat Red tersenyum tidak jelas membuat Sea tersadar. "Bagaimana kamu bisa masuk rumah ini?"
Seingat Sea, ia tidak pernah memberikan akses kepada siapapun yang ingin masuk rumah ini, tak terkecuali. Bahkan Ayah dan Ibunya saja belum tahu bangunan yang dibeli Sea empat tahun yang lalu.
"Tara, gue pemilik rumah ini." Red menunjukkan kunci berbentuk kartu yang ia keluarkan dari kantong celana.
"What?"
"Nggak, nggak mungkin, itu mustahil Red. Rumah ini masih atas namaku."
"Dan perumahan ini milik gue, artinya, rumah ini milik gue."
Oke. Sea tidak tahu menahu tentang hal itu. Dan Sea juga tidak mau berpikir keras mengenahi bagaimana cara Red memiliki perumahan ini.
"Terus, kamu mau apa kesini?" Tanya Sea tidak mau berbasa-basi.
Apa mungkin Red akan menagih hari sabtunya? Jika di ingat-ingat, janji tetaplah janji yang harus ditepati, dan Red tidak suka jika Sea mengingkari. Mungkinkah begitu?
Red mengangkat bahu ringan dan menjawab. "Kangen Arche, dua hari nggak ketemu."
"Oh." Sea menanggapi santai.
Lalu Sea beranjak untuk meninggalkan ruang loundry beserta Red sedirian, namun apa sih yang diharapkan Sea saat ia tahu betul Red orang seperi apa? Tentu saja pria itu mengikutinya.
"Gue denger, lo ngambil alih SS Group?" Tanya Red saat sekarang mereka berada di ruang makan.
Kening Sea mengkerut. Ia sedang tidak ingin membahas perusahaan, karena sama saja mengingatkan Sea pada orang-orang yang ingin mengakuisisi perusahaan Ayahnya.
Red melihat kebingungan diwajah Sea, ia sadar dan sedikit mendekat lagi. "You okay?"
Sea menoleh, mengamati pria dengan mata lebar namun menajubkan di depannya, Sea tidak pernah lupa beberapa kali tenggelam saat beradu tatap dengan Red. "Nggak pernah se-ok ini."
Karena Sea bukan orang yang bisa meratapi nasib buruk begitu lama, yang ia tahu bagaimana caranya memperbaiki keadaan.
Red tahu, Sea keras kepala dan tidak mau dikasihani. Padahal Red juga tahu Sea menangis seperti yang dikatakan Latania dua hari yang lalu. Mengingat itu, Red dongkol sendiri dengan sahabat Sea sekaligus teman SMA-nya, main tuduh. Tapi apa yang bisa diharapkan oleh Red saat ia tidak bisa mendebat kaum hawa. Red hanya suka beradu argument dengan Sea saja.
Sea melanjutkan langkah, membuka lemari es dan mengambil potongan apel yang sudah disiapkan, ia seperti tidak menganggap kehadiran Red sama sekali. Kalaupun Red bertanya, tugasnya hanya menjawab, itu yang direncanakannya.
Dan hingga beberapa saat, Sea mendapati Red menyandarkan tubuh sampingnya di dinding, memandanginya dengan diam beserta senyum tipis tak begitu lebar.
"Sea." Panggil Red akhirnya.
Sea memalingkan pandang, namun ia menjawab dengan deheman. "Hmm."
Satu potongan apel Sea tancapkan di garpu, sumpah, hal seperti ini membuat Sea canggung setengah mati. Ia tidak pernah mendapati situasi dimana ia tidak bisa berbuat apa-apa saat dipandangi pria, kalaupun dulu Jeremy, Sea tidak pernah berdebaran layaknya drum yang dipukul tepat dadanya.
Red membasahi bibir sekilas sebelum mengatakan keinginannya. "Ayo menikah."
Sea terdiam, tangannya terdiam, nampaknya napas pun ikut berhenti, tapi yang aneh, detak jantungnya bereaksi berbeda, mungkin jika Red berada tepat di depannya, pria itu mampu mendengar apa yang bertalu-talu di balik dadanya.
Namun akhirnya Sea berhasil mengontrol rasa aneh yang menyelimuti hatinya, ia menoleh, menatap dua mata Red karena ingin melihat apa pria itu bersungguh-sungguh dengan niatnya.
"Nikah? Sama kamu?" Tanyanya main-main dan mengambil satu potongan apel lagi.
Red mendekat saat Sea berdiri ingin mengambil sesuatu, pria itu memiringkan kepala saat Sea memandanginya. "Ya iyalah, sama gue."
"Nggak mau." Tolaknya terang-terangan, sama seperti sebelumnya. "Mau kamu minta seribu kalipun, atau sampai monyet bisa ngomong, jawaban aku sama, nggak."
Dengan begitu, Red tersenyum masam. "Nggak bosen nolak gue terus?"
Sakit hati sudah pasti, ditolak sudah beberapa kali, tapi Red tidak bisa membenci pasalnya Sea tidak pernah mengabaikannya seratus persen, tutur kata Sea tetap selembut sutera, tidak pernah menyakiti telinganya, bucin.
Sea melihat Red dengan tatapan datarnya, sumpah demi ketenangan hatinya, Sea sedang tidak ingin ada perdebatan, ia hanya ingin kedamaian. "Kamu juga nggak bosen ngajak kawin mulu."
"Nikah sayang, kawinnya kan udah, itu Arche buktinya."
Oh. Sea menutup mata sejenak. Melihat itu Red tertawa sembari menunduk dan mencuri satu kecupan singkat di bibir Sea.
Mata Red sama sekali tak berpindah untuk menatap Sea dengan dalam. Yang mana itu berhasil membuat Sea terdiam. Sea sedang tidak memikirkan kecupan singkat yang baru saja dilakukan Red. Namun pemikiran Sea berubah drastis, dimana tatapan Red menunjukkan jika pria itu serius, membangun rumah tangga, entah darimana bisikan itu datang, tapi Sea benar-benar yakin Red sedang tidak main-main.
Apa Red tertekan karena ada Arche diantara mereka sampai membuatnya nekat menikahinya?
Sea menunduk sedih.
"Aku minta maaf, andai saja Arche nggak ada, kamu nggak perlu repot-repot nikahin aku." Ujarnya sembari mendongak dan menatap Red lagi. "Maaf juga karena menyembunyikan Arche. Aku pikir, itu tidakan paling benar. Tapi aku lupa, biar bagaimanapun Arche tetap butuh ayah-nya."
Red diam, ia tidak pernah melihat Sea dengan tatapan sedihnya, benar-benar pilu dengan pipi memerah seperti itu. Namun Red tidak menampik, ada ketenangan saat Sea mengatakan maaf, buktinya wanita itu tersenyum padanya, dengan tulus.
"Arche hak kamu. Seperti yang aku bilang, kamu bebas mau nemuin Arche kapan aja, kamu bebas keluar masuk rumah ini." Dan untuk kalimat yang belum tuntas, Sea menundukkan wajah. "Tapi kamu nggak punya hak atas aku. Aku bebas nentuin siapa-siapa yang akan jadi pasangan aku. Keputusanku tetap sama, aku nggak akan menikah dengan siapapun. Kamu paham kan sekarang?"
Red seperti dihantam bom atom dan merasakan bagaimana hatinya hancur seperti dibakar.
Ia sadar, ternyata ditolak dengan makian, tangisan dan perkataan kasar lebih baik dari pada ditolak dengan kalimat lembut penuh penyesakkan.
Sea melihat Red terdiam membilu tanpa sepatah katapun, namun yang namanya Sea, seperti kata Davis dahulu, anak perempuan super aneh bin ajaib, ia menekan kedua pipi Red hingga mulut pria itu mengerucut dan berbentuk aneh.
Dan hal berikutnya membuat Red melotot.
Dimana Sea berjinjit beserta menarik kepala Red untuk mendekat, "Ini satu balasan buat tadi." Sea mengecup dan menekan bibir Red dengan bibirnya, sedikit lama dan melepaskan dengan tidak lupa seperti orang yang menuntaskan dahaga.
Red tidak menyangka momen menyedihkan berakhir dengan tindakan implusif yang dilakukan Sea. Mendadak perasaan dongkol terangkat ringan saat ia melihat Sea dengan tawanya.
Cantik sekali bukan, Red tidak pernah lupa bagaimana cantiknya wajah Sea saat tersenyum lepas.