
Tak terasa satu minggu sudah berlalu.
Dari sekian banyaknya mulut berbicara hingga bising mengganggu telinga, anehnya Sea tidak terganggu oleh mereka.
Otak Sea ribut hebat. Wanita itu duduk dengan mangkuk ditangan, di tengah-tengah ruangan dan mengabaikan satu onggok manusia yang sedang memandanginya.
“Semoga kesambet, amin.” Latania dengan tablet ditangan tiba-tiba menyeletuk, membuat Sea tersadar dari lamunan.
Sea melirik dan berdecak sebal, setelah itu menaruh mangkuk di atas meja. “Doa itu yang baik.”
“Habisan lo ngelamun mulu, banyak pikiran?” Tanya Latania, gadis itu hampir setiap hari bertemu Sea, dan baru kali ini sempat menegur karena temannya itu memang sering melamun.
Sea tak menjawab.
Memilih mengambil mangkuk dan mengaduk makanan di dalamnya, baby Arche sedang bermain mobil-mobilan di depannya dan menunggu makanan dari ibunya. “Baby, sini ayo, makan.”
Sea benar-benar tak bisa menjawab pertanyaan dari Latania, ia akan mengira Latania bisa syok hebat dengan apa yang sedang menjadi kemelut di dalam kepalanya.
“La.” Panggil Sea.
“Hmm.” Latania berdehem, kali ini Latania yang sedang mengotak-atik tablet ditangan tak menoleh pada pemanggil, siapa suruh tadi nyuekin.
“La, aku mau stay di Indonesia deh kayaknya.” Setelah mengatakan itu, Sea meyuapi Arche yang sudah menantikan makanan darinya, satu suap selesai, Sea menarik napas, ada sesuatu yang ingin dikatakan namun ia tahan mati-matian.
“Ok.” Jawab Latania enteng, karena apa yang Sea katakan amat ia setujui, dan baru kali ini Latania tidak mau banyak bicara, karena jika ia menambah beberapa kata lagi, keputusan Sea bisa saja berubah.
Latania kembali kepada tablet.
Sedangkan Sea, kembali menyuapi Arche. Sea galau, jujur, tapi tak membuat ia lupa dengan putra mungilnya yang sangat lucu.
Rumah ini terasa ramai, nenek Seruni sedang sibuk dengan rajutannya, Sky berada di dekat jendela sembari membaca buku, entah buku pelajaran atau apa. Dan masih banyak orang-orang yang berlalu lalang karena rumah utama memang terbiasa menampung sanak saudara.
What?
Sea tuba-tiba menggeleng.
Red?
Hello, Sea tidak memikirkan Red.
Ehm. Sedikit, sangat sedikit. Bagaimana Sea bisa lupa dengan pria yang satu minggu lalu mengungkungnya dalam ranjang, mengulang kebodohan untuk kedua kalinya, bodoh, bodoh, bodoh. Semuanya semakin jelas dan Sea sama sekali tidak bisa menghindar lagi, dengan kejadian itu Sea dengan terang mempersilahkan Red untuk berada disisinya, benar, Red pasti berpikir seperti itu, pria itu pasti mengira hubungan keduanya maju ke taraf lebih baik.
Lalu Sea? Jelas, ia tidak menginginkannya. Berada di sisi Red sama sekali bukan rencananya.
“Salah satu konglomerat mau adain acara, kita semua di undang btw.”
Sea menoleh, “Siapa?”
“Violet. Lo nggak kenal deh kayaknya, tapi berhubung nama lo ada Martin-nya, makanya diundang.”
“Dan aku nggak mau dateng, biar Sky yang dateng. Dek, kamu dateng ya.” Sea sedikit berteriak saat menyuruh Sky.
Sky tak menjawab, namun satu buah ibu jari ia acungkan, tanda setuju.
Latania menoleh, kali ini tablet yang ia pegang sudah ditaruh di sofa. “Ya, gue tahu banget lo nggak akan dateng.”
“Karena aku males La, kamu tahu sendiri statusku gimana.”
“Tapi yang lo nggak tahu, semua orang udah tahu lo itu ada tanda kutip sama Red? Nggak akan ada yang tanya elah.”
Hubungan Sea dan Red sudah menyebar luas.
Bagaimana tidak.
Red dengan bahagia memasang photo Sea dan Arche sebagai profile WhatsApp, bukan itu saja, bahkan sosial media Red juga sama. Gila kan? Ya pantas jika semua orang menduga akan hubungan keduanya.
Dan karena itu juga, bukan ide bagus untuk menghadiri acara ulang tahun siapa tadi, ya, ulang tahun Violet, Sea tidak siap dengan berbagai pertanyaan meskipun Latania berkata nggak akan ada yang bertanya.
“Ya, aku tahu, aku tahu banget Red temennya banyak, kemungkinan tersebar nggak mungkin bikin aku kaget lagi.”
“Lo suka Red nggak sih?”
Sea terdiam.
Sea tidak tahu, tapi yang ia tahu, Red beberapa kali menyatakan cinta. Hanya itu saja. Lagipula Sea selama seminggu tidak melihat Red, sama sekali, pria itu seperti ditelan bumi.
Sea tidak mau bertanya lewat chat ataupun telepon, takut Red besar kepala.
“Engg….”
Suara khas tertawa Red terdengar amat renyah. “Lo nggk perlu tanya La, Sea suka sama gue, kalaupun dia bilang nggak suka, lo nggak boleh percaya.”
Percakapan antara Latania dan Red berlanjut asik sendiri, keduanya membicaran dan menggoda Sea yang masih terdiam dan rasanya ingin tenggelam di dasar samudera.
“Ke acara ulang tahun Violet harus dateng ya Red, bujuk tuh calon bini.” Kata Latania kepada Red.
Otomatis Sea melirik sinis kepada Latania, wanita itu lalu berdiri, berbalik dan menuju dapur karena Arche sudah selesai makan, ia berniat untuk mencuci mangkuk meskipun biasanya ia tak pernah melakukan itu.
Samar-sama Sea mendengar bagaimana celotehan Arche yang sedang bercanda gurau dengan Red, membuat Sea sedikit lega karena pria yang terlalu percaya diri itu tidak menyusul dirinya ke dapur.
Sea berpikir sejenak, lalu ia memandang pintu, sebuah toilet, maka ia memiliki ide untuk sembunyi sementara waktu di tempat itu.
Sea menutup pintu toilet, bersandar pada tembok dan baru pertama kali ia mengeluarkan decihan kemarahan seorang diri, jika dulu Sea terlihat lempeng dan tidak perduli dengan apapun, jujur kehadiran Red membuat emosinya naik turun.
Apalagi, dengan fakta bagaimana Red memaksanya waktu itu, dan ia sediri tak kuasa menolak, membuat Sea menjadi wanita paling tidak berguna. Jadi, apa Red tidak kepincut dengan Rubby selama enam bulan ini?
Sea menggeleng, kenapa pikiran tentang Rubby masuk di dalam otak?
“Mommy, Sea, sayang.” Suara ketuk terdengar beserta panggilan paling menggelikan yang pernah Sea dapat.
Sea melihat kenop pintu bergerak-gerak, huh, sudah pasti Red mencoba untuk membukanya. Sea masih diam, belum memutuskan apapun, matanya beralih menatap langit-langit kamar mandi beserta tangan yang mendekap dada.
“Sea?” Suara Red sedikit pelan. “Masih marah?” tanyanya lagi.
Harusnya Red amat sadar dengan pertanyaan yang justru tak perlu lagi dipertanyakan.
“Aku minta maaf.” Suara Red terdengar lagi.
Aku?
Aku?
Aku?
Sea masih waras dan sadar jika Red memang sengaja menggunakan panggilan yang lebih halus, ‘lo-gue’ sepertinya sudah dihapus sejak kembali dari Dubai.
“Aku minta maaf.” Lagi, sembari mengetuk pintu dua kali, Red berbicara lebih lembut.
“Kamu nggak nyesel?” Balas Sea.
Harusnya kata maaf tidak terucap karena Sea tak butuh itu. Buat apa? Yang diinginkan Sea hanya ditelan bumi, atau setidaknya tidak bertemu Red untuk sementara waktu, karena sumpah demi apapun Sea masih malu.
“Enggak. Aku nggak nyesel karena nggak ada yang perlu disesalin.”
Kan bajingan kalau jawabannya seperti itu.
Otomatis Sea melotot, merasa geram lagi. “Aku udah bilang kan Red. Aku cuma butuh kamu atau nganggep kamu sebagai teman.”
Dan dengan ringan Red menjawab, “Aku juga pernah bilang sama kamu, aku nggak bisa nganggep kamu temen.” Dan dengan nada tegas Red mengimbuhi. “Aku nggak mau.”
Sea terdiam lagi, ia memejamkan mata beserta kepalan tangan yang kuat.
“Keluar dong Se. Lagi ngomong serius malah umpet-umpetan gini.” Bujuk Red, pria itu mengetuk pintu lagi.
Sea berdecih lalu menjawab. “Nggak mau, kamu pulang sana.”
“Aku mau bilang, satu minggu lagi sebelum ulang tahun Arche ada acara perusahaan, kamu harus ikut, bawa Arche juga.”
Sea ingin mengumpat, jelas-jelas ia menolak segala macam apapun yang Red sodorkan, apa itu kurang membuktikan jika Sea tidak ada niat berada di sisi pria itu. Lalu, ajakan secara mendadak pun acara perusahaan ditawarkan kepada Sea, otomatis Sea akan menolak.
Sea tidak mau go public bersama Red dan Arche.
“Nggak mau Red.” Balas Sea.
“Harus mau.” Red memaksa.
“Enggak.” Ditolak lagi oleh Sea.
Red berdecak, pria itu sensi dengan keras kepala Sea. “Pokoknya kamu harus ikut aku ke acara perusahaan. Yang harus kamu tahu, kamu dan Arche itu milikku.”
“Red, kamu nggak bersihin telinga apa? Aku bilang nggak mau.”
Di balik pintu, Red sedikit meringis lalu menggingit bibir, ia jadi membayangkan bagaiman raut Sea sebal oleh paksaannya, pasti sangat menggemaskan, dan seksi.
Lagi, Red akan mengeluarkan satu ultimatum. “Sea, kamu tahu kan, meskipun kamu nolak, nolak dan nolak, akhirnya kamu nurut juga kan? Pasrah juga kan? Aku pastiin kamu ikut aku. Bye mommy.”
Dan menghilangnya langkah Red, Sea mengentakkan kakinya di lantai, ingin menjerit namun ditahan mati-matian.