
Dugaan Red benar.
Mobil Sea terparkir di depan rumah, deruan itu terdengar sampai lantai dua yang mana Red berdiri di balkon atas sana, sengaja menunggui istrinya.
Wanita itu marah, istri yang sangat dicintai Red marah ketika mendongak menatap dirinya dari bawah.
Tentu saja Sea marah, Red seperti sengaja menungguinya. Apalagi Red main ancam untuk tidak mengembalikan Arche kepada dirinya jika bukan Sea sendiri yang menyusulnya. Sea sudah berbaik hati mempertemukan keduanya bukan berarti Red bisa mempermainkan kesempatan yang Sea berikan.
Jangan coba-coba untuk mengambil Arche dari Sea.
Sea sama sekali tidak perduli yang dikatakan Red adalah sebuah ancaman atau sebuah rencana yang akan pria itu lakukan, yang Sea butuhkan saat ini adalah mempertegas bahwa dirinya sama sekali tidak bisa diancam.
Sea melangkah memasuki rumahnya, saat pintu terbuka, Sea terdiam ditempat. Di dalam rumahnya tidak lagi tampak seperti rumah, melainkan Sea mendapati barang-barang berantakan, persis seperti kapal pecah.
Merasa keperluaannya bukanlah menilai keadaan rumah, Sea melangkah menuju kamar di dekat tangga, kamar putranya. Sea menarik handle pintu, dan pemandangan yang ada adalah kosong, tidak ada orang di dalam.
Lalu Sea melirik tangga dengan tajam, haruskah ia menuju lantai atas? Menuju kamarnya bersama Red? Namun Sea merasa ia perlu melakukannya, dengan langkah beserta amarah yang menyertai, Sea buru-buru menaiki tangga.
Sea langsung membuka pintu yang tidak terkuci, hanya membuka saja tanpa masuk kedalam, lalu wanita itu berseru dengan nada rendah dan berat. “Keluar!”
Perintah itu Sea berikan pada Red agar pria itu cepat keluar.
Dari hadapan Sea, ia melihat Red bersandar pada lemari dengan tangan melipat di bawah dada, tatapan Sea menyalang sedangkan Red melihat Sea dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh wanita itu.
Hingga pada akhirnya Red menyerah, mau sampai tahun depan Sea tidak akan berubah pikiran untuk memasuki kamar, oleh sebab itu Red keluar.
Dan disaat Red sudah berdiri di depan istrinya, suara pukulan terdengar keras, menimbulkan bekas merah pada pipi si pria, membuat rasa nyeri yang menjalar juga di sana.
Sedangkan Sea. Wanita itu meringis, merasakan afeksi linu pada ujung kepalan tangan setelah melakukan aksi kekerasan pada suaminya.
Red mejamkan mata sejanak, meringankan emosi akibat kesakitan yang baru saja ia rasakan.
“Berapa kali kamu nampar?” Red menanyainya dengan nada lembut, pria itu memeperhatikan istrinya yang sedang mengibas-ibaskan tangan kanannya. “Lihat, kamu yang nampar dan kamu juga yang kesakitan. Udah ya, jangan lagi.” Jujur Red tidak mau melihat Sea kesakitan, lebih baik istrinya itu ambil tongkat sebagai alat pukul daripada menggunakan tangan sendiri yang alhasil membuatnya kesakitan seperti sekarang ini.
Sedangkan Sea menatap Red dengan sinis. Sumpah demi Tuhan, melihat wajah Red membuat Sea ingin memukul saja.
Mana yang kata mama Sekar keadaan Red berantakan ataupun kacau? Yang ada Sea sekarang hanya melihat wajah Red yang masih tampan, jidatnya tetap mengkilau, rambutnya rapi, aroma tubuhnya wangi, hanya saja ada satu yang mengganggu, lingkaran mata pria itu yang persis seperti panda.
Itu saja.
Dan disaat Red akan meraih tangan Sea, wanita itu mundur teratur, menolak dengan kentara.
Yang mana gerakan Sea membuat Red menghela nafas berat dan nelangsa. “Jangan nyakitin diri sendiri. Bisa?”
Sea serasa tuli atas pertanyaan sarat perintah dari Red, justru wanita itu balik bertanya. “Arche mana?”
Sea datang kesini hanya dengan satu tujuan, menyusul Arche, bukan berbicara omong kosong dengan pria di depannya.
Red menunduk sebentar, ia tersenyum sekilas sebelum mendongk dan mengedipkan mata lelahnya.
“Baby sama Mama Kirana.” Jawab Red kemudian.
Karena sebelum Sea menelfon tadi, Red sudah berencana memulangkan anaknya, meminta ibunya untuk membawa Arche pulang. Red tidak gila membiarkan Arche berpisah dengan Sea, karena Red amat tahu istrinya tidak akan tenang semalaman tanpa putranya itu, Red juga masih waras agar Sea tidak lebih setres dari sebelumnya.
Tapi apa yang disyukuri Red sekarang, Sea terlihat lebih berisi, artinya istrinya itu banyak makan, apa memang benar ya wanita kalau galau makannya nggak pandang bulus?
Red menatap Sea lembut, pria itu tak tahan diberi lirikan sinis terus-menerus. “Udahan ya, jangan begini terus.”
Sea sperti menegaskan pertanyaannya lagi. “Aku tanya, Arche dimana?”
Red tahu semua tidak akan mudah seperti kehendaknya.
“Sama mama Kirana.” Red menjawab dengan jawaban yang sama, karena kenyataannya memang itu yang terjadi.
Sea menatap nyalang. “Pembohong. Susah banget ya disuruh jujur, kalau emang udah habit ya susah.”
“Karena nggak ada cara lain buat kamu dateng ke rumah kita.” Balas Red lagi.
Sea harusnya sadar bahwa Red itu manusia paling licik yang bisa saja melakukan banyak cara agar bisa mewujudkan keinginannya. Pengalaman mengapa tidak bisa mengajarkan Sea untuk waspada? Bahkan Sea juga baru sadar beberapa kali telah termakan rayuan pria itu.
Yang membuat Sea kecewa, kenapa Red tidak pengertian untuk memberikan Sea sedikit waktu lagi untuk menyiapkan diri bertemu dengannya.
“Yaudah, sekalian aja aku mau ngomong karena udah terlanjur ketemu.” Seperti biasa, Sea kembali dengan nada lembutnya, yang mana membuat Red seperti mendapatkan ancaman yang mengerikan. “Tunggu, satu, dua atau tiga hari lagi, pengacara dateng nemuin kamu, siapin tanda tangan buat cerai, semua akan berakhir, aku capek.”
Mendengar kalimat panjang lebar dari Sea membuat hati Red seperti diremas-remas.
Cerai, adalah satu kata yang amat tidak disukai oleh Red, itu adalah ide yang buruk dan gegabah.
“Sea.” Panggil Red amat pelan, ia sudah menurunkan kesabaran di titik paling stabil. “Kamu sama sekali nggak ngasih aku kesempatan buat bicara. Sekarang kamu bilang benar-benar mau cerai. Nggak mau! Tolong, jangan ambil keputusan begini.”
“Mau bicara apa lagi?” Sea mengatakan itu dengan dagu yang terangkat tinggi.
Red menggeleng, meyakinkan Sea sembari mengatakan. “Aku nggak ngehamilin Rubby.”
“Terus, perut gede gitu nggak hamil?” Karena Sea amat jelas menyaksikan Rubby hamil saat bertemu tadi pagi di rumah sakit, bahkan lebih besar dari Sea.
Red menggeleng lagi. “Hamil. Tapi bukan aku yang ngehamilin. Aku sama sekali nggak pernah nyentuh Rubby, demi Tuhan Sea.”
Sea berdecih pelan. Pria manapun akan berbohong jika berada diposisi yang sama seperti Red.
Dasar pria brengsek yang tidak bertanggung jawab?
Sea merasa muak lagi-lagi harus membicarakan perihal kehamilan Rubby yang terasa percuma jika harus dibahas lagi, seperti omong kosong tidak berguna.
“Cukup kamu brengsek sama aku, Red.” Sea memukul dada Red pelan. “Aku udah jelas-jelas lihat kamu make out sama dia, kalau saja dia nggak hamil, its oke aku nggak masalah. Tapi dia hamil, dan kamu harus tanggung jawab atas ulah kamu. Cukup aku, jangan dia.”
Red mengusap kepalanya frustasi.
“Aku nggak cium dia.” Baik, sekarang Red diluar kendali hingga suaranya sedikit keras. “Itupun dia yang cium dan aku nggak bales. Aku langsung dorong dia, habis itu aku keluar, ke kamar Jantis buat nginep semalem karena udah nggak kuat jalan. Aku nggak pernah macem-macem dibelakang kamu, Sea. Nggak ada waktu, nggak ada niat. Please, percaya.”
Dasarnya Sea sangat susah percaya dengan orang, ditambah kebohongan-kebohongan kecil dari Red, yang dengan jelas mampu membuat Sea tidak bisa lagi percaya.
Red selalu mengatakan orang yang paling dicintainya adalah Sea, wanita itu pun tahu Red berkata jujur meskipun ada wanita lain yang sempat mengisi hati pria itu, yaitu Rubby. Tapi hubungan Red dan masa lalunya terlampau jauh dan intim, tentu saja meskipun hati menolak tidak dengan tubuh, Sea percaya Red masih bisa menyentuh Rubby.
Sekali lagi jika menuntut kebaikan pria itu, Sea amat yakinRed adalah pria yang sangat baik.
Tapi, mau sebaik apapun, manusia itu tetap dikawal setan, dan tidak ada yang mustahil, apapun bisa terjadi. Termasuk melakukan kesalahan yang tidak disengaja, dengan Rubby contohnya.
Oke, Sea akan percaya Rubby yang memulai duluan. Tapi kenapa Red tidak menolak? Kenapa Red tidak bisa menjaga diri?
“Kenapa sampai bisa dia cium kamu?” Sea tidak bisa membiarkan otaknya bertanya-tanya lagi tanpa adanya jawaban pasti. “Kamu masih suka dia? Iya kan? Sekali lagi nggak apa-apa, karena waktu itu kita belum menikah, Red. Tapi imbas itu ada di masa sekarang, saat kamu udah jadi milikku.”
“Se…..”
”Dan kenapa kamu bohong waktu aku tanya?” Pertanyaan Sea memotong kalimat yang belum tuntas Red katakan, bahkan Sea mundur selangkah lagi saat Red ingin meraih jemarinya.
“Kamu pikir itu penting? Mana mungkin aku pulang-pulang dari Dubai ngomong ke kamu. ‘Sea, aku habis dipeluk Rubby, habis dicium Rubby’, itu yang kamu mau? Terus apa gunanya? Yang ada kamu tambah nggak mau nikah sama aku.” Dan Red merasa pertanyaan Sea cukup tidak masuk akal. “Aku tahu kamu kritis. Tapi terkadang nggak berguna.”
Sea terdiam.
Si wanita masih berpikir lagi. Baik, jika Red jujur dari awalpun memang tidak akan ada yang berubah, toh waktu itu meskipun Red bercinta dengan Rubby, Sea akan tetap baik-baik saja.
“Baik, aku anggap kamu nggak hamilin Rubby.” Ujar Sea kemudian. “Terus siapa yang hamilin dia?”
Red menyipitkan mata, keningnya pun ikut berkerut. “Mana aku tahu, Sea.” Jawabnya kemudian. Lalu Red menatap Sea dalam-dalam. “Intinya bukan aku yang hamilin. Aku nggak pernah nyentuh Rubby, oke pernah tapi itu dulu sebelum aku nyentuh kamu di Sky House lima tahun silam. Setelah aku nyentuh kamu, nggak ada wanita lain selain kamu yang pernah ada di ranjang yang sama denganku.”
Red ingin menegaskan bahwa hanya Sea setelah Sea setalah Sea dan setelah Sea.
Suara pria itu cukup miris dan serak.
Bagaimana tidak. Pria mana yang mau ditinggal istrinya tanpa sebab yang fatal, oke Red berbohong, tapi kebohongan Red tidak akan berimbas pada kadar kesetiaan pria itu.
Red tidak ingin keluaraga yang baru ia bangun hancur berantakan. Ia amat sangat mencintai keluarga.
Namun lagi-lagi Red harus jatuh dari tebing tinggi saat Sea menggeleng dan mengatakan. “Kamu psti tahu, aku sudah nggak bisa percaya sama kamu.”
Benar.
Akan terasa aneh saat Sea tiba-tiba percaya begitu saja. Komitmen kuat yang dimiliki Sea tidak akan mudah goyah hanya dengan penjelasan tanpa bukti dari Red.
“Aku cari bukti. Ya. Please.” Kali ini Red menyimpuhkan lutut di lantai, bersamaan itu barulah ia meraih jemari Sea, kali ini si wanita tidak menolak, membiarkan Red dibawah sana dengan tatapan nanar. “Jangan kirim surat apapun, kasih aku waktu untuk cari bukti. Aku nggak mau cerai, jadi please sekali lagi jangan ambil keputusan gegabah. Demi Arche, kita, keluarga, dan demi aku, aku nggak mau pisah, Sea.”
Sea menatap mata Red yang bergetar, rasanya sangat nyata, pria itu seperti tidak bersandiwara.
Untuk beberapa saat Sea memejamkan mata, dan saat matanya terbuka kembali, ia melihat Red dengan cara yang berbeda, wanita itu melembut. “Berdiri dulu.” pinyanya.
Sea tidak ingin melihat derajat pria berada dibawahnya.
Red berdiri, karena perintah Sea adalah sesuatu yang harus dikerjakan dengan cepat, asal bukan perintah perpisahan.
“Meskipun kamu berhasil dapetin bukti, aku nggak jamin bisa balik lagi sama kamu. Aku nggak bisa yakinin diriku sendiri buat bisa percaya lagi sama kamu, Red.” Suara Sea terdengar begitu lirih.
Nyawa Red seperti diangkat dengan paksa, tatapannya kepada Sea begitu kosong.
Sea menggeleng. “Karena sumpah demi Tuhan, sakit banget waktu aku inget kabar Rubby hamil anak kamu, aku nggak pernah ngerasain sakit sampai taraf seperti itu, kalau bisa aku ibaratkan, sakit waktu itu adalah akumulasi dari semua sakit yang pernah aku alami di seumur hidup. Kamu mungkin nggak bersalah. Tapi wanita itu mungkin bisa lagi ngebuat aku ngerasain sakit yang sama di kemudain hari, karena dia masih menginginkan kamu. Dan aku nggak mau ngerasain sakit lagi.”
Red telah gagal menjaga rumah tangganya.
Pria itu menggeleng. “Aku nggak akan buat kamu sakit hati lagi.”
“Lagi? Aku nggak suka memberi kesempatan karena aku tidak suka kata ‘lagi’. Karena saat itu terulang kembali, sakit yang aku terima bisa lebih tambah besar, aku nggak bisa jamin bisa bertahan apa enggak, aku butuh hidup untuk kedua anakku.”
Red kembali menggeleng, matanya sudah basah pun memerah akubat kalimat Sea yang begitu menyakitkan.
“Sea.” Red memanggil lirih penuh kasih dan kepasrahan, membawa Sea ke dalam pelukannya.
“Red, just stop.” Sea membalas dengan kelirihan yang begitu dalam. Keduanya merengkuh begitu rapuh. “Aku nggak berani ambil resiko, aku tetap pada pendirian, cerai.”
“Nggak mau Sea.” Red meminta lirih kembali.
Sea menggeleng. “Aku mau.”
Sea memberi jarak, melepas pelukan dan menggiring tangan Red yang semula berada di pinggangnya untuk kembali ke sisi tubuh pria itu, langkah Sea mundur sekali lagi.
Ketika Sea melakukan gerak gerik itu, Red tahu bahwa ia akan dibawa pada dunia yang amat berbeda, tanpa Sea di sisinya.
Red menghembuskan nafas kasar.
“You love me, right?” Pertanyaan itu Red sampaikan dengan keputusasaan diambang batas.
“Ya, i do.” Jawab Sea cepat.
“Then, why?” Red berteriak, amat keras dan frustasi, bahkan pria itu dedikit membungkuk serta meremat rambutnya kasar.
Perceraian bukanlah jalan keluar yang terbaik. Bahkan masalah ini bukanlah hal yang harus berimbas pada perpisahan. Red bahkan berani menjamin Sea tidak akan pernah sakit hati lagi, bahkan Red sudah bisa memblokade gangguan seperti Rubby dalam hidupnya saat ini, wanita pengganggu itu sama sekali sudah tidak bisa menyentuh Red seperti terakhir kali di Dubai.
“Cinta nggak cukup buat aku, Red. Kalau kamu ingat bagaimana aku cinta dengan Jeremy di masa lalu, aku bisa saja hidup dengan cinta dan selamanya jadi wanita penganggu, tapi aku nggak milih jalan itu karena aku sadar cinta saja nggak cukup jika aku menyalahi kehidupan orang lain atau tidak berimbas baik dengan kehidupanku sendiri. Hal itu berlaku untuk hubungan kita juga.”
Keduanya berada di ujung tanduk.
Red yang hanya bisa berusaha.
Sea yang teguh dengan prinsipnya.
Dengan tangan lemas Red ingin meraih tubuh Sea kembali, namun lagi-lagi Sea mundur satu langkah.
“Lagipula kamu belum tentu bisa dapet bukti, Red.” Ujar Sea, wanita itu memejamkan mata sejenak diiringi dengan air mata yang keluar, tak berapa lama, Sea mengangkat dagu sembari membuka matanya. “I love you, but it's not gonna be enough.”