Moon

Moon
Malam Ketiga



Sea menatap kamar hotel yang akan menjadi rumahnya sementara selama ia berada di Bali bersama seluruh keluarga. Bisa dibilang ini adalah hotel milik Sea sendiri yang ia bangun delapan tahun yang lalu.


Meskipun acara baru selesai, tak membuat Sea cepat cepat untuk istiraha karena ia mencoba mengakrabkan diri dengan seluruh anggota keluarga Ardibrata yang memang belum Sea kenal semuanya, mengobrol, bercanda tawa sampai ada yang menggoda Sea.


Sea pernah berpikir dengan ia yang hamil duluan bahkan untuk kedua kalinya pun dengan kecelakaan yang sama membuat orang-orang akan menilai buruk terhadap dirinya, ternyata kabar bahwa keluarga Ardibrata adalah orang-orang yang baik benar adanya, Sea tidak merasa terintimidasi. Begitupun dengan Arche, putranya itu sudah dibawa kemana-mana oleh mereka, diberi kasih sayang dengan semestinya.


Sea berpikir, ternyata Red besar di keluarga penuh kasih sayang, pantas saja pria itu banyak teman.


Sea merasa lelah dan memang waktunya untuk istirahat, kehamilannya sangat rentan dan Red tahu istrinya itu tidak boleh kelelahan. Namun saat malam tiba, Sea terbangun karena ia harus mandi.


Saat Sea lekas membuka mata, ia menyadari ada Arche disampingnya yang sedang tetidur lelap. Masih mengumpulkan nyawa, Sea melihat jam di dinding menunjukkan pukul delapan malam, jadi Sea terburu-buru untuk membasuh diri setelah menyiapkan sabun dan sikat gigi.


Mungkin hanya butuh waktu dua puluh menit untuk Sea mandi, wanita itu keluar dari bilik kamar mandi dengan menggunakan handuk putih yang melilit dari dada sampai atas lutut saja. Sea berencana membuka lemari karena ia tahu kopernya sudah dibuka yang berarti semua pakaian sudah ada di lemari.


Namun saat Sea sudah membawa baju dan melewati lemari yang ada di balik tempat tidur, ia terkejut, Red sudah ada di atas ranjang, tanpa Arche yang sebelumnya tidur disana.


“Arche mana?” Sea bertanya.


Red menjawab, “Dibawa mama.”


Sea mengangguk kecil, kenapa Sea merasa malamnya sangat berbeda, ah, dia lupa soal malam pertama yang dielu-elukan banyak pengantin di luar sana, terlebih Sea mendengar suara langkah Red yang semakin mendekat ketika ia berbalik ingin pergi dari hadapan pria itu.


“Malem-malem keramas, nanti masuk angin.” Ujar si pria sembari memegang rambut pirang Sea.


Sea tak menoleh, ia masih sibuk mencari pengering rambut yang ada di lemari dekat ranjang. “Rambutku kaku Red, kamu nggak tahu sih gimana rasanya dikasih hairspray banyak banget.”


Namun Sea tercenung saat ia merasakan jemari Red menyentuh pipinya. “Masih mual nggak?” pria itu bertanya.


“Enggak.” Jawab Sea ringan, wanita itu membalik badan dengan hair dryer ditangan. “Kamu mau tidur sama aku?” tanyanya.


Pertanyaan Sea membuat alis Red menukik. “Tentu. Kamu istriku, mulai malam ini tidur satu ranjang denganku.”


Sea mengangguk-angguk, benar juga. “Red, kamu mau minta malam pertama?” tanpa ragu Sea bertanya lagi.


Red mendengus geli saat mendengarkan pertanyaan Sea lagi. Mencoba mendekatkan diri ketika Sea hanya diam menatap sembari menunggu jawaban. “Kalau aku boleh bilang, ini malam ketiga kalinya.”


Mata Sea membulat, sialan, astaga, Sea tidak boleh mengumpat. Akan terlalu absurd jika Sea menolak Red saat ini, namun jika tatapan Red penuh nafsu begitu jujur Sea menjadi ragu, apalagi kehamilannya masih sangat muda.


Dan saat jemari Red memegang pinggang Sea, pria itu sedikit memiringkan kepala. “Kecil, nggak sakit ngelahirin Arche?” Tanyanya dengan lembut.


“Aku hampir mati.” Spontan Sea menjawab sembari menahan tangan Red yang bergerliya semakin jauh.


Sea memundurkan langkah, namun yang ia dapati adalah lemari yang menahan punggungnya. Jarak keduanya hanya sejengkal saja, hembusan nafas membuat sekujur tubuh merinding dan hangat, Red semakin menikmati romansa ketika ia mencium bau segar dari tubuh Sea.


Sea terkesiap, apa yang ia rasakan saat ini adalah bibirnya yang dibekap oleh bibir Red, pria itu menciumnya, dengan lembut, remasan di pinggang pun sementara Sea lupakan karena saat ini ia memilih untuk memejamkan mata, suhu badan Sea dingin namun wanita itu justru merasakan hangat mengalir disekujur aliran darah.


Dengan bibir basah terbuka, Sea mengedip sayu dan lekas menghentikan ciuman lebih dulu sebelum ia melihat rambut Red yang berantakan akibat ulahnya.


“Nggak bisa, aku lagi hamil.” Wanita itu mendorong tubuh Red pelan namun sia-sia karena Red menahannya.


Bagaimana sih rasanya berhadapan dengan pria keras kepala seperi Jared Ardibrata? Pria itu tak perduli dengan perkataan Sea. “Aku tahu, orang aku yang hamilin.” ujarnya ringan.


Telapak tangan Sea dengan penuh menutup wajah Red saat pria itu mencoba untuk mendekat lagi, berniat untuk mencium Sea lagi.


Sea membuka jemari yang ada diwajah Red agar mata pria itu terlihat. “Itu kamu tahu, jangan macem-macem, nanti kamu nafsu aku yang bingung.”


Sea terdiam mendapatkan pertanyaan dari Red.


Sea tidak tahu betul boleh apa tidak melakukan hubungan badan selagi masih hamil muda. Dulu saat hamil Arche saja Sea tidak punya suami, jujur ia sendiri tidak berpengalaman. Tapi Sea juga tidak bodoh-bodoh amat, wanita itu pernah mendengar segelintir orang mengatakan lebih baik menghindari hubungan intim saat hamil muda.


“Mommy, aku pengen.”


Memutar bola mata kesal, tangan Sea kemudian menarik rahang Red, mendekatkan bibir untuk memulai ciuman lagi. Sea memang*t dengan dalam dan sedikit lama bibir si pria. Saking nikmatnya, wanita itu sampai memejamkan mata.


Sedangkan saat Red ingin membalas ciuman dari Sea, wanita itu sudah melepaskan duluan, membuat jarak di antara mereka.


“Udah, itu aja dulu, nunggu baby agak gedean baru gituan.” Ujar Sea sembari mengangguk mantab.


Red mendesis, pria itu tidak terima.


“Sekali lagi.” Dengan senyum yang manis dan suara merayu, Red menghentikan Sea yang ingin beranjak dari sisinya, yang mana itu membuat Sea tidak bisa menolak.


Karena si pria lebih dulu mencium, yang bisa dilakukan Sea hanya membalas setiap decapan. Sea sedikit memekik saat Red dengan tiba-tiba mengangkat tubuhnya untuk dibawa ke ranjang.


Sea melotot, ia juga tidak lupa memukul dada Red yang nyatanya tak menimbukan reaksi apa-apa dari pria itu, justru saat Sea sudah duduk di ranjang, dengan seenaknya Red melepas handuk yang melilit tubuh si wanita.


“Red. Nggak boleh.” Ujar Sea memperingati Red lagi.


“Cuma ciuman sama raba-rab doang.” Jawab Red sekenanya.


Red mencium Sea lagi, tangannya meraba setiap inci tubuh Sea yang mana membuat si wanita memejamkan mata lagi.


Kalau begini, lama-lama Sea yang termakan nafsu.


Dan pada detik dimana Sea merasa kualahan dengan Red, suara ketukan pintu membuat Red melepaskan ciuman dan Sea sendiri membenahi handuk agar melilit tubuhnya lagi.


Sea berjalan menuju pintu.


“Mama ganggu ya?” Suara Sekar mengudara beserta langkah masuk kedalam membawa Arche dalam gendongan.


“Mommy.” Suara isak Arche terdengar oleh Sea.


Sedangkan Sekar mengamati penampilan Sea dari atas sampai bawah yang mana si empu yang dipandang merasakan intimidari dari ibunya sendiri. “Aku habis mandi, Ma. Gitu amat lihatnya.”


“Baru mandi, tapi bibirmu merah. Bilang aja bikin adik lagi.”


Ya Tuhan. Mamanya sensi sekali sih.


“Terserah Mama deh.”


Sekar hanya tersenyum jahil setelah itu. “Arche minta sama kamu, niat mama biar kamu nikmatin malam pertama, nggak tahunya Arche bener-bener pengen sama kamu.”


*Sea mengangguk, menatap wajah putranya yang mencibik. “Yaudah, baby* tidur sama Mommy lagi ya.”


Setelah Sekar menghilang dari tempat, barulah Sea memasuki kamarnya lagi, ia sudah tidak melihat Red ada di atas ranjang melainkan suara guyuran air dari dalam bilik kamar mandi.


*“Malam ini tidur bertiga sama Daddy* ya baby.”