
Banyak sekali yang bilang Sea adalah orang paling bodoh di dunia.
Tentu saja.
Bagaimana bisa wanita itu menyia-nyiakan orang baik seperti Red?
Sea tetap tegas mengatakan ingin berpisah dengan Red meskipun semua fakta sudah terungkapkan dengan benar. Sea lebih mementingkan ego daripada rasa sayang yang masih jelas tersemat di dalam hatinya, hingga wanita itu terjerembab dalam kepedihan lain dan lebih daripada sakit.
Lebih tepatnya satu hari yang lalu, Red mengirimkan semua bukti langsung ke ponsel Sea yang terekam jelas melalui cctv. Mulai dari aktifitas yang dilakukan Red, sampai saat Red mengantar Rubby ke hotel dan berakhir pria itu memutuskan untuk menempati kamar Jantis di hotel yang sama dengan Rubby, bahkan Sea juga melihat perhitungan waktu saat Red berada di dalam satu kamar yang sama dengan Rubby, tidak sampai lima menit, hal itu mustahil bagi Red untuk melakukan adegan ranjang bersama wanita itu.
Dalam pesan tambahan yang dikirimkan Red pada Sea, pria itu mengatakan lagi dengan penuh penekanan dan kejujuran bahwa hal-hal kotor seperti itu tidak terjadi, Red tidak pernah lagi tidur dengan Rubby apalagi menghamilinya.
Dan Ibu Kirana juga meyakinkan Sea bahwa Red tidak melakukan itu semua. Jadi tidak ada lasan bagi Red untuk membohongi Sea lagi, atau alasan Sea tidak percaya lagi.
Intinya Red sudah membuktikan bahwa dirinya tidak berhianat.
Lalu soal pernyataan Sea malam itu, Red menolaknya mentah-mentah. Red selalu punya jawaban ataupun sanggahan untuk Sea hingga wanita itu tak mampu lagi berbicara.
Pada akhirnya, Sea pulang ke rumahnya sendiri, membiarkan Arche tetap berada bersama Ibu Kirana. Membiarkan Red dikerubung amarah sendirian.
Lagipula, Arche juga akan betah bersama ibu Kirana, apalagi Sea juga tahu bahwa mertuanya itu juga sangat merindukan Arche karena beberapa kali menanyakan cucunya itu.
“Kok rasa-rasanya ada sesuatu yang gue nggak tahu sama sekali, lo nggak lagi marahan sama Red kan?” Latania bertanya setelah lama dalam keterdiaman. Teman Sea itu menyondongkan tubuh dan menaikkan alis tinggi, sangat ingin tahu.
Sebenarnya Sea sedikit penasaran kenapa Latania bisa sepeka itu, atau mungkin ada seseorang yang memberitahu temannya itu. Tapi Sea tak mau berpikir macam-macam lagi karena sadar jika sang mama yang bernama Sekar itu sangat mudah berbagi cerita dengan Latania, tidak bisa sioungkiri lagi, pasti mama Sekar yang memberitahu Latania.
“What’s wrong, Sea?” Tanya Latania lagi saat Sea masih dalam keterdiaman, bahkan Sea menunduk tak bergerak.
Sejamang kemudian, Sea menggeleng, ia sebenarnya keluar rumah meminta bertemu dengan Latania di sebuah kedai cokelat hanya agar pikirannya jernih, hanya agar pikirannya tidak terpaut dengan pria yang masih digantung dalam hubungan. “Nggak ada apa-apa, La.” ungkapnya kemudian.
Latania kembali duduk santai dan menyeduh kopi dengan nikmat, wanita itu menarik napas sebentar sebelum ia akan berbagi pikiran. “Gue emang belum berumah tangga, tapi kisah gue sama Jantis juga rumit, dalam hubungan pertengkaran itu sudah biasa. Meskipun gue udah pernah pisah, tapi semenjak gue balik lagi, gue bisa lebih bersikap dewasa, gue masih sering bertengkar, tapi nggak sampai pisah-pisah kayak lo.”
Otomatis Sea melotot, wanita itu tidak terima atas pernayataaan temannya, ia melirik sinis Latania. “Nggak usah banding-bandingin.” Ujarnya. “Karena kalau tanaman tumbuh ditempat yang berbeda, dengan curah hujan yang beda pula, maka suburnya juga beda, daunnya juga beda.”
Sea mendengus kesal, tak mau lagi menjawab.
“Red lagi nggak selingkuh kan?” Tanya Latania berkali-kali lipat lebih menyebalkan dari sebelumnya. “Siapa? Siapa selingkuhan Red? Kasih tahu gue!!! Atau jangan-jangan lo yang selingkuh? Lo lagi nggak kepincut opa Korea kan?”
Apalagi respon Latania yang terkejut sendirian atas pernyataan wanita itu sendiri, bahkan Latania sampai mengelus dada dan menggeleng dramatis. Sungguh membuat Sea ingin memakan temannya ity.
Sea tahu, Latania hanya berperan sebagai penghibur hari ini, keyakinan Sea setatus persen bahwa mama Sekar yang meminta Latania untuk membawanya berada di mood paling bagus. Tapi harapan mama Sekar kungkin melenceng dari kenyataan, justru Latania membawa Sea berada di mood paling buruk.
Keheningan terjadi, Sea memilih untuk menukmati cokelat hangat dan berbagai roti kering yang sudah tersaji di daatas meja. Rasa-rasanya Sea tidak ingin pulang dari tempat ini.
Sedangkan Latania sendiri disibukkan dengan pemandangan aneh, sampai-sampai wanita itu memincingkan mata. Perlu digaris bawahi, Latania sudah mengalami kerabunan akibat terlalu sering berhadapan dengan sosial media hingga penglihatannya semakin buruk, oke lupakan dulu fakta itu, yang lebih penting adalah, dari arah luar jendela Latania melihat satu sosok wanita yang amat ia kenal berada dan duduk di sebuah cafe bagian luar, persis di seberang jalan yang tak jauh disana. “Gue nggak salah lihat kan? Itu Rubby deh kayaknya.”
Pertanyaan Latania sontak membuat Sea mendongak, Sea harus meluoakan bahwa fakta menikmati cokelat harus berakhir detik ini juga, lalu Sea mengikuti arah dimana Latania tetap menatap di satu titik tempat. “Kok rasa-rasanya punggung cowok itu gue kenal.” Celetuk Latania lagi.
Karena Sea pun melihat Rubby bersama seorang pria.
Dan satu hal, Sea yakin benar Latania tidak akan pernah tahu siapa pria itu jika hanya melihat punggungnya saja, tapi tidak dengan Sea, wanita itu teramat tahu, hapal dan mengingat. Sea terlalu ingat, bahkan pria itu satu-satunya pria yang pernah ia cintai selain Red.
Lebih daripada keduanya saling mengenal, Sea justru lebih penasaran kenapa Rubby menampilkan wajah dengan kepiasan begitu memilukan.
Sea sama sekali tidak melihat tampang Rubby yang percaya diri setelah berhasil menghancurkan rumah tangga Sea bersama Red.
“Apa Geido ya? Atau pacar barunya? Tapi gue denger Rubby belum bener-bener cerai sama Geido?” Latania bertanya-tanya lagi.
Pacarnya? Apa mungkin, kata-kata itu sontak terngiang di dalam otak Sea.
Hingga Sea menyadari satu hal. Sesuatu yang hebat dan nyeri jika dipikirkan.
Sea segera berdiri, melangkah dengan hentakan mantap meninggalkan Latania dalam teriakan saat memanggil-manggil namanya. Dan yang Sea dengar lagi, sepertinya Latania mengikutinya dari belakang.
Sea sudah lelah mengira-ira, ia sekarang tidak mau tertekan dengan berbagai spekulasi mengerikan yang akan membuatnya lebih setres, ia juga tidak mau kandungannya terganggu, jadi, Sea memutuskan untuk bertanya langsung pada Rubby, atau bisa dikatakan Sea akan melabrak wanita penghancur rumah tangganya itu.