Moon

Moon
Memangnya Kucing?



Sea membuka mata saat pagi menyapa. Seperti naturalnya orang terbangun dari tidur, Sea dengan mata yang belum sadar betul itu mencari kenyamanan. Sea merasa kosong, yang dimaksud Sea dimana beban lengan yang biasanya menindih perutnya? Praktis hal baru yang dirasakan Sea membuat wanita itu melebarkan pandangannya.


Red tidak ada.


Pertanyaan Sea bagiamana bisa suaminya yang tak pernah sekalipun bangun mendahuluinya itu sudah lenyap dari kamar ini?


Kemanakah Red pergi?


Pening, praktis Sea memegang kepalanya yang tiba-tiba memberat. Mungkin karena Sea tiba-tiba mendudukkan diri hingga pusing datang menghampiri.


Setelah Sea mengatur napas dan merilekskan posisinya, wanita itu merasa berat dikepala sudah menjadi ringan. Dan langkah yang diambil Sea selanjutnya adalah menuju kamar mandi untuk membasuh muka dan gosok gigi.


Setelah melakukan rutinitas di kamar mandi, Sea melipat selimut dan keluar untuk menuju kamar Arche. Dan kejutan ternyata tak sampai pada hilangnya Red, Sea juga mendapati Arche juga tidak ada di dalam kamar.


Sea menutup kamar Arche untuk menuju arah dimana terdengar suara alat dapur sedang berperang disana, Bi Rini sudah berkutat dengan masakan. “Bibi lihat Red nggak?’


Bi Rini rini asisten rumah tangga itu menoleh saat Sea bertanya, wanita paruh baya itu tersenyum dan menoleh ke arah samping, jelas, tidak perlu jawaban lagi Sea sudah pasti tahu yang dimaksudkan.


Dan benar, Sea mendapati dua manusia berjenis kelamin sama tapi memiliki ukuran badan yang jauh berbeda itu sedang duduk di pinggir kolam, keduanya bertelanjang dada, rambut basah dan yang paling membuat Sea sebal ketika wanita itu hampir sampai pintu keluar dan merasakan dinginnya angin masuk menerpa tubuhnya.


Tidak bisa dibiarkan.


“Mommy nggak mau ngurus kalau diantara kalian ada yang sakit, pagi buta udara dingin sudah berenang aja, mau cari penyakit?”


Sepasang ayah dan anak itu menoleh kompak, bukannya takut karena Sea nampak menyeramkan, justru keduanya meringis dan menyapa secara bersamaan, “Pagi Mommy.”


Sea mau marah lama-lama tidak bisa, akhirnya wanita hamil itu berjongkok, salah satu jarinya menyentuh kulit Arce, dan benar, tubuh putra semata wayangnya itu dingin sekali, tak perlu waktu bagi Sea untuk berpikir lebih lama, wanita itu langsung mengambil handuk yang ada di kursi dan kembali lagi untuk membungkus tubuh Arche.


“Dad, udah tau dingin kan? Ayo kamu juga udahan renangnya.”


Red meringis melihat kekesalan Sea, namun dengan tanpa berdosa pria itu menjawab, “Aku maunya juga udahan dari tadi, tapi baby nggak mau.”


Sea yang sedang mengusap kepala Arche dengan handuk itu berdecak, “Siapa yang ngasih ide renang pagi-pagi?”


Si bayi empat tahun itu tak menjawab, justru yang Sea lihat adalah bagaimana Arche yang menatap Red dengan tajam, dan itu menjawab semua pertanyaan Sea bahwa bendera permusuhan antara Red dan Arche belum benar-benar berakhir.


“Baby yang maksa, Mom.”


“No Mommy, Arche nggak maksa, tapi Daddy yang mau- mau aja.’


Nah, kalau begini Sea harus percaya dengan siapa, tapi sebagai ibu dengan insting sekuat pelacak, Sea lebih percaya Arche karena wanita itu tahu betul babynya tidak akan pernah berbohong.


“Jujur, kamu yang nawarin Arche buat renang pagi-pagi gini kan?” Sea menatap Red dengan pertanyaan intimidasi.


Akhirnya pria itu menggaruk kepalanya. “Habisnya Daddy nggak di maafin sih. Jadi maunya baby aku turutin, daripada nyemplung sendirian.”


Sea mulai paham lagi, “Tapi kalau kamu nggak nawarin renang mana mungkin Arche ngide, Dad.”


“Aku bikin tawaran yang menggiurkan, Mom, jadi nggak salah dong kalau baby mau.”


Sea tambah pusing. Dan Arche yang keras kepala masih memusuhi ayahnya sampai sekarang. Permusuhan yang belum usai karena Red sering ingkar janji untuk pulang tepat waktu, jujur Sea sebagai orang yang tak banyak janji dan artinya juga tak banyak mengingkari janji itu bingung sendiri.


“Yaudah, baby mau apa, selain berenang, jangan marah lagi dong” Red tetap membujuk Arche yang sedang dipangku Sea.


Mendengar pertanyaan ayahnya, Arche nampak antusias. “PS five.”


Sea membeo, jawaban putranya itu sangat diluar dugaan. Sea tahu betul apa-apa yang disukai Arche, bayi itu bukanlah pecinta mainan elektronik, daripada benda-benda modern itu, biasanya Arche lebih memilih lego, rubik dan lain-lain yang butuh konsentrasi kuat untuk menyelesaikannya.


“Baby tahu PS five dari siapa?”


Mata Aeche berkedip -kedip lucu mendengar pertanyaan dari Sea, kedua tangannya pun tak berhenti saling meremat.


“Oke deal nanti Daddy belikan.” Red menjawab dengan antusias tanpa perduli dengan pertanyaan istrinya yang terlihat begitu penasaran.


Sea tambah melotot. Apa-apaan jawaban suami itu. “Enggak, Mommy nggak setuju. Lagian dapet informasi darimana kok sampai tahu PS lima.”


Red mengehembuskan napasnya pelan. “Mom, Arche itu udah empat tahun, apa kamu nggak inget gimana dia tiba-tiba minta baby sister, harusnya PS lima bukan lagi sebuah kejutan.”


Benar juga, kenapa Sea sampai lupa jika ingatan putranya itu begitu tajam, entahlah, mungkin Arche mendengar PS lima dari orang-orang yang berlalu lalang atau dari televisi.


“Tapi kamu jangan langsung turutin. Ditanya lagi apa fungsinya? Bisa maini apa enggak?”


Tidak masalah bagi Red, anak kecil wajar sekali minta sebuah mainan. Nanti kalau tidak bisa Red bisa lngsung mengajarinya.


“Enggak apa-apa kali Mom. Entar aku sendiri yang ngajarin, daripada main gadget, mending main PS, ntar aku pilihin permainan yang bisa ngrangsang motoriknya.”


Sea terdiam beberapa saat. Sekali-kali tidak apa-apa untuk menuruti keinginan Arche hanya untuk sebuah game. Tapi Sea keberatan karena Arche sudah berubah, bayi mungilnya sudah tumbuh. Sea menyadari Arche tidak selamanya akan sama. Kenapa Sea jadi sedih.


Tidak mau memikirkan ini lebih lama, Sea menegur Red. “Cepetan mandi, Dad, ntar masuk angin.”


Saat Sea berdiri, Red juga ikut berdiri. “Kamu beneran udah sembuh kan mualnya?” Tanya Red kemudian.


Sea mengangguk. “Kalau dulu sampai tiga bulan.”


“Sukur nggak kelamaan.” Karena Red tidak rela melihat Sea kesakitan.


Tidak tahu saja apa yang dialami Sea waktu dulu mengandung Arche, tidak hanya tiga bulan, tapi sembilan bulan penuh drama, kesakitan dan Sea sering pingsan.


“Iya sukur, aku nggak mau ngerepotin kamu.” Jawabnya sembari berlalu karena Sea ingin memandikan Arche.


“Aku mau di repotin.” Jawab Tegas Red. “Mom.” Lalu pria itu memanggil Sea dengan dalam.


“Hem..” waita itu menyahut.


“Kamu ada rencana punya anak berapa?”


Langkah Sea terhenti. “Berapapun sih. Kalau dikasih ya dirawat, kalau enggak ya nggak apa-apa.”


Mata Red berbinar, ia senang luar biasa. “Sepuluh ya Mom.”


Sea melirik Red tajam, “Memangnya aku kucing.” Dan berakhir wanita itu menabok lengan suaminya.


Setelah itu Sea benar-benar pergi meninggalkan Red yang sedang mengusap-ysah bagian kulit yang terlihat merah, pria itu merasa perih karena jujur tabikan Sea keras sekali.


Dengan wajah yang mengerut, Red tetap membuntuti Sea hingga kamar mandi. “Mom, Daddy juga pengen dimandiin, masak Arche terus sih.”