Moon

Moon
Permintaan Arche



“Sh*t, anjing, ban*ke.” Latania mendidih saat satu onggok manusia menggandeng istri tercinta dan anak laki-lakinya; Jeremy, bersama Suri dan Robby.


“Lo nggak ngundang mereka kan?”


Suara anak-anak beserta kicauan dari mereka nampak menyenangkan di dengar oleh telinga, namun saat Latania menyampaikan pertanyaan setelah beberapa kali mengumpat, Sea sadar jika hari ini akan menjadi sangat berbeda.


Jeremy? Suri? Beserta Robby putra dari keduanya?


Siapa yang memberitahu mereka?


Sea memandang Latania, wanita itu menggeleng menanggapi pertanyaan sahabatnya. “Aku nggak segila itu ngundang mereka di acara seperti ini La.” Dengan mulut tak bergerak Sea menjawab.


Karena pada kenyataannya, Latania tahu jika Jeremy adalah orang yang Sea suka, Latania tahu juga jika Jeremy menerima Sea meskipun pria itu beristri, yang tidak diketahui Latania adalah, Sea yang pernah suka rela dijadikan budak naf*u si Jeremy.


Setidaknya, Latania tidak tahu soal keintiman itu.


Pesta ulang tahun Arche dihadiri beberapa anak kecil dari perumahan sekitar sini. Siapa yang tidak tahu keluarga Martin hingga para ibu ibu tidak mau menghadiri, setidaknya acara sederhana ala Sea menjadi sedikit meriah.


“Udah bikin sakit ati anak orang ditambah penghianat, dasar laki-laki bajing*n.” Latania lagi-lagi menggerutu.


“La, Jeremy nggak salah, aku yang salah. Oke, calm down.”


Bahkan Sea berkali-kali mengatakan jika yang salah disini bukan Jeremy, melainkan dirinya sendiri. Namun bagaimana jika ia dihadapkan oleh Latania? Ya begitulah jadinya.


Kejutan datang lagi saat ia melihat Red beserta Kirana baru memasuki pintu, Sea juga sangat jelas Red menegang saat melihat Jeremy tersenyum ramah pada pria itu, namun Red adalah orang keras kepala, mana mau pria itu menanggapi sapaan Jeremy.


Mungkin setelah ini Red akan menyiapkan seribu pertanyaan untuk Sea hanya karena ada Jeremy di acara ini.


Padahal ada tidaknya Jeremy juga bukan urusan Red, tapi kenapa Sea memikirkan kemungkinan Red akan bertanya? Kenapa Sea terlalu percaya diri? Pada akhirnya Sea merasa bodoh sendiri.


“Daddy.” Arche yang digendong Sea pun memanggil ayahnya, membuat semua orang memandang ke arah Sea dan lebih parahnya gerombolan Jeremy ikut mendekat kearahnya.


Red mengambil Arche dari gendongan Sea, tatapan Red menakutkan, namun saat Sea menggeleng, Red meraih pipi wanita itu dan sielus sebentar, mungkin Red tahu jika Sea juga tidak tahu kenapa ada Jeremy disini, Red rupanya cukup pengertian, dan Sea lega untuk alasan yang ia tak tahu juga.


Red mengucapkan ulang tahun beserta mengecup komponen wajah putranya. Sedangkan Kirana bersapa dengan Oma Seruni dan Sekar. Membicarakan Sekar, wanita itu sedikit luluh dan mau datang demi cucunya.


“Sea, kamu cantik sekali.” Puji Kirana.


Sea tersenyum menanggapi. “Terimakasih Bu.”


Jujur Sea kikuk sendiri, Jeremy dan Suri juga menyapa Sea, benar-benar terasa biasa saja dan seperti tidak pernah terjadi apa-apa di masa lalu.


“Sea apa kabar kamu.” Tanya Suri pada akhirnya, wanita itu tersenyum ramah. “Lama banget nggak ketemu. Untung kemarin telfon Oma Seruni, jadi tahu ada acara ulang tahun Arche.”


Oh. Oma Seruni pelakunya. Sea menghela napas, tidak apa-apa, anggap saja bertemu sanak saudara. Jika dipikir-pikir, mereka memang bersaudara jauh, lebih tepatnya Jeremy yang mempunyai ikatan saudara dengan Sea.


Sea merasa tubuhnya disenggol oleh Latania, gadis itu sungguh mengganggu, tapi Sea memilih untuk mengabaikannya dan menanggapi Suri saja. “Great, kamu gimana kak?”


“Baik juga.” Jawab Suri, wanita cantik itu beralih menatap Arche yang ada di gendongan Red. “Arche ganteng banget, mirip kamu Red. Happy birthday boy.”


“Thank you auntie.” Arche menanggapi dengan ceria.


Suri menarik lengan Jeremy, pria itu pun memberi ucapan dengan amat biasa saja, lalu Suri mengenalkan Robby kepada Arche, jarak kedua anak itu 5 tahun. Keduanya pun saling bersalaman, Arche nampak senang karena mendapat kenalan baru.


Robby menyerahkan kado untuk Arche dengan tote bag berukuran besar, respon Red tak terduga, ayah satu anak itu nampak menerima celotehan Robby tentang betapa lucunya Arche, membuat Sea terdiam di tempat.


Namun, saat Red menatap Jeremy, pandangan suram kembali dan Sea tetap memilih untuk diam disamping Latania.


“Se, aura Red ngeri.” Latania menyeletuk, membuat Sea tambah kikuk.


Ya Tuhan, ia harus menyalahkan siapa atas situasi ini?


Sea hanya melirik sekilas, memberikan ancaman kepada Latania agar gadis itu diam. Jeremy memang tidak banyak bicara, pun kepada Sea hanya bersalaman saja, namun tatapan pria dewasa itu sama sekali tak Sea tahu, sedikit berbeda jika dibandingkan dulu. Bagi Sea, Jeremy bukan lagi hal yang harus dipikirkannya.


Namun kenapa ia malah gelisah saat Red terlihat sedikit diam?


“Red, Tante sudah nyiapin baju buat kamu, sana ganti dulu, tante taruh di kamar Arche.” Ujar Sekar yang membuat Sea menoleh ke ibunya, tatapan pertanyaan ia layangkan, namun ibunya melengos mengabaikan.


“Kak Se, mama nyiapin baju merah buat bang Jared.” Sky dari samping kiri menyeletuk, memberitahu kakaknya.


Sedangkan Red juga bertanya-tanya, namun saat Sekar memberitahu. “Biar samaan sama Sea dan Arche, harus kompak dong.” Maka Red segera melesat serta membawa Arche bersamanya menuju kamar yang dimaksud.


Oh. Baju yang dipakai Sea dan Arche adalah pemberian Oma Seruni. Apakah ini sebuah kompromi? Yang dipelopori oleh mama Sea sendiri? Nampaknya jawaban iya sangat tepat sekali.


Meskipun Sekar masih cuek-cuek saja kepada Sea, diam-diam wanita itu mengusahakan agar Sea bisa menerima Red untuk dijadikan suami. Dan itu tidak disangka-sangka oleh Sea.


Tak lama, Red keluar dengan menggunakan baju bermotif sama seperti yang digunakan Sea dan Arche. Ketiganya nampak seperti sebuah keluarga kecil.


“Blue Uncle.” Teriak Arche saat melihat orang baru masuk.


Adik dari Red yang lama tak nampak batang hidungnya itu baru datang, tersenyum lebar dengan membawa hadiah dan rentangan tangan, “Baby. Happy birthday.” dan respon Arche girang minta ampun.


“What’s up Bang.” Blue menyapa Red karena memang sangat lama tidak bertemu.


Red mengangkat bahu, “Fine, good and alive.”


Dan Arche berada diantara kedua orang itu seperti kambing conge, celingak-celinguk karena tidak paham apa yang dibicarakan.


“Baby ikut mommy yuk, jangan dengerin daddy dan uncle, nanti baby bisa pusing.” ujar Sea ketika baru mendekat lalu mengambil Arche dari gendongan Red.


“Kak Sea.” Blue mengatakan itu, menyapa Sea dan mencium pipinya, dan disaat yang sama satu cubitan keras ia dapatkan dari Red, membuat Blue meringis kesakitan.


“Bang.” Protes Blue dengan rintihan yang keluar dari mulut, membuat Kirana datang dan memukul putranya itu.


“Kamu jangan godain abang mu.” Tegur Kirana.


“Siapa yang godain ma. Blue cuma cium kak Sea doang, ya kan kak.” Blue berakhir meminta persetujuan dari Sea, dan pemuda itu tambah bahagia saat Sea mengangguk dengan senyumannya.


“Udah?” Sea bertanya, membuat Red terdiam. “Bahas itu nanti, si tampan nunggu lilinnya di tiup, sekarang giliran Arche, oke.”


Arche tertawa kecil setelah mendapat kecupan di pipi dari ibunya. Anak itu menurut ketika Sea membawanya ke tempat paling menonjol di antara tempat lainnya, disana ada sebuah kue, Arche berdiri agak tinggi dengan Red dan Sea berada di masing-masing sisi.


Latania mengambil bagian, gadis itu mengambil mic untuk dirinya sendiri karena hari ini ia amat semangat untuk menjdi mc ulang tahun Pangeran Numan.


“Semuanya udah siap, anak-anak ayo duduk yang rapi ya.” Senyum penuh tanpa pudar dari Latania membuat Sea tersenyum bahagia, temannya ini memang satu senyawa dengannya, mendukung apapun yang akan Sea lakukan meski harus adu otot dulu dalam berargumentasi, tapi Sea sangat menyayanginya.


Acara dimulai begitu meriah, dimulai dari doa, bernyanyi, perkenalan nama anak-anak karena Arche memang tidak mengenal mereka semua dan berakhir dengan meniup lilin.


Arche meniup lilin bersama Sea dan Red dan dilanjutkan dengan kedua orang tua itu mencium pipi Arche di masing-masing sisi, dan bagian paling menggemaskan ketika Arche membalas ciuman mereka dengan bergantian.


Acara selanjutnya adalah memotong kue, satu potong kue telah terpotong, dan disinilah Latania bereaksi lagi. “Penageran Numan paling sayang sama siapa sih? Kuenya mau dikasih ke siapa dulu?”


Arche mengerjab polos, anak yang sudah genap empat tahun itu melihat Red dengan kedipan matanya dan senyum senang. “Daddy.”


Sea tahu, tapi bukan hanya Sea saja, bahkan semua orang yang mereka kenal tahu jika Red adalah favorite person Arche. Dan pria yang dimaksud tersenyum lebar.


Sea memberikan piring kecil berisi kue itu ke Arche. “Baby, ini kasih ke daddy.”


Arche menurut, diberikannya piring itu untuk Red, lalu tepuk tangan terdengar begitu ramai.


Latania terlihat bersemangat lagi. “Terus untuk kue berikutnya untuk siapa Pangeran Numan?”


“Mommy.” Tawa gembira dan jawaban heboh dari Arche secara tiba-tiba membuat semua orang tertawa, lucu sekali.


“Thankyou baby.” Sea mengucapkan itu dan menerima kue dari putranya.


Ada Sky dan Blue yang membantu dari masing-masing sisi, kanan, kiri dan belakang, semua terbagi rata karena Sea tudak hanya membeli satu kue saja.


Latania melanjutkan untuk menjadi mc lagi, kali ini dengan pertanyaan yang berbeda. “Pangeran Numan minta kado apa nih dari daddy?”


Arche mengerjab, ia memandang Red dengan kedipan lucu. “Ngeng Red color.”


Dahi Sea mengkerut, apa maksudnya?


“Ngeng?” Latania bertanya. “Red color?”


“Car auntie.” Jawab Arche polos.


Waaah. Hebat sekali Red, bagaimana bisa Arche sekecil itu menaiki mobil? Dan hal mengejutkan datang dari halaman depan, ada Edward yang membawa mobil warna merah dengan hiasan pita, spesial gift dari Red untuk Arche.


Sinting.


Sea memelototi Red dan beralih melihat arah luar, sekali lagi kaca rumah Sea tembus pandang, penampakan mobil itu sangat jelas terlihat olehnya.


Dan Red yang mendapatkan pelototan memilih mencibir jail. Menyebalkan. Logic nggak sih Arche diberi hadiah mobil mewah seperti itu?


“Waw, sngat keren.” Latania berujar meskipun ia sedikit mungkin berpikiran sama dengan Sea.


Yang dijadikan pertanyaan, dari mana Arche mendapat ide meminta mobil berwarna merah? Mungkin nanti Sea akan bertanya.


“Auntie juga pengen tahu nih, Pangeran Numan minta kado apa dari mommy?”


Pandangan Sea tiba-tiba jatuh kepada Jeremy yang mungkin sedari tadi melihat kearahnya, padahal Sea sudah mati-matian menghindar walapun sekedar berpapsan mata.


Sea masih tidak tahu apa arti tatapan Jeremy, disana tidak ada kemarahan, kelembutan atau apapun itu, yang Sea paham, Jeremy hanya menatap kosong kearahnya.


Sea menggeleng, ia kembali fokus untuk melihat pangeran kecilnya, menunggu apa yang akan diminta darinya.


“Ice crem please mommy.”


Semua orang tertawa, termasuk Sea dan Red juga. Sebatas es krim yang diminta Arche.


“Pangeran, maksud aunty, hadiah yang paling, paling dan paling Pangeran ingini.”


“Eeeeeeeem.” Dengan ragu-ragu, Arche menatap mata Sea, bocah itu tersenyum sebelum menjawab apa yang ia inginkan. “I want……”


Kenapa Sea penasarah sih? Kenapa Arche seperti memikirkan keinginan yang begitu besar.


“I want, a baby sister.”