Moon

Moon
Good Kisser (17+)



Jeremy:


Dek.


Pesan masuk dari ponsel yang baru saja dinyalakan oleh Sea membuyarkan ketenangan yang ia rasakan.


"Gue lihat. Kenapa muka lo tegang, sini hp lo."


"Nggak Red."


Tak bisa dihindari, Red yang masih sangat sadar dengan mudah meraih ponsel Sea. "Lo mau apa lagi, Sea?"


"Red, Sorry. Sepertinya aku harus nemuin Jeremy, untuk terakhir kali."


"Dan lo bakalan mati, Sea."


"Enggak Red, untuk terakhir kali, dia nggak


Akan ngelakuin apa-apa."


Ponsel Sea hancur berantakan di lantai, Red membantingnya dengan keras. Red murka, Sea sama seperti gadis-gadis lainnya, kehilangan logika.


"Red, mungkin ini untuk terakhir kalinya."


"Dan sebelum lo nemuin dia lagi, lo pulang, pamit sama orang tua lo, adek lo, nenek lo. Tidak ada yang tahu hari ini adalah hari terakhir lo hidup di dunia. Atau kalau lo nggak pulang, gue yang bakal membongkar semua ulah lo. Paham!!"


"Apa yang membuat kamu berpikir aku bakalan mati."


"Seperti yang lo bilang, lo baru mengakhiri. Tidak ada yang bisa memprediksi Jeremy berlaku sama, kemungkinan besar Jeremy akan menyiksa


Lo lebih parah. Please gunain logika lo, Sea."


Tidak. Tidak mungkin Jeremy melakukan hal sekeji itu. Meski sakit yang Sea rasakan sampai ke tulang-tulang, bahkan banyak sayatan dalam tubuhnya, tapi ia tidak yakin jika Jeremy mampu melakukan hal lebih kejam dari itu.


Meskipun yang dikatakan Red mungkin saja bisa terjadi.


Red meraih ponselnya, menghubungi Jeremy saat itu juga. "Brengsek, sialan, jangan ganggu Sea lagi bajingan. Sea tidur sama gue malam Ini, mungkin untuk malam-malam berikutnya. Paham lo."


"RED!!" Sea berteriak keras.


"Kenapa?"


"Aku khawatir Jeremy ngelakuin hal tidak-tidak."


"Bukan kewajiban lo kawatir, dia punya istri."


"Jeremy nggak akan menggunakan istrinya. Kemungkinan kalau bukan aku, ada wanita lain, Red."


"Astaga Sea. Lo tahu dan lo...." Red tak mampu berkata-kata lagi.


Sea khawatir Jeremy berakhir dengan menyakiti dirinya sendiri, Sea tidak tega. Sea berdiri, ia kebingungan.


"Lo masih bisa begini, Se? Setelah semua bukti dalam tubuh lo? Gue nggak tahu orang dengan IQ tinggi seperti yang om Davis katakan adalah orang naif dan tolol."


"Aku cuma manusia biasa, Red."


Jeremy:


Red, aku Suri. Minta tolong katakan pada Sea. Jeremy hanya ingin menanyai dia sudah pulang apa belum. Tidak usah khawatir, dia baik-baik saja.


Anjing. Red mengalami tumpul dalam otak. Bagaimana Suri yang sangat terbiasa dengan hubungan keduanya, sangat santai menghadapi sakit dari suaminya, sinting.


"Ini, orang yang paling lo cintai di dunia baik-baik saja."


Red dibuat kagum sekali lagi saat melihat raut Sea penuh kelegaan. Secinta itu Sea dengan Jeremy? Bahkan dengan perlakuan sangat kasar dan tidak wajar.


Sea duduk lagi di tempat, menyugar rambut pirangnya, wajah merah padam akibat mabuk menambah kecantikan, bagaimana bisa orang semenawan itu jatuh ditangan orang yang salah.


"What your order, Red?" Tanya Sea biasa saja, setelah ketegangan, tangisan kencang, dalam 360 derajat, Sea berubah total seperti tidak terjadi apa-apa.


"But, just in case, kalau lo butuh gue Se. Kapanpun lo bisa ganggu gue. Jangan lagi lo nemuin Jeremy."


Benar dugaan Sea dari awal, ini bukanlah kebetulan, pasti ada orang yang memberitahu Red tentang keberadaannya disini.


"Lagavilin, please." Red memesan.


Dalam keheningan begitu lama, Sea menyadari jika Red memandanginya tanpa henti. Pemuda berkemeja putih itu bahkan tak melengos sedikitpun saat Sea berbalik menatapnya. Dan sintingnya, Sea seperti masuk kedalam mata Red, memasuki ruang dimana ia merasa tidak ada satupun kesakitan yang menyiksa tubuhnya.


"Se." Sea mengerjab. "Lo lihat deh, cewek di pojok sana, dari tadi lihatin gue mulu." adu Red.


Sea secara otomatis mengikuti arah pandang Red, dimana ada seorang gadis yang memang tengah dengan terang melihat Red dengan tatalan memuja. Ruang VIP ini menampung tiga bar Table yang diisi dua pelanggan tiap bar-nya.


Lalu?


"Kamu mau pamer? Cowok yang disana juga liatin aku terus. Aku mulai kepikiran hari sabtu, soalnya aku udah nggak mau ganggu kamu lagi, sepertinya bisa untuk satu ini, ganteng."


"Gue nggak pamer kali." Sahut Red, pemuda itu menumpu kepala di bar table. "Gue bukan orang sembarangan juga yang bisa gonta ganti pasangan kayak lo. Dan seperti malam-malam biasanya, gue nggak terbiasa bawa pulang ******."


"Kalau begitu, bawa aku pulang ke tempat kamu. Biar cowok itu nggak ngikutin aku. Aku tahu betul bagaimana peringai pria-pria hidung belang."


"Untuk informasi, gue nggak pulang, nggak bisa nyetir, di sky house ada penginapan, kalau lo mau ikut nginep gue, gue persilahkan."


Sea berdiri, "Oke, ayo."


"Lo harus gandeng tangan gue, biar cowok itu yakin lo itu pasangan gue." Red meminta secara khusus, jadi Sea yang terbiasa menempel dengan senang hati menurut.


Tapi...


"Gue masih mau minum, Se. Lo tungguin gue."


"Nggak, kamu udah habis tiga botol Red." Kata-kata Sea tak bisa dibantah, bahkan ada satu bartender datang dan Dea mengatakan. "Not for sure, Jack. Kamu bisa kembali ke dalam, yang ini sudah cukup." usirnya.


"Tiga gelas, nggak bikin gue tipsy."


"Ya, ya, ya, dan aku mencegah agar kamu nggak tipsy."


"Oke. Sebentar saja, gue, masih mau duduk disini. Temenin gue."


Memasuki keheningan lagi, Sea akhirnya duduk kembali. Gadis itu sudah pening dikepala, hidupnya berantakan, bahkan seorang pria saja ia tidak punya, Jeremy, jelas-jelas hanya Suri yang ada dihatinya.


Ia harus apa agar bisa lupa?


"Red. Apa yang kamu rasain saat kamu falling, maksudnya apa sih yang kamu lihat saat kamu jatuh cinta dengan pasangan kamu? Dari segi apa?"


Sedetik setelah menanyakan pertanyaan sampah itu, Sea langsung menyesal. Kenapa juga ia repot-repot bertanya. Bukankah sudah jelas, fisik, montok, aduhai dan dada kenyal.


"Kalau lo gimana? Gimana cara laki-laki biar bisa buat lo jatuh cinta?"


"Aku ini tanya Red, bukan mau ditanyai."


Tapi dalam hati Sea. Jeremy telah membuatnya jatuh cinta tanpa sedikitpun alasan, Sea tidak tahu alasan bagaimana cara dia mencintai Jeremy. Itulah intinya.


Red terdiam, akhirnya Sea menjawab. "Aku nggak tahu. Jelas-jelas dia menolak, dia beristri, tapi aku tetep cinta. Dia hanya baik, diluar konteks ranjang."


Padahal Sea juga tidak begitu yakin, kebaikan yang mana yang pernah Jeremy berikan padanya.


"Gue bisa baik di ranjang."


"Kamu bad guy."


"Nggak ada bedanya sama lo."


Sea menghela napas, ia menempelkan pipi di bar table, dingin langsung menusuk kulitnya, ia melihat bibir Red yang merah merona. "Red, kamu mau ciuman nggak?"


Red tergagap. "Wha-what?"


Jika telinga Red masih berfungsi, bukankah Red baru saja mendengar ajakan ciuman? Apa benar? Sea semabuk itu kah?


Kenapa tiba-tiba sekali.


Sea berdecak keras, Sea memejamkan mata sejenak sebelum menegakkan punggungnya lagi. "Kamu ngomongin baik diranjang, jadinya aku pengen make out, tanpa sakit."


Sepertinya pembicaraan ini berawal dari Sea, bukan dirinya, lantas kenapa Red yang disalahlan.


"Gue bukan Jeremy dengan bibir tebal, gue takut lo nggak selera kalau dip....."


Kalimat Red terhenti. Karena yang terjadi setelahnya adalah mulutnya yang dibungkam kehangatan dari bibir Sea, tangan gadis itu meraih kedua sisi kerah Red dengan paksa.


Red merasakan darahnya mengalir deras. Ia bisa merasakan hela napas hangat berbau arak bercampur aroma-aroma lainnya beserta rambut wangi Sea yang menusuk hidungnya. Jemari gadis itu beralih menelusuri surai Red untuk diremas.


Ditengah keterkejutan, Red menelan ludahnya berkali-kali tanpa berani membalas sesapan yang Sea berikan.


Red pikir Sea hanya melantur saat gadis itu mengutarakan keinginnanya untuk berciuman. Red tidak menyangka ada kenekatan yang terjadi setelahnya.


Sebagai kaum Adam. Apa yang bisa Red lakukan terlebih gadis yang sudah ada dipangkuannya adalah cinta pertamanya. Disuguhkan bidadari, lantas apa yang bisa Red tolak, Red laki-laki normal, teramat normal.


Red tak bisa berdiam diri. Adrenaline-nya terpancing kuat untuk mengambil alih permainan. Mengangkat tangan melingkari pinggang gadis di depannya, meremas halus tapi tak membuatnya kesakitan, menjaga gadis itu agar tak menghindar saat nanti Red berbalik menyerbu bibirnya dengan habis-habisan.


Membelai bibir, ******* lembut dan sesekali mempermainkan dengan tiba-tiba. Red melakukannya dengan handal. Desah lirih yang keluar dari bibir Sea membuat Red puas, Sea tak begitu berbeda, saat diberi serangan, ia menyerang balik, membalas dan menikmati sisanya.


Sea meremat kerah kemeja Red beserta tepukan berkali-kali di dada pemuda itu, menunjukkan jika ia sudah kehabisan napas. Red membuat tarikan keras dan melepaskan belitan lidah sebelum menyudahi ciuman.


Good kisser. Sea baru tahu Red sehandal itu.


Sea tidak tahu apa yang ada dalam pikirannya, namun ia sadar iblis ****** marasuk di dalam tubuhnya hingga ia rela menyerahkan bibir yang selama ini tak pernah singgah di pria manapun, Red yang pertama, bahkan sebelum ini Red juga yang pertama.


Sea mengangkat wajah, memandang Red yang memandanginya dengan dalam, seoalah Sea adalah wanita berharga bagi Red, dan itu menggelikan mengingat pemuda tampan itu bukan miliknya, Sea berdosa, sangat berdosa. Ia sadar, tapi tak mau keluar dari lubang hitam.


Satu tangan Sea terangkat untuk disandarkan di dada Red. Dengan mata sayu, ia berkata. "Mau ke kamar sekarang?"