Moon

Moon
Dengannya Atau Tidak Sama Sekali



"Aku memiliki cucu tapi tak pernah menganggap aku masih hidup, apa begini caramu memperlakukanku ***."


Rusdi mendesak Red saat Cucu-nya itu baru saja memasuki ruang kantornya, diantara senang karena baru saja bertemu dengan Sea, Red sungguh lelah karena perjalanan bisnisnya.


Dan sekarang?


Rusdi, Kakek tercinta dan terkasihnya menuduh dengan sembarangan. Tentu saja Red masih menganggap Kakek-nya ini masih hidup, bahkan Red sangat menyayanginya.


Red meletakkan tas di sofa, ia lelah, tidak bohong, namun saat melihat Rusdi duduk dengan kaki sigap pun tangan kanan membawa tongkat, duh, jangan lupakan tatapan mata tua beserta kerutan di sekitarnya, membuat Red tidak tega.


"Kakekku, ada apa sebenarnya? Red tidak suka dituduh-tuduh. Sekarang apa yang kakek inginkan? Red sadar kakek sudah sangat tua dan Red akan melakukan apa saja."


"Oh, kau berpikir aku akan cepat mati ya sampai kau mau menurut begini?"


Red lantas tertawa, "Tentu saja tidak kek, katanya masih mau menimang cicit. Tapi melihat kakek begitu sehat, Red jamin kakek masih berumur panjang, tenang saja, Red punya ramuan anti tua, kakek pasti suka, nanti kapan-kapan Red tunjukkan."


Pantas bukan Red mendapat predikat sebagai cucu terlaknat di dunia? Lihat bagaimana masamnya muka tua Rusdi yang hampir saja naik pitam.


"Melody sangat cantik dan kakek tertarik, meski tua kakek masih ingin menikmati gadis-gadis, kalau kamu tidak memberiku cicit secepatnya, Melody sekertarismu akan aku culik dan kubawa pulang."


Melody yang sedang merapikan berkas-berkas pekerjaan lantas menoleh ke arah Boss-nya, ada tatapan minta tolong dari matanya, karena beberapa kali Rusdi memang memandangi Melody dengan tatapan mengerikan.


"Benar bukan? Melody, jangan menatap cucuku seperti itu!! Kau tidak perlu berusaha terlalu keras, dia akan melajang seumur hidup karena tidak ingin menikah. Jadi kau bisa bersamaku."


Astaga, bahkan Melody tidak berminat kepada Boss-nya, ia menatap Red karena meminta pertolongan bukan karena ketertarikan, sepertinya Rusdi memang sedang melantur.


Jujur saja, Rusdi bukanlah kakek-kakek tua mata keranjang, semua perkataan hanya untuk menyindir Red saja tanpa ada tujuan lain untuk dirinya sendiri karena Caddy Girl di lapangan golfnya sudah cukup untuk menjernihkan mata Rusdi, tetap saja kek kau ini mata keranjang.


"Melajang itu lebih menyenangkan dari apapun, tanpa aturan dan bebas, aku menjadi pria dewasa kaya raya karena rajin bekerja."


"Bahkan kakekmu ini dulu bisa seimbang antara wanita dan pekerjaan, buktinya kekayaan yang kakek miliki juga berlimpah."


"Kek, Red bukan kakek."


"Aku tidak tahu lagi bagaimana menghadapimu Red. Kakek berhasil memiliki ayahmu, ayahmu berhasil memilikimu, dan kamu, kapan kamu akan menghasilkan keturunan untukku, pantas selalu dihianati Rubby, kakek tidak yakin kamu ini hebat di ranjang."


Melody yang mendengar lantas menegang, Red tahu dari berkas yang tiba-tiba terjatuh, saat itu juga Red memberi intruksi lewat mata agar Melody meninggalkan ruangan.


"Kek, apa wajar membicarakan ini saat ada karyawanku?"


"Apa kamu pikir kakek perduli dengan hal seperti itu? Kakek curiga, apa milikmu tidak bisa berdiri? Setidaknya hamili siapa saja saat kamu tahu kekasihmu hamil dengan laki-laki lain..."


"Astaga, kakek, kenapa mulutmu vulgar sekali, Red jadi merinding..."


Red jadi berpikir, apa mulut Red yang suka sembarangan ini menurun dari Kakek-nya. Karena setahu Red, Ayahnya Daren terlalu berwibawa dan Ibu-nya Kirana tak jauh berbeda.


Sudah jelas.


Kakek-nya ini membawa bibit buruk.


Kakek Rusdi memang bukan orang yang mempunyai sopan santun, dan tipe seperti Rusdi juga tidak perduli dengan omongan orang lain, ia pemegang kendali uang yang cukup berpengaruh, jadi dalam dunia ini, mulut-mulut bisa dibeli.


Namun dibalik itu semua, Rusdi adalah orang yang sangat humoris, menyenangkan dan bisa menjadi teman yang baik. Tapi ia justru tidak bisa menjadi Kakek yang bisa membahagiakan cucu-cucu-nya, ia sadar dulu terlalu sibuk bekerja karena patah hati ditinggal mati istrinya.


Hingga Rusdi sadar saat cucunya tumbuh dewasa, jika itu Blue, cucu paling muda terlihat baik-baik saja, sekolah dengan baik, berteman dengan baik meski sangat boros dan terlalu loyal dalam menghamburkan uang, tapi itu bukan masalah karena uang mudah untuk dicari.


Sedangkan cucu tertuanya, Red, pria satu ini sangat tergantung dengan pacarnya, Rusdi tahu namanya Rubby, gadis itu dari kalangan orang biasa, Ayahnya seorang seorang pimpinan Poliso, bagi Rusdi itu tidak masalah. Namun yang menjadi masalah sebenarnya adalah, Rubby tidak setia. Rusdi tahu lalu menyelidiki dengan diam-diam dan membuat alasan jika Rubby hanya orang biasa hingga tak pantas untuk Red.


Namun lama kelamaan Red semkain menjauhi Rusdi akibat hal tersebut, dan keputusan berakhir saat Rusdi tahu jika Rubby kerap menghabiskan waktu di hotel bersama laki-laki lain, dan mala petaka datang saat gadis itu hamil.


Tapi sepertinya Rusdi tak perlu bertindak banyak, Rubby mengaku dengan jujur kepada Red, karena jika ada sedikit saja kesalahan, Rubby sudah jelas tahu akan berurusan dengan siapa, karena keluarga Red bukanlah sesuatu yang bisa dibuat main-main, nama Ardibrata membawa bayang-bayang Rusdi, dan itu menakutkan.


"Aku membawa berita baru, mantan kekasihmu kembali, apa yang akan kamu lakukan?"


"Apa yang harus kulakukan? Itu bukan urusanku lagi kek. Apa kakek berharap aku jatuh cinta lagi dengannya?"


Rusdi nampak merinding, amit-amit, jangan sampai. "Jangan lagi kamu durhaka kepada ibumu, karena perbuatan konyolmu sampai kamu berani meninggikan suara dan meninggalkan rumah."


"Itu karena kakek, jangan selalu menyalahkan Red kek."


"Selalu saja aku yang salah."


Jika benar lansia akan kembali seperti balita lagi, jawabannya ada pada Rusdi. "Jika kakek tidak membongkar semua kelakuan Rubby di depan mama, pasti mama tidak tahu apa-apa dan tidak akan mengutuk Red karena terlalu bodoh, harusnya Red selesaikan sendiri, Red jadi curiga, kakek ini sebenarnya ikut arisan ibu-ibu ya, kenapa suka sekali bergosip."


Tongkat kayu milik Rusdi ia lempar begitu saja, untung Red segera menghindar. "Cucu laknat. Sampai kapan kamu akan terus mengolok kakek-mu ini. Cepat menikah dan perbaiki ahklakmu itu. Kakek yakin kamu kesepian bukan tanpa wanita."


Astaga. Wanita lagi bahasannya. "Aku sudah memiliki wanita yang akan menjadi istriku. Apa kakek tidak memperhatikan bagaimana tiga tahun lalu saat berpesta di rumah Oma Seruni, ada satu diantara mereka yang akan menjadi milikku."


Rusdi sontak berdiri. "Benarkah? Kali ini kamu memilih kalangan yang sama rata? Siapa? Bilang pada kakek? Kakek akan melamarkannya untukmu."


"Kakek sih tidak memperhatikan Red waktu itu, jika saja kakeh teliti, pasti kakek sudah tahu jawabannya."


Rusdi berdecak. "Mana mungkin di lautan wanita kakek bisa memperhatikanmu, pemandangan yang tidak patut dinikmati."


Rusdi melengos tidak ikut tertawa, karena apa yang dikatakan Red sekali lagi membuatnya sedikit jengkel, tapi tidak apa-apa? Melihat cucunya bahagia sudah cukup baginya. Rusdi tiba-tiba teringat sesuatu.


"Red. Bagaimana dengan model yang akan di kontrak untuk pemotretan produk yang akan digunakan untuk kerjasama baru? Kakek ada model baru yang sangat bagus, kamu bisa memilih sesuai seleramu."


"Hanya kakek yang bisa memilih dengan mata keranjang itu bukan? Jadi Red serahkan pada kakek saja."


Rusdi tak hanya mata keranjang, tapi dia bisa menilai ada masa depan dalam diri model yang berhasil ia pilih sebagai iklan produk perusahaan cucu-nya. Bergelut di bidang permodelan karena Rusdi memiliki Agensi dan pertelevisian yang membuat pria itu bisa memilih dengan tepat model yang akan digunakan oleh perusahaan Red.


Dan tanpa mencampurkan urusan pribadi, Rubby menjadi pilihan Rusdi waktu dulu, namun demi untuk tidak melibatkan masa lalu Red, Rusdi sudah memilih calon bibit baru yang akan bagus diajak bekerja sama setelah ini.


"Kek, untuk urusan lapangan, Red serahkan total kepada kakek, Red tidak mau ikut campur karena teman Red hanya mulut, otak, kertas dan tanda tangan saja, tidak untuk tenaga."


Maksud Red, ia tidak mau ikut ke dalam lapangan untuk melihat, karena yang dilkukan Red selama ini hanya mengandalkan mulut, otak dan perantara kertas beserta bubuhan tanda tangan sebagai akhir sesi pekerjaan.


"Sekali lagi kakek akan kerepotan hanya karenamu. Kapan kamu akan kerepotan untuk kakek, gunakan kejantananmu untuk menghasilkan cicit untukku. Itu adalah balasan yang cukup adil."


Kali ini Red hanya bisa diam dan pasrah, biarakan Kakek-nya ini bicara vulgar sekali dan berkali-kali lagi.


"Iya, iya. Red akan menghasilkan cicit yang banyak untuk kakek."


"Cicit? Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui?"


Red dan Rusdi berpaling, memandang ke arah pintu yang terbuka lebar beserta satu pria yang sudah berdiri diambang sana, menatap pasangan Kakek dan Cucu yang sedang membicarakan Cicit.


Rusdi tersenyum sumringah dan berjalan mengambil tongkatnya yang tadi sempat dilemparkan kepada Red, lalu menghapiri si pria. "Aku akan segera punya cicit, jadi rumah kalian nanti akan lebih ramai Davis. Kamu punya cucu dan Kirana juga punya cucu, Red akan segera menikah."


Sedangkan Red sudah pucat pasi, tiba-tiba jantungnya seperti hilang dari tempat, meninggalkan Red sendirian untuk menghadapi Davis, kenapa Red mendadak gugup berhadapan dengan Davis.


"Wah, benarkah Red? Om kira kamu sedikit belok dan ada hubungan rahasia dengan Edward, tahunya kamu doyan perempuan." Lalu Davis adu tos dengan Rusdi, kedua pria tua seperti mendapat durian runtuh hanya karena Red tertarik dengan perempuan.


Salah. Rusdi dan Davis disatukan adalah sebuah kesalahan, keduanya kurang lebih memiliki mulut yang sama, disituasi seperti ini jujur Red butuh Daren Ayah-nya yang akan bisa menengahi dengan bijaksana.


"Kalau saja bocah itu tidak menemukan perempuan lagi, tentu saja perjodohan akan aku sodorkan."


"Dan Red akan ditolak lagi kek, kakek tidak kapok?" Red memperingati.


Tidak hanya sekali, dua kali atau tiga kali Red mempermalukan diri sendiri saat menjalani dating dengan berbagai perempuan kiriman Rusdi, hanya karena Red ingin ditolak.


"Aku tidak perduli, kalau sampai satu bulan kamu belum membawa perempuan pilihanmu itu, kakek akan membawa lagi seseorang untuk dijodohkan denganmu."


"Oke, oke, cukup, Red lelah dan ingin pulang."


Maka Rusdi pun meninggalkan tempat untuk pulang duluan, Davis masih ditempat, menaruh tangan di bawah dada dan mengamati Red yang membereskan barang-barangnya.


"Siapa? Siapa wanita yang menarik hatimu?" Davis tiba-tiba bertanya demikian.


Red awalnya memang gugup, tapi, bukankah Red adalah pria yang tidak punya sabar, namun juga tidak begitu berani saat wanita yang ia inginkan adalah anak dari pria tua di depannya.


"Om Davis kesini untuk menanyakan ini apa untuk hal lain?"


"Om hanya kebetulan lewat, mamamu habis telpon om, katanya kamu ke kantor dulu seyelah pulang dari Bali, jadi om ingin melihatmu sebentar, kamu tidak ada niat pulang kerumah? Masih betah tinggal sendirian di apartemen?"


Davis yang sadar Red meninggalkan rumah tentu saja beberapa kali membujuknya untuk pulang, karena tanpa Red yang menjadi tetangga sekaligus teman pria dewasa, jujur Davis kesepian, karena teman bermain catur tidak ada, sedangkan Blue saat ini sedang sibuk kuliah.


Red menggeleng. "Red tidak ada niat pulang, bukankah hal ini bagus untuk proses pendewasaan."


"Pendewasaan kepalamu. Dewasa itu seperti kata kakekmu, menikah, agar punya tanggung jawab, tidak hanya sibuk bekerja."


"Ada satu wanita yang sulit Red dapatkan. Bukan karena Red tidak mau menikah om. Tapi Red tidak bisa jika bukan dengan wanita ini."


"Siapa? Bagaimana bisa kamu tidak bisa mendapatkannya? Siapa yang berani menolakmu? Bilang om, biar om lamar untuk kamu."


Red berdecak. "Om tidak tahu saja, wanita ini sangat keras, membingungkan dan Red selalu kalah."


"Ada wanita seperti itu?"


Red mengangguk. "Tentu saja. Red menyukainya sejak kecil, lalu wanita ini meninggalkan Red dan kembali bertemu lagi di usia 25 tahun, tapi sayang sekali Red waktu itu sudah bersama Rubby, dan kebetulan wanita ini tidak menyukai Red, sama sekali. Pertemuan kami untuk terakhir kali tidak lebih dari satu tahun saja, wanita ini meninggalkan Red lagi, menikah dengan pria lain dan sekarang punya anak usia tiga tahun. Tapi hal bagusnya, wanita ini sudah bercerai dan hari ini kabarnya kembali ke Indonesia."


"R-Red."


"Ya, wanitaku sudah jadi janda, dan aku masih mencintainya. Bagaimana menurut om? Apa Red masih bisa mendapatkannya?"


Davis terdiam menatap Red tidak percaya, tangannya pun menyentuh dada saking syok-nya.


"Om, apa bisa Red mendapatkan Sea? Kalau tidak bisa, artinya tidak akan ada pernikahan seumur hidup. Cukup sederhana bukan?"


Davis memegang kepalanya. "Bocah edan!!"


Ya, tentu saja Red paham. Davis cukup mengenal Red jika pria itu tidak main-main dengan kata-katanya, sedangkan Davis juga paham jika anak perempuannya yang bernama Sea sama sekali tak menaruh minat dengan pernikahan.


"Daren, aku membutuhkanmu!!" Davis berdecak keras lalu meninggalkan Red yang saat ini menggedikkan bahu santai.