
Red tak pernah sekalipun tahu jika keluarga Martin memiliki hunian di perumahan Green Line yang saat ini tepat berada di depannya.
"Sejak kapan?"
Sea menggeleng ditanyai seperti itu, "Ini rumahku Red, nggak ada yang tau selain kamu, jadi jangan bilang siapa-siapa ya." jawabnya lugu.
Praktis Red mencureng, bingung sudah jelas, pertanyaannya kenapa? Sea semakin lama semakin misterius saja.
"Kecuali lo ngomong sejujurnya sama gue, kenapa dan buat apa lo beli rumah sendiri dan nggak ngasih tau keluarga lo!!"
Dalam konteks ini, Red jadi bingung sendiri, kenapa pula ia mendesak Sea untuk jujur. Dalam rangka apa? Tapi mau bagaimana, Red sudah kepalang penasaran.
Sea tersenyum dibalik kegelisahan yang Red tunjukkan. "Anggap kejutan, oke, nanti pasti aku kasih tau ke semuanya."
"Kenapa sekarang lo ngasih tau gue?"
Yang membuat bingung Red lagi adalah, keluarga terdekat saja tidak tahu-menahu, lalu kenapa Sea yang tak ada kaitan sama sekali dengannya justru memberi tahu.
"Terpaksa Red, lihat kondisiku, pipiku merah, nanti papa tanya aneh-aneh, nanti aku telfon papa deh, bilang pergi ke Singapura atau kemana. Kamu bisa jaga rahasia kan?"
"Segampang itu?"
Giliran Sea mencureng. "Maksudnya?"
"Lo selalu kabur tiap ada masalah?"
Terpaksa Sea tersenyum, ralat, bukan terpaksa, tapi Sea saja yang memang tak pernah dirundung mendung, didepan Red. "Enggak kabur. Setiap orang punya penyelesaian masalahnya sendiri Red, dan ini caraku, yang paling penting, orang rumah nggak khawatir, itu udah cukup buat aku."
Jika dipikir, Sea memang terlewat tidak normal menjadi manusia pada umumnya. Sudah banyak sekali contoh yang sengaja maupun tidak sengaja ditunjukkan di depan Red.
"Yaudah, sono lo masuk."
Dengan begitu, Sea melepas seatbelt yang melilit tubuhnya, sebelum benar-benar membuka pintu mobil, Sea menarik kantung di kursi belakang, "Coba kalau aku lupa, Rubby bisa marah sama kamu."
Alis Red menyatu, sama sekali tidak paham.
Kantung plastik digoyangkan oleh Sea. "Baju kotorku hampir ketinggalan."
"Gue bisa buang ntar dijalan. Lo masih mau pakek?"
Sea menggeleng, siapa juga yang mau, sudah bau busuk begini. "Red, buat info saja ya, ukuran bra yang biasa aku pakai itu 36 b, ini kekecilan, lain kali beliin yang ukuran itu ya."
Sea berpaling dan keluar dengan cepat dari mobil sebelum Red sempat membalas, demi daster menerawang yang dipakai Sea, Red sampai tidak bisa berkata-kata, siapa juga yang mau membelikan Sea dalaman lagi. Untuk Rubby saja Red tidak pernah, sekalipun.
"Sial."
Red baru menyadari satu hal, kenapa ia se-perduli itu dengan Sea, sampai membelikan dalaman segala.
Red jadi membayangkan ukuran 36 b, seperti apa? Segenggam tangannya kah?
Red menggeleng kuat, apa-apaan dengan otak kotornya, mengingat tentang hal-hal seperti itu, Red jadi merindu, rindu Rubby.
Sedang apakah gadis itu?
Red:
Aku kangen.
Red mengirim pesan untuk kekasihnya.
Mana bisa Red menahan lagi, rindu itu menyiksa, disaat jarak tak terlalu jauh namun raga tak bisa tersentuh, disitu Red merasa menjadi manusia lamban, seharusnya dengan petuah yang Sea berikan beberapa waktu lalu dengan mengatakan dirinya lah yang harus melindungi gadisnya, sedikit-demi-sedikit Red sadar, bukan Rubby, melainkan dirinyalah yang patut dipersalahkan, jika memang Geido berisik keras merebut, maka Red harus menarik kuat Rubby agar tak bisa lepas darinya.
Bunyi klakson terdengar keras.
Red menoleh dan membuyarkan segala lamunan tentang Rubby dan beralih memandang mobil Lamborghini Aventador warna abu-abu yang tepat berada di depan gerbang hunian yang baru saja Red tahu milik Sea.
"Siapa?"
Red masih menatap penuh selidik, dilihatnya gerbang membuka dengan Sea yang berada di sana, menautkan jemari dan mendorong ujung besi itu. Setelah mobil abu-abu memasuki hunian, Sea nampak tersentak melihat ke arah Red, namun tanpa banyak ekspresi lagi, Sea segera menutup kembali gerbang dan menghilang dari pandangan.
Rubby:
Mau main?
Datang ke apartemen, aku tunggu.
Red total abai dengan balasan Rubby, masih di pandangnya gerbang rumah yang ada di depanya. "Lo bilang nggak ada yang tau selain gue?" Red berguman, sendirian.
Siapa orang yang ada di dalam mobil itu?
***
Rubby merebahkan diri setelah membalas pesan untuk Red. Ia menatap langit-langit kamarnya, menutup mata sejenak lalu membuka dibarengi hembusan napas kecil.
Rubby mencintai Red, sangat. Tapi perlakuan Geido beserta perhatian sahabatnya itu menimbulkan rasa nyaman yang tak pernah ia dapatkan dari kekasihnya akhir-akhir ini.
Ciuman yang menghangat dikening beberapa hari yang lalu juga sulit dilupa. Beberapa kali Rubby juga sudah mengingatkan, menghindar dan berbagai cara semampunya untuk mengusir Geido dari dalam benak, maksudnya jangan sampai perasaan menjurus cinta bersarang di hatinya, tapi Rubby bisa apa jika tidak ada Red namun Geido siap menjadi apapun yang dibutuhkan.
Bersalah?
Iya, Rubby merasa bersalah dengan keduanya, Red pun Geido.
"Red, maaf..." Rubby bergumam, ia merasa perih saat melihat Red dengan tatapan sedih saat sedang diserang cemburu.
"Kamu nggak boleh temenan sama cewek manapun."
"Iya."
"Kamu harus janji, siapapun nggak boleh deket sama kamu."
"Iya Rubby sayang, aku janji."
Air mata Rubby jatuh seketika. Posesif yang ia terapkan ternyata menusuk dada. Red adalah keajaiban, kekasih yang teramat setia yang dengan mudah Tuhan kirimkan padanya.
"Mahkota gue hilang Red. Kamu janji jangan tinggalin aku."
Rubby pernah memohon seperti itu, dan balasan Red adalah ciuman dikening bertubi-tubi.
Masa remaja dihabiskan dengan kenakalan, disaat teman lainnya sibuk menambah pengetahuan, mencari ilmu sebanyak-banyaknya, keluar nongkrong untuk bercengkrama bersama lainnya, tidak dengan Red dan Rubby, keduanya sibuk menikmati senggama yang terjadi begitu saja atas dalih penasaran dan akhirnya kebablasan, akhir dari semua adalah keenakan, enak sampai bertambah porsi berkali-kali lipat.
Mau menyesal, kok agaknya terlambat, Rubby meyakini bukan dirinya saja yang mengalami hal sama, masih banyak remaja lainnya diluar sana yang lebih parah, hanya dengan memikirkan itu, Rubby bisa mengatasi rasa frustasi karena kehilangan kegadisannya.
Perlakuan ketat yang Rubby terapkan kepada Red karena alasan-alasan tersebut diatas, merasa Red harus bertanggung jawab atas kenakalan yang sebenarnya dilakukan bersama-sama, suka rela dan nikmat rasanya.
Yang Rubby lupa, gadis itu tak berlaku sama, tak memiliki perasaan jika semua larangan-larangan ataupun tekanan-tekanan itu bisa saja menyakiti Red.
Rubby sadar, teramat sadar, tapi ia abai.
Jika ditanya bagaimana perasaan Rubby sekarang, jawabannya adalah malu.
***
"Impas."
Red berada di lobby apartemen Rubby, berulang kali mengatakan impas, iya, impas, Rubby dicium Geido dan Red dicium oleh Sea, jadi tidak ada sisa pikiran kesal yang akan ia bawa nantinya.
Terimaksih kepada Sea yang selalu memberi petuah.
Red sudah memaafkan Rubby. Sungguh. Atau belum penuh.
Jantis:
Jantis:
Share location.
"Sial."
Red memilih mengirim pesan kepada Rubby.
Red:
Nanti malem aku ke apartemen kamu.
Meski rindu berat, jujur Red lebih memilih menemui teman-temannya, otak pemuda itu sedang berantakan, banyak masalah yang datang dan ia butuh hiburan.
Jika dulu Red mendapatkan kenyamanan dengan bersenggama saat masalah merundung hidupnya, tidak dengan sekarang, partner ranjang yang ia agungkan adalah si pembuat masalah, bukan tambah senang, Red justru takut semakin dongkol.
Sekali saja, Red ingin menghindar, menetralkan pikiran, lagi.
***
"Cowok brengsek, makin tua makin menjadi aja lo Red."
"Apaan?"
Red disini butuh hiburan, bukan umpatan. Jantis yang melihat Red berjalan dari kejauhan sudah sedikit berang dan rasanya ingin menyeret langsung pemuda itu dihadapannya.
"Lo pacaran sama Rubby nggak tambah bener tapi tambah bobrok."
"Lo ngomong apaan sih?" Red tak bisa marah jika Jantis yang berbicara, pasalnya mendengar Jantis menuntaskan kalimat panjang lebar adalah hal yang begitu langka.
"Gue denger dari Edward, lo manfaatin Sea buat hiburan patah hati lo."
Kambing conge. Mengingat nama Edward, teman Red itu belum kembali dari negara tetangga, pasalnya, setelah dibuat hampir mati oleh Red, Edward kabur menenangkan diri ke Singapura.
"Sialan, nggak, gue murni main-main, Edward ada disana, main bareng gue dan Sea."
"Tapi kenapa lo mau main bareng Sea sedangkan gue lihat lo ogah-ogahan di deketin Sea waktu di Bandung, bahkan Sea juga bilang suka sama lo, lo pasti manfaatin rasa sukanya, jujur lo, gue nggak mau lo jadi cowok nggak bener."
Red seperti di interogasi saja. Ya memang niat awal mencari hiburan, tapi jujur Red tidak sebrengsek itu memanfaatkan keadaan.
"Topik lain bisa. Rubby dicium Geido."
"Good news. Cewek lo selingkuh?" Jantis tepuk tangan heboh.
"Sialan lo. Nggak, cuma dicium doang. Sea juga cium gue, jadi impas." Tatapan sombong Red layangkan, untuk pertama kali Red bangga bisa dekat dengan gadis lain, bahkan mengaku dicium dan tak merasa jijik sekalipun.
"Lo sialan, brengsek." Meski mengumpat, Jantis terlihat bahagia, definisi teman bangsat. "Gue dukung lo sama Sea, tapi bener-bener sama Sea, jangan dimainin."
"Ogah. Orang gue setia."
"Setia main cium."
"Bukan gue yang cium ogeb, Sea yang cium gue."
Tatapan Jantis berubah mesum, kedua alis di naik turunkan. "Tapi lo seneng 'kan?"
Red menyesal tadi begitu senang mendengar Jantis banyak bicara, jika akhir-akhirnya begini keadaannya, Red memilih Jantis berubah jadi es saja, seperti biasanya.
"Gue come back bro."
Red dan Jantis sontak menoleh, pemandangan Edward dengan kaca hitam membingkai matanya membuat keduanya mendapat kejutan.
"Anjing, gue kerja sendiri, lo ngilang kek orang bego."
Edward menepuk kepala belakang Red. "Gue temen lo, ini diluar, nggak dikantor, nggak usah melotot, gue nggak takut. Kalau lo mau bikin gue mati lagi kayak kemaren, gue bersumpah, gue bakal ninggalin perusahaan lo, selama-lamanya."
Red lemah. Ancaman Edward menakutkan. "Ok, calm down beib, sini duduk disamping abang Jared."
"Jijik anjing." Jantis mengumpat.
"Aw, bebeb Jantis mulutnya nakal." Edward terkesima, Jantis hari ini berbeda, tidak seperti diri Jantis yang sesungguhnya.
Setelah duduk manis, Edward memasang muka serius, menatap Red. "Gimana? Lo udah baikan sama Rubby?"
Meski jengkel setengah mati, jika pikiran Red semrawut karena Rubby, terpaksa Edward harus perhatian, atau pekerjaan yang biasanya ringan dikantor menjadi berat, akhirnya Edward lah nantinya yang kerepotan.
"Hampir, harusnya gue sekarang lagi kuda-kudaan kalau saja Jantis nggak ngabarin ke Jakarta."
"Otak lo kalau nggak ranjang ya selakangan, heran gue." Jantis yang penuh tato di tangan kanannya itu adalah pemuda suci yang anti sentuh menyentuh, sama dengan Edward.
"Enak."
"Heh." Edward menyentak mendengar jawaban dari Red. "Lo emang nggak ada akhlak."
"Mending lo putus, gue nggak rela lo jadi **** boy Red, gue nggak terima, lo sekarang pilih Rubby atau Sea? Udah, jawab gue cepet." Jantis agaknya sangat terobsesi Red bisa bersama dengan Sea sampai-sampai harus memaksa.
"Ogah."
"Red, dengerin gue. Rubby itu adalah ancaman. Sebelum Rubby memisahkan pertemanan kita, gue, elo dan Edward, lebih baik lo putusin dia."
"Iya bener, selain Rubby nggak suka lo temenan sama cewek, lo juga harus ingat, temen lo waktu SMA juga pernah lo tinggalin karena permintaan Rubby." Giliran Edward membuka kisah lama.
"Iya bene.."
"Kalian suka banget sih gibahin pacar gue, Rubby nggak seburuk itu."
"Lo itu manusia Red, bukan peliharaan yang harus nurut terus sama tuannya."
Anjing. Dikira Red hewan apa.
"Gue benci lihat temen gue nggak berdaya hanya demi wanita. Tapi kalau itu Sea, nggak apa-apa."
Dengan kalimat terakhir yang disampaikan Jantis, Red berdiri dan pergi tanpa berkata-kata. Marah, Red sangat marah, pada dirinya sendiri.
"Lo sih." Edward sedih dan menyalahkan Jantis yang sudah membuat Red pergi tanpa menoleh sedikitpun.
"Lo mau temen lo jadi kacung?"
Edward menggeleng. "Setidaknya..."
"Halah berisik, Red itu tolol, biar dia merenung."
Okelah, Edward hanya bisa mengangkat bahu. "Eh, kenapa lo ke Jakarta?"
"Memenuhi undangan, ulang tahun Rose Sea Martin. Gue baru tahu, Sea itu cucu kanjeng Seruni, kakek gue yang bilang."
"Jadi karena itu lo mojokin Red biar bisa sama Sea?"
Jantis menggeleng, menepis anggapan Edward. "Feeling, lo nggak pernah ragu dengan feeling gue kan?"
"Gue butuh hint."
"Gue berani bertaruh, bukan Sea yang suka tapi si brengsek Red yang menaruh rasa."