Moon

Moon
Sesuatu Tentang Red



Sea termanung di kursi kantornya, pandangannya jauh menerawang di kejadian beberapa jam yang lalu, tak begitu lama Sea berpindah posisi dengan memutar kursinya, menghadap jendela.


Sea merogoh hasil cetakan hitam putih dari tas slempang yang ada di meja sebelah kanan, wanita itu tersenyum bercampur sedih karena merasa bersalah terlalu bayak tekanan hingga membawanya untuk mengunjungi rumah sakit untuk memeriksakan kondisi bayinya.


Kendati Sea tidak mengatakan apa-apa kepada dokter, tapi orang yang bekerja dengan keahliannya itu menasehati Sea agar tidak terlalu banyak pikiran, seperti dokter itu tahu apa saja yang dialami Sea selama mengandung anak kedua.


Tapi tak hanya itu saja yang membuat Sea berwajah kusut siang ini, alasan sangat besar dibalik itu adalah karena Sea mendapatkan kesialan karena seseorang yang ditemuinya disana.


Sea bertemu Rubby, wanita yang akhir-akhir ini menjadi tokoh antagonis dalam cerita Sea.


Sea jadi berpikir, apakah kesalahannya dulu teramat besar saat menjadi selingkuhan Jeremy hingga Tuhan membalas sedemikian rupa, sesakit ini. Bahkan Sea masih terluka, ditambah kehadiran Rubby membuat luka yang masih lebam bertambah lebih besar.


Karena Demi Tuhan, Sea saja belum sudi melihat muka Red, dan apa yang telah Tuhan berikan pada Sea? Dengan terang Sea bertatap muka langsung dengan Rubby, si pembawa perut gembil sama seperti dirinya.


Rubby sendirian, untung sedirian.


Dan untuk bajingan Red, entah, Sea tidak tahu kenapa pria itu tidak mengantar Rubby untuk periksa kandungan. Semangat Red yang menggebu seperti dulu saat tahu Sea hamil tidak terlihat ketika pria itu tahu Rubby juga hamil. Atau karena Red tidak mengakui kehamilan Rubby adalah ulahnya. Kalau itu memang benar, maka Red benar-benar brengsek.


Hah.


Sea menaruh lagi hasil USG calon anak keduanya, membuang napas lalu memejamkan mata. Membayang lagi wajah marah Rubby saat tadi melihatnya, oh, jangan harap Sea akan terpancing, Sea justru melengos, membuat Rubby benar-benar tidak bisa mempengaruhinya.


Saat langkah Rubby ingin mendekatinya pun, Sea dengan langkah tegas berjalan dengan dagu terangkat, menulikan pendengaran saat Rubby memanggilnya.


Mau apa coba. Dasar penghancur rumah tangga.


Tapi lihat Sea sekarang, bersombong tidak perduli, nyatanya sampai detik ini bayangan Rubby tidak dapat dihindari.


“Sea.” Sea membuka mata, rasa-rasanya sangat lama ia tidak mendengar vocal berat yang amat ia kenal memanggil namanya.


Sea memutar kursi, dan diambang pintu ia mendapati pria tinggi berambut hitam tebal tengah tersenyum padanya. “Devon.” panggil Sea kemudian.


“Aku denger kamu hamil lagi, nikah nggak kabar-kabar? Padahal hampir tiap hari chatingan.” Sarkas pria itu sembari beranjak mendekati Sea. Devon menyambut uluran pelukan dari si wanita. “Dih, untung paman Davis bilang, bisa aja kamu punya anak sepuluh aku nggak tahu apa-apa.”


Sea berdecak keras setelah mendengar penuturan Devon yang terkadang memang kurangajar. Kendati pria itu sering menuruti permintaan Sea, tapi saat Sea diterpa masalah, justru wanita itu tidak akan berbagi. Ya tahu sendiri, Devon sudah dibebankan tugas banyak, dan untuk kehamilan kedua ataupun pernikahannya adalah suatu yang bukan membahagiaan di awal, jadi Sea tidak akan memberitahu Devon.


Setelah menguraikan pelukan, Sea menatap sini Devon. “Ngapain kamu kesini? Gimana kerjaan? Jangan lalai Devon.”


Dan Devon membalas dengan decakan tidak perduli.


“Kamu kapan dateng ke Indonesia? Kok nggak ngabarin aku?” Tanya Sea lagi setelah satu senyuman ia lepaskan.


“Seminggu yang lalu.” Jawab Devon santai sembari duduk di sofa, lalu Sea pun mengikutinya. “Aku tadi tanya Pak Tony, kirain Red yang ada di dalam ruangan ini, eh taunya kamu.”


Yang mana perkataan Devon membuat Sea diam, sangat lama. Jika dipikir-pikir darimana Devon tahu nama Red. Maksud Sea, Devon hanya tahu Red tapi tidak dengan mengenal suaminya itu. Dan bagaimana bisa Devon mengira di ruangan ini ada Red? Apa yang tidak diketahui Sea?


Namun karena yang dihadapi Sea adalah Devon, wanita itu langsung menyergab sebuah pertanyaan kepada pria itu. “Emang hubungan Red sama Ardikara apa sampai kamu ngira dia ada disini?”


Kali ini giliran Devon menaikkan satu alisnya. “Jangan bilang Red belum ngasih tahu kamu sampai detik ini?” Dan saat Sea menggeleng, Devon menarik napasnya sebelum memulai pembicaraan lagi. “Selain ngurus perusahaannya sendiri, Red selama ini bantuin Ibu Seruni, dan aku juga ambil andil di sini juga.”


Devon dan keluarga Ardikara memang dekat, namun Devon memang sudah lama tinggal di Jerman, pria itu tak jauh beda dengan Sea, sama-sama dibuang dari Indonesia agar hidup mandiri di luar sana oleh keluarga.


Meskipun Devon adalah kepercayaan Sea, tapi pria itu juga punya tanggung jawab untuk usahanya sendiri.


“Emang oma ada masalah? Kenapa nggak bilang aku? Bukannya aku disuruh pulang dengan tujuan ini? Pegang Ardikara!”


Gila!!


Tidak mungkin. Kenapa juga Red bisa ada dan berurusan dengan Ardikara selain urusan kerjasama?


Sea melipat tangan di depan dada. “Nggak mungkin hal riskan seperti ini aku nggak tahu Devon. Aku nggak bodoh!”


“Devon. Aku serius, nggak mungkin Red ada urusan dengan Ardikara. Buat apa?”


“Ya mungkin lah Sea. Suami kamu itu otaknya pintar sampai bisa handle Ardikara.”


Dan Sea semakin geram. Sea tahu Red punya otak pintar. Tapi apa korelasinya sampai Red bisa berurusan dengan Ardikara? Dan itu membuat Sea kebingungan, dan hal paling penting, Sea sendiri tidak tahu akan hal itu.


“Devon. Serius, aku bener-bener nggak tahu maksudnya.” kata Sea lagi.


Devon mengangguk polos. “Alu juga nggak tahu.”


Red menghandle Ardikara adalah suatu yang sangat mustahil, memang kenapa dengan Ardikara?


Ok. Sea memang baru pertama kali mendatangi perusahaan ini, adapun ini masih setengah hari, dan wanita itu belum melakukan apa-apa setelah pulang dari rumah sakit, saat ini pun dirinya masih menunggu oma Seruni mendatanginya karena sudah ada janji temu yang sudah diputuskan tadi malam.


Dan dengan datangnya Devon. Sea semakin tidak mengerti, bahkan saat Devon mengatakan beberapa kalimat, membuat Sea lebih pening.


Sea memandang Devon dengan tatapan tidak percaya dan bertanya-tanya. Atau mungkinkah Red sering pulang terlambat akibat membantu Oma untuk mengurus Ardikara? Jika benar, kenapa? Kenapa Oma Seruni tidak mengutus Sea saja?


“Jelasin Devon!! Kamu tahu kan hal seperti ini sangat mustahil? Lalu kenapa aku baru tahu sekarang? Ada apa?”


Kali ini Devon menganggapi Sea dengan serius, pria itu memperbaiki posisi duduk hingga menghadap ke arah Sea dengan penuh.


Sebenarnya Devon tidak menyangka Sea tidak tahu akan hal ini, waktu itu Red bilang jangan dulu bilang ke Sea, karena wanita itu banyak tekanan dari kecil, biarkan Sea hidup dengan kemauannya sendiri di Jerman bersama suami dan anaknya, lalu saat Devon ingin memberitahu Sea saat setelah wanita itu menjadi istri Red, lagi-lagi Red melarang oleh sebab Sea tidak sehat akibat hamil, dan sekarang? Astaga, kenapa Red tidak memberitahu istrinya itu?


“Persaingan bandara ketat, ombak besar, dan usaha nggak akan di atas terus, saat itu terjadi, Ardikara berada di ambang, sedangkan Ibu Seruni paling anti dengan namanya minta bantuan ke menantu sendiri, dan kamu tahu sendiri, satu-satunya harapan Oma adalah kamu, tapi waktu itu Red tahu kamu di Jerman dan nggak mau pulang ke Indonesia lagi, inget kan, jadi suami kamu itu mutusin buat invest gede ke Ardikara tapi dengan satu syarat, jangan bilang kamu, karena nggak mau kamu banyak pikiran.”


What the…..


Sea sampai menganga. Masalah yang mana? Sea sendiri sampai bertanya-tanya, kapankah dirinya punya masalah sampai-sampai Red sekhawatir itu?


Sea termanung, wanita itu berbicara lirih. “Sejak kapan tepatnya?”


Devon tidak habis pikir, kenapa Red tetap menyembunyikan ini dari Sea. Padahal jika saja Sea tahu, Red akan dapat untung banyak juga, tidak harus repot-tepot.


“Tiga Tahun yang lalu, dan selama itu Ardikara bergantung pada Red, bukan dari Ardibrata milik keluarga Ardibrata, tapi atas dana Red sendiri, tanpa embel-embel nama.”


Sea membuka mulut dengan lebar. “Red.”


Sea tidak menyangka, bahkan Red membantunya saat Sea sendiri sedang menikmati sandiwaranya sendiri, berlagak punya suami di Jerman hanya karena ingin menutupi Arche dari semua orang.


Devon memandang Sea dengan kerutan dahi curiga. “Kamu nggak lagi mikir darimana Red punya uang segede itu buat nyokong Ardikara kan?”


Sea diam. Untuk urusan itu sebenarnya sangat meragukan Red punya uang banyak untuk meyokong Ardikara. Hello, tiga tahun yang lalu adalah waktu yang sangat singkat untuk menghasilkan uang berlimpah bagi Ref saat memegang Ardibrata setelah kematian Om Daren.


“Asal kamu tahu. Aku kenal Red dari kecil, Red pernah ke Jerman waktu SMA untuk pertemuan pengusaha muda, waktu itu aku ajak kamu, tapi kamu nggak mau. Usaha Red itu dimana-mana, dia punya club banyak di ibu kota, sejak SMA Red juga sudah punya usaha cafe dan berkembang sampai sekarang. Jangan bilang kamu nggak tahu soal itu? Dan jangan bilang kamu nggak tahu Red itu lebih kaya dari kamu?”


Tidak. Jujur Sea tidak tahu.


Dan hal mengejutkan lagi adalah Devon sudah kenal Red sejak lama.


Tapi satu hal yang membuat Sea mencureng, pikiran Devon yang mengira Sea memikirkan kekayaan Red, sumpah demi Tuhan bukan itu yang Sea pusingkan.


Yang Sea ributkan dalam pikiran, kenapa Red membantunya, meringankan beban saat hubungan keduanya tidak ada di masa lalu. Bahkan saat Red mengira Sea mempunyai suami? Bagaimana bisa Red seperduli itu? Kenapa?


“Ternyata dugaanku bener, Red itu tergila-gila sama kamu.”


Dan untuk kalimat Devon kali ini benar-benar membuat Sea terdiam.