Moon

Moon
Pantai



Dengan langkah berat, Red memasuki kamar, pria itu lelah karena sudah jam setengah dua belas baru saja pulang. Ruangan tampak remang-remang, lampu utama tidak dinyalakan dan hanya menyisakan satu lampu tidur saja.


Red masih mengenakan kemeja putih dan sepatu kerja, janji untuk bermain dengan Arche di pinggir pantai terpaksa ia batalkan karena ada kepentingan mendadak yang mengharuskan ia untuk pergi, artinya Red harus siap dengan keterdiaman Arche besok pagi.


Pria yang baru saja menanggalkan sepatu itu segera melangkahkan kaki ke pintu; pintu penghubung kamar ini dengan kamar sebelahnya, disana ada Arche yang terlelap dalam mimpi, Red menarik selimut untuk menutupi bagian tubuh putranya. Sebelum meninggalkan ruangan ini, tidak lupa Red mencium kening Arche dan kembali lagi untuk menemui istri.


Dua manik mata Red menatap Sea yang tertidur, wanita itu berbaring dengan gaun tanpa lengan. Red tersenyum dan mengusap lembut surai istrinya.


Tidak tahu kenapa Red merasa bersalah karena pulang terlalu malam, pria itu mencium kening dan mata Sea, alhasil membuat si wanita sedikit terusik.


Sea merubah posisi tidur, sedikit miring dan condong ke arah Red yang terduduk di tepian ranjang, hal itu membuat Red gemas dan mencium bibir Sea yang terbuka sembari tangannya yang menahan rahang istrinya.


Sampi ******* bibir Red membuat Sea tersadar, bukannya memberontak, si wanita justru mengalungkan tangannya tepat di leher suaminya, membalas setiap ciuman manis dari suaminya.


Setelah sesi ciuman berakhir, Red tak kunjung beranjank, pria itu justru berbaring untuk memeluk Sea dari belakang, menciumi belakang kepalanya. Hal aneh bagi Sea bukanlah soal Red yang menciuminya, namun Sea merasakan bagian tubuh Red yang mengeras.


Sea membalik badak, wanita itu mentoel bagian keras milik Red. “Itu jail banget sih!! Nggak mau tidur?”


Red berkedip-kedip lucu, pria itu tak menanggapi dan hanya menarik Sea lagi dalam pelukannya.


“Mom, jangan galak-galak dong.”


Sea berdecak medengar itu hingga ia mendongak dan menatap Red yang memejamkan mata. “Kamu tuh tiap dua-duaan pengennya gitu terus, bilangin suruh tidur sana.”


“Nggak mau Mom, orang burungnya cuma nurut sama kamu.”


Sea semakin sensi. “Sana kamu tidur sama Arche.”


Setelah mengatakan itu, Sea kembali membalik badan, memunggungi Red. Namun tak begitu lama, Red memeluknya lagi dan berbisik di belakang telinga Sea. “Mom, kita lagi honeymoon lho, kamu nggak mau keluar Negeri, yaudah di bali aja ini.”


“Hanimun?” Berani sekali Red mengatakan setelah pulang di jam ini, setengah dua belas malam.


Kembali, Sea membalik badan lagi, menatap Red yang sedang menunjukkan tampang memelas. Sea yakin suaminya itu tak akan melepaskannya begitu saja.


“Mom, ak….”


Sebelum Red berhasil mengatakan hal-hal yang tidak perlu lagi, Sea terlebih dahulu menarik leher pria itu agar lebih mendekat, menciuminya, dan Red tidak butuh waktu barang sedetikpun untuk membalasnya, pria berpengalaman itu langsung tahu apa yang harus dilakukannya.


***


Sea terbangun, ia mengernyit saat silau matahari mengganggu matanya. Ternyata sudah pagi. Sea melirik ke segala arah, mencari-cari seseorang yang tengah membuatnya lemas semalaman. Nihil, tidak ada siapain di ruangan ini. Sea terlonjak, ia segera membuka pintu kamar sebelah, Arche juga tidak ada.


Akhirnya Sea menuju satu pintu menuju walk in closet dan kamar mandi dengan niat membasuh diri karena kegerahan. Selesai mandi dan berganti baju, Sea keluar dari kamar, berniat mencari dua orang yang tiba-tiba hilang.


Seluruh ruangan sudah Sea cari, tempat makan, area bermain sampai taman juga tidak ada. Namun satu ingatakan yang akhirnya membuat Sea yakin suami dan anaknya ada disana.


Dan benar saja, setelah menyusuri area pantai, ia menemukan pemandangan dua laki-laki ada disana.


Really? Masih pagi sudah bermain pasir pantai? Jangan sampai Arche masuk angin karena angin oantai sangat kencang dan dingin.


Sea mendekati sepasang ayah dan anak yang sedang membangun kastil dengan pasir pantai. Sea menghentikan langkah, wanita itu bersendekap dada. Serius? Red dan Arche tidak sadar akan kehadiran Sea?


Red berdiri, “Ngapain kesini? Dingin kamu nanti mual-mual.”


Karena Red melihat Sea hanya menggunakan tangtop dan hotpants saja, meskipun ada outer panjang m, tapi tetap saja angin pantai tidak akan bisa menyelamatkan wanita itu dari masuk angin.


Melihat Sea yang tak menjawab, Red kembali bersua. “Harusnya kamu nggak pakai pakaian itu.”


Karena selain masuk angin, pemandangan dari tubuh Sea bisa dinikmati para lelaki mata keranjang yang Red yakin sebentar lagi bakalan muncul di pinggir pantai.


Sedangkan Sea hanya memutar bola matanya. Lihat bagaimana Red berkata sedangkan pria itu sendiri hanya menggunakan celana kolor tanpa atasan, menampilkan lengan kekar beserta perut kotak-kotak yang keras. Mau pamer ceritanya?


Sea mengangkat satu tangannya, menunjuk dengan langsung perut Red yang terpampang jelas dimatanya. “Ini harusnya juga pakai baju!” Sea melirik arah kanan. “Mau pamer? Tuh ada cewek-cewek lihatin kamu.”


Karena pada kenyataannya, segerombol gadis-gadis dengan terang menatap ke arah Red, mereka tersenyum sembari berbisik satu sama lain. Membuat Sea sedikit geram.


Selanjutnya Sea berkongkok, mentoel-toel pipi Arche. “Baby nggak lihat mommy ya?”


Kali ini Arche terusik, baby itu meoleh ke arah ibunya. “Good mowning mommy.”


Lalu anak tampan itu kembali sibuk dengan pasir pantai, tak lagi menghiraukan kehadiran Sea.


Sea akhirnya berdiri lagi, menatap Red lalu bertanya. “Udah lama mainnya? Jangan lama-lama nanti Arche masuk angin.”


Red akhirnya mengangguk setuju. Ia juga berpikiran sama dengan istrinya. Dan disaat Sea terdiam lagi sembari memandang arah pantai, Red melakukan hal yang sama.


Red menunggu Sea berbicara lagi, namun yang ditunggu tidak hadir, maka dari itu Red ingin membuka pembicaraan. “Katanya orang hamil itu ngidam. Kamu kok enggak?”


Karena Red mendapati Sea melakukan hal lumrah seperti orang normal. “Aku mau di repotin layaknya suami-suami di luar sana.” Red melanjutkan perkataannya.


Sea tersenyum, ngidam apa yang diinginkan wanita dengan hamil muda, tidak muntah-muntah saja sudah membuat Sea bahagia luar biasa. “Belum, aku belum pengen apa-apa.” Balasnya kemudian.


Dan saat satu gerombolan gadis linnya melewati mereka, dan dengan terang lagi menatapi Red sebegitunya, sontak membuat Sea langsung mengaitkan tangannya untuk merangkul lengan suaminya, membuat Red langsung menoleh.


“Makanya pakai baju dong, itu cewek-cewek pada liatin kamu terus.”


Red tersadar, lalu pria itu menoleh kepada gerombolan gadis-gadis yang benar menatap kearahnya dengan senyum mengembang. Tak butuh waktu lama, Red beralih menatap Sea dan mencium bibir istrinya.


“Cantik banget sih istriku.” Ucap Red jujur setelah melepas ciuman yang sontak membuat Sea malu karena dicium di depan banyak orang.


Sea segera berjongkok, “Baby, udah yuk mainnya.”


Arche yang ditanyai begitu hanya berkedip sebelum menggeleng, tanda tidak mau.


Melihat itu. Red tidak tinggal diam. “Arche, ayo masuk dulu, kasian Mommy kedinginan.”


Arche menggeleng. “Nggak mau Daddy, Arche sendiri aja kalau begitu.” Jawabnya.


Oke, sepertinya Sea harus menggunakan jurus andalannya. “Baby, lihat itu ada tante-tante yang liatin Arche terus, tante-tente itu suka sama cowok ganteng, karena Arche ganteng, tante-tante nanti kesini, nyulik Arche. Emang Arche mau diculik?”


Dan Arche yang selalu termakan omongan ibunya itu tak butuh waktu lama langsung berdiri, menghampiri Red dan merentangkan tangan, minta di gendong.