Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Peringatan.



Setibanya di depan pelataran rumah mewah milik Daniil.


Rumah berpagar tinggi dengan halaman luas lengkap dengan interior yang sama seperti terakhir kali ketika Hanum meninggalkan tempat itu dengan segala kemarahan dan juga kekecewaannya terhadap dirinya sendiri.


Ia sempat tertegun ketika Reynand membawanya serta memasuki kediaman mewah yang tanpa sengaja pernah ia singgahi sekitar satu bulan yang lalu itu.


Atmosfer ruangan yang masih sama menghadirkan kegelisahan yang serta merta langsung membuyarkan segala ketenangan yang sedari tadi Hanum coba bangun dalam kepalanya. Kini tinggallah ketakutan yang terus menghujam dengan segala kemungkinan akan kedoknya yang akan segera ketahuan.


Hanum menghentikan langkahnya seraya mengeratkan genggamannya pada jemari sang suami. Gelengan kepalanya seakan memohon agar Reynand mengurungkan niatnya untuk singgah dan kembali saja ke rumah mereka sendiri.


Hatinya risau dan kali ini ia benar-benar berada dalam situasi yang tak menguntungkan. Nasip pernikahannya sudah berada di ujung tanduk tatkala hari ini Tuhan malah mempertemukan mereka dengan sengaja dalam suatu acara yang berbuntut panjang hingga sampai membawanya kembali dalam hunian laknat yang menghancurkan hidupnya.


Bukan hanya huniannya saja yang laknat, melainkan pemiliknya juga memiliki kriteria serupa yang sama-sama ikut andil dalam kehancuran rumah tangganya yang sudah dimulai sejak satu bulan yang lalu.


"Rey," panggilnya dengan nada lirih.


Reynand hanya bergumam menyahuti panggilan dari istrinya. Namun langkahnya terhenti jua tatkala Hanum menghentikan laju kakinya dan refleks ikut menahan langkah kakinya juga. "Ada apa?" tanyanya seraya memalingkan wajahnya. Menatap lurus pada sorot mata penuh kegelisahan yang terpancar jelas dari bola mata milik istrinya. "Kenapa?" tanyanya lagi sedikit mendekatkan wajahnya pada mimik muka sang istri.


"Aku ... hanya tidak nyaman berada di sini. Bisakah jika kita pulang saja?" ucapnya lagi dengan suara tertahan.


Reynand mengulas senyum tipis di sudut bibirnya seraya menggelengkan kepalanya.


"Kita sudah berada di sini, lantas kenapa kita harus bergegas pergi? Ayolah! hanya sebentar saja sampai lelah mu hilang setelah itu kita bisa pulang dan akupun juga akan tenang."


Hanum hanya bisa mengangguk kaku, bibirnya terbungkam oleh kata-kata Reynand yang terdengar lembut penuh kekhawatiran namun menyelipkan ketegasan tersendiri dalam setiap bait kata yang dituturkannya.


Lagi-lagi ia di buat tertegun tatkala dengan gamblang Danill malah menyuruhnya untuk beristirahat di kamar itu. "Apakah tidak ada kamar lain di sini?" Hanum bertanya dengan nada geram mengisyaratkan ketidak sukaaannya terhadap sikap Danill yang jelas-jelas membuatnya kian meradang.


Alih-alih menunjukan ruangan yang lain yang bisa ia tempati, namun pria Rusia itu malah berucap dusta dengan mengatakan bahwa hanya kamar itulah yang tersisa di kediamannya. Dan itu diperuntukkan untuk beberapa tamu istimewa yang berkenan menginap di tempatnya.


"Mohon maaf jika hal ini membuat kalian merasa tidak nyaman. Dulunya ini adalah kamar kekasih ku. Dia kabur dari sini sejak satu bulan yang lalu dan meninggalkan segala kenangannya di sini. Bahkan aku masih bisa mencium aroma tubuhnya yang tertinggal di ruangan ini, aroma yang kian menyengat tatkala aku merindukan kehadirannya disisiku," ucapnya perlahan seraya melirik Hanum yang nampak menggertakkan giginya menahan amarah.


Wanita itu menatapnya dengan tajam, sedang tangannya mengepal erat melampiaskan segala sesaknya lewat kepalan jemarinya. Jika saja saat ini tak ada sosok Reynand yang berada di sisinya pastilah ia sudah melayangkannya tangannya untuk menampar mulut lancang pria Rusia itu dengan keras. Membuat pria itu mengerti akan segala ucapannya yang tiada satupun kebenaran yang terselip di setiap tutur kata yang diucapkannya.


Hanum menghela napasnya panjang berusaha mengatur kendali emosinya yang hendak meluap dan nyaris meloloskan kata yang berkaitan dengan rahasianya. Ia menggandeng tangan suaminya untuk masuk dan berbalik lagi menatap Danill yang masih mematung di depan pintu dan hendak mengikutinya hingga kedalam.


Namun Hanum segera memasang wajah datar dengan seringai penuh kendali yang tertuju pada pria di hadapannya itu.


Senyumnya terlihat berbeda sedang netranya nampak berkilat penuh ancaman. "Jangan mencoba bermain kotor dengan ku, Danill.


Jangan coba-coba untuk membuka semuanya di hadapan suami ku atau kau akan menyesal suatu saat nanti," peringatnya dengan nada mendesis lirih.


Pria itu tertegun, ia masih menatap Hanum dengan sorot mata yang tak bisa ia artikan. Sedang wanita yang di tatapnya sudah berbalik memunggunginya dan menutup badan pintu hingga menghalangi pandangan matanya. Ia terkesiap akan ancaman yang di anggapnya tak terlalu berarti itu. Namun ada sesuatu yang terasa membebani hati dan pikirannya. Sesuatu yang membuatnya risau akan suatu hal yang tak ia ketahui.


Pria itu memilih untuk berbalik kembali ke kamar pribadinya sendiri. Ia merenungkan segalanya dalam diam. Akan kilatan mata Hanum yang penuh dengan peringatan dan nada bicara yang seolah tak main-main dengannya tadi mendadak menimbulkan pikiran rancu yang malah membuatnya frustasi. '*Ada apa sebenarnya? M*ungkinkah dia menyembunyikan sesuatu dariku hingga dengan angkuhnya wanita itu berani mengancam ku dengan sikap seperti itu? Ada apa dan kenapa aku menjadi risau?' batinnya dalam hati seraya mengembuskan napas lelah.


Namun inginnya untuk mengenal dan memiliki Hanum belumlah lenyap sepenuhnya dari dalam dirinya. Wanita itu membuatnya seakan kian tertantang dan membuncahkan ambisinya akan kepemilikan yang nyata. Mengklaimnya dalam sebuah ikatan dan menjadikan Hanum sebagai wanita yang berhasil ia taklukkan.