
Sakit tapi tak berdarah
Hendak meronta akan khayal yang tak pernah bertemu ujungnya.
Bagai simfoni yang mendayu, seolah syair nada itu mengalun merdu dalam lembayung kalbu. Membuai penuh ketenangan, bagai bius yang membenamkannya dalam ketentraman tak nyata.
*******
Apa yang dipikirkan Hanum, berjalan sesuai dengan apa yang ia duga.
Danill membukakan pintu rumahnya dengan raut wajah tak percaya.
Seolah ia tak menyangka bahwasanya memang Hanum lah yang saat ini sedang berada di ambang pintu kediamannya.
Wajahnya berbinar senang, senyumnya sumringah serta kedua tangannya merentang. Menyambut kedatangan Hanum dengan suka cita.
Pria itu begitu bahagia, dan ia tak mau tau tentang apapun alasan yang membuat wanita pujaannya itu datang kembali padanya.
Yang ia tahu hanyalah saat ini pasti wanita pujaannya itu tengah di belenggu oleh sesuatu. Dan tugasnya hanyalah membuat Hanum bisa senyaman mungkin selama berada disisinya. Menjadikan dirinya sebagai sandaran seutuhnya, dan tak akan ada sosok lain yang akan bisa mengambil Hanum lagi dari rengkuhannya.
Mimik muka yang ceria di penuhi binar-binar cinta itu terpancar jelas di wajahnya. Pria itu tersenyum lepas, merentangkan kedua tangannya hendak memeluk wanita pujaan yang ada di hadapannya.
Akan tetapi ia tergugu, dan perlahan menurunkan kembali kedua lengannya yang sudah terbuka tatkala Hanum tidaklah menyambut rengkuhan Danill dengan segera. Senyumnya sedikit memudar akan tetapi hatinya masih bersorak gembira.
Tidaklah mengapa jika saja Hanum tidak mau memeluk dirinya, tapi kelak wanita itu pasti bisa jatuh hati terhadap dirinya dan menjadikan ia satu-satunya pria yang pantas untuk menjadi sandaran baginya. Begitu pikirnya.
Meniti langkah dengan perlahan, sesekali Hanum mengendarkan pandangannya pada sisi-sisi ruangan yang ia lalui.
Ada sedikit rasa yang mengganjal dalam hatinya. Nuansa yang begitu asing dengan hawa berbeda yang dapat ia rasa.
Tidak ada getar yang mampu mendebarkan jantungnya, tidak ada hangat yang dapat di rasakan olehnya. Tidak ada suatu hal yang dirasanya sama seperti di kediamannya sebelumnya.
Seolah hampa terus saja menghujam dalam relung hatinya. Menelisik ketenangan dan menggodanya dengan perbandingan yang ada di depan mata.
Ia mendengus lirih seraya mengibaskan tangan ke wajahnya. Netranya mulai terasa barair ketika bayangan Reynand terus saja terlintas di depan matanya.
Ia menghela napas berkali-kali berupaya mengusir sesak yang terasa kian menenggelamkannya dalam buai penyesalan.
"Hah," dengusnya lagi seraya menghentikan laju langkahnya sejenak.
"What's wrong with you, honey?" tanyanya seraya mengerutkan kening, bingung harus bersikap seperti apa untuk menenangkan hati pujaan hatinya itu.
Hanum hanya menggelengkan kepalanya, sedang jemarinya sibuk menghapus bulir air mata yang mulai berjatuhan di pipinya, "aku baik-baik saja," jawabnya seraya menorehkan senyum tipis di bibirnya.
Padahal saat ini hatinya tengah berdenyut nyeri, ia menjerit dalam hati meneriakkan nama Reynand dengan rintihan terdalam.
Air matanya masih saja menggenang, meratapi liku kehidupannya yang terus saja menuntunnya pada jurang perpisahan.
Belum genap satu hari ia memutuskan untuk pergi dari rengkuhan sang suami, dan kini hatinya serasa terbelenggu dalam nestapa.
Meratap dalam kubangan luka yang tak bisa ia utarakan dengan kata-kata.
"Bolehkah jika aku singgah di sini untuk sesaat saja? tidak akan lama, hanya sampai anak ini lahir ke dunia dan setelah itu aku tidak akan lagi merepotkan dirimu lagi," ucap hanum yang kini sudah sampai di depan pintu kamarnya. Ia berucap lirih seraya menundukkan kepala, menyamarkan garis kepedihan yang masih saja terpatri di mimik mukanya.
"Kau bisa tinggal disini sesukamu. Bahkan aku tidak akan keberatan jika kau menghabiskan sisa hidupmu untuk menetap disini bersama dengan anak mu, dengan anak kita. Aku tidak akan keberatan sama sekali, justru sebaliknya aku akan terluka jika kau hanya menempatkan diriku sebagai persinggahan sesaat sebagai pelarian mu terhadap suamimu," ujarnya seraya menaikan pandangan Hanum untuk menatapnya, "ingat satu hal ini. Aku tidak akan pernah menjadikan mu wanita kedua dalam hidup ku. Terlebih lagi menyandingkan mu dengan wanita lain yang hanya membuat mu terluka dan berakhir menyedihkan seperti saat ini. Tapi aku tidak akan memaksakan kehendak ku, semua pilihan ada di tanganmu.
Terserah apakah nantinya kau akan bertahan atau pergi dari sisiku, aku tidak akan pernah memaksa mu," imbuhnya lagi dengan nada lirih. Sorot matanya terlihat sayu, lalu kemudian ia beranjak pergi dari hadapan hanum. Meniggalkan wanita itu sendiri dengan kecamuk rasa tak pasti.
Sepertinya yang di rasanya saat ini, bahwa ia memahami betul tentang rasa yang di miliki oleh Hanum. Sesungguhnya tiada tempat baginya untuk menetap dalam hati wanita pujaannya itu, cukuplah baginya untuk berdiam diri, mengagumi, dan menjadi pilar penyangga selagi wanita itu membutuhkan dirinya. Begitu saja tidaklah mengapa, setidaknya hadirnya masih berguna daripada ia di acuhkan begitu saja tanpa tegur sapa.