
Detik waktu terus berlalu. Seiring timbul tenggelamnya matahari yang kembali berganti menjadi cahaya rembulan.
Sudah tiga hari berlalu sejak hanum di rawat di rumah sakit dan sejak saat itu pula wanita itu masih terbaring lemah sembari memejamkan matanya.
Ia masih belum juga tersadar, namun keadaannya sudah terbilang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Begitupula dengan janin yang ada dalam rahimnya, keduanya sama-sama sehat setelah proses penyelamatan yang memakan banyak waktu kala itu.
Keduanya selamat dan hal itu menjadi satu kelegaan tersendiri bagi reynand.
Pria itu masih merebahkan kepalanya di sisi ranjang perawatan istrinya. Sedang genggaman tangannya yang kuat tak pernah terlepas dan selalu bertautan dengan jemari sang istri.
Keduanya sama-sama memejamkan mata di akibatkan oleh faktor yang berbeda pula. Yang satu karena kelelahan dan satunya lagi karena masih terhanyut di dalam alam bawah sadar yang membelenggunya.
*****
Suara ketukan pintu yang berbunyi nyaring sebanyak tiga kali, diiringi dengan suara derap langkah seorang dokter yang memasuki ruangan itu seketika membuat reynand terjaga.
Ia mengusap perlahan kelopak matanya sejenak sebelum akhirnya beranjak bangun untuk menyambut dokter yang akan memantau perkembangan istrinya.
Senyumnya tertoreh tipis seusai pemeriksaan terhadap hanum sepenuhnya telah selesai.
Hanya menunggu beberapa jam lagi dan kemungkinan besar wanitanya itu akan segera tersadar dan terlepas dari pengaruh obat yang memang di fungsikan untuk membuat wanita itu tetap lelap dalam alam bawah sadarnya.
Dan setelah itu ia bisa dengan leluasa memperinci segala pertanyaan yang akan ia tanyakan pada istrinya itu nanti, ketika wanita itu telah berangsur pulih dan memiliki kesadaran penuh tentang apa yang di lakukannya tempo hari.
Beberapa jam telah berselang dan kini matahari sudah nyaris terbenam untuk menyembunyikan sinarnya di ufuk barat.
Reynand masih termenung dalam diamnya, sesekali ia menyalurkan belai hangatnya untuk menyapu keseluruhan wajah cantik milik istrinya. Pesona wanita itu masih saja mampu menggetarkan jiwanya, membuatnya luluh dalam pesona cinta dan sejenak lupa dalam kemelut emosi yang sempat membelenggu pikirannya.
Harapan yang di pintanya kini telah sepenuhnya terkabul, hanya tinggal menanti waktu dimana ia bisa kembali berbincang dengan istrinya dan memperjelas semuanya sampai dengan hal terkecil mungkin.
Ia ingin semuanya jelas, tak ada yang tersembunyi dan ditutupi darinya.
Reynand masih termenung sembari memegangi jemari Hanum yang perlahan mulai bergerak lirih menunjukkan tanda-tanda kesadaran.
Ia tersenyum tipis dan semakin mengeratkan genggamannya, tak sabar ingin segera melihat istrinya itu kembali membuka mata.
"Rey ...." panggilan itu mengalun lirih terucap dari bibir Hanum.
"Ya, sayang," jawabnya lembut seraya mengusap pipi istrinya. "Apa kau haus?" tanyanya dengan suara yang masih sama.
Hanum menggelengkan kepalanya perlahan, dan kemudian ia menggerakkan jemarinya untuk menangkup kedua pipi suaminya. Pandangannya menengadah, seolah memohon dengan mata yang telah berkaca-kaca. "Maafkan aku," ucapnya dengan nada pilu.
Lalu kemudian setetes bulir air mata pun terjatuh ke pipinya.
"Kenapa, kau berusaha melukainya?" tanyanya setelah terdiam cukup lama.
Suaranya terdengar berat begitupun dengan tatap matanya yang menuntut sebuah kejujuran.
"Apa kau begitu membenci ku hingga kau pun tak sudi untuk mengandung keturunan ku? Sebegitu buruknya kah aku bagimu?" imbuhnya lagi dengan suara sendu penuh kekecewaan.
Emosinya kembali hadir menepikan rasa cinta yang semula sempat menyisihkan rasa marah yang terpendam dalam hati.
Hanum hanya bisa menghela napas lelah.
Jemarinya pun perlahan turun dan segera ia mengalihkan pandangannya. Bola matanya pun terasa kian memanas sedang tenggorokannya serasa tercekat terhalang oleh sengguk yang sedari tadi di tahannya.
"Num! aku hanya ingin mendengar sebuah alasan, kenapa kau sampai tega untuk melukainya. Hanya itu saja," ucap reynand dengan sedikit merendahkan nada suaranya.
"Hanya sebuah alasan bukan? aku melakukannya karena aku membencinya. Apakah itu sudah cukup jelas bagimu?" Hanum berucap dengan nada geram. Wanita itu dengan berani kembali menolehkan kepalanya dan menatap sosok reynand yang tengah memandanginya dengan raut wajah tak percaya.
Pria itu terlihat berupaya meredam segala amarahnya dan berusaha untuk tidak membuncahkan segalanya pada detik itu juga.
"Jujur aku tak pernah mengerti tentang jalan pikiran yang kau terapkan dalam kehidupan mu, num. Tapi dengan kau berupaya untuk membunuh anak yang bahkan belum sempat terbentuk dalam rahimmu, apakah menurutmu itu bukanlah suatu hal yang keji?
Kau seorang calon ibu, dan bagaimana bisa kau memiliki pikiran sesadis itu?" reynand berucap heran sembari menjauhkan diri dari istrinya itu.
Dadanya sudah naik turun terpompa oleh emosi yang kian meradang. Dan ia tak mau jika sampai perdebatan ini akan berujung pada sebuah kekerasan yang malah berbuntut panjang dan berakhir dengan sebuah penyesalan.
Hanum hanya berdecih mendengar semua perkataan yang diucapkan oleh reynand.
Pria itu bahkan belum mendengar keseluruhan dari penuturannya, dan ia sudah mendapat berbagai tuduhan yang kian menyudutkannya pada sisi paling buruk dari seorang calon ibu.
"Rey, jika saja anak yang ada dalam rahimku ini bukanlah anakmu, apakah kau masih setegar itu? apakah kau akan melapangkan dada mu dan menerimanya dengan segenap hati mu?" pertanyaan itu mengalun lembut diiringi dengan titik air mata yang kembali terjatuh membasahi wajahnya.
Wanita itu terisak, histeris dalam dilema dan juga kelukaan batin.
Reynand hanya membisu. Ia mengunci rapat mulutnya dan tak berkata-kata.
Hanya gerak tubuhnya saja yang berbicara, ia mendekatkan dirinya kembali ke sisi ranjang perawatan istrinya. Di tatapnya wanita yang masih terbaring itu dengan sorot mata teduh, dan perlahan jemarinya pun tergerak untuk mengusap setiap tetes air mata yang sudah membanjiri wajah dari istrinya.
"Bukankah kau tau, bahwa aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Baik kesucian mu ataupun anak yang ada dalam rahim mu. Karena anak mu adalah anak ku juga.
Biarlah ia tumbuh dengan baik di dalam sana, dan kelak biarlah ia memanggilku dengan sebutan papa. Aku tak pernah keberatan, dan aku pasti menerimanya."