Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Maaf.



..."Jangan memaksaku untuk melihatmu....


...Karena setiap jengkal tubuhmu, baik wajah, mata, dan parasmu, hanya membuatku kian teringat pada dia yang telah tiada dalam duniaku. Aku tidak membencimu, hanya saja saat ini aku sedang enggan untuk berlama-lama melihatmu berada di sekelilingku."...


...----------------...


"Mommy," panggilan manja itu mengalun lirih melalui bibir gadis mungil yang tampak tenang terduduk di tepi ranjang ibunya yang masih memejamkan mata.


Entah sudah berapa lama ia terduduk sendiri di sana, dalam diam tanpa sebait katapun yang terucap dari bibirnya melainkan hanya sebuah panggilan untuk ibunya.


Hanum, wanita itu sebenarnya sudah terjaga sejak beberapa waktu yang lalu, hanya saja ia sedang tak ingin membuka matanya.


Kenapa? Tentu saja karena saat ini ia sedang berusaha untuk menahan diri agar emosinya tak melambung kemana-mana hanya karena bersitatap dengan gadis kecil pemilik netra biru, serupa dengan netra milik suaminya yang sudah tiada.


Ia tak ingin melihatnya, setidaknya untuk saat ini saja. Karena sekarang ia tengah sibuk menata hati, ia sedang berupaya untuk membangun lagi susunan mentalnya yang telah tercerai berai.


Ia hancur, namun begitu ia tak ingin ikut menghancurkan dunia milik anak tak berdosa hanya dengan kata makian yang bisa saja terlontar tiba-tiba dari dalam mulutnya.


Ia sedang tidak baik saja, begitupun dengan anak kecil yang terduduk di sampingnya itu.


Ia tahu, dan sekarang ia sedang mengupayakan untuk menjadi manusia baik seperti sedia kala.


"Percayalah! Aku sedang mengusahakannya, aku sedang mencobanya. Jadi ku mohon, untuk saat ini saja, menjauhlah dari sisiku, dan bencilah aku jika hal itu bisa membuat hatimu merasa lega," batinnya dalam hati.


Gadis itu termenung dalam diam, jemarinya saling bertautan seolah bimbang apakah ia boleh menjangkau raga ibunya yang selama ini sangat ia rindukan. Ia ingin memeluknya, namun niatnya tak cukup besar untuk melakukan hal yang ia inginkan.


Gadis mungil itu tertunduk, meresapi bola matanya yang mulai terasa memanas.


Ia menangis, air matanya berjatuhan seolah ia sedang mengatakan isi hatinya melalui cucuran air mata.


"Mommy, I need you," ujarnya parau.


Gadis itu berbisik lirih, hatinya terasa sakit ketika melihat Hanum yang abai terhadap kehadirannya.


Siapa ia, apakah ia juga sudah tak berhak untuk memiliki kasih dari seorang ibu lagi? Bukankah sudah cukup derita yang ia rasakan ketika Tuhan mengambil sosok ayah yang selama ini selalu menyayanginya, lalu ... haruskah sekarang ia merasakan kehilangan kasih dari ibunya juga?


Ivana menggigit bibir bawahnya dengan kuat, ia menahan isaknya dengan suasana hati berkecamuk tak menentu.


Ia marah sekaligus sedih, kenapa ketika ayahnya sudah tiada ibunya pun ikut menghindarinya? Ia hanya seorang anak kecil,


yang ingin direngkuh dan juga dikuatkan.


"Tenanglah, ada mommy di sini." Seandainya saja ivana mendengarnya, mungkin saat ini ia tak sesedih itu.


Ia juga ingin ditenangkan, ia juga ingin dibelai, diusap rambut dan kelopak matanya kala berderai air mata.


Ivana memilih untuk beranjak, sempat sesaat ia ingin menghadirkan kecupan lembut di pipi wanita itu, namun ia urungkan lagi niatnya.


"Ivana tahu, sekarang mommy sedang pura-pura (tertidur). Nanti ... kita main lagi ya, ivana kangen sama mommy, pengen main lagi kayak dulu," ujarnya seraya melangkah pergi.


Langkah kakinya yang berayun pelan serta bahunya yang tertunduk lesu, jelas menggambarkan bahwa gadis itu juga sedang berjuang melawan pedih yang ia rasakan.


Namun Hanum tak bisa berbuat apa-apa, selain hanya bergeming dalam kebisuan seraya menatap anak gadisnya yang berlalu menjauhinya melalui ekor matanya saja.


"Tidak apa-apa, dia pasti baik-baik saja. Dia baik-baik saja," ucapnya berulang kali, seolah ia sendiri pun tak yakin dengan kondisi mental anaknya.


Ia memang bukanlah manusia yang sempurna, egoisnya masih terlalu tinggi untuk ukuran wanita seusianya. Ia bukannya tidak mau untuk menjangkau gadis kecil itu, ia bukan tak sudi untuk membelainya, hanya saja ia belum bisa, belum mampu untuk menyembunyikan secara langsung luka yang ia miliki di hadapan anak itu.


Ia bukan tidak menyayanginya, bukan bermaksud untuk mengacuhkan ataupun membuangnya begitu saja, akan tetapi ia ingin mempersiapkan segalanya sebelum nantinya benar-benar bertatap muka dengan anak gadisnya.


Jika dikatakan rindu, maka ibu mana yang tak rindu terhadap anaknya? Tapi, rasa rindunya saat ini masih terfokuskan pada Danill saja, dan kehadiran gadis itu di hadapannya membuat Hanum kepayahan dalam mengendalikan laju emosinya.


Alih-alih rasa rindunya terobati dengan hadirnya Ivana yang memiliki kemiripan paras dengan mendiang suaminya, ia malah kian tertekan dengan keadaan yang mencekam.


Halusinasi yang tak berkesudahan, seolah menyeretnya dalam kehidupan masa lampau di mana hanya ada dia dan Danill saja yang tergambar di dalamnya.


Ia kepayahan, fisiknya kuat namun tidak dengan mentalnya.


Nyaris seperti orang gila yang kewarasannya saja saat ini ia pertanyakan.


Ia Ragu dan takut jika sewaktu-waktu ia tak lagi bisa menjangkau Ivana dalam dekapannya.


Ia cemas jika nanti hadirnya yang seperti ini malah membuat gadis kecil itu menatapnya dengan sorot mata yang berbeda.


Ia tak siap, tak mau dan tak mampu untuk sekedar membayangkannya.


Maka dari itu, biarkan untuk sementara waktu keadaan berlalu seperti ini dulu.


Jika nantinya gadis itu menjauhinya, ia pun tak mengapa.


Jika kelak Ivana membencinya, ia pun ikhlas menerimanya.


Asal anak itu bisa hidup bahagia, biarkan jika ia mau membenci ibunya yang seperti ini.


Tapi satu hal yang pasti, meski ia tak bisa menunjukkan kasihnya secara terbuka, tapi dalam lubuk hati terdalamnya, Hanum tetap mencintai dan menyayangi Ivana seperti hari-hari sebelumnya.


Karena kasih ibu tak kan pernah bisa sirna sampai ia menutup mata.