Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Canda.



Matahari mulai beranjak menelusupkan sinar redupnya ke ufuk barat.


Sedang dua pasang anak manusia itu masih enggan untuk beranjak dan saling mengeratkan rengkuh hangat yang menyalurkan kenyamanan. Punggung telanjang itu masih terbaring lekat dengan dada bidang yang sama polosnya dengan sang istri.


Belai lembut di permukaan kulit perut yang tak terbungkus kain itu menghadirkan geliat nyaman yang terasa hangat menempel di sana. Hanum memalingkan tubuhnya kemudian bersitatap dengan sang suami yang masih meredupkan matanya. Keduanya sama-sama tersenyum lalu kemudian mengadu kening dengan lirih.


"Maaf karna aku terlambat menunaikan kewajiban ku kepadamu, Rey."


Pria itu hanya tersenyum menanggapi ucapan sang istri. Hatinya begitu lapang menerima kenyataan bahwa istrinya itu tak lagi murni.


Sama halnya seperti dirinya, dimana ia bukanlah seorang pria yang masih menjaga kemurnian diri hingga ia memantapkan hati untuk menikah.


Mereka tercipta untuk saling melengkapi, menerima semua alur yang terjadi dan menjalaninya sebaik mungkin dan menjalin hubungan yang lebih baik lagi kedepannya.


"Tidak apa-apa. Aku tau, pasti saat itu kau juga belum ada kesiapan hati untuk melaluinya bersamaku, kan?


Tapi ... bukankah saat ini kita telah melebur jadi satu? Kau adalah milikku dan aku adalah milik mu. Berjanjilah untuk tetap seperti ini hingga kelak kita menjadi kakek nenek dan memiliki banyak anak dan juga cucu." Reynand menyunggingkan senyumnya lagi, "percayalah, bahwa aku sungguh-sungguh mencintaimu, Istriku."


Sontak hanum hanya bisa menganggukkan kepalanya, pandangannya tertunduk dengan mata berbinar penuh keharuan.


Ia telah salah, sangat salah hingga ia begitu buta akan ketulusan yang sesungguhnya.


"Bukankah hari sudah petang?" tanyanya mengalihkan pembicaraan. Sedang jemarinya sibuk menghapus air mata yang hendak terjatuh di pipinya. Ia tak akan membiarkan tangisnya kembali hadir di tengah suasana nyaman yang terjadi antara dirinya dengan sang suami. Cukuplah sebuah senyuman dan jangan ada tangisan ketika ia menyambut datangnya ketulusan cinta yang telah membuka mata hatinya.


Seulas senyum tipis terurai di wajah Reynand. Pria itu kemudian mengusapkan jemarinya dengan lembut ke puncak kepala Hanum, menyibakkan juntaian surai panjang itu ke belakang telinganya. "Kenapa matamu terlihat basah, hm?" tanyanya dengan nada penuh kelembutan.


"Aku hanya terharu," jawabnya lirih dengan sorot mata teduh yang masih menatap lekat pada bola mata indah milik suaminya. "Bukankah wajar, jika aku terharu oleh tutur kata dari suamiku sendiri?" imbuhnya dengan wajah sedikit tersipu.


"Jika hal itu bisa membuatmu bahagia, maka aku takkan keberatan meski harus melakukannya hingga seumur hidup ku. Bukankah, kebahagiaan seorang istri adalah kunci dari rumah tangga yang harmonis?" tuturnya dengan nada menggoda.


Membuat Hanum lagi-lagi memalingkan muka.


Wajahnya kian merona mendengar setiap tutur kata yang terdengar begitu menjanjikan untuk sebuah kelanjutan hubungan. Ia tersipu, antara bahagia bercampur haru.


Ia percaya bahwa pria itu bisa menuntunnya, mengarungi rumah tangga yang mungkin saja kedepannya akan menghadirkan segala aral melintang yang akan menguji kesetiaan dan juga kekukuhan hati mereka.


"Jangan katakan lagi, Rey. Kau dulunya terkenal dengan raja gombal. Mana mungkin aku akan percaya begitu saja dengan ucapan mu," cibirnya diiringi tawa.


"Ayolah! itu sudah berlalu lama sekali. Bahkan aku belum menguji kemampuan bibir ku dan juga ... bagian ku yang lain," ucapnya seraya mengerlingakan sebelah matanya. Memberikan sebuah kode cinta yang mungkin saja saat ini sudah di pahami oleh sang istri.


"Lupakan!" elaknya segera beranjak dari posisinya, bergegas bangkit dan membawa langkahnya ke sudut pintu lain di dalam kamarnya. Ia memilih untuk melarikan diri dan bersembunyi di dalam kamar mandi.


Menundukkan kepalanya dan menahan sipu malu di wajahnya. Jiwanya serasa meledak diisi oleh kuntum bunga-bunga yang bermekaran di dalam hatinya. Ia benar-benar jatuh cinta. Jatuh sejatuh-jatuhnya pada pria yang tak ia kira.


Kaki jenjangnya menghentak kecil, sedang jemarinya mengepal erat menahan gejolak gemas yang tiba-tiba hadir begitu saja ketika angannya kembali menampilkan kilasan momen romantis yang terjalin di antara keduanya.


"Ah, aku gila ... "ucapnya lirih di depan bayangan pantulan cermin kaca.


Hanum memejamkan matanya sesaat, sedang bibirnya terus berucap kata layaknya sebuah mantra, "jangan pikirkan-jangan pikirkan. Hembuskan napas dan segera lupakan." Racaunya berulang namun tak membuahkan hasil apapun.


Ia masih mematung di depan cermin seraya memandangi dirinya sendiri yang masih terbalut oleh handuk hitam yang menutupi bagian tubuhnya.


Ia memejamkan matanya lagi, menikmati khayalannya akan sentuhan lembut yang terasa hadir menyapa kulitnya.


Menyentuh raganya dan membuai angan liarnya. Bibirnya terkatup rapat menahan gelitik yang menggoda titik sensitifnya. Senyar kelembutan itu telah merobohkan pertahanannya, membuatnya lunglai di ambang keinginan untuk menapaki undakan kenikmatan yang akan diraihnya melalui proses bercinta.


Memejamkan matanya rapat-rapat, bibirnya melenguh lirih tatkala merasakan hadirnya sentuhan nyata yang membelai bagian tubuhnya.


Embusan napas yang menerpa telinganya dan juga kecupan-kecupan kecil yang mendarat di ceruk lehernya membuat hasratnya kian meronta untuk mengecap nikmat surga dunia.


"Mari kita bercinta," tutur Reynand seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Tutur katanya lembut membuai penuh goda, sedang netranya berkilatan nakal dengan seringai jahil.


Hanum memahaminya, sudut bibirnya melengkung ke atas dan ia menyambut inisiatif suaminya itu dengan senang hati.


"Setidaknya kau harus belajar cara mengendalikan ___ itu!"