
..."Mungkinkah jika kau diberikan waktu satu bulan untuk melupakan seseorang yang berarti bagimu, dalam artian mereka yang kau cintai tak lagi bisa untuk kau lihat dan jangkau keberadaannya meski kau sangat menginginkannya. Apakah kau mampu untuk melakukannya?...
...Mungkinkah waktu satu bulan, sudah cukup bagimu untuk terlihat baik-baik saja dan tidak menitikkan air mata bila dihadapkan dengan potret wajahnya yang damai dan juga kenangan yang sepintas berpendar dalam kepala?...
...Jika iya, mungkin rasa yang kau miliki saat ini tak sebesar rasa yang yang ku punyai....
...Aku masih mencintainya, walaupun aku tak lagi bisa melihat rupa dan mendengar suaranya yang merdu. Meskipun aku mau dan berharap agar ia bisa memanggilku melalui alam bawah sadarku agar rindu yang kini ku tahan bisa tersalurkan....
...Jangankan untuk melupakan cinta kami, ku rasa aku tak akan pernah mampu untuk melakukannya. Terpikir kesana saja, aku tidak pernah!"...
...----------------...
Setibanya di tanah air, ketibaan mereka disambut baik oleh alam. Derasnya hujan yang mengguyur serta kilatan cahaya dengan gemuruh di langit malam yang gelap gulita.
Mereka lelah, begitupun dengan Ivana yang sudah lelap dalam buai tidurnya. Gadis mungil itu tak lagi terjaga, karena ia nyaman dalam dekapan sang papa yang sedari tadi menutup rapat kedua telinga anak itu dengan kedua tangannya.
Hanum, wanita itu meletakkan mantelnya asal lalu segera menyusuri setiap sudut ruangan yang telah lama ia tinggalkan sesaat setelah ia masuk dalam hunian tersebut.
Semuanya masih tertata rapi pada tempatnya, tidak ada benda yang dipindah begitupun dengan dekorasi yang tetap serupa seperti beberapa tahun sebelum ia pergi dari rumah tersebut. Masih utuh, seolah tak pernah tersentuh.
Mengusapkan jemarinya pada deretan foto yang tergantung pada dinding lantai dua, tepat di depan kamar lamanya. Di sana ada banyak potret lawas dirinya dengan juga Danill yang pada kala itu belum meresmikan hubungan ke tahap pernikahan.
Ia tampak risih, namun senyum yang terulas di bibirnya nampak terlihat natural dengan jemari yang saling bertautan.
Tersenyum kecut, ia mengalihkan atensinya pada ruangan lain yang juga menyisakan kenangan manis dari kehidupan yang pernah ia lalui sebelumnya.
Tertuju pada kamar Ivana, keriuhan yang terjadi kala itu kembali berpendar dalam kepalanya.
Seolah terlihat lagi oleh mata dan terjadi secara langsung di hadapannya.
Danill, pria itu begitu bersemangat tatkala putri yang ia cintai terlahir ke dunia. Ia yang tak pernah mengeluh dan selalu sigap berperan sebagai ayah siaga menggantikan Hanum yang kala itu mengalami baby blues syndrome.
Ia panik, dan lelah pastinya. Tapi ia tetap menorehkan senyum manis di bibirnya, seolah tiada lelah baginya tatkala ia diharuskan untuk turun tangan langsung demi mengurus Ivana dan juga istrinya.
Pria itu merupakan sosok sempurna yang mungkin tak akan bisa ia jumpai lagi pada pribadi pria kebanyakan.
Kata-katanya yang lembut, pola asuhnya yang sempurna serta sosok suami yang mencintai istri dan juga keluarga. Sempurna dan langka, dua kata itu Hanum sematkan untuk pria yang selalu memujanya dan menjadikannya ratu meski dulu ia pernah terlambat untuk mencintainya.
Menyesal, tentu sekarang ia sangat menyesal.
Ia yang sulit untuk jatuh cinta, dan selalu merasa tersiksa tatkala harus melupakan kisah asmaranya yang kandas secara tiba-tiba.
Jika ia bisa memilih, ia juga ingin menjadi seperti kebanyakan wanita di luaran sana.
Ia ingin seperti mereka yang mudah untuk jatuh cinta dan tak perlu kesulitan untuk lekas hengkang dari kisah lama yang sudah terselesaikan.
Mungkin ceritanya akan berbeda jika seandainya ia adalah tipe wanita yang kedua, jika itu benar, maka tidak ada lagi wanita menyedihkan yang terus menerus meratap tanpa tahu kapan ia akan bangkit dan memeluk hari esok tanpa linangan air mata.
...----------------...
"Kau, sibuk?" tanya Reynand yang seketika membuat Hanum tersadar dari lamunannya.
Wanita itu memalingkan wajahnya, lalu kemudian menggelengkan kepala.
"Nggak!" jawabnya seraya tersenyum.
Ia beranjak, mendekati Reynand yang masih mematung di sisi badan pintu.
Dipandanginya sosok pria yang kini ada di hadapannya, sosok yang terkadang baik namun terkadang juga sering menamparnya dengan kata-kata menyakitkan yang tak bisa ia terima.
Ia terkekeh, "terima kasih," cicitnya seraya melemparkan senyum lega.
"Untuk apa?" tanyanya dengan senyum jumawa.
Namun Hanum malah mendiamkannya, malas untuk menanggapi Reynand yang kini jelas sedang menggodanya.
"Iya, iya ... sama-sama. Semoga dengan kita tinggal di rumah ini, kesehatanmu bisa lekas pulih dan kau cepat beranjak dari segala duka yang masih tersisa. Ini rumahmu, rumah kalian. Kau bisa mengingat segala yang tersisa dari tempat ini. Aku yakin kau bisa melalui semuanya, tidak dengan segera tapi kau bisa memulainya dengan pelan-pelan saja.
Ingat, kau tidak terfokus untuk melupakan, tapi lebih kepada merelakan."
Wanita itu mengangguk, meski ia sendiri tak yakin dengan apa yang dikatakan oleh pria di hadapannya itu.
Tapi tak ada salahnya jika ia berusaha untuk mencoba.
Ia bisa merelakan Danill dan mungkin ia akan baik-baik saja dengan hidup bersama cinta yang masih tersisa, bukan dengan seribu kenangan yang kini menyiksa hidupnya.