
Memilih untuk menawarkan bantuan, sejenak membuat reynand dihinggapi sesal dan juga kebimbangan.
Ia terlalu cepat mengambil keputusan untuk membantu seorang asing yang bahkan belum ia kenali asal usulnya. Dan kini ia terjebak dalam keadaan yang membuatnya dilanda kebimbangan yang membuatnya berpikir keras harus dia bawa kemana wanita itu saat ini.
Larut dalam kebisuan dengan suasana canggung yang menyelimuti keduanya, mengharuskan mereka untuk tetap bungkam dan saling memandang ke arah berlawanan.
******
Guyur hujan yang semula deras kini sudah mulai mereda, meninggalkan rintik kecil dan hawa sejuk yang masih berhembus lembut membelai permukaan kulit melalui jendela yang terbuka.
Mengusik ketenangan dan menghadirkan kembali kesadaran hanum yang sempat memejamkan matanya beberapa saat yang lalu.
Wanita itu menggeliatkan tubuhnya lalu kemudian menghadirkan usapan lembut dan menyapu kulit lengannya yang terasa dingin.
Ia mengerjapkan matanya sesaat lalu melirik ke arah jam dinding dan mendapati waktu sudah hampir menuju pagi, dan hari sebentar lagi akan berganti.
Akan tetapi satu hal yang pasti, suaminya belumlah kembali dan ia masih sendiri. Sempat terlelap dalam bayang semu yang menari-nari dalam angannya, menghadirkan mimpi indah sesaat yang membuat ia terbuai dalam bahagia. Hanya dalam khayalan semu yang menghadirkan secercah cahaya dalam kehidupannya, membuat ia mampu tersenyum dan melupakan segala pedih yang ada dalam dunia nyata.
Lelah berdiam diri, mematung dalam kesunyian yang terus melemahkan dirinya.
Hanum memilih untuk beranjak dan membawa langkahnya menuju arah jendela.
Sekedar untuk melihat warna langit, barangkali kini awan hitam sudah berubah menjadi langit indah bertabur bintang.
Seperti harapnya semoga laranya segera berakhir dan lekas berganti dengan cinta sederhana yang mampu menghangatkan hatinya.
Tak terasa semua harap dalam batinnya pun membuat netranya berkaca-kaca, ada haru yang timbul dalam hatinya. Semuanya pasti segera berlalu, dan ia akan kembali berbahagia dengan suaminya. Hanya itu, keyakinan yang ia tanamkan di dalam batinnya. Hal itu pula yang menguatkannya untuk tetap teguh berdiri, berperan sebagai seorang istri meski perangainya tak pernah lagi terlihat di mata sang suami.
Tersadar dari lamunan, netranya memancarkan binar bahagia ketika melihat mobil suaminya barusaja tiba. Ia pun dengan segera menghapus bulir air matanya, membuat wajahnya terlihat cantik dan semenyenangkan mungkin ketika suaminya melihatnya.
Diurainya rambut panjangnya, memperlihatkan gelombang indah yang selalu menjadi mahkotanya. Karena ia tahu betul bahwa reynand paling suka melihat rambut panjangnya itu tergerai tanpa adanya ikatan yang memperlihatkan lekukan lehernya.
Sambil berlari kecil ia bersemangat betul menuruni anak tangga, bersiap menyambut suaminya dengan suka cita dan juga senyum yang merekah sempurna.
Akan tetapi tak seperti yang ia duga, inginnya menyambut suaminya dengan suka citapun akhirnya pupus sudah ketika melihat hadirnya orang asing yang ikut turun bersama suaminya.
Ia terpaku di tempatnya, menatap dengan raut wajah masam ketika melihat reynand dengan lembutnya mempersilakan sosok misterius itu untuk turun dan masuk kedalam kediamannya.
Hanum hanya bisa ternganga, memandangi keduanya dengan bergantian.
Kehadirannya seolah tak di anggap disana, hatinya serasa hancur tatkala melihat suaminya acuh terhadapnya dan memilih untuk menuntun tubuh lusuh itu untuk masuk dan duduk di dalam rumah mereka.
Ia berkaca-kaca, trenyuh menahan rindu dan kini malah seperti di asingkan oleh sosok suami yang sedari lama sudah ia rindu-rinduknan.
Takdir memang kejam, seolah merenggut semua kehidupannya dalam seketika. Belum selesai permasalahannya kini timbul hal baru yang mengusik ketenangan hidupnya. Lantas apalagi besok yang akan terjadi? mungkinkah ia akan tersisih lalu kemudian hidup sendiri dengan segala kepedihan yang ia jalani?
Hanya bisa menggeram dalam diam, menatap tajam pada sosok asing yang ada di hadapan matanya.
Pakaian lusuh dan juga basah itu mengotori sebagian lantai dan sofa rumahnya.
Namun kulit wanita itu tidaklah terlihat keriput dan hal itu membuat hanum kian yakin bahwa wanita di hadapannya ini bukanlah seorang wanita renta seperti yang ia duga sebelumnya.
Hendak beranjak dan mengeluarkan ragam pertanyaan yang ada dalam kepalanya kepada sosok yang ada di hadapannya, namun ia urungkan kembali karena melihat suaminya yang sudah berganti dengan kemeja santai itu kembali mendekati wanita itu. Ia kian terkejut ketika melihat reynand yang tanpa seijinnya malah memberikan pakaiannya kepada sosok asing tersebut.
Ia meradang, marah karena merasa kehadirannya seolah tidak di anggap di sana.
Hingga akhirnya ia pun membawa langkahnya untuk menghampiri keduanya, dengan raut wajah kesal dan juga netra yang sudah berkaca-kaca.
"Apa yang kau lakukan, Rey? Siapa yang menyuruhmu untuk memberikan pakaian ku kepada orang ini, ha?!" tanya hanum dengan nada tinggi.
Reynand memalingkan wajahnya sejenak lalu kemudian memijit pelipisnya sebentar sebelum mengucapkan tutur kata, "aku akan membelikan yang baru untuk mu besok, jadi biarlah wanita ini memakainya. Bukankah tumpukan bajumu di almari masih tersisa banyak? tidak akan berkurang meskipun aku mengambilnya satu atau dua kan?"
Hanum menipiskan bibirnya, lidahnya keluh sulit untuk memberikan bantahan terhadap tutur kata yang di layangkan oleh suaminya.
"Lantas siapa dia?" seraya menunjuk sesosok wanita yang masih berdiam diri di tempatnya, mendengarkan perdebatan mereka dengan tertunduk.
"Beraninya kau membawa wanita asing masuk kedalam rumah kita? apakah kau sudah menganggap ku tiada, ha?!" teriak hanum seraya memukul-mukul dadanya.
Ia meraung-raung melepaskan semua beban yang menghimpit dadanya, hidupnya telah hancur dan kini suaminya malah membawa wanita lain kedalam lingkup kehidupannya.
"Bersihkan dirimu, setelah itu kau bisa istirahat di kamar tamu, " titah reynand seraya menunjuk ruangan yang ada di bawah anak tangga. Wanita itu pun menganggukkan kepalanya dan menyisih pergi seperti yang di titahkan reynand terhadapnya.
Sedangkan Hanum, ia masih terisak-isak menanti penjelasan dai mulut suaminya.
Namun pria itu hanya diam, dan kemudian berbalik lalu meninggalkannya tanpa kembali menolehkan kepala.
Langkahnya berayun perlahan, seolah berat ketika melihat istrinya itu merosot di bawahnya seperti menahan segudang beban yang di sangganya.
Namun percuma menjelaskan, karna istrinya sudah terlanjur salah paham terhadapnya.
Biarlah seperti ini dulu, hingga amarah mereda dan ia bisa memberikan penjelasannya dengan ketenangan, bukan dengan hati yang masih di selimuti prasangka dan benci.