
Merindu. Akan hadirmu yang mulai berjarak dengan ku.
Jika saja aku tahu, bahwa hadirmu hanyalah sekejap pintasan waktu.
Aku tak akan pernah sekalipun mencoba membukakan rasa ini untukmu dan membiarkan hati ini terseret dalam pusaran pesonamu.
Memang cinta ini membutakan penglihatan ku.
Seolah segalanya tiadalah berarti selain dirimu satu.
Ya, kau!
Yang kini perlahan berjarak dengan ku.
Menimbulkan denyut nyeri yang kian menghujam jantungku.
Kau, sebuah dosa yang kini menjadi sesal dalam hidup ku. Karena hati ini begitu tak tau diri mengharapkan mu yang tak pernah bisa kumiliki.
*********
Ada rindu yang kian menggunung di setiap waktu. Diam-diam meratap, membisikkan namanya dalam keputusasaan.
Berdiam diri tanpa tau harus berbuat apa, sedang hati merintih menahan luka tak kasat mata.
Seperti hari-hari sebelumnya, dimana Hanum selalu menghabiskan waktunya untuk membaca. Sebuah novel romansa yang mengisahkan kisah indah dengan perjuangan cinta yang tak mudah.
Sesekali ia meneteskan air matanya tatkala ada kisah menyedihkan di pertengahan cerita.
Seolah-olah ia lah yang sedang mengalami derita dalam kisah romansa.
Memilih untuk menyudahi kebiasaannya. Hanum menutup novel yang baru saja terbaca setengah halaman itu. Matanya sudah terlihat sembab, tak kuasa dengan alur cerita yang seolah menyeretnya untuk menjadi tokoh utama.
Deritanya sama seperti yang di alami olehnya, hanya saja tidak ada pangeran berkuda putih dalam kehidupan aslinya.
Ia seolah terpenjara dalam liku asmara yang tak ia pahami cara penyelesaiannya.
Raganya berdiam diri di bawah naungan pria asing, sedang hatinya masih berlabuh pada suaminya.
Ia menanggung rindu, mengingat sudah satu tahun lamanya tiada kabar apapun yang dapat ia terima.
Ponselnya tak lagi berfungsi, dan ada banyak retakan yang tertera pada layar kaca benda pipih tersebut.
Emosinya mendadak meninggi tatkala tanpa sengaja ia menemukan deretan foto dirinya yang masih lekat dengan mantan sahabatnya. Tak lain adalah Dewi, wanita penghancur rumah tangganya.
Remuk redam di saat bersamaan, lelah ia meniti kekuatan untuk kembali bangkit dari keterpurukan. Alih-alih menemukan album nostalgia bersama suaminya, malah ia berjumpa dengan deretan foto bersama wanita yang kini dibencinya itu.
Ia histeris, kehilangan kendali atas emosinya.
Dan pada waktu itu hanyalah Danill yang menjadi sandarannya, menguatkan dirinya untuk mengingat lagi bahwa masih ada nyawa lain yang kini ikut bergantung pada dirinya.
Ya, pada masa itu ia terus saja di belenggu dalam keterpurukan. Lemah tak berdaya, tak ada harap untuk kembali melanjutkan kehidupan. Hanya Daniil, satu-satunya pria yang terus saja menguatkan dirinya.
Danill yang berupaya sekuat tenaga untuk tetap berada disisi Hanum tatkala wanita itu seringkali marah dan memakinya tanpa sebab. Belum lagi ketika ia seringkali menangis meratapi nasibnya yang tak pernah menemukan titik bahagia.
Ia terpuruk, tiada semangat hidup. Jika saja tiada Danill di sampingnya, mungkin saja tempat tinggalnya saat ini bukanlah di rumah melainkan di rumah sakit jiwa.
Berjuang untuk bangkit, meski teramat sulit.
Dengan bayang kekasih yang belum juga sirna dari pelupuk mata.
Terkadang tertawa, dan terkadang juga merintih dalam duka.
Terbalut rindu yang seringkali menggoda.
Dibalik kaca jendela yang tertutup rapat.
Ada gambaran dunia luar yang sangat ingin ia sapa kembali.
Semenjak melahirkan putrinya satu tahun silam, ia memutuskan untuk tetap berdiam diri di dalam huniannya kini.
Menepikan segala inginnya untuk kembali bersua dengan suaminya.
Sengaja ia memutuskan ikatan tali pernikahannya dengan sosok Reynand yang sesungguhnya teramat ia rindukan.
Hanya saja hatinya teramat rapuh untuk berpijak lagi pada masa yang telah lalu.
Mungkin saja saat ini suaminya itu tengah tertawa bahagia bersama Dewi, sang mantan sahabatnya.
Atau mungkin saja kini mereka juga sudah memiliki buah cinta mereka sendiri tentunya.
Terhanyut dalam lamunan yang menyeretnya pada memori masa lampau.
Ia tersadar dari angan-angannya tatkala suara tangis bayi yang terdengar nyaring itu seolah memanggil-manggil dirinya.
Dengan sigap ia pun membawa langkahnya untuk menghampiri bayi mungilnya.
Di pandanginya makhluk kecil tanpa dosa itu.
Mata yang bulat, pipi yang tembam, serta rambut pirang itu teramat mirip dengan sosok Daniil. Tak diragukan lagi bahwasanya bayi mungil itu memang lah keturunan murni dari sosok pria yang pertama kali menggauli dirinya.
"sayang, apa kau lapar?" tanyanya dengan nada penuh kelembutan. Di angkatnya bayi mungil itu lalu di timangnya dengan penuh perhatian. Gurat senyum di bibirnya pun kian merekah tatkala melihat putri kecilnya itu tertawa-tawa mendengar senandung lagu yang di lantunkannya.
Ia memanggilnya Ivana. Putri kecil pengganti segala hal yang pernah terenggut dari dirinya.
Nama itu diberikan oleh Danill, dan ia sama sekali tak keberatan mengingat bahwasanya pria itu telah ikut andil dalam setiap hal yang berlalu pada dirinya. Ia ingin berdamai dengan keadaan.
Tak ingin terus larut dalam dimensi yang memilukan.
Cukuplah sudah segala apa yang membuatnya serasa terpuruk. Kini sudah tiba waktunya untuk ia bangkit, menemukan sendiri kebahagiaan tanpa bayang-bayang masa kelam.