
Di hari berikutnya dimana sinar terang mentari sudah mulai beranjak dari ufuk timur, memperlihatkan semburat cahaya indah yang membentang di atas langit kota.
Hanum membuka kelopak matanya perlahan seraya memegangi kepalanya yang terasa pusing. Semalam ia ingat bahwa ketika ia lelap dalam tidurnya, reynand dengan lembut membopongnya keluar dari kediaman danill tatkala urusan mereka telah sepenuhnya usai.
Ia meraba-raba sisi sampingnya dan mendapati sosok suaminya itu masih berbaring menghadap ke arahnya.
Pria berwajah tampan dengan garis alis tegas itu nampak lelap seraya melingkarkan tangannya di atas perutnya.
Dengus napasnya berhembus teratur dengan hawa hangat yang menerpa daun telinganya. Membuat ia merona, merasakan gelenyar rasa nyaman dan juga rasa lain yang terasa hadir ikut merambat di kulit halusnya.
Hanum masih mengunci tatapnya pada wajah Reynand. Ia terkesima seolah terbuai akan sosok reynand yang dulunya sempat ia acuhkan. Ia menghembuskan napasnya gusar, wajah yang sedang terlelap di hadapannya itu benar-benar membuat ia tak dapat menahan diri untuk tak menghadirkan kecupan lembut di bibir merah suaminya.
Dan dengan berani ia pun akhirnya menggesekkan ujung hidungnya pada ujung hidung suaminya dengan perlahan dan juga lembut.
Sejenak kemudian ia memejamkan mata, dan bergerak perlahan semakin mengikis jarak antara bibirnya dengan bibir suaminya. Menghadirkan kecupan lembut yang serta merta langsung menerobos masuk ke dalam alam mimpi yang sedang terjalin indah dalam angan pria itu, dan hal itupun seketika membangkitkan kesadarannya.
Reynand mengulas senyum tipis, lalu jemarinya bergerak cepat segera memerangkap tubuh istrinya untuk tetap berada di posisinya semula. Mereka saling bersitatap dan terdiam cukup lama tanpa mengucap bait kata. Hanya jarak yang kian merapat dan hembus napas yang saling beradu, memikat mereka penuh goda untuk kembali menyatukan kedua bibir itu dalam satu kecupan manis di kala pagi.
Keduanya sama-sama tersenyum, terlihat bahagia tanpa adanya beban dan kecewa yang tersimpan dalam hati.
Begitupula dengan reynand, pria itu sepertinya sudah berlapang dada menerima segala hal yang berhubungan dengan permasalahan istrinya, pun dengan Danill.
Ia sudah cukup puas bisa membungkam mulut pria asing itu dengan segala tutur katanya yang syarat akan keseriusan.
Untuk saat ini ia bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan sedikit tenang tanpa adanya gangguan.
******
Di salah satu restoran yang berada di pusat perbelanjaan yang lumayan ramai.
Reynand terduduk di satu kursi kayu bersama dengan istrinya.
Mereka barusaja selesai berbelanja kebutuhan rumah tangga dan mampir sejenak ke tempat itu untuk mengisi perut yang sudah terasa lapar.
Sembari menunggu hidangan datang, keduanya berbincang ringan membahas hal-hal kecil mengenai rencana mereka kedepannya. Tentang sebuah keluarga dan juga hadirnya penerus dalam keluarga mereka.
Hingga kedatangan seorang wanita berwajah blasteran mengalihkan perhatian keduanya. Menyapa mereka dengan ramah dan juga santun. Wanita itu berdiri di hadapan mereka dengan senyum cantik yang terukir di bibirnya, begitu anggun dan juga menawan. Khas wanita berpendidikan tinggi dengan segala perangai yang terpancar melalui penampilan dan juga gaya bahasanya.
"Rey, kaukah itu?" tanyanya seolah tak percaya seraya mengusap wajah reynand. Membuat pria itu sedikit terkejut dan seketika menautkan kedua alisnya.
"Ya, ini aku," jawabnya seraya melepaskan jemari tangan wanita itu dari wajahnya.
Ia menyugar rambutnya kebelakang, raut wajahnya terlihat menegang seolah tak menyangka bisa bertemu dengan wanita di hadapannya itu.
"Hay, kenalkan. Aku Clara. Kekasih reynand," ujarnya seraya mengulurkan tangannya kepada Hanum. Wanita itu tersenyum sumringah mengenalkan identitasnya kepada Hanum.
Pria itu menggelengkan kepalanya, meyakinkan ia bahwa ucapan itu tidaklah benar. "Hay, aku Hanum," jawabnya singkat, menyambut jemari wanita bernama Clara itu dengan raut wajah sebal. Senyumnya tertoreh tipis namun penuh keterpaksaan.
Suasana semakin canggung ketika clara meminta ijin untuk duduk bergabung dengan mereka.
Reynand yang semula diam pun hendak menyuarakan rasa keberatannya.
Bagaimanapun hari ini ia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan istrinya saja tanpa adanya gangguan dari orang lain.
Namun siapa sangka istrinya itu malah mempersilahkan clara dan menyambutnya dengan tangan terbuka. Mempersilahkan wanita itu untuk bergabung dengannya dengan dalih makan malam bersama.
"Terimakasih, atas waktu yang rela kau bagi dengan ku, nona Hanum. Aku sangat senang karena hari ini aku bisa kembali bertemu dengan kekasih lama ku." ujarnya menjelaskan.
"Oh ya!" hanum berseru seolah kaget. Kemudian mengulas senyum manisnya seraya memainkan lirikan matanya kepada reynand, menjelaskan bahwa saat ini ia sedang berada dalam permainan yang menyulut emosinya.
Reynand hanya bisa mengangguk kaku, memalingkan wajahnya ke arah lain untuk menghindari perbincangan dengan Clara.
Wanita itu masih menarik dirinya dalam kisah cinta mereka, yang jelas-jelas telah lama berlalu dan sudah ia lupakan sejak lama.
"Rey, apa kau ingat ketika kita duduk di bangku kuliah. Dimana kita pernah berjanji untuk hidup bersama setelah kita mencapai impian kita masing-masing? kini aku sudah kembali, demi mu dan juga janji kita," ujarnya dengan binar bahagia di matanya.
Hanum menghela napasnya panjang, membenamkan gejolak amarah yang mulai merambah hingga ubun-ubunnya. Senyumnya tertoreh lagi namun kini disertai dengan bunyi gemeratak dari gerahamnya yang mengetat.
Membuat reynand meringis menampakkan deretan giginya.
Pria itu menahan tawanya, merasa lucu dengan kecemburuan istrinya. Namun tak ingin berlama-lama dalam suasana canggung, ia pun segera meraih tangan Hanum dan membawanya dalam genggamannya. Menghadirkan kecupan lembut untuk waktu yang lumayan lama.
Memamerkan kemesraan mereka tepat di hadapan Clara.
Sontak wanita itu membulatkan matanya, seolah terkejut dengan pemandangan intim yang terjadi di depan matanya, "kalian ...."
ucapannya terjeda, bingung harus berucap apa.
"Clara, maafkan aku.
Sebenarnya aku sudah lama menikah. Dan ... wanita ini adalah istriku," ujarnya seraya menunjukkan cincin berlian yang tersemat di jari manis keduanya.
Memamerkannya dengan raut wajah bahagia dan membuat clara semakin menegang setelah mendengarnya.
"Mungkin kau terluka setelah mendengarnya, namun satu hal yang pasti. Perjanjian kita itu sudah berlalu lama, dan aku dulu hanya menganggapnya sebagai cinta semu yang terjadi di masa remaja. Maafkan aku," ujarnya lagi dengan suara datar.
Wanita itu masih memandanginya dengan tatap mata tak percaya, netranya kian memerah menahan segala rasa yang membuncah dalam kepalanya. "Aku pergi, selamat atas pernikahan kalian. Semoga bahagia," ujarnya seraya bangkit dari duduknya. Ia memalingkan wajahnya, bergegas beranjak meninggalkan mantan kekasihnya dengan segala kedukaan yang membebani hatinya.