
Deru suara mobil baru saja terparkir di pelataran rumah mereka.
Hanum yang masih memasang wajah cemberutpun bergegas turun sembari membawa satu kantung belanjaan besar dalam genggaman tangannya. Wanita itu berjalan cepat seolah menghindar dan menjaga jarak dari suaminya. Hatinya masih kesal meski sedari tadi reynand sudah berupaya menjelaskan segalanya mengenai perempuan yang bernama Clara.
Namun egonya sebagai seorang wanita tak bisa begitu saja luluh hanya karena sebuah penjelasan. Sebagai wanita ia juga ingin di rayu, di luluhkan dengan permohonan dan juga kesungguhan.
Ia ingin melihat seberapa besarnya kesungguhan hati reynand dalam mencintainya, seberapa besar keinginannya untuk memiliki dirinya.
Ia begitu penasaran, ingin di puaskan dengan pembuktian, bukan hanya dengan sebuah tutur kata yang bisa saja memiliki arti palsu dalam setiap pengucapannya.
Hanum masih mematung di depan pintu masuk rumahnya.
Ia menghentakkan kakinya berulang, ketika menanti kedatangan reynand yang belum juga muncul dari balik garasi samping rumahnya. Pria itu masih memarkirkan kendaraannya di dalam sana, sedang hanum masih mematung di depan pintu menunggu suaminya untuk membukakan pintu.
Melihat reynand yang sudah berjalan ke arahnya, sontak ia pun langsung memalingkan wajahnya menghadap kearah lain.
Memandangi corak dinding sekaligus menghindari tatap muka dengan sosok suaminya yang malah tersenyum menggoda kearahnya.
Hal itu berhasil membuatnya salah tingkah, antara ingin ikut tertawa atau tetap bungkam dalam kebisuannya.
Hatinya serasa di bolak-balikkan dengan begitu mudahnya tatkala senyum penuh pesona itu terus saja tertoreh di sudut bibir suaminya. Membuat bibirnya pun mau tak mau ikut menyunggingkan gurat bahagia meski tak ia nampakkan sepenuhnya.
Gejolak amarahnya pun perlahan lenyap sering usapan dari jemari reynand yang membelai lembut puncak kepalanya, menghadirkan rasa nyaman yang terasa hangat menyentuh hatinya.
Ia telah luluh, lupa akan segala ambisi mengenai pembuktian sebuah rasa.
Karena nyatanya hanya dengan melihat senyum dan juga perhatian dari suaminya saja, sudah berhasil membuat ia lupa akan segala kecemburuan yang sempat membebani hatinya.
"Udah ngambeknya?" tanya reynand yang masih memandanginya dengan tatap mata teduh. Pria itu berucap lembut penuh dayu, bagai hipnotis yang membuat Hanum seketika menganggukkan kepalanya.
"Kamu cantik, kalau lagi cemburu," imbuhnya lagi yang seketika mendapatkan pukulan lirih di lengannya.
Hanum kembali memanyunkan bibirnya, lalu kemudian berucap lirih dengan sedikit menundukkan wajahnya, "jangan gitu lagi, aku nggak suka."
Reynand mengulas senyumnya lagi, tangannya bergerak cepat mengacak rambut istrinya dengan gemas, "iya,iya. Nggak lagi-lagi deh," ucapnya meyakinkan istrinya.
"Janji," ucapnya seraya mengacungkan jari kelingkingnya. Menanti jemari reynand untuk segera ikut melingkarkan jari kelingkingnya untuk bertautan dengan jemarinya.
"Janji. Sampai kapanpun, walau apapun yang terjadi baik itu di masa lalu atau di masa mendatang. Dalam hidupku hanya akan ada satu wanita yang akan bertahta atas diriku. Yaitu kamu, kamu, hanum istri ku.
Tetaplah di sisiku, percaya padaku dan berjanji setia untuk mengarungi bahtera rumah tangga kita bersama. Jangan pernah berpikir untuk lari, krna sejujurnya aku tidak pernah berniat untuk melepaskan mu dari genggaman ku."
*******
Gemericik suara air yang terjatuh dari langit di kala pagi. Menimbulkan bunyi-bunyian nyaring bagai musik yang menenangkan jiwa.
Menghadirkan suasana syahdu untuk kedua insan muda yang masih belum memiliki seorang malaikat kecil di tengah keluarganya.
Hanum masih lelap dalam tidurnya. Wanita itu masih memejamkan mata hanyut dalam kehangatan dekap tubuh suaminya. Hingga hadirnya rasa mual yang bergolak dari dalam perutnya seolah menariknya paksa untuk membuatnya segera terjaga.
Wanita itu mengerjapkan matanya panik, ia membungkam mulutnya rapat-rapat dan segera berlarian ke dalam kamar mandi.
Menumpahkan seluruh isi perutnya di balik wastafel dan lanjut terbuang hanyut dalam saluran pipa pembuangan.
Hanum masih membilas mulutnya, membersihkan bau tak sedap dari sisa muntahannya.
Nampak wajahnya memerah dengan mata yang sedikit berkaca. Muntahan tadi terasa menyiksa kerongkongannya, menimbulkan rasa panas yang masih tertinggal dan menghadirkan rasa tak nyaman ketika ia mencoba menelan ludahnya sendiri.
"Apa kau baik-baik saja?" pertanyaan bernada khawatir itu seketika membuat Hanum mengalihkan pandangannya ke arah kaca dan mendapati pantulan diri suaminya yang masih berdiri di samping pintu seraya menatap ke arahnya dengan raut wajah khawatir.
"Aku baik-baik saja, hanya mual di pagi hari," jawabnya singkat seeaya menghampiri suaminya. "Aku akan minum obat, dan setelah itu aku pasti akan baik-baik saja," imbuhnya lagi meyakinkan reynand akan kondisinya. Jelas ia tak mau membuat reynand khawatir. Hanya muntah dan itu bukanlah suatu penyakit yang mengancam keselamatannya.
Ia pun tersenyum tipis, mengusap lembut bahu suaminya lalu kemudian beranjak pergi dari hadapan Reynand.
Pria itu hanya bergeming, memandangi sosok istrinya uang telah berlalu itu dengan raut muka penuh kebimbangan.
Mual di pagi hari seolah mengingatkannya dengan satu tanda-tanda, dimana dulu ia juga pernah mendapati kakak iparnya mengalami hal serupa. Dan mungkinkah kali ini benar sesuai dengan dugaannya, bahwa hanum kini tengah berbadan dua?