Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Wanita itu bernama, Dayana.



Cantik, elegan dan juga berwibawa.


Mata yang bulat serta surai panjang warna coklat yang menguarkan aroma wangi ketika hembusan angin dingin sayup-sayup menerpa.


Hanum terkesima ketika ia dipertemukan dengan sosok wanita yang semula sempat asing baginya.


Namun ingatannya kembali tersegarkan ketika wanita itu mulai berbicara kepadanya.


Memang ini adalah kali pertama keduanya bertemu, namun tidak dengan suara yang dimiliki oleh wanita itu. Ia pernah mendengarnya, tapi dimana?


Sempat bergelora, ingin marah dan menghujani wanita itu dengan seribu pertanyaan ketika ia tersadar bahwa suara wanita yang tempo lalu masih nyaring terdengar di telinganya itu ternyata adalah milik wanita yang ada di hadapannya kini.


Namanya, Dayana. Parasnya Cantik dengan warna kulitnya yang seputih susu. Senyumannya menawan dan suaranya yang lembut mengalun dengan merdu itu membuat orang lain tak jengah bila harus mengulur banyak waktu untuk sekedar berbicara panjang lebar.


Meski sebelumnya wanita itu sempat membangkitkan api cemburu yang bersarang dalam hati Hanum, tatkala Dayana menggodanya dengan kalimat nakal di sambungan telepon tempo lalu.


Tapi kini semuanya sudah terselesaikan, ia sudah puas ketika Dayana menjawab semua pertanyaan yang sempat membebani hati dan pikirannya sejak beberapa hari yang lalu itu.


Ah, bila mengingatnya lagi ia merasa sangat malu, apalagi ketika Danill malah menertawakan sifat cemburunya yang tak dapat disembunyikannya itu.


Tidak bisa dipungkiri lagi, ia yang sangat mencintai Danill merasa sedikit terancam dengan hadirnya sosok Dayana di antara mereka. Meskipun sebenarnya wanita itulah yang lebih dulu mengenal Danill daripada dirinya. Bagaimana tidak, wanita yang memiliki karakteristik yang terbilang nyaris sempurna itu membuat napasnya sedikit kembang kempis bila ia diharuskan untuk bersaing dengan semua hal yang dimiliki oleh Dayana, sedangkan ia sendiri tidak memiliki kelebihan apapun yang dapat ia banggakan.


Bagaimana tidak, ia yang seorang wanita saja bisa sampai terkagum-kagum bila melihat sosok, Dayana. Lantas bagaimana dengan mereka para kaum pria? Terlebih lagi dengan, Danill.


Mengembuskan napas lega, kekhawatirannya itu sedikit terpudarkan ketika mengetahui bahwa ternyata Dayana adalah sahabat karib yang sudah dianggap sebagai keluarga sendiri oleh, Danill.


Wanita itu adalah seorang yatim piatu, orangtuanya meninggal dunia bersamaan dengan orangtua Danill. Mereka mengalami kecelakaan tragis seusai perjalanan bisnisnya beberapa tahun silam.


Dan semenjak itu hubungan mereka menjadi lebih dekat, hanya sebatas sahabat dan tidak lebih.


Itulah yang ditekankan Danill kepadanya.


"Iya, aku percaya pada kalian. Maafkan aku, Dayana, aku turut berduka atas kepergian orangtuamu. Yakinlah bahwa mereka sudah bahagia di atas sana ketika melihat putri kesayangan mereka sudah tumbuh besar dan memiliki paras secantik dirimu," ucapnya menyemangati.


Tersenyum lembut, wanita itu mengucapkan terima kasih kepada Hanum.


"Ah iya, aku dengar kalian akan segera melangsungkan pernikahan? Apakah itu benar?" tanyanya seraya menyikut lirih lengan Hanum.


"K-kata si-siapa?" Hanum tergagap dan malah balik bertanya, pipinya merona, sedang wajahnya berpaling memerhatikan Danill.


Pria itu malah mengerlingkan sebelah matanya seolah tak tau apa-apa.


Tertawa lirih, Dayana merentangkan kedua tangannya lalu kemudian memeluk Hanum dengan lembut.


"Kalau bisa, menikahlah di sini (Rusia) saja. Aku akan sangat senang jika kalian menikah di sini, atau bahkan menetap di tempat ini. Sungguh, aku selalu mendoakan agar kalian selalu bahagia dan kalian akan selalu baik-baik saja," ujarnya penuh harap.


Mengusap lembut punggung tangan Dayana, Hanum tersenyum penuh arti.


"Terima kasih, Dayana. Kami pun selalu berharap seperti apa yang kau harapkan. Hidup bahagia dan selalu bersama hingga nanti maut memisahkan. Bukankah begitu, Sayang?" Hanum menolehkan wajahnya, menatap pria yang kini juga sedang memandanginya dengan binar berkaca-kaca.


"Tetu saja, kita akan selalu bersama. Bahkan sampai suatu saat nanti ketika aku sudah berada di nirwana pun, aku akan tetap mencintaimu, Hanum."


...----------------...


Menopangkan kepalanya di atas meja, Hanum hanya terduduk di kursi pantry tanpa bisa berbuat apapun.


Pria itu, Danill sengaja menyuruhnya untuk tetap berdiam diri di tempatnya.


Sedangkan Danill, pria itu nampak santai menyiapkan sarapan pagi yang akan mereka nikmati nantinya.


Hanya bisa mengamati sosok pria yang berdiri di hadapannya itu dengan malas, meski sebelumnya ia sempat beranjak dan hendak membantu, namun niat itu segera ia urungkan kembali ketika Danill malah mendorong tubuhnya untuk menjauh dari sisinya.


Memandang dan mengamati, Hanum hanya memfokuskan penglihatannya pada tubuh Danill yang terlihat lebih kurus daripada biasanya.


Mungkinkan sakitnya yang kemarin itu sampai membuat berat badannya turun sedrastis itu?


Bahkan tubuhnya tak lagi terlihat tegap seperti sebelumnya.


"Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya seraya memeluk pinggang Danill dari belakang.


Pria itu tertegun untuk sejenak, ia tersenyum lalu mengusap lembut jemari kekasihnya itu dengan penuh perhatian.


"Jika kau masih melihatku berdiri di sini dan melakukan kegiatan seperti sekarang, itu berarti aku masih baik-baik saja, Sayang.


Lagipula jangan terlalu khawatir, aku tidak apa-apa," ujarnya perlahan sembari melepaskan pelukan Hanum dari tubuhnya.


"Sekarang naiklah ke lantai atas dan segeralah panggil Ivana kemari, kita sarapan bersama," imbuhnya lagi.


Mendengus lirih, ia beringsut menjauh dari pria itu dengan ekspresi kesal.


Kakinya menghentak ringan sedang bibirnya meracau lirih.


"Hai, Sayang! Aku tidak suka dengan pria yang bertubuh kurus! Jika kau tidak segera mengembalikan posturmu seperti sebelumnya, maka jangan salahkan aku jika kelak aku mencari pria lain yang berbadan tegap dan tak kalah tampan dari dirimu!" teriaknya dari lantai atas seraya melongokkan kepalanya.


Danill hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, terheran kenapa ia bisa sampai jatuh cinta pada wanita yang menyebalkan seperti Hanum.


"Jangan berisik! Biarpun tubuhku ini sedikit kurus tapi bagian tubuhku yang lain tetaplah sama seperti sebelumnya! Kau tidak mungkin melupakannya kan, ha?!" Danill mengerlingkan sebelah matanya, ia tersenyum puas ketika melihat Hanum yang salah tingkah ketika mendengar kata-kata nakalnya.


"Dasar, menyebalkan!"