Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Asa.



Dalam renung sepi gelap malam yang hanya di temani dengan temaramnya cahaya rembulan.


Seorang insan yang di gayuti nestapa tengah merunduk dalam kebisuan.


Memendam segalanya dalam relung jiwa terdalam.


Hatinya sakit, tergores sembilu akan kenyataan perih yang terus menghujam jiwa terdalamnya.


Danill menghabiskan malamnya tanpa lelap.


Ia memilih untuk menyelesaikan pekerjaannya dan berupaya untuk tetap terjaga hingga pagi menjelang.


Sesekali ia kembali menerawang, mengingat lagi akan betapa hangatnya rengkuhan yang sempat ia jalin dengan wanita pujaannya. Begitu nyaman dan menenangkan.


Ingin rasanya ia berlama-lama hanyut dalam rengkuh buai asmara, menjalin kebersamaan dan menghabiskan banyak waktu dengan wanita pujaannya itu.


Namun sepertinya itu hanyalah sebuah khayalan semu yang tak kan pernah terwujud dalam kehidupan nyatanya.


Hanya ia, seorang diri. Memendam segala rasa yang jelas tak kan pernah bersambut dengan rasa yang sama.


*********


Gelapnya malam perlahan mulai meredup seiring bergantinya bulan menjadi matahari. Pagi telah menjelang, dan danill masih tetap terjaga bersandar pada kursi kerjanya.


Sejak semalam pria itu duduk disana, memandangi cahaya bulan setelah menyelesaikan segala pekerjaannya.


Ia pun bergegas bangkit dan segera menyegarkan diri, bersiap untuk mengejutkan hanum yang mungkin saja kini masih lelap dalam tidurnya.


Mengenakan kaus polos warna hitam yang di padu padankan dengan celana drawstring kecoklatan, danill tetap terlihat memesona dengan tampilan gaya santai.


Pria itu sengaja membiarkan rambutnya terlihat berantakan, tanpa sentuhan sisir yang malah membuat penampilannya kian maskulin condong pada kesan pria panas.


Ia berjalan santai menuju kamar hanum.


Mengetuk pintunya perlahan sebelum akhirnya ia pun masuk sembari membawakan satu nampan penuh berisi sarapan pagi lengkap dengan susu coklat hangat sebagai pelengkap gizi.


Di letakkannya nampan itu di meja nakas secara perlahan, lalu kemudian ia duduk tepat di samping wanita yang masih memejamkan matanya itu.


Paras cantik itu seolah menghipnotisnya, membuat danill terus mengunci pandangannya dan terlena dalam buai lamunan. Ia memandangi hanum dengan binar puja, tak rela melewatkan sedetik pun waktu yang berlalu untuk mencoba berpaling, selagi hanum masih lelap dan tak menyadari keberadaannya.


Namun pastilah itu tak akan terjadi, karena walau sebesar apapun pengorbanan yang telah di lakukan danill terhadap hanum, maka pastilah tak akan mengubah apapun mengenai hubungan mereka.


Selamanya pasti hanya akan berjarak, terhalau oleh satu perasaan dan kepemilikan.


Lewat sentuh jemari tangan, membelai halus mengusik ketenangan.


Danill tak lagi mampu untuk menahan hasrat kerinduan.


Ia ingin memeluk, merengkuh dan memiliki Hanum hanya untuk seorang diri.


Tak rela berbagi meski nyatanya telah terbagi.


"Bolehkah jika aku meminta satu permintaan?" tanyanya lirih setengah berbisik di telinga wanita pujaannya itu. "Tinggallah di sisiku, jadi istri ku dan lahirkan putra putri untuk ku.


Aku akan sangat bersyukur jika kau berkenan untuk berpaling dan memilihku. Akan ku pastikan bahwa kau akan menjadi satu-satunya wanita yang ada dalam hidup ku, menjamin kebahagiaan mu dan menghilangkan segala resahmu," ucapnya lagi dengan nada lirih.


Lalu kemudian dengan hati-hati ia menundukkan kepalanya, terkesan lirih untuk menghadirkan kecupan lembut di kening wanita pujaannya itu.


Akan tetapi tak seperti yang ia perkirakan sebelumnya, kecupan manisnya itu malah membuat hanum terjaga. Wanita itu terkesiap seolah syok dengan keberadaan danill di dalam kamarnya.


Sontak ia pun memundurkan tubuhnya, menjaga jarak seraya memegangi perutnya.


"A-apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya penuh curiga.


Danill hanya mengedikkan bahunya acuh, lalu kemudian beranjak dari duduknya, "aku hanya berniat untuk membawakan mu sarapan, namun siapa sangka jika kau malah terbangun dan langsung menatapku dengan sorot mata yang dipenuhi oleh prasangka seperti itu."


Hanum tertegun dan seketika pun ia bungkam.


Kekhawatirannya akan suatu hal membuat ia selalu bersikap waspada jika sudah disangkutkan dengan pria di hadapannya itu.


Namun sepertinya kali ini ia sedikit keterlaluan, langsung curiga dan memperlihatkan ekspresi tak sukanya pada pria yang sebenarnya memiliki niat baik terhadapnya.


"Maaf atas kecurigaan ku yang berlebihan terhadapmu,danill. Tapi kau tau betul kenapa aku selalu bersikap seperti ini terhadap mu bukan? Kejadian yang kau lakukan padaku tempo lalu sesungguhnya tak akan mampu menghapuskan satu kesalahan mu meski kau telah mencurahkan segala kebaikan dan perhatian mu kepadaku. Sungguh, itu tak akan mampu meluluhkan hati ku, apalagi berpikir untuk menerimamu.


Jadi ... maaf, sebaiknya buang segala harapmu terhadap ku, karna sesungguhnya seluruh perangaimu kini tak akan berarti apa-apa bagiku."