
Masih dengan suasana yang sama, dimana sesak masih menghimpit relung dadanya dan air mata membanjir dari kedua matanya.
Hanum masih sesenggukan, sedang jemarinya berusaha membungkam mulutnya sendiri agar suara isaknya tak begitu terdengar dengan jelas dan sampai membangunkan putrinya yang masih lelap dalam mimpi indahnya itu.
Berusaha mengatur napasnya yang masih tak beraturan, Hanum menyeka lagi air matanya yang tak kunjung berhenti sejak tadi.
Rasanya sakit, dan ia tak mampu menguraikan apa yang ada dalam hatinya hanya dengan bait kata sederhana hingga menjadi sebuah cerita singkat yang mampu dimengerti oleh manusia lainnya.
Karena hanya ia yang mengalaminya disini, hanya ia yang tahu rasanya terkhianati dan melangkah pergi disaat hati masih terkunci pada jalinan romansa lama.
Berat, teramat berat hingga ia harus memilih langkah yang tak seharusnya berlaku pada jalan cerita hidupnya.
Memilih pergi dan berlindung dibawah naungan pria yang teramat mencintai dirinya.
Namun, kini perlahan sesal seolah kembali mengusiknya.
Membuat ia ingin kembali ke masa lampau, dimana ia bisa hidup bersama dengan suaminya.
Ya, ia terpikir untuk kembali kesana.
Meniti keluarga bahagia lagi, dengan seorang pria yang telah memiliki keseluruhan dari jiwa dan raganya.
Tapi apakah itu mungkin? lantas bagaimana jika kebenarannya itu ternyata sama seperti yang dituturkan oleh Danill tadi?
Hanum memijat pelipisnya perlahan, membayangkan hal itu membuat kepala dan hatinya berdenyut nyeri.
Jika benar adanya seperti itu, lantas bagaimana nanti ia harus bersikap tatkala Tuhan mempertemukan mereka di waktu yang tak terduga?
Lama terhanyut dalam angan semu yang terus saja membawanya pada kenangan lama, ia menikmatinya sekaligus sendu ketika mengingat hal yang terjadi pada tempo lalu.
"Hah," helanya pasrah, seraya mengembuskan napas lirih.
Reynand telah menjadi bagian dari hidupnya.
Ia bisa hidup tanpa pria itu namun ia tidak bisa menjalin cinta dengan pria lain selain daripada Reynand. Cintanya hanya tercipta untuk pria itu, dan tidak akan mungkin terjalin dengan pria lain.
Meskipun ia telah berupaya membuka hati dan pikirannya lebar-lebar untuk menerima danill sebagai pengganti suaminya, namun hal itu tak juga berhasil pada dirinya.
Satu tahun lebih menghabiskan hidup berdampingan dengan Danill, tak membuat hatinya tergerak apalagi sampai memiliki perasaan terhadap pria asing itu.
Hanya sebagai sahabat, sandaran, dan juga ayah untuk buah hatinya.
Tak lebih dari itu, apalagi sampai berpikiran untuk menjalin pernikahan dan memiliki momongan lagi.
"Nggak, itu nggak akan mungkin terjadi," batinnya dalam hati, dengan seulas senyum pahit yang terpatri di sudut bibirnya.
Membisu dalam keheningan, lalu kemudian ia dikejutkan dengan suara ketukan pada kaca mobilnya.
Ada Danill yang sudah berdiri disana dengan wajah lesu.
Binar matanya tak lagi bersemangat dan tiada gurat senyum yang terpatri di wajah tirus itu.
"Apa kau bisa membuka pintunya?" tanyanya disertai dengan insyarat tangan.
Hanum menghela napasnya lagi, ia memang sengaja mengunci pintu mobilnya dari dalam.
Agar ia bisa menuntaskan segala sesaknya seorang diri tanpa terlihat oleh pria itu.
Dan danillpun cukup tau diri untuk tidak merangsek masuk dalam kekalutan yang dirasakan oleh wanita pujaannya itu.
"Bisakah jika kita bicarakan lagi? maaf, aku terlampau emosi hingga ...." Danill menghentikan ucapannya, senyumnya berubah masam tatkala Hanum mengintruksikan padanya untuk tidak lagi berbicara.
Wanita itu segera beranjak turun, menghampiri putrinya yang baru saja terbangun dari tidurnya. Dengan kelembutan ia segera meraup Ivana dan menimangnya sebelum tangis gadis itu pecah dan menjadikan suasana kian memburuk.
"Kita bisa bicarakan itu lain kali Danill, maaf atas segalanya. Karena kau tau betul apa alasanku tetap bertahan disini, dan apa arti dirimu dalam hati ku.
Kita masih bisa bersahabat, dan kau bisa mencari wanita lain yang bisa kau jadikan sebagai istri serta tambatan hatimu, dan tentunya itu bukanlah, aku," imbuhnya.
Hanum menghela napasnya lagi, "tidak bisakah jika kita hidup seperti sebelumnya? dimana hanya Ivana yang menjadi prioritas dan bukan hal lainnya?" tanya Hanum dengan ekspresi lelahnya.
Danill tergugu, "seperti itukan perasaan mu padaku? seperti itukah peranan ku selama ini, hanya sebagai ayah **I**vana dan mengenai perasaan ku ini tidaklah penting, begitukah?" Ragam pertanyaan itu terus berpendar dalam pikirannya.
Ada sakit yang seolah menghujam relung dadanya dan membuat matanya berkaca-kaca.
Ia terlalu lemah dalam pengendalian rasa, terlebih lagi ia yang selalu memuja wanita itu melebihi segalanya.
Rasanya seperti ada banyak serpihan kaca yang menusuk telapak kakinya,
Demi wanita pujaannya dan juga Ivana. Hanya demi keduanya.
Berusaha mengenyampingkan soal rasa dan ego masing-masing. Hanum dan Danill berupaya sebaik mungkin untuk menyenangkan hati putrinya.
Dimana mereka harus berpura-pura menjadi pasangan mommy dan daddy yang teramat bahagia ditengah kekalutan hati yang menyiksa.
Ini kali pertama, dimana Danill dan Hanum merasa berat tatkala memainkan drama keluarga.
Dimana mereka yang biasanya baik-baik saja kini menjadi sedikit berjarak karena sebait kata-kata.
...----------------...
Lelah bermain di area pantai, dan juga hari yang kian sore membuat mereka menyudahi permainan itu.
Tak hanya fisiknya yang lelah, Danill dan Hanum juga merasa rikuh dengan keadaan yang memaksa mereka untuk terus berdekatan seperti itu.
Jika saja saat ini suasana hati mereka masih seperti sebelumnya, mungkin bermain hingga malam bersama Ivana pun tak menjadi satu penghalang bagi mereka untuk berdekatan --- seperti biasanya.
"Apa kau lapar, Sayang?" tanyanya pada Ivana, seraya sesekali melirik kepada Hanum.
Mau bagaimanapun hatinya tak akan bisa menjadi sekeras batu jika di hadapkan dengan wanita itu. Apalagi sampai acuh tak acuh --- ia tak akan bisa.
Menepikan kendaraannya pada salah satu pusat perbelanjaan, Danill segera beranjak dan membawa Ivana dalam gendongannya.
"Apa kau mau ice cream, Sayang?" tanyanya dengan nada menggoda.
Gadis mungil itu tertawa-tawa seraya menganggukkan kepalanya. Senyumnya yang manis serta dua gigi susunya yang kelihatan itu membuat suasan hati Danill sedikit terhibur.
"Kau bisa makan semuanya, Sayang," ujarnya lagi seraya menggandeng tangan Hanum.
Wanita itu hanya diam, tanpa perlawanan kembali menjalankan peranan keluarga bahagia dimuka umum. "Demi ivana," batinnya.
Berhenti disalah satu restoran yang menyediakan ragam menu makanan Jepang.
Pria itu memilih makanan Jepang, karena ia tahu betul bahwa wanita pujaannya itu amat menyukai jenis makanan yang salah satunya berbahan dasar ikan mentah itu.
Dan benar saja, ada senyum tipis yang tertoreh di bibir wanita itu. Meski tak ditunjukkan secara terang-terangan kepadanya, tapi itu sudah cukup membuat hatinya lega.
"Aku ke toilet sebentar ya," ijin Hanum yang hanya di angguki oleh Danill.
Wanita itu beranjak dari duduknya lalu kemudian bergegas menuju toilet wanita.
Rambut yang masih terurai panjang, dan juga balutan dress hitam selutut dengan corak garis putih di bagian bawahnya itu kian membuat penampilannya modis dan selalu terlihat muda.
Ia tersenyum tipis tatkala melihat pantulan dirinya sendiri melalui cermin. Sosoknya yang ayu dan juga memesona itu masih saja terlihat menawan.
"Aku masih cantik, sangat cantik jika harus dibandingkan dengan wanita itu," batinnya dalam hati seraya membelai wajah cantiknya. Tak tertinggal juga seringainya yang jelas memancar kebencian di sudut matanya.
Asik mengagumi paras ayunya sendiri, hingga ia lupa bahwa saat ini ia masih berada di toilet umum.
Untunglah hanya ada ia sendiri di tempat itu.
Hingga pada saat ia hendak keluar dari sana, disaat yang sama dikala ia membuka pintu toilet tersebut ada seorang wanita sebaya dengannya yang juga masuk kedalam.
Wajahnya terlihat tidak asing, dan Hanum yakin ia pernah bertemu dengan perempuan itu --- tapi dimana?
Memilih untuk kembali menutup pintu, dan berdiri lagi di depan kaca seraya berpura merapikan riasannya --- lagi.
Ia mencuri-curi pandang melalui cermin yang ada di hadapannya. Menelisik siapa gerangan yang kini ada di sampingnya itu.
"Mbak, Hanum," panggilnya, yang seketika membuat Hanum tertegun dan juga memalingkan wajahnya.
Panggilan itu mengingatkannya pada seseorang yang telah menghancurkan biduk rumah tangganya.
"Ka-kau," ucapnya dengan nada bergetar. Mimik mukanya berubah merah, menahan kecamuk rasa yang tiba-tiba ingin meledak dalam dadanya.
"Ah, sepertinya takdir memang sengaja mempertemukan kita disaat yang semestinya," cibirnya lagi dengan setengah mencela.
...****************...
...Maafin author kalau up nya lamaaaaaaa bgt ya kakak readers 😌 "Udahlah up nya lama, alurnya lambat pula," ye kan 🤣....
Tapi terimakasih banyak untuk para readers aku yang masih setia hadir, menyimak dan kasih like koment di sini.
I love you 😍