
Seiring waktu yang berjalan cepat. Bagai detik jam yang telah berubah menjadi banyak hitungan menit.
Kebersamaan Reynand dan Hanum kian terjalin dan semakin mesra. Keduanya bak pasangan muda yang terus mengisi hari-hari mereka dengan cinta dan juga romansa.
Entah itu melalui kebersamaan yang nyata atau hanya melalui layar ponsel yang terus menyala dengan notifikasi serupa.
Seperti halnya sore ini. Tatkala keduanya sudah lepas dari kesibukan yang mendera. Mereka memilih menghabiskan waktunya untuk duduk bersama menikmati pemandangan langit senja di rooftop lantai dua rumah mereka. Duduk santai bersandar di atas kursi minimalis dengan tubuh Hanum yang bertumpu di atas pangkuannya.
Mereka menikmati setiap momen yang ada, menikmati kebersamaan yang terbilang biasa dengan melihat semburat cahaya jingga yang perlahan hilang tenggelam di ujung barat sana.
Reynand masih memfokuskan pandangannya pada langit yang berangsur berubah menjadi gelap. Sesekali sorot matanya beralih memandangi sosok wanita yang berada dalam pangkuannya. Hanum terlihat tenang seraya merebahkan kepalanya bersandar di dada suaminya. Memainkan bulatan kancing yang tersemat rapi di atas kemeja putih itu dan membuat kilasan senyum yang mau tak mau terukir jua disudut bibir Reynand. Pria itu mengulurkan tangannya perlahan, lalu kemudian merengkuhkannya di bagian perut istrinya. "Apa kau lelah?" tanyanya lembut seraya menghadirkan kecupan sayang di kening Hanum.
Wanita itu hanya menggeleng, sedangkan ia tetap menyandarkan kepalanya di tempat semula. "Ada apa?" tanyanya kembali namun tanpa mendongakkan kepalanya.
Reynand memalingkan wajahnya menatap ke arah langit, sedang jemarinya membelai lengan terbuka milik sang istri. "Malam ini ada jamuan makan malam dari salah satu kolega bisnis ku. Ekhm ... jika kau berkenan, maukah kau menemaniku untuk berkunjung kesana?" Reynand berucap dengan nada permohonan.
Membuat istrinya itu mendongakkan kepalanya dan menatapnya dengan gurat tak percaya.
"Tentu saja aku ikut, Rey! Kau suamiku, mana mungkin aku akan membiarkanmu pergi sendirian dan membiarkan wanita lain menggoda mu di sana?" candanya diiringi tawa. Lalu kemudian bersambut dengan kecupan hangat yang mendarat di keningnya.
Reynand memeluknya dengan sayang, merengkuhnya sedikit erat dan membenamkan wajah istrinya itu dalam pelukannya.
...----------------...
Dijamuan makan malam.
Kedua pasangan itu baru saja tiba ditempat perjamuan. Di balut dengan brokat berwarna coklat yang dikombinasikan dengan batik bunga warna hitam, terjahit rapi menjadi sebuah gaun indah nan cantik. Begitu sepadan dengan warna kulit putih yang di miliki oleh Hanum. Wanita itu terlihat anggun dan memesona setiap mata. Sangat serasi dengan sang suami yang terlihat tampan dengan jas motif kotak-kotak beserta dasi kupu-kupu yang tersemat rapi dilehernya.
Mereka berjalan beriringan, saling bergandengan tangan lalu kemudian memberikan ucapan selamat kepada kolega bisnisnya atas usaha yang baru saja berhasil mereka rintis.
Ia menikmati hidangannya secara perlahan, sesekali ia juga meneguk minuman yang dirasa menggoda seleranya.
Ia menikmatinya cukup lama hingga kenyamanannya tiba-tiba lenyap seketika tatkala melihat pria bermata biru yang telah merenggut kesuciannya itu hadir ditempat yang sama dengannya. Dialah Pria yang hanya memandangnya remeh, menganggapnya sebagai wanita yang hanya menuntut sebuah tanggung jawab dari seorang pria.
Ia segera menepi, sebisa mungkin menutupi wajahnya agar tak terlihat oleh pria berkebangsaan Rusia itu. Langkahnya sedikit terburu-buru, lalu tanpa sengaja malah bersenggolan dengan tamu lain yang merangseknya ke sisi tak terduga.
"Maaf," ucapnya seraya hendak kembali melangkah. Namun jemarinya tertahan oleh sesuatu, membuat ia mau tak mau terpaksa mendongakkan kepalanya dan menatap penuh keterkejutan sosok pria yang berdiri di hadapannya.
"Selamat malam, Nona! Kita bertemu lagi." Daniil berucap dengan keterkejutan yang terdengar dibuat-buat. Sedang senyum sumringah tergambar jelas di raut wajahnya.
"Lepaskan tanganmu dariku!" Hanum berupaya berontak untuk lepas dari Pria Rusia itu. Hentakan tangannya yang kasar berhasil membuat cekalan di tangannya lepas dari genggam jemari Danill. "Minggir!" ucapnya lagi seraya melangkah pergi dari hadapan pria itu.
"Bukankah ini suatu kebetulan, nona Hanum?" tanyanya seraya memalingkan wajahnya perlahan, menatap dengan seringai kebanggaan yang terpatri di wajah Danill. Pria itu memutar tubuhnya lalu menghampiri Hanum yang sudah berjarak beberapa langkah darinya, "Harusnya kita mengadakan reuni antar kekasih," bisiknya lirih menggoda di telinga Hanum.
Wanita itu memalingkan wajahnya segera, bibirnya berdecih kesal mengumpati sikap terlalu percaya diri dari pria di hadapannya ini. "Bisakah kau menyingkir dariku, tuan Danill? kau menghalangi jalanku."
Danill hanya menyunggingkan senyum miringnya, lalu kemudian sedikit memundurkan langkahnya memberikan akses jalan untuk Hanum lalui. "Kurasa kita memang ditakdirkan untuk berjodoh, Nona" ucapnya terdengar sedikit lebih keras dari sebelumnya. "Kau dan aku, mungkin bisa menjadi kita dibeberapa waktu kemudian."
Hanum bergeming walau secara nyata ia mendengar semuanya, namun ia tak berpikir untuk menganggap ucapan dari pria itu sebagai sebuah keseriusan. Ia memilih untuk menatap kedepan seraya melangkahkan kakinya kembali ke sisi Reynand. "Aku lelah, Bisakah jika kita pulang sekarang?" rengeknya manja seraya mengeratkan rengkuhan jemarinya dilengan sang suami.
Reynand mengatupkan kedua bibirnya sesaat, lalu kemudian memalingkan wajahnya kearah sang istri yang terlihat lelah menyandarkan kepalanya di lengannya. "Apa kau baik-baik saja, Sayang?" tanyanya lembut seraya menyapukan jemarinya ke puncak kepala sang istri.
"Aku hanya sedikit pusing," jawabnya jujur. Ia memang merasa sedikit pusing, lebih lagi setelah ia bertemu dengan pria Rusia itu. Kepalanya terasa sedikit berkunang, inginnya saat ini hanyalah istirahat dan berbaring di ranjang yang nyaman tanpa gangguan. "Bisakah kita pulang sekarang," pintanya lagi dengan lemah lembut.
Reynand menganggukkan kepalanya kilas, lalu kemudian ia undur diri secara hormat kepada koleganya karna ia tak bisa berlama-lama ikut meresmikan acara sang sahabat.
Dengan sayang ia menuntun tubuh Hanum untuk keluar dari kerumunan para tamu. Sempat beberapa kali bersenggolan dengan yang lain dan hal itu kian membuat Istrinya itu terhuyung-huyung menahan rasa pusing di sertai sakit yang mendera kepalanya.
"Kamu nggak apa-apa kan, sayang? apa kita mampir ke rumah sakit aja dulu, aku khawatir sama kamu," tutur Reynand kian mengeratkan rengkuhannya.
Hanum hanya menggeleng lemah, "Kita pulang aja, Rey! aku cuma pengen tidur." Hanum berucap lirih. Tanpa berlama-lama menunggu, Reynand yang sudah khawatir memilih untuk menggendong Hanum dalam dekapannya. Melebarkan langkahnya untuk keluar dari kerumunan orang-orang yang menghimpit pergerakannya. "Sabar ya sayang, sebentar lagi kita akan segera sampai di rumah," ucapnya seraya mengecup kilas puncak kepala sang istri.