Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Rengkuh Asmara.



Sebait kata pedih itu terdengar menghujam kedalam jantungnya. Menyayat seluruh rasa cinta dan juga kasih yang masih kukuh bertahta dalam jiwa.


Segenap perjuangan ia mencoba berdamai dengan keadaan, menepikan ironi dan juga kenyataan pahit yang terus menghantuinya bagai teror tak berkesudahan.


Reynand bergeming, ia kembali merengkuhkan tangannya dan menghadirkan pelukan hangat pada tubuh istrinya.


Mendekapnya penuh kemesraan dan menyalurkan seluruh perasaan yang semula sempat ia coba untuk asingkan.


Akan tetapi, pertahanannya kini runtuhlah sudah. Ia lelah bersembunyi, bermain dalam


bayangan semu dan menampakkan sisi dirinya yang lain.


Ia kepayahan tatkala mencoba untuk mengarungi bahtera rumah tangganya dengan segala kepalsuan.


Ia tersiksa, merintih dalam keheningan tatkala jiwanya meronta ingin mendekap serta mencurahkan kasihnya untuk istri tercintanya.


Hanya bermain dalam bayang-bayang kepalsuan,datang dan pergi di saat yang sudah ia tentukan.


Lelah bersandiwara dengan segala drama, pernah mencoba acuh padahal hasratnya sangat ingin merengkuh, membuai dan berpadu kasih dengan segala kehangatan.


Kini semua sirnalah sudah, Reynand telah menyerah. Menyerah dalam keangkuhan dan melunakkan hatinya untuk melupakan segala kepedihan yang pernah berlaku dalam biduk rumah tangganya.


Walaupun kenyataannya tak mungkin untuk menghapuskan segala jejak yang pernah terlukis, tapi ia masih bisa menyamarkan bekas jejak itu dengan jejak baru yang di torehkan olehnya.


Termenung dalam kebisuan.


Kedua pasangan yang sama-sama hanyut dalam bahtera nestapa itu masih bergeming dalam keheningan.


Menunggu satu di antara yang lain untuk berucap sepatah kata lalu kemudian memecah keheningan.


"Aku minta maaf," keduanya berucap bersamaan setelah sekian lama terdiam.


Reynand dengan segala kelembutannya membalikkan tubuh istrinya untuk menghadap ke arahnya.


Keduanya saling bertukar pandang dan saling tersipu menahan malu.


Dua bulan berlalu dengan keheningan yang membelenggu, kini tercurahlah sudah segala rasa yang sempat tertahan dalam kalbu.


Menyisihkan segala rindu dan mencurahkan seluruh kasih dalam rengkuh asmara yang kembali terjadi di antara keduanya.


"Aku minta maaf, Rey," ucap hanum dengan nada lembut. Wanita itu sadar diri bahwasanya ia ikut andil dalam segala permasalahan yang terjadi dalam biduk rumah tangganya.


Reynand menjawabnya dengan gelengan kepala, lalu di usapnya perlahan puncak kepala istrinya dengan sayang, "maafkan aku juga. Aku terlampau egois untuk menepikan keberadaan mu dari sisiku.


Menitikkan bulir air mata di pipimu dan mengacuhkan mu dalam kesendirian." Reynand menuturkan kejujurannya dengan untaian kata manis.


Hanum hanya bisa mengangguk anggukan kepalanya, netranya berkaca-kaca di penuhi dengan keharuan.


Ia merentangkan lengannya dan menghadirkan kembali rengkuh asmara kepada suaminya.


Mencurahkan segenap kerinduan yang ia damba terhadap sang kekasih hati.


"Jangan lagi, jangan acuhkan aku lagi, Rey!" ucap hanum seraya tersedu dalam tangis haru. "Jangan salah sangka terhadapku. Tanyakan apapun kepadaku, mengenai segala keraguan dan prasangkmu. Agar semuanya jelas dan tak menimbulkan dampak seperti ini dalam hubungan kita," ujarnya lagi seraya menatap lekat pada bola mata suaminya.


Reynand mengagguk kepalanya, tatapannya melembut lalu kemudian ia menghadirkan kecupan mesra di kening istrinya.


Dikecupnya cukup lama hingga rasanya kemesraan itu akan berlanjut kemudian ke adegan mesra lainnya, jika saja tidak ada ketukan pintu yang membuat keduanya tersadar dari hasrat yang perlahan mulai membelenggu.


Hanum berdecih lirih, lalu berpaling dengan kekesalan.


Ia menghela napasnya panjang dan kemudian memandang ke arah pintu. Terdengar suara ketukan yang terus saja beralun dari benda kayu itu.


"Apakah dia di takdirkan untuk mengganggu kedamaian kita?" Hanum bertanya dengan nada kesal yang tak dapat ia sembunyikan.


Reynand hanya mengedikkan bahunya seolah tak tahu dengan apa yang baru saja berlaku. Namun sunggingngan senyumnya membuat hanum hanya bisa menghela napas dan kemudian membawa langkahnya untuk membukakan pintu.


"Ada apa?" tanyanya tegas tanpa berbasa-basi lagi. Raut wajahnya muram, tanpa senyum cantik yang tertoreh di bibirnya.


Wanita asing itu sejenak bungkam, seolah sedang berpikir untuk jadi atau tidaknya ia menyampaikan sesuatu yang semula hendak ia katakan.


Sedangkan hanum masih mematung dengan kesabaran yang perlahan mulai menghilang, "apa kau akan diam disitu sampai matahari tenggelam?" ucapannya lagi memecah keheningan.


Wanita itu tergeragap, "bi-bisakak saya bertemu dengan suami anda?" tanyanya terbata seraya menundukkan pandangannya.


Takut-takut jikalau hanum akan meradang dan kembali naik pitam terhadapnya.


Mendengar hal itu membuat hanum seketika memejamkan matanya, menarik napasnya panjang lalu kemudian mengembuskannya secara perlahan. Ia berupaya untuk mengontrol emosinya agar tidak meledak seketika. "Bisakah jika kau tidak menggangu waktu ku dengan suamiku sebentar saja? bukankah kau bisa bicara dengannya nanti, ketika dia sedang tidak berada di wilayah pribadi kami? Pergi dan enyahlah dari hadapanku!" ucapannya menohok dengan nada sinis yang sengaja ia tekankan pada setiap pengucapannya.


Wanita itu mengagguk paham, lalu kemudian mengucap kata maaf sebelum akhirnya ia pergi dari hadapan hanum.


Assalamualaikum, teman-teman readers ☺️


Author mohon dukungannya ya, untuk berkenan memberikan Rate bintang lima 🌟🌟🌟🌟🌟 terhadap karya ini. Dan jangan lupa pula like, komen di setiap babnya. Partisipasi kalian sangat mendukung author dalam menulis.


Terimakasih sebelumnya dan selamat membaca ☺️☺️