Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Menutup Telinga



Masih terhanyut dalam isak tangisan, berusaha menghentikan laju air mata dan menahan sengguknya agar tak lagi bersuara.


Namun rasa yang berkecamuk dalam dadanya tak kunjung menghilang, hingga bunyi dentam pintu yang tertutup terdengar menggema dan mengejutkannya.


Hanum terkesiap seketika, lalu kemudian dengan segera menghapus bulir air matanya hingga tinggalah sembab saja yang tak bisa di hilangkannya.


Suara langkah kaki yang terdengar berderap seolah kian merapat ke arahnya, ia segera berdiri seraya memalingkan muka. Jantungnya berdegup cepat seolah tak siap menghadapi kemarahan suaminya yang mungkin akan segera sampai kepadanya.


Pria itu mungkin sudah kehabisan kata-kata, atau bahkan mungkin sudah kehabisan kesabaran kali ini.


Apalagi setelah melihat ekspresi wajahnya yang terlihat muram dengan gurat amarah yang terpancar jelas dari kedua bola mata tajam itu, membuat ia kian yakin bahwasanya memang tiadalah lagi sisa kesabaran yang dimiliki oleh sosok suaminya.


Tertunduk dalam kebisuan, hingga akhirnya derap langkah itu terdengar kian merapat kearahnya. Terdengar pula suaminya itu memanggil namanya, menyuruhnya untuk berpaling dan menatap mimik wajahnya.


Hanum terkesiap, namun ia tak menggerakkan tubuhnya. Tetap mematung di tempat tak juga bergerak untuk memalingkan wajahnya, "biarlah seperti ini, aku akan tetap membelakangi mu hingga kau bisa memahami penjelasan ku, Rey," ucap hanum lirih.


Wanita itu masih berusaha untuk tidak menangis lagi ketika mulai mengucapkan kalimat penjelasan kepada suaminya.


Tetapi hatinya yang rapuh membuat bulir-bulir air matanya kembali berjatuhan diiringi dengan sengguk yang membuat suaranya kian tersengal-sengal.


"Entah kau mau percaya atau tidak, tidak ada yang terjadi di antara kami berdua, Rey. Aku berani bersumpah bahwa kami tidak melakukan apapun. Tolong ... singkirkan prasangka mu dan jangan menatapku dengan sorot mata di penuhi kebencian seperti itu," ucapnya terdengar menyedihkan.


Reynand bergeming, ia tak peduli dengan sebuah alasan. Ia menutup telinganya akan sebuah tutur kata yang mengarah pada penjelasan yang tak berarti. Sebuah penjelasan yang hanya melemahkan hatinya, membuat ia seperti tak ada harga diri di hadapan hanum dan juga pria Rusia itu.


Harga dirinya seolah tercabik tatkala mengingat betapa angkuhnya pria Rusia itu yang dengan gamblangnya mengutarakan kepemilikan terhadap sosok istri dan juga calon anaknya kelak.


Hancur martabatnya sebagai seorang pria. Ia bahkan selalu merendah diri, meredam kemarahannya demi sosok istrinya agar wanita itu tetap bertahan dan singgah di sisinya. Bahkan rasa cintanya pun seolah tak berarti lagi di sini. Ia seolah tak di hargai, pengorbanannya sia-sia, tak berbalas seperti kesungguhan kasihnya.


Lakukan apapun yang kalian mau, tapi setidaknya jangan kau perlihatkan di depan mataku. Apa kau tau Num, harga diriku ini seolah lebur ketika melihat kalian bersama, apa kau tak pernah memikirkan perasaanku, ha?" tanyanya dengan nada geram.


Hanum kian terisak mendengar tutur kata dari suaminya, dan ia pun sontak segera berpaling dan melabuhkan diri untuk memeluk erat suaminya.


Ia tersedu-sedu seraya menggelengkan kepalanya, "jangan Rey, jangan berkata seperti itu. Aku bersumpah bahwa aku hanya mencintai mu. Aku dan dia, tidak terjadi apapun di antara kami. Dan kau harus percaya itu," ujarnya memohon.


Namun Reynand tak terbesit untuk meluluhkan hatinya. Ia juga tak menyambut hangat rengkuhan hanum. Hanya mematung dalam diam, meresapi semua denyut lara yang hadir dalam jiwanya.


"Sudahlah, Num. Apapun itu aku tidak lagi memberatkan mu untuk tetap bertahan di sisiku. Jika memang kau tak bahagia dengan ku maka kau bebas untuk berpaling ke pelukan laki-laki itu. Laki-laki yang selalu melimpahkan kasihnya untuk mu, seorang yang mencintaimu lebih dariku.


Aku rela, dan aku tak akan mengikat mu untuk bertahan bersamaku. Pergilah, pilihlah jalan mu sendiri," ucapnya seraya melepaskan rengkuhkan hanum dari tubuhnya.


Ia berpaling, menjauh dari hanum yang terus memanggil namanya diiringi dengan isakan sendu itu.


Namun ia tak juga berpaling, ia terus mengayunkan langkahnya kian menjauh dan tak lagi menolehkan kepalanya untuk sekedar melihat kepedihan yang di rasakan oleh wanita itu.


Tetapi hatinya sendiri pun saat ini juga sedang terluka, lelah jiwanya mencoba mempertahankan segalanya agar tetap berjalan sempurna, namun lagi-lagi penghalang datang mencoba untuk menghancurkan segalanya. Meluluh lantakkan seluruh usaha dan juga pengorbanannya hingga tak tersisa.


Kini hanyalah tersisa kekalahan, ia menyerah untuk berjuang.


Hanya bisa tertunduk, melihat segalanya dari kejauhan. Biarlah takdir berlaku semestinya, jika memang tanpa kehadirannya bisa membuat semuanya berjalan lebih sempurna, lantas apa gunanya ia tetap bertahan di satu sisi yang sama. Cukup menunduk, seolah tak mendengar dan melihat apa yang terjadi.


Mungkin akan lebih mudah jika saja ia melepaskan segalanya dari awal, hingga tak harus menjadikan dirinya sebagai seorang pria menyedihkan dengan sekelumit kata indah sebagai pengukuh rumah tangganya.