
Sendu, air mata menggenang hendak lolos dari persembunyian. Ada rasa sesak yang tak dapat di gambarkan melalui pengucapan.
Hanya bisa meraung dalam kebisuan seraya menguatkan kepalan tangan.
Mengusir lara yang sejatinya telah menghujam kedalam jiwa.
Malam yang kelam, tanpa rintik gerimis yang dapat menyamarkan kesedihan.
Hanum menyeret kopernya dengan langkah lunglai, melangkah tak pasti dengan angan-angan yang menerawang.
Kabut-kabut cinta yang masih tersisa antara dirinya dan Reynand seolah menggayuti langkahnya. Memberatkan dirinya untuk menjauh pergi dari singgasana yang semula sudah dimiliknya.
Asa, hanya tertinggal semu yang tak dapat terbaca oleh mata.
Kerlingan mata sayu itu memancarkan kerapuhan yang sesungguhnya. Dimana sorot mata tajamnya telah meredup berganti dengan tatapan tak berdaya yang menyiratkan permohonan. 'Pertahankan aku, Rey! Jangan dia,' batinnya dalam hati seraya memandangi raut wajah suaminya.
Namun sepertinya apa yang di harapkannya tidaklah mudah untuk terwujud.
Reynand masih teguh akan pendiriannya, dan hanum pun menolak apapun alasan yang terselip dibalik keputusan yang di ambil oleh suaminya itu.
Ia memilih pergi, remuk rasa hatinya seolah ia tak lagi di hargai.
Dengan langkah berat ia pun memutuskan untuk pergi, menepi dari kehidupan yang dirasanya cukup membuatnya terpuruk dan tenggelam dalam nadi kepiluan.
Seolah segala pengorbanannya tergadai begitu saja oleh hal lain yang bahkan tak memiliki keistimewaan di dalamnya.
"Jangan, Rey!" ucapnya dengan nada bergetar. Tatap matanya nanar serta tangannya menjulur ke depan. Menghentikan langkah Reynand yang hendak merangkulnya dalam dekapan kasih sayang.
"Berhenti di situ!" ucapnya lagi disertai senyum ironi. "Terimakasih atas segala cinta kasih mu kepadaku, Rey. Terimakasih atas kebaikan mu yang telah berbesar hati mau menerima diriku dalam keadaan seperti ini.
Aku sangat bersyukur karena pernah mengarungi bahtera rumah tangga bersamamu. Mengecap nikmatnya bercinta dengan seorang pria seperti mu.
Tapi ... sepertinya memang segalanya harus usai sampai di sini. Aku dengan kehidupan mu dan aku dengan kehidupan ku.
Ucapannya terhenti begitu saja. Bibirnya bungkam tak dapat lagi merangkai bait kata tatkala reynand dengan segala keras kepalanya meraup tubuh Hanum dan membungkam mulut wanita itu dengan ciuman liarnya.
Sekeras apapun ia meronta, berupaya untuk mendorong tubuh Reynand agar menjauh darinya itu tidaklah berguna.
Semakin ia meronta maka semakin kuat pula kungkungan tangan reynand terhadap dirinya.
Hanya bisa mematung dalam diam, menerima segala yang di lakukan reynand terhadap dirinya. 'Ini yang terakhir, Rey. Kau bisa melakukannya sepuas hatimu, dan setelah ini hanya akan tertinggal seberkas kenangan saja yang dapat kau nikmati di setiap waktumu," ratapnya dalam hati.
Air matanya menetes, membasahi pipinya yang masih terperangkap oleh jemari suaminya. Sedang netranya perlahan mulai memejam, meresapi cinta yang tak pernah di milikinya itu.
"Jangan berbicara omong kosong lagi," ucap reynand lirih, seraya menghadirkan kecupan lembut di kening istrinya.
Jemarinya bergerak pelan menghapus titik air mata yang telah membasahi pipi wanita tercintanya itu. "Tidakkah kau tahu sayang, bahwa rasa ini sejatinya telah terpatri hanya untuk dirimu saja. Bukankah kau tahu aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk menduakan cintamu apalagi menjadikan orang lain sebagai penggantimu?" Reynand berucap lirih seraya menundukkan kepalanya. Meratapi segenap lara yang kian menghujam dalam jantungnya.
"Num, please jangan begini ya," ujarnya lagi dengan nada memohon. Pandangannya nanar menatap pilu pada wanita yang kini tengah memalingkan wajahnya itu.
Reynand mendengus lirih, menyugar rambutnya dengan kasar seraya memundurkan langkahnya. Melepaskan kungkungan tangannya dan membiarkan Hanum yang perlahan melangkah pergi dari hadapannya.
"Haruskah kita seperti ini?!" teriak Reynand seraya berkacak pinggang. Pria itu tak tau lagi harus berbuat apa untuk mempertahankan keutuhan rumah tangganya.
Ia frustrasi, dan tak mau rumah tangganya berakhir seperti ini.
Hanum menghentikan langkah kakinya lagi. Berdiri di tepi pintu mobilnya, ia kemudian memalingkan wajahnya yang seolah ceria itu.
"Bukankah ini yang kau mau, Rey? Kau bisa berbahagia dengannya, dan aku bisa membesarkan anak ini seorang diri," ucapnya seraya mengusap perutnya yang membuncit dengan sayang.
"Dan aku minta maaf sebelumnya, bukan berniat untuk membohongi mu ataupun menutupi kebenaran yang ada. Tapi, sebenarnya anak ini bukanlah milikmu, Rey. Dari awal dia adalah milik orang lain.
Jadi kau bisa berbahagia dengan pilihan hatimu, memiliki buah cintamu sendiri tanpa hadirnya diriku yang hanya membawa beban dalam kehidupan mu. Aku masih bisa membesarkan anak ini sendiri, dan jika seandainya aku tidak bisa maka masih ada pria lain yang memiliki tanggung jawab seutuhnya terhadap anak dalam kandungan ku ini. Jangan cemaskan aku, karna ini bukanlah darah dagingmu, Rey," ucapnya dengan senyuman yang mengembang di sudut bibirnya.
"Aku pergi, Rey. Terimakasih atas segalanya, dan ingat untuk melupakan semua kisah kita."