
..."Ternyata ada kalanya manusia yang bersikap acuh itu terlihat lebih baik di pandangan orang lain,...
...daripada jenis manusia yang benar-benar tulus mengasihi tapi sering dianggap punya niatan baik di balik maksud tersembunyi....
...Tapi satu hal yang pasti, aku tidak seperti itu....
...Karena dari dulu hingga sampai saat ini, kau tetaplah menjadi prioritas dalam kehidupanku."...
...----------------...
Mengetuk badan pintu beberapa kali, berharap dari dalam sana Hanum bersedia untuk menyahuti ataupun mempersilahkan dia untuk berbicara. Meski tak harus dengan bertatap muka, tapi setidaknya jika wanita itu benar-benar sedang terjaga bukankah seharusnya ia mempersilakan Reynand untuk mengutarakan maksud kedatangannya.
Bukan malah dengan bersikap tuli dan bisu seperti saat ini.
Reynand menghela napas panjang, jemarinya terkepal serasa ingin menggedor badan pintu itu lebih keras lagi.
Jika seandainya saat ini ia tidak sedang memikirkan kesehatan mental wanita itu, mungkin pintu yang ada di hadapannya itu sudah ia tendang hingga terbuka lebar sejak tadi.
Sedangkan di dalam sana Hanum masih termenung dalam diam. Ia bergeming, membiarkan Reynand memanggil namanya berulang kali dan tak berniat untuk menemui pria itu barang sejenak.
"Omong kosong apalagi yang sekarang mau dia katakan?" pikirnya dalam hati.
Masih mematung di luar kamar, Reynand memejamkan matanya sejenak sembari mengatur laju napasnya yang mulai memburu.
Cukup sudah baginya untuk bersikap lunak terhadap wanita itu.
"Num, bukain pintunya, atau aku dobrak sekarang!" ancamnya bersungguh-sungguh.
Wanita itu mendengus, seraya memutar bola mata malas ia pun beranjak juga dari tempatnya.
"Ada apa?" tanyanya dingin.
Mereka bersitatap untuk sepersekian detik, lalu seperti biasa Hanum lekas berbalik dan melangkah pergi dari hadapan pria itu tanpa sempat mempersilakannya untuk masuk terlebih dahulu.
Pria itu bergeming, sempat ia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya ia mengekori langkah wanita itu dari belakang.
"Kita harus bicara, Num!" Reynand berujar tanpa basa-basi.
Dan seperti biasa, wanita itu tak pernah berpikir untuk menyahuti ataupun menatap lawan bicaranya.
Entahlah, mungkin saat ini ia belum tertarik dengan topik pembicaraan yang belum ia ketahui kemana arahnya.
"Lusa, kita akan kembali ke Indonesia." Pria itu mengutarakan maksud dan inti dari apa yang akan mereka bahas selanjutnya.
Sontak Hanum memicingkan mata, menatap sinis pada pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya.
"Jangan bercanda, Rey!" ujarnya bersungut-sungut.
Ia menatap nanar pada pria yang seolah tak memiliki sedikitpun rasa kasihan terhadapnya.
Bahkan belum ada satu bulan semenjak Danill pergi dari kehidupannya, dan sekarang ... pria itu malah mencetuskan ide konyol. Membawanya kembali katanya. Cih!
Mencoba memberi pengertian, Reynand duduk bersimpuh di bawah kaki Hanum. Seraya menggenggam tangan wanita itu ia berujar dengan menggunakan nada bahasa yang paling lembut dan menjelaskan bahwa apa yang ia lakukan kali ini sebagai bentuk upaya agar wanita itu lekas kembali seperti sedia kala.
"Sampai kapan kamu mau begini terus, Num? Apa kamu nggak kasihan sama Ivana? Dia kan juga ...."
"Iya! Aku juga tahu tanpa harus kau beri tahu sekalipun!" jelasnya seraya melemparkan tatapan tak suka.
Pria itu menghela napas lagi, untuk kesekian kalinya wanita itu menguji kesabarannya hingga sampai pada batas akhir yang ia punya. Tak cukup hanya dengan mengacuhkan dirinya, bahkan ia memotong ucapannya begitu saja dan mengatakan bahwa ia tahu tanpa harus dijelaskan lebih dulu. Padahal kenyataannya yang ada sangat berbanding terbalik dengan apa yang wanita itu tuturkan.
Ia beranjak, kembali berdiri dihadapan wanita itu dengan ekspresi yang berbeda.
Tidak ada kelembutan yang tergambar dari iris mata indah berwarna kecoklatan milik pria itu.
Hanya ada tatapan sinis dan juga gambaran rahangnya yang mengeras serta deru napas yang tak beraturan.
Ia mencondongkan tubuhnya mendekat lebih rapat pada tubuh wanita itu, yang sontak membuat Hanum mengerjapkan mata dan refleks memundurkan tubuhnya hingga membentur ujung ranjangnya.
"A-apa yang kau lakukan, Rey?" cicitnya seraya menundukkan wajahnya.
Pria itu menatapnya dingin, lalu jemarinya mencubit dagu Hanum hingga membuat wanita itu mau tak mau mendongak menatapnya.
"Entahlah! Sebenarnya kalau dibilang kasihan, mungkin aku termasuk dalam jajaran manusia yang saat ini sangat kasihan ketika melihat keadaaamu yang seperti ini. Tapi ... bukankah sikapmu akhir-akhir ini sudah sangat keterlaluan?"
Hanum terdiam, seolah ia merasa terintimidasi oleh setiap tutur kata yang terlontar dari mulut Reynand. Jangankan untuk menyanggah, untuk menelan salivanya saja sekarang ia kesulitan.
"Lepasin," cicitnya berusaha menampik tangan Reynand dari dagunya.
Namun alih-alih terhempas, jemari Reynand malah semakin kuat mencengkeram area rahangnya. Membuat ia meringis tanpa bisa bersuara.
Memicingkan matanya, seraya tersenyum pongah Reynand mendekatkan wajahnya lebih dekat dengan wajah Hanum yang kini menatapnya dengan iba. Sebenarnya ia juga tak tega melakukan hal rendahan berupa ancaman seperti itu. Dan ia berani bersumpah jika hal yang ia lakukan saat ini bukan termasuk dalam konotasi kekerasan karena kekesalannya semata.
Ia hanya ingin memberi wanita itu sedikit pelajaran, setidaknya ia juga harus belajar menghargai, bukan hanya meminta untuk dikasihani tanpa bisa mengasihi.
"Masih tersisa satu hari sebelum kita kembali.
Aku harap, kau bisa mempersiapkan dirimu dan melakukan perpisahan terakhir dengan Danill sebelum kepulangan kita ke tanah air.
Entah kau berkenan atau tidak, baik dengan kemauanmu sendiri ataupun dengan paksaan dariku, lusa kita akan tetap pulang.
Jangan buat alasan apapun, Num! Bahkan jika esok kau mematahkan kakimu sekalipun, aku tidak akan membatalkan jadwal penerbangan dan akan tetap menyeretmu dan membawamu kembali. Jangan berbuat ulah, karena ini bukan sebuah transaksi tawar menawar di mana kau bisa menentukan semua keinginanmu dengan menawarkan sesuatu kepadaku. Camkan itu!"
Hanum tertunduk, setitik air matanya lolos tatkala gelenyar rasa nyeri mulai merambati area pipinya tepat sesaat setelah pria itu melepaskan tangan yang semula mencengkeram rahangnya dengan sedikit kasar.
Ia mengaduh lirih, dan tatapannya kian nanar tatkala Reynand sama sekali tak menolehkan kepalanya kebelakang.
"Aaaarrrrgggghh!" raungnya seraya melemparkan benda apapun yang ada di sekelilingnya.
Malam itu, berteman dengan sembilu dan dinginnya udara di musim salju, Hanum merintih seorang diri. Dalam tangisnya ia memanggil nama Danill berharap pria itu lekas menemuinya dan membawanya dari dunia yang terasa tak adil padanya.