Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Cinta atau persinggahan.



Sepi, sendiri tanpa dirimu yang kini telah menepi. Menjauh dari hati dan menyisakan ruang gelap tak berperi.


Aku sendiri, menatap nanar langit malam yang memantulkan cahaya bulan.


Ada raut wajahmu yang terlukis di atas sana. Terlihat menawan namun tak dapat terjangkau oleh sentuhan.


Semu, dan perlahan sirna.


Lenyap bersama tawa palsu yang menggaung di telinga.


*********


Gundah gulana tengah menyelimuti hati Hanum.


Wanita itu kini masih berderai air mata seraya membawa laju kendaraannya dengan tak tentu arah. Nestapanya pilu, dan segala keindahannya sirna dalam seketika.


Ia seolah di hadapkan dengan jalan buntu, dan ini semua akibat dari egonya sendiri.


Meratap dalam tangisan, bak sembilu yang terus menghujam dalam ketenangan.


Hanum menggigit bibirnya kuat-kuat. Menyembunyikan isakan yang nyaris saja lolos dari persembunyian.


Ia sangat rapuh, dan ia butuh sandaran.


Ia butuh ketenangan, bukannya kehampaan yang tak dapat terbaca oleh akal pikiran.


Segalanya serba tak terencana.


Keputusan reynand, keegoisannya, dan juga akhir hubungan ini.


Semuanya berlaku secara tiba-tiba, dan hancur dalam sekejap mata.


Ia hanya bisa mengulas senyum pahit.


Tertawa lirih dengan derai air mata yang juga ikut mengalir di pipinya.


Ia terlarut dalam kedukaan. Bahtera rumah tangganya hancur, lebur oleh egois semata.


*********


Akan tetapi hanum masih sibuk memutar arah kemudinya, berlalu lalang tanpa arah tujuan.


Hingga akhirnya ia lelah, lelah berkeliling mencari tempat pengasingan diri.


Bukan untuk bersembunyi, melainkan untuk mencari ketenangan diri demi ketentraman hatinya sendiri. Ia lelah terus bergulat dalam pusaran arus, membabi buta mempertahankan cinta yang sesungguhnya tak pernah nyata bagi dirinya.


Atau malah ia sendiri yang sebenarnya telah terbutakan oleh obsesi dan berujung pada siksa yang tiada henti.


Menepi pada belokan terakhir kompleks perumahan yang tak lagi asing baginya.


Ia mendengus lirih tak menyangka bahwa ia sendiri lah yang akan kembali menghampiri seorang lelaki yang telah lama tiada kabarnya.


Akan tetapi ia ingat satu janji yang pernah diucapkan oleh pria berkebangsaan Rusia tersebut, bahwasanya ia bebas datang dan pergi kapanpun ia mau dan inginkan.


Sempat menolak tawaran itu beberapa bulan yang lalu, hingga pada akhirnya terjadilah sebuah perpisahan sederhana di antara keduanya sebagai penutup kisah asmara yang tak pernah bersambut kala itu.


Hanya seucap janji yang sempat di ucapkan oleh pria yang bernama Daniil kala itu. Sebuah ucapan yang sempat di anggapnya sebagai angin lalu dan tak tak pernah terbesit untuk menapakkan kakinya kembali di tempat ia berdiri saat ini.


Menatap nanar di balik warna gelap kaca mobilnya. Ia masih berada di awang-awang seolah tak yakin untuk mengambil keputusan yang dianggapnya gila ini. Kembali pada pria Rusia itu, bernaung di bawahnya dan entah harus bagaimana nanti ia menjalani kehidupannya bersama pria yang tak pernah dicintainya.


Dalam kehidupannya kali ini ia benar-benar dipaksa untuk mengambil keputusan. Entah itu sesuatu yang pahit atau manis, ia tak perduli. Yang ia inginkan hanyalah lara hatinya segera usai, terhempas dari jiwanya entah dengan apapun itu caranya.


Ia tak perduli tentang rasa hatinya sendiri.


Yang ia ingin hanyalah mencari sandaran untuk dirinya dan juga buah hatinya. Ia tak ingin berkelana mencari-cari sesuatu yang tak pasti, memuja penuh damba dan berakhir dengan lara. Begitu menyedihkan, seperti saat ini, dimana kisahnya dengan reynand tak pernah berujung pada kata bahagia.


Menghela napas lelah ia kemudian turun dari kendaraannya. Dengan mimik muka yang tak lagi berderai air mata. Akan tetapi bekas sembabnya masih terlihat nyata, tak dapat tertutupi meski dengan senyum palsu seolah bahagia.


Ia melenggangkan kakinya dengan penuh percaya diri. Ia yakinkan pada dirinya sendiri untuk kembali pada sosok danill yang sempat merayunya untuk kembali. Rela bertanggung jawab untuk dirinya dan juga buah hatinya.


Ia tak lagi perduli, biarlah ia menjadi egois untuk kali ini. Biarlah ia menempatkan hati meski tak ada rasa yang sesungguhnya terpatri dalam hatinya. Ini bukan soal harta atau materi, akan tetapi ia lebih ingin mencari sandaran untuk dirinya dan juga anaknya nanti. Berharap pada sosok yang teramat mencintainya, memujanya penuh damba dan juga tak pernah menyerah akan penolakan kasar darinya. Ia menautkan hatinya untuk menepi kepada danill, pria yang sangat berambisi untuk mendapatkannya, berjanji membahagiakannya dan dengan sikap lembut yang terus terterap untuknya.


Mungkin ini bukan cinta, hanya saja bisa dianggap sebagai tempat persinggahan sementara. Dimana nantinya ketika ia melahirkan buah hatinya, ada seorang pria yang bisa di panggil sebagai sebutan papa oleh anaknya. Setidaknya ia tak berjuang sendiri, masih ada ayah biologis dari sang jabang bayi yang bersedia merentangkan kedua tangannya untuk menyambut kehadirannya kembali.


Pria yang penuh dengan cinta dan juga buai romansa.