Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Jangan panggil aku Mommy.



..."Untuk kamu yang sering berderai air mata....


...Yang hanya bisa menyamarkan luka melalui ringisan tawa. Tenanglah! Kamu tidak sendiri....


...Percayalah masih ada jalan menuju kebahagiaan, jika hal itu tidak datang sekarang, mungkin rasa bahagia yang sedang kamu nantikan itu sedang menujumu dengan cara perlahan."...


...Hanum Salsabiela....


...----------------...


Duduk berdua di satu ruangan terbuka, dengan pemandangan asri yang memanjakan penglihatan. Di sana Hanum dan Ivana duduk tenang dan saling diam.


Gadis mungil itu menundukkan kepala, jemarinya saling bertautan dengan ujung kuku yang ia mainkan.


Parasnya yang cantik, putih bersih semakin terlihat kontras dengan ujung hidungnya yang memerah. Gadis itu baru saja menangis, dan penyebabnya sudah pasti adalah sosok wanita yang kini tengah memalingkan wajahnya ke arah yang berlawanan dengan gadis kecil itu.


Bukan karena amarah alasan dari tangis gadis berusia empat tahun itu. Ia hanya merasa sedikit sesak tatkala Hanum menyuguhinya satu permintaan yang membuat hatinya serasa terpukul.


Kini dalam kepala kecilnya itu muncul ragam pertanyaan, ragam kebingungan dan banyak lagi rasa yang lainnya. Ia ingin menanyakan alasan, banyak tanya yang ingin ia ajukan, namun ... ia tahu, ibunya tak sedang dalam kondisi mental yang penyabar.


Meneguk ludahnya dengan kepayahan, Ivana bergumam lirih menyuarakan satu tanya yang benar-benar ingin ia ketahui jawabannya.


"Mommy, udah nggak sayang Ivana lagi, ya?"


Gadis itu tertunduk, suaranya terdengar serak dan berat.


Hanum menghela napas panjang, entah berapa kali ia harus mengulang kata yang sama kalau bukan karena hal tersebut alasan ia mengajukan satu permintaan pada anak semata wayangnya.


"Siapa yang bilang mommy nggak sayang sama kamu, hm?" Hanum mengulas senyum tipis. Jemarinya bergerak pelan membelai pipi anak gadisnya yang telah basah oleh air mata.


"Mommy sayang kok sama, Ivana. Sayang banget malah! Tapi ... kamu tahu kan, mommy juga lagi belajar, mommy lagi berusaha untuk menerima keadaan. Mommy juga pengen kita bisa main bareng kayak dulu, kita bahagia, ketawa bareng, Ivana ngerti kan maksud mommy?" ucapnya seraya mencubit lirih dagu putrinya. Berharap gadis kecil itu mengerti apa maksud dan maunya yang tak seberapa.


"Jangan panggil mommy, oke!" tegasnya dengan nada lembut.


Mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut, ia seolah sudah kehabisan kata-kata dan stok kesabaran jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbelit-belit.


Desisnya terdengar lirih, namun di dalamnya tersirat emosi yang siap membuncah.


Ia menahannya, sebisa mungkin menekannya hingga gerahamnya mengetat dengan bunyi gemeratak.


"Apapun! Ivana bisa kan, panggil mommy pakai panggilan lain? Ibu, mama, bunda, atau apalah. Terserah! Asal bukan mommy. Paham?"


Gadis itu bergeming, bibirnya bungkam namun air matanya enggan untuk ia hentikan.


Lagi-lagi Hanum menghela napas berat, emosinya kembali meluap-luap dan hal itu membuat kepalanya kian berdenyut nyeri.


Sadar tak boleh berlama-lama duduk berdua dengan putrinya, ia memilih untuk lekas beranjak. Tapi sebelum itu ia menegaskan satu hal pada putrinya yang kini sedang takut-takut mencuri pandang untuk menatapnya.


"Mommy tahu, Ivana itu anak yang pintar. Kalau mommy udah bilang jangan, berati jangan, ya! Ivana pasti nggak mau kan, kalau lihat mommy sampai marah-marah kayak kemarin?" tanyanya seraya menatap lurus pada gadis pemilik netra biru itu.


Gadis itu hanya menganggukkan kepalanya, suaranya tercekat, seolah lidahnya terasa berat untuk mengucapkan satu kalimat. Ia tak berniat untuk membantah, terlebih jika ibunya sudah sampai menggunakan kata yang bermakna penekanan. Ia tak berani, dan tentunya tak ingin melihat kondisi ibunya yang mengerikan seperti hari kemarin lagi. Hanya menurut, diam, dan tenang, ia masih mengusahakannya. Agar tak lagi menjadi gadis cengeng di hadapan ibunya. Namun lagi-lagi laju air matanya terasa sulit untuk ia kendalikan, dan tangisnya kembali pecah tatkala melihat sosok ibunya yang berbeda.


"Mommy sayang sama Ivana. Tapi mommy mohon, untuk kali ini saja Ivana dengar apa yang mommy mau, ya!


Mommy nggak bisa janji bisa cepat-cepat pulih kayak dulu lagi, tapi mommy tetap mau berusaha. Karena mommy masih punya Ivana, sayangnya mommy sama daddy," jelasnya seraya mengacak gemas puncak kepala putrinya.


"Tapi ... Ivana tahu kan, kalau sekarang Daddy udah nggak ada?" tanyanya dengan nada bergetar.


Gadis itu tercekat, bibirnya seketika merengut dengan bola mata yang memanas.


Dan pada detik berikutnya gantian tangis Hanum yang pecah. Ia sesenggukan, histeris di hadapan anak berusia empat tahun yang menatapnya dengan kebingungan.


"Maafin mommy, Sayang! Bukan mau mommy jika sampai mommy jadi seperti ini, maafin mommy!"