Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Takdir yang berlaku.



..."Butuh waktu untuk melepaskan luka yang sempat tersirat....


...Bukan tak bisa, hanya saja aku belum terbiasa dengan kenyataan yang ada."...


...Hanum Salsabiela....


...----------------...


"Salahku karena telah mencintaimu tanpa permisi. Dosaku, karena aku yang tak bisa berbagi segalanya denganmu.


Aku yang dulunya tak pernah ingin menyakitimu, tapi kenyataannya malah aku sendiri yang mendorongmu terjatuh dalam kubang lara tak berujung.


Maaf, karena aku berlaku terlalu egois.


Bukan inginku untuk menjadikan hubungan kita membentang jarak seperti ini. Hanya saja, aku tak ingin melihatmu menangis. Untuk alasan apapun, terlebih lagi hanya karena diriku."


Begitu kiranya penggalan dari surat yang terselip di bawah pintu. Sejak semalam pria itu sudah meletakkan kertas bersampul jingga itu di sana. Tertoreh di atas kertas warna putih, ia mencurahkan segala rasa yang berkecamuk dalam dadanya.


Hanya melalui jejak tinta hitam, Danill berani mengungkapkan segalanya.


Tanpa harus bertatap muka dan memperlihatkan sendu yang kemungkinan besar tak dapat ia sembunyikan di hadapan wanita itu.


Hanum membacanya dengan perlahan, nadanya lembut namun tersirat kesedihan dalam setiap pengucapan.


Mimik mukanya kembali murung, bibirnya tertekuk membentuk lengkungan ke bawah.


Untuk beberapa saat ia masih baik-baik saja, namun tidak untuk detik berikutnya.


Ia beranjak dari tempatnya, keluar dari tempat persembunyian yang sudah tiga hari ini tak pernah ia tinggalkan.


Langkahnya berderap cepat, kaki kecilnya berlari tak tentu arah mencari sosok yang sempat ia hindari. Napasnya tersengal, peluhnya menetes, berikut dengan air matanya yang ikut berjatuhan.


"Ini menyakitkan, sungguh!


Jika seandainya saja aku dapat memutar balikkan waktu, maka aku akan mengubah jalan cerita kita.


Tidak akan ada penolakan, tidak ada amarah, dan tidak ada penantian yang panjang bagimu demi untuk memilikiku.


Aku hanya akan mencintaimu, memelukmu dengan segenap rasa yang kumiliki saat ini. Bersamamu dalam damai, lalu kemudian pergi tanpa penyesalan. Hanya bersamamu, seseorang yang selalu menjadikanku ratu dalam setiap keadaan. Aku tidak akan menangis, sungguh! Tapi tolong, berbagilah denganku.


Beri aku kesempatan untuk tahu segalanya. Segala tentang dirimu, baik burukmu, dan mengenai apapun itu. Percayalah, aku tidak akan merasa terbebani!" jeritnya dalam hati.


Hanum menyandarkan kepalanya di punggung pria yang sedari tadi membuat ia dihantui oleh kekhawatiran.


Tubuh tegap itu bergeming di bawah rimbun pepohonan seraya menatap kosong cakrawala.


Melalui punggung itu, Hanum dapat merasakan bahwasanya saat ini bukan hanya dia yang sedang dihantui ketakutan. Bukan hanya dirinya yang sedang di ambang lara hati, melainkan juga pria yang saat ini berada dalam rengkuhannya.


Hanum tercekat untuk beberapa saat, hanya sentuhan halus jemarinya yang bergerak lambat mengusap punggung bidang pria terkasihnya yang sedari tadi masih tegap memunggunginya.


"Maaf!" ucapnya parau.


Tidak ada kata lain yang terucap lagi dari bibir wanita itu selain hanya kata maaf yang terulang beberapa kali. Ia tidak bisa mengapresiasikan bentuk kepedihannya di depan pria itu, lebih tepatnya ia tidak mau memperlihatkannya dalam bentuk cucuran air mata.


Biarlah hanya ia sendiri yang menahannya, cukup ia sendiri yang menangis dalam diam dan biar ia sendiri yang menanggung kesedihan.


"Jangan lagi meminta maaf! Sungguh, aku tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, asal ada kau yang menemaniku. Tidak apa-apa, selama kita masih bisa bersama seperti saat ini. Aku tidak apa-apa," ucapnya seraya berderai air mata.


Ia tak mampu lagi untuk memalsukan sengguk yang sudah berada di ujung kerongkongannya.


Suaranya tercekat-cekat diiringi dengan air mata yang menganak sungai di pipinya.


Akhirnya Hanum menumpahkan semua sesak yang selama ini ia pendam dalam, membaginya dengan Danill yang kini juga tengah tertunduk pilu mendengar sendu yang terdengar menyiksa.


Untuk terakhir kalinya, lalu setelah itu Hanum akan menyimpan lagi semua perasaan itu rapat-rapat. Menyimpan pilu, air mata, dan juga segala rasa yang saat ini tengah ia perlihatkan.


Demi Danill, pria yang kini tengah berjuang melawan penyakitnya, dan demi dirinya yang kini tengah dilanda rasa takut akan kehilangan yang mungkin akan datang secara tiba-tiba.


Ia tak akan menghabiskan sisa waktu yang ada hanya dengan bermuram durja, menangis, dan meratapi kisah cinta yang tak sesuai dengan lajur impiannya.


Karena percuma, tangis tidak akan merubah apapun dan menjadikan keadaan kian membaik.


Hanum dan Danill, dua insan yang bersatu karena didesak oleh takdir. Keduanya sama-sama tak menyangka bahwa cinta akan datang terlambat seperti saat ini.


Di saat Danill sedang tidak baik-baik saja, dan Tuhan memberikan keduanya kesempatan untuk saling memahami dan mengerti arti dari cinta dan kebersamaan yang sesungguhnya.


Indah memang, tapi kini keduanya seperti dihantam oleh kenyataan yang ada.


Ketika ikrar mereka baru terjalin dan cinta mereka baru saja hendak dimulai, takdir seolah kembali mempermainkan mereka.


Dengan ujian dan juga air mata.


"Tenanglah! Masih ada banyak waktu yang nantinya akan kita lalui bersama. Jangan khawatir, terlebih lagi mengenai perpisahan.


Karena jika nantinya hal itu benar-benar lekas terjadi, aku meminta agar kau melepasku tanpa tetes air mata.


Jangan menangis, karena nantinya aku tak akan lagi bisa untuk menghapus air matamu.


Dan jangan bersedih, meski nantinya aku tak lagi bersamamu tapi percayalah, hanya ada kau yang tersemat dalam hatiku.


Percayalah, Hanum."