Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Rusia



"Apa kau mencintaiku?"


"Tentu saja, Sayang."


"Apa kau bersedia menikah denganku?"


"Hm, untuk yang satu itu sepertinya aku harus memikirkannya lagi." jawabnya dengan bercanda.


"Apa kau bisa berjanji untuk tidak meninggalkanku dalam keadaaan apapun? Baik saat aku sedang sehat ataupun nanti ketika aku sedang sekarat sekalipun?"


Bola matanya bergerak cepat, seolah ia gusar akan cinta kasih yang dimiliki wanita di hadapannya itu.


Hanum memiringkan kepalanya, menatap lekat pada pemilik bola mata biru yang sedari tadi terus saja menggodanya dengan ragam pertanyaan yang mulai terdengar ngawur.


Sontak jemarinya pun membungkam mulut pria itu dengan lembut.


Ia tak mau mendengar lagi pembicaraan yang seperti itu.


"Dengarkan aku! Danill, aku mencintaimu.


Entah rasa itu muncul sejak kapan, aku tak tahu. Tapi, satu hal yang kini sudah ku yakini dan wajib kau yakini juga tentunya.


Bahwa aku, Hanum Salsabiela, sangat mencintaimu dan bersedia untuk menjalani hubungan yang lebih serius lagi kedepannya.


Denganmu tentunya.


Terimakasih atas segala pengorbanan dan juga penantianmu selama ini, dan juga ... cincin ini.


Satu hal lagi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku, ataupun Ivana. Tidak dengan alasan apapun. Karena kami sangat membutuhkanmu."


Ia telah memutuskan untuk menerima lamaran dari pria itu, meski sebelumnya ia sempat bimbang dengan statusnya yang belum jelas.


Ia telah lama berpisah dengan Reynand, namun begitu hubungannya belumlah benar-benar usai karena ia belum menyelesaikan segalanya secara hukum negara.


Namun begitu hatinya yang semula sempat rancu dengan segala kegundahan kembali tenang ketika Danill menggenggam tangannya dan meyakinkan bahwa semuanya akan tetap baik-baik saja.


...----------------...


Rusia.


Tak pernah terbayangkan oleh Hanum, bahwa kelak ia akan menginjakkan kakinya di tanah kelahiran sang kekasih.


Meski sebelumnya ia benar-benar menolak untuk pergi lalu kemudian ia luluh juga dengan bujuk rayu dua orang terkasihnya. Hingga akhirnya ia pun mengalah dan sampai juga di negara itu.


Rusia, negara yang memiliki empat musim dengan ragam budaya dan juga para penduduknya yang menjunjung tinggi individualisme.


Sepertinya ia menyukai negara ini.


Sampai ditempat tujuan setelah menempuh perjalanan yang panjang.


Lelahnya diperjalanan terbayar sudah hanya dengan melihat keindahan suatu tempat yang terbalut oleh tebalnya salju.


"Apakah kau butuh mantel tambahan?" Pria itu hendak melepaskan mantelnya ketika ia mendapati Hanum masih menggigil kedinginan.


"Tidak." Ia menggeleng perlahan, "aku memang kedinginan, tapi akan segera hangat jika aku memelukmu seperti ini, bukan?"


Hanum merapatkan tubuhnya dan menempel erat pada dada bidang pria itu.


Senyumannya tersungging ketika telinganya mendengar suara detak jantung Danill yang berdegup tak beraturan.


Berdehem lirih, ia mencoba mengalihkan suasana canggung itu dengan segera.


"Suhu udara terendah di sini (Rusia) bisa mencapai -40 derajat celcius pada musim dingin dan -30 derajat celcius pada musim panas. Jadi, maafkan aku, karena aku kau jadi harus menyesuaikan dirimu dengan cuaca di sini. Padahal di negaramu kau tak perlu susah payah mengenakan pakaian tebal sampai seperti ini ketika musim hujan tiba," ujarnya terdengar seperti sebuah penyesalan.


Hanum mendongakkan kepalanya, menatap heran pada pria yang kini malah seolah menyesal telah mengajaknya ke tempat itu.


"Hey! Jangan bicara seperti itu. Seolah kau menyesal telah mengajakku datang ke tempat ini.


Aku bahagia di sini, Danill! Aku bahagia di manapun itu, asalkan bersama dengan mu, dengan kalian juga" jelasnya diikuti dengan senyuman.


Lalu kemudian ia mengusap lembut pipi putri kecilnya yang tengah tertidur pulas.


Ia bahagia. Setidaknya ia tidak lagi terbebani dengan sebuah hubungan tak pasti yang selama ini terus saja menghantui pikirannya.


Ia mulai tersadar bahwa apa yang ia lalui selama ini mungkin merupakan satu cara Tuhan yang menuntunnya menuju sebuah kebahagiaan.


Entah itu waktu pertama kali ia bertemu dengan Danill, ketika kejadian tak menyenangkan itu menimpanya dan bahkan ketika ia mengandung Ivana, dan semua hal yang sedari awal memang sudah berkaitan dengan pria itu.


Bersama dengan Danill dan ia mulai merasa nyaman akan kehadiran pria itu.


Baik dari kesabaran, kedewasaan, dan juga kesetiaannya. Ia sangat yakin dan sudah sangat siap bila harus dihadapkan dengan sebuah hubungan baru yang menuju jenjang keseriusan.


...----------------...


Malam kian kelam, sedangkan hawa dingin seolah kian menghujam hingga menusuk tulang. Bahkan mesin pemanas ruangan serta perapian yang menyala pun tak berhasil menghangat suhu tubuh mereka.


Bergelung dalam tumpukan selimut tebal, Hanum dan Danill menghangatkan tubuh keduanya di sana.


Sedang Ivana berada di tengah-tengah mereka. Gadis kecil itu kembali terlelap ketika sebelumnya ia sempat bangun untuk santap malam.


Berbicara panjang lebar, mulai dari hal paling ringan hingga hal yang paling serius.


Bahkan Hanum yang sebelumnya sudah menyiapkan diri untuk bertemu dengan orangtua Danill pun harus merasa tak enak ketika pria itu menuturkan bahwasanya kedua orangtuanya telah meninggal dunia sejak lama.


"Maaf, karena aku terlambat mengetahuinya, Sayang. Sungguh aku tidak bermaksud ...."


Menaruh telunjuknya di bibir sang kekasih, Danill bertutur dengan kelembutan.


"Ssttt! Aku mengerti, maaf karena aku baru memberitahumu sekarang," ujarnya.


"Lantas, apa rencana kita besok? Bisakah jika kau mengajakku untuk mengunjungi makam kedua orangtuamu?" tanyanya penuh dengan harap.


Senyumannya perlahan mengembang ketika pria itu menganggukkan kepalanya dan mengucapkan terima kasih atas permintaannya yang tak seberapa itu.


Merenung dalam diam, Hanum memejamkan matanya sesaat meresapi segala hal yang terjadi dalam kehidupannya saat ini.


Bila dipikiran kembali, betapa beruntungnya ia ketika telah dipertemukan dengan sosok pria yang memiliki hati seluas samudra.


Dimana Danill tidak pernah menyerah akan dirinya yang sebelumnya sempat menolaknya sampai berulang kali. Betapa pria itu tetap teguh pada pendiriannya dan tidak sekalipun berpikir untuk membuang dirinya ketika ia dalam kondisi yang paling buruk sekalipun.


Tapi, ada satu hal yang hingga kini masih mengganjal dalam hatinya.


Wanita itu, suara wanita yang sempat ia dengar pada malam itu.


Siapa kiranya dia dan kenapa ponsel Danill ada bersamanya?


Sempat ia ingin bertanya, tapi ia takut akan jawaban yang nantinya akan ia dengar.


Ia tak siap jika harus kembali terluka oleh kenyataan yang belum ia ketahui dengan pasti.


Ia tak rela jika semua harapnya yang sudah terlanjur meninggi terhadap pria itu kembali berbuah dengan kekecewaan, apalagi perpisahan.


Setitik air matanya pun lolos dari persembunyiannya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat ia sesedih itu, lantas bagaimana nanti ketika ia dihadapkan dengan kenyataan yang ada?