Mahligai Prahara

Mahligai Prahara
Terjerat Lagi.



Derita dan luka.


Bagai sebuah warna yang dirasa takkan pernah sirna dari kehidupan seorang insan manusia.


Hanya jerit rintih lara yang menggaungkan perih bercucur air mata.


Tiada berkesudahan, meski raga tak pernah berhenti untuk meronta.


Tangis sembilu terdengar lirih, bagai ratap pedih yang tak akan bisa di mengerti oleh siapun di luaran sana.


Hanya sebuah senyuman memesona yang selalu terpancar dari wajahnya, menyamarkan segala nestapa yang terasa kian kuat menjeratnya.


******


Hanum masih memaksakan langkah beratnya untuk mengikuti danill yang sedang menggiringnya masuk menuju kediamannya.


Pria itu membawanya paksa untuk ikut serta, tak peduli dengan segala ronta dan segala penolakan yang sudah di lontarkan oleh Hanum kepadanya.


Pria itu seolah tuli dan terus saja menggandeng tangan hanum untuk bergegas pergi. Berupaya melarikan diri dari sosok sang pemilik asli.


Desis lirih yang terdengar samar keluar dari bibir hanum seketika menghentikan langkah kaki danill yang semula berderap laju.


Pria itu menolehkan kepalanya menatap lamat pada sosok wanita yang kini tengah menundukkan kepala di hadapannya itu.


"Jangan tundukkan kepalamu," ucap danill lirih seraya menggerakkan jemarinya untuk menyentuh dagu hanum.


Wanita itu dengan segera menggerakkan tangannya, menepis jemari danill sebelum tangan pria itu berhasil menyentuh wajahnya.


Perlahan wajahnya kembali terangkat, menampakkan gurat kesedihan yang terlihat jelas dari bola mata yang telah memerah itu.


Ada bulir air mata yang menggenang dalam kelopak mata indahnya. "Apa yang kau lakukan, ha?" tanya hanum seraya menghapus titik air mata yang baru saja lolos dari persembunyiannya.


Sekuat tenaga hanum mencoba untuk menguatkan emosinya, namun perjumpaannya yang tak sengaja dengan danill dan di tambah dengan perangai pria itu yang terus saja memaksakan kehendak untuk membawanya pergi, membuat hanum seolah merasa telah kembali berbuat dosa terhadap suaminya.


"Aku, hanya rindu. Rindu mendengar suara dan juga melihat parasmu," jawab danill setelah terdiam cukup lama.


"Maaf karena aku terus saja mengganggu kehidupan mu. Tapi sungguh, aku tak pernah bisa untuk menjauh darimu. Meski nyatanya aku sudah lelah untuk mencobanya, lagi.


Aku tersiksa jika terus saja menahan diri untuk tak menjangkau mu, walau sesungguhnya aku sudah sadar diri bahwa tiada kesempatan bagiku untuk memilikimu," ujarnya lagi seraya merengkuh Hanum dan membawa tubuh wanita itu dalam dekapnya.


"Aku mohon, tenanglah. Ijinkan aku memelukmu hanya untuk sebentar saja. Sungguh aku tak akan melakukan hal lain yang akan membuat mu terluka," bisiknya lagi di telinga hanum.


Membuat wanita itu seketika mengurungkan niat berontaknya.


Hanum hanya bisa menghela napas pasrah, mematung dalam diam sembari menunggu danill melepaskan dekapan eratnya dari tubuhnya.


Hanya kepasrahan diri, hanum telah menjatuhkan egonya hingga sampai pada dasar jiwa.


Ia lelah meronta, lelah untuk beradu argumen yang pada akhirnya hanya akan menorehkan luka lagi pada batinnya.


Cukup diam, berharap segalanya akan segera usai. Lenyap dari kehidupannya.


"Danill, kurasa kau sudah harus melepaskan ku," ucap hanum seraya melirik kilas pada pria itu.


Hanya gumaman lirih tanpa suara yang di lontarkan pria itu sebagai jawaban, namun perlahan rengkuhannya pun mulai terlepas dan pria itu sedikit memundurkan langkahnya menjaga jarak dari wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


Pandangannya sedikit tertunduk, menyamarkan garis sendu yang mulai samar terpancar dari wajahnya.


Pria itu memalingkan wajahnya segera, membelakangi hanum agar wanita itu tak dapat melihat betapa menyedihkannya ia sebagai seorang pria. Martabatnya terjunjung tinggi, namun tidak demikian dengan kisah perjalanan cintanya.


Ia terus terseok, berupaya untuk menggapai bintang terang yang ada di atas langit.


Bintang terang yang ingin ia rengkuh dan ingin ia miliki untuk dirinya sendiri. Walau nyatanya semua hanyalah angan semu, tak pernah terwujud dalam kenyataan.


"Aku harus pulang! setidaknya bisakah kau menyuruh supir pribadimu untuk mengantar ku pulang?" tanya hanum menghentikan langkah danill yang terus berupaya menjauhinya.


"Tidak bisakah kau tinggal di sini, bersamaku walau hanya untuk sejenak saja? aku tak akan melakukan apapun padamu, dan aku janji. Kau bisa pegang kata-kata ku, sepenuhnya."


Pria itu kemudian memalingkan wajahnya lagi, mengayunkan langkah kakinya dan kemudian hilang dari hadapan hanum.


Wanita itu bergeming, terdiam kaku menatap kepergian danill yang telah hilang dari hadapannya.


Ia hanya ingin pulang, menjelaskan semuanya kepada suaminya. Pasti saat ini suaminya itu sangatlah mengkhawatirkan keadaannya.


Namun apalah daya ia tak bisa berbuat apa-apa, ponselnya pun kini juga tak ada dalam genggamannya. Pria Rusia itu merebut paksa ponsel miliknya dan pria itu juga berjanji akan mengembalikannya esok pagi.


Hanya bisa menghela napas panjang, hanum memilih diam tak memperuncing perdebatan.


Dengan berat hati ia pun membawa langkahnya menuju satu kamar yang telah disediakan untuknya.


Kamar yang sama dimana ia pernah menghabiskan satu malamnya bersama dengan pria rusia itu.


Masih teringat jelas dalam ingatannya dimana ia pernah terbaring di atas ranjang yang ada di hadapannya itu dengan keadaan tanpa busana. Kala itu danill sudah tak berada disisinya, dan itu menjadi satu anugrah tersendiri bagi hanum saat ini.


Setidaknya ingatnya terselamatkan, tak sempat melihat kondisi danill yang tengah berbaring di sisinya dengan keadaan terbuka.


Hanum mendengus lirih, berusaha menghilangkan ingatan yang baru saja melintas dalam kepalanya.


Saat ini ia hanya ingin istirahat, tenggelam dalam lelap dan bergegas pergi ketika esok hari telah berganti.